Quiet Wife

Quiet Wife
52. Akhir Bahagia



5 tahun kemudian ...


"Sean!" Seorang gadis kecil dengan tatanan rambut diikat dua dan mengenakan seragam sekolah yang sama, berdiri menghalangi langkah Sean.


Seanno Angkasa Regartha, yang kini usianya telah beranjak tujuh tahun, masuk di bangku kelas satu sekolah dasar. Tampang kecilnya yang senantiasa tampak dingin itu terlalu mirip dengan Calvin di masa muda.


Sean yang tidak suka keramaian, orang asing maupun orang baru, sudah cukup dikenal oleh anak-anak seangkatannya.


Tak hanya itu. Para gadis kecil yang mulai mengerti apa itu cinta, seolah berlomba-lomba untuk bisa berdekatan dengan Sean.


Bisa dibilang juga, wajah Sean terlalu tampan untuk kategori anak laki-laki seusianya. Memiliki garis tubuh yang tinggi, menjadikan Sean semakin menonjol diantara teman-temannya yang lain.


Dengan sangat malas, Sean sudah hendak berbalik untuk meninggalkan gadis kecil itu. Namun, upayanya terhenti saat terdengar sebuah ancaman kecil yang akhir-akhir ini menjadi kelemahan tersendiri bagi Sean.


"Kalau Sean pergi, Rara ngambek!" Ujar gadis kecil itu.


Dengan malas, Sean kembali berbalik menghadap gadis kecil yang memanggil dirinya sendiri dengan nama Rara. Tampak seulas senyuman bahagia tatkala Sean sepertinya memilih untuk kembali mengalah seperti biasa.


Tanpa berkata apa-apa lagi, gadis kecil itu menarik salah satu tangan Sean dengan perasaan riang gembira. Kedua kaki mungilnya pun mulai melangkah pelan. Mau tidak mau Sean harus mengikuti langkah kecil Rara yang memimpin jalan di depan.


"Sean!" Rara kembali memanggil Sean, tanpa sedikit pun berbalik menatap sang pemilik nama.


"Hm."


"Rara haus!"


Sean menghentikan langkahnya, membuat Rara ikut berhenti sehingga memilih berbalik menghadap Sean yang menatapnya datar.


Seolah peka, Sean melepaskan genggaman tangan Rara, lalu melepas tas sekolahnya. Tangan mungilnya meraih botol minum miliknya untuk diberikan pada Rara.


Rara lagi-lagi tersenyum riang melihat sikap Sean yang senantiasa lemah jika menyangkut soal dirinya. Entah ini karena mereka yang telah lama tumbuh bersama, maupun karena kedua orang tua mereka yang selalu akrab, Rara pun tak tahu pasti. Namun yang jelas, Rara suka bermain bersama Sean.


"Nih, katanya haus." Ucapan Sean berhasil menyadarkan Rara dari lamunan kecilnya. Gadis kecil itu menyengir lebar seraya mengambil alih botol minum di tangan Sean.


Tanpa merasa sungkan, Rara minum langsung dari mulut botolnya. Air minum yang tinggal setengahnya itu pun dibuat tandas tak bersisa.


"Makasih!" Ucap Rara, seraya menyerahkan kembali botol minum Sean.


"Hm." Balas Sean, seadanya. Kepalanya mulai celingukan menatap sekitar lorong sekolah yang mulai terasa sepi. Satu persatu murid telah dijemput oleh orang tua mereka.


Sean kembali menghela napas dengan bibirnya yang mengerucut. "Mama kok lama, ya."


"Hari ini kamu dijemput sama Mama?" Rara menoleh intens pada Sean. Sedangkan Sean, anak laki-laki itu hanya mengangguk asal. Masih mencoba mencari keberadaan mamanya.


"Rara!" Panggilan hangat yang diikuti dengan lambaian tangan, membuat Rara menoleh. Senyum di wajahnya lantas terpatri kala mengetahui siapa yang baru saja memanggil namanya.


"MAMA!" Rara berlari menghampiri mamanya yang berdiri di depan gerbang sekolah.


"Sean, sini!" Kiara, selaku ibu dari Rara, melambaikan tangannya pada Sean. Sean yang kebingungan pun lantas berjalan menghampiri Kiara.


"Kenapa, Tante?"


Senyum di wajah Kiara kian tercetak. Demi menyamakan tinggi tubuhnya dengan Sean, Kiara berjongkok di hadapan Sean. Salah satu tangannya terulur menyentuh rambut hitam kecoklatan putra sematawayang dari tetangganya.


"Mama kamu belum jemput?" Sean menggeleng pelan menjawab pertanyaan Kiara.


Tak berapa lama kemudian, sebuah mobil dengan flat nomor familier berhenti di depan mereka. Tampaklah Naura dengan setelan sederhana datang menjemput putranya.


Kini giliran Sean yang tersenyum lebar. Anak laki-laki itu langsung berlari ke pelukan mamanya tanpa memedulikan Kiara maupun Rara.


"Eh, Mbak Naura! Tumben baru jemput,"


"Iya, tadi sempet ada kecelakaan, jadinya jalanannya macet sebentar. Sean nggak nungguin lama 'kan?" Ucapan Naura yang terakhir ditujukan pada putranya. Dengan cepat Sean menggelengkan kepala.


"Hm, Mbak Kiara mau pulang bareng?" Tawaran hangat dari Naura, dibalas tawa kikuk oleh Kiara.


"Eh, saya juga bawa mobil. Mungkin ... lain kali?"


"Ya udah, kalau gitu kami duluan, ya, Mbak! Sean, dadah sama Tante Kiara sama Rara."


"Dadah, Tante! Dah, Rara!"


Kiara terkekeh geli melihat betapa penurutnya Sean oleh ucapan Naura. Mengatakan salam perpisahan dengan tampang datar? Oke, mungkin cuma Sean.


Sepeninggalan Sean dan Naura, perhatian Kiara kembali pada putrinya yang terlihat melamun dengan ekspresi senang.


"Rara kenapa?" Kiara mencolek hidung putrinya. Tampak raut penuh keterkejutan yang menghiasi wajah Rara.


"Eeh, Mama! Eng-gak. Hm, Mah!" Kedua pipi bocah manis itu terlihat memerah. Kiara sempat dibuat bertanya-tanya akan apa maksud dari ekspresi itu.


"Hm?"


"Besar nanti, Rara mau nikah sama Sean aja!"


Sungguh, Kiara sampai tersedak ludahnya sendiri gara-gara mendengar ucapan asal itu.


Menikah? Dengan Sean di masa depan?


Yang benar saja!


"Sean?" Beo Kiara. Mati-matian wanita itu menahan tawa.


Rara mengangguk antusias. "Soalnya Sean baik dan perhatian sama Rara! Rara juga kenal baik sama Sean! Pokoknya nanti kalau udah besar, Rara mau nikah sama Sean!"


Oke, Kiara tidak bisa lagi menyembunyikan tawanya.


"Ya ampun, kamu ada-ada aja, deh. Sean 'kan emang baik sama siapa aja. Dan lagi, kamu itu masih kecil, masa udah mikirin nikah. Nanti kalau Papa denger, bisa-bisa nanti dia nggak ngizinin kamu buat main lagi sama Sean." Ucapan peringatan dari Kiara, disambut kalut oleh Rara. Raut wajahnya berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya.


"Jangan kasih tahu Papa!"


"Hm, gimana, ya?"


"Mamaaaa!" Rengek Rara. Kedua bola matanya sudah berkaca-kaca. Namun hal itu justru membuat Kiara semakin melebarkan tawanya.


"Iya, iya, nggak kasih tahu Papa! Janji!"


...****...


Seorang wanita berusia lima puluh tahunan tampak menghela napas untuk yang kesekian kalinya. Seorang wanita muda yang duduk bersekatkan meja kayu hanya bisa mengurut pangkal hidung sambil sesekali melirik jam tangannya.


"Pokoknya saya sudah bulat, saya mau menuntut tetangga saya itu!" Ujar wanita paruh baya itu tegas.


Lagi-lagi wanita muda yang berada di hadapannya hanya bisa tersenyum getir menanggapi. "Bu Rani! Menurut saya, ada baiknya Ibu menerima ajakan dari Pak Egi untuk berdamai dan tidak-"


"Apa-apaan kamu? Memangnya kamu pengacara saya? Mana Pak Calvin? Saya mau konsul saja saja sama beliau!" Wanita yang dipanggil Bu Rani, seorang klien yang akhir-akhir ini sering membuat keributan di kantor dengan membuat gugatan kurang berdasar, lagi-lagi membentak seraya bangkit dari kursi.


Wanita muda yang kali ini berhadapan dengannya tak lain adalah asisten sekaligus sekretaris dari Calvin. Sebut saja namanya Lia. Dia menggantikan posisi atasannya sementara, dikarenakan atasannya sibuk untuk sementara waktu.


Bukan masalah besar memang jika hanya menggantikan posisi untuk sementara waktu. Tetapi, kali ini timingnya kurang pas. Bisa-bisanya klien paling menyebalkan dari atasannya datang disaat atasannya tidak berada di tempat.


Menyebalkan!


"Bu Rani. Mohon duduk dulu! Pak Calvin sedang-"


"Halah, capek saya sama kamu! Saya mau pulang aja. Nanti kalau Pak Calvin sudah kembali, tolong beritahu saya! Saya sudah muak dengan tetangga saya itu! Bisa-bisanya dia bilang ingin berdamai, padahal setiap malam dia selalu memutar musik keras-keras sampai cucu saya yang masih bayi tidak bisa tidur! Coba kamu pikir, dia bilang ingin berdamai dan tidak akan mengulanginya lagi. Saya belum sempat lho menyetujui untuk berdamai, dia malah tetap melakukan hal itu! Gimana saya tidak kesal? Pokoknya saya nggak mau tahu, saya mau bawa masalah ini ke jalur hukum saja. Saya pamit!"


"Bu Rani? Bu? Bu, tunggu- arghhh! Gak tahu ah, terserah!" Lia mendengus pasrah. Tangannya dengan cepat merogoh ponselnya untuk menghubungi sang atasan yang bisa-bisanya menyerahkan tugas demikian pada seorang asisten.


Tak menunggu waktu lama, panggilan pun diangkat. Terdengar suara siulan bahagia yang semakin membuat Lia muak dan kesal.


"Pak Calvin?" Berusaha tetap tenang dan netral, Lia menarik napasnya dalam-dalam, lalu mengeluarkannya perlahan.


"Hm, kenapa?"


"Anda sengaja 'kan?" Kedua alis Calvin dibuat mengerut oleh pertanyaan tiba-tiba itu.


Seolah teringat akan satu hal, Calvin tertawa pelan dari seberang sana. "Maaf, habisnya akhir-akhir ini saya perhatiin kamu lagi kekurangan pekerjaan. Jadi, saya serahin klien yang paling saya nggak suka sama kamu. Gimana? Lancar?"


"Sialan! Kok, lo tega sih sama gue? Dari pertama masuk sampe barusan pergi, tuh nenek-nenek nyerocoosss mulu nggak berhenti. Itu lagi tetangganya. Bilangnya mau damai, tapi sikapnya seolah-olah lagi menyatakan perang! Vin, lo serius mau bawa masalah sepele ini ke jalur hukum? Nggak 'kan?" Tawa Calvin kian pecah. Ucapan demi ucapan Lia yang tak lagi berbicara formal, membuat Calvin tidak tahan untuk tertawa.


Omong-omong, Lia adalah adik dari sepupu jauhnya. Lia sendiri baru berusia 25 tahun. Sudah menikah tapi belum punya anak.


"CALVIIINNN! Gue bilangin abang gue, lo, ya! Enak-enakan pulang kantor jam segini, sedangkan gue?"


"Wei, tenang, tenang! Gaji lo gue naikkin akhir bulan ini. Udah, ya, puas!? Gue mau ketemu istri dan anak gue tercinta. Bye!" Setelahnya, panggilan suara pun terputus oleh Calvin yang lebih dulu mematikannya.


Sial! Lia belum selesai bicaraaa!


"Halo? Vin? Calvin? Dasar sepupu nyebelin! Awas aja, ntar gue aduin sama Kak Naura soal kelakuan nyebelin lo!"


...****...


"Mama!" Sahutan pelan dari Sean sanggup mengalihkan atensi Naura. Kedua matanya yang semula menatap kosong ke arah luar kaca mobil, lantas menoleh pada putranya.


"Hm?"


"Hm, hari ini Papa lagi sibuk, ya?" Sean mengecilkan nada suaranya. Kepalanya juga sedikit menunduk lesu.


"Anak Mama kenapa, hm?" Seolah peka, Naura merapatkan posisi duduknya dengan Sean. Kedua tangannya tanpa diminta lantas memeluk tubuh Sean dengan penuh kasih sayang.


"Sean ... pengen main sama Papa! Sean udah lama nggak main bareng Papa kayak dulu." Raut wajah Sean kian cemberut. Namun hal itu tak membuatnya lantas melepaskan pelukan hangat dari mamanya. Justru yang ada, Sean balas memeluk Naura tak kalah erat, seolah menyalurkan perasaan sedihnya pada wanita yang telah dengan susah payah melahirkannya.


"Hm, nanti Mama telepon Papa suruh pulang cepet, deh. Gimana?"


"Serius?" Sean mendongak menatap mamanya dengan begitu antusias. Raut kesedihan di wajahnya langsung berganti ceria hanya karena sebuah ucapan dari mamanya.


Naura tidak membalas secara lisan. Wanita yang kini usianya telah menginjak angka dua puluh tujuh tahun itu hanya mengangguk disertai seulas senyuman tulus di wajahnya.


"Yeay, Mama paling baik!" Sean kian memeluk mamanya dengan perasaan riang.


Diam-diam sang sopir yang tengah mengemudikan mobil di depan ikut terbawa suasana. Kedua sudut bibirnya melengkung tinggi menyaksikan interaksi manis antara Naura dan Sean.


Beberapa puluh menit berlalu, ketiganya telah sampai di depan pekarangan rumah mereka. Rumah yang hampir lima tahun lamanya telah ditinggali oleh keluarga kecil yang dipimpin oleh Calvin.


Rumah yang terkesan elegan dan minimalis itu tampak begitu nyaman walau hanya dilihat sekilas dari luar. Bangunan rumah yang terdiri dari tiga lantai itu pun terbagi menjadi beberapa ruangan utama. Dan diantaranya terdapat ruangan tambahan seperti tiga kamar lebih dan sebuah gudang tempat penyimpanan.


Untuk memarkirkan kendaraan terdapat garasi yang berada di samping pintu utama. Sebelum mobil hendak dimasukkan ke dalam garasi, Naura dan juga Sean turun terlebih dahulu di halaman rumah yang lumayan cukup luas.


Sepasang ibu dan anak itu tampak mengobrol ringan yang sesekali akan diselingi canda dan tawa di sepanjang langkah memasuki rumah mereka.


"Mah, Sean laper!" Adu Sean, tepat ketika ia dan juga Naura sampai di ruang keluarga.


"Sean laper? Sebentar, Mama angetin dulu lauknya. Kamu ganti baju dulu habis itu cuci tangan sama cuci kaki, oke?"


"Mandi?"


Naura lantas melirik jam dinding untuk memastikan sesuatu. "Nanti aja, ya. Lagi tengah hari. Takutnya malah demam. Cuci tangan sama kaki aja. Oh, iya, cuci muka juga biar seger." Terang Naura, dibalas anggukkan mantap oleh Sean.


Tanpa menunggu mamanya kembali menyuruh, Sean dengan cepat berlari menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Sementara Naura, wanita itu pun bergegas menuju dapur. Namun, belum sempat Naura benar-benar memasuki dapur, sebuah pemandangan tak biasa berhasil mengejutkannya.


"Sayang? Kamu ... kapan pulang?" Naura berusaha mengontrol perasaannya dengan masuk semakin dalam ke dapur. Kedua bola matanya menatap satu persatu masakan yang telah dihangatkan di atas meja.


"Eh, udah pulang?" Calvin berbalik, lalu merentangkan kedua tangannya, seolah tengah menyambut hangat kedatangan istrinya.


Paham maksud dari Calvin, Naura berlari memeluk tubuh Calvin. Sesekali Naura akan menghirup dalam-dalam aroma khas dari tubuh Calvin yang senantiasa membuatnya berbunga-bunga setiap saat.


"Tumben kamu pulang jam segini? Emangnya kerjaan kamu udah beres?" Perlahan namun pasti, Naura melepaskan pelukannya. Kepalanya mendongak menatap lekat-lekat wajah suaminya.


Tanpa diduga-duga, Calvin menarik pinggang istrinya semakin mendekat. Kecupan singkat Calvin daratkan di bibir Naura yang senantiasa menjadi candu.


"Belum beres, tapi 'kan ada Lia." Ujar Calvin, lalu kembali mendaratkan kecupan singkat di bibir Naura.


Naura tertawa geli seraya mencoba melepaskan diri dari pelukan Calvin. Sayangnya, Calvin sepertinya tidak berniat melepaskan Naura hari ini.


"Nanti dilihat Sean." Peringat Naura, saat Calvin dengan berani menciumi wajahnya, padahal keduanya masih berada di dapur.


"Mana? Nggak ada,"


"Sayang!" Naura mendorong dada Calvin, sehingga membuatnya menghentikan aksinya.


Dengan sangat berat hati, Calvin melepaskan Naura walau dalam hati merasa sangat tidak rela. Dan tak berapa lama, Sean datang memasuki dapur. Raut wajah datarnya langsung berganti cerah saat menyadari ada papanya di sana.


"PAPA!" Sean lalu berlari menghampiri Calvin. Anak laki-laki itu begitu senang bukan kepalang, apalagi ketika papanya mulai merentangkan kedua tangannya.


"Papa pulang jam segini? Kenapa nggak bilang sama Sean?" Bak tidak bertemu beberapa hari, Sean bertanya merentet pada Calvin. Padahal, Sean hanya tidak bertemu Calvin beberapa jam saja.


Walaupun begitu, waktu yang ayah dan anak itu rasakan cukup singkat. Tak jarang Sean bahkan sering kesepian karena tidak bisa bermain dengan papanya.


Bisa dibilang, Sean ini sangat dekat dengan Calvin. Apa-apa yang ditanya adalah papa, papa dan papa.


"Ya, 'kan biar surprise!" Ujar Calvin, lalu melepaskan pelukan putranya. "Sean katanya laper? Tuh, lauknya udah Papa angetin. Makan siang bareng, yuk!"


"Asikkk! Bisa makan siang bareng Papa!" Sean berlari mengitari meja makan lalu duduk di salah satu kursi yang senantiasa menjadi tempat duduknya.


Begitupun dengan Naura dan Calvin yang ikut menduduki kursi makan tempat mereka. Dengan penuh perhatian, Naura mengambil nasi untuk suaminya, Calvin, lalu dilanjut untuk putranya, Sean.


Senyuman tulus tak henti-hentinya terus terpatri di wajah cantik itu. Tanpa sedikit pun merasa terbebani, Naura melayani suami dan juga putranya dengan penuh cinta.


"Makan yang banyak. Habis ini, Mama punya kabar baik buat Papa sama Sean,"


"Kabar baik apa?" Bak disengaja, Calvin dan Sean berucap bersamaan. Pasangan ayah dan anak itu spontan menoleh lalu terkekeh.


"Hm, nanti aja habis makan."


"Sekarang aja, udah terlanjur penasaran soalnya. Ya 'kan, Sean?" Timpal Calvin, seraya meminta persetujuan dari putra sematawayangnya.


"Hm. Sean juga kepo."


Naura menghela napas pelan untuk memulai percakapan. "Hm, jadi ... keluarga kita akan kedatangan satu anggota keluarga baru."


"Hah? Maksudnya- tunggu! Ini, serius? Yang minggu kemaren langsung jadi?"


"Papaaa!" Naura memelototi Calvin. Bisa-bisanya suaminya ini berucap asal padahal di depan mereka masih ada Sean.


"Siapa?" Sean yang memang sejatinya tidak paham maksud dari ucapan mamanya pun bertanya. Dan sialnya, ucapan polosnya itu dibalas tawa renyah oleh Calvin.


"Maksudnya Mama tuh, Sean mau punya adek." Untuk membuat putranya paham, Calvin sedikit menerangkan intinya.


Dan, ya. Lihatlah ekspresi Sean yang terdiam memaku itu! Terlihat begitu terkejut dan bingung di waktu yang bersamaan.


"Jadi ... Mama lagi hamil?" Tanya Sean, setelah cukup lama dia terdiam.


Naura mengangguk. "Sean mau nggak punya adek?"


"Mau!"


"Sip! Mau cewek apa cowok, Sean?" Tanya Calvin. Jujur saja, hatinya kian berbunga setelah mengetahui kabar baik itu.


Tidak sia-sia usahanya selama ini untuk menambah satu lagi. Haha!


"Cewek aja, biar bisa Sean jagain."


"Janji, ya, Sean bakal jagain adek!" Naura mengangkat jari kelingkingnya di depan Sean. Tanpa pikir panjang, Sean mulai menautkan jari kelingkingnya. "Janji, asal cewek!"


"Yah, gak bisa gitu dong! Kalau adeknya cowok juga tetep harus dijagain." Calvin menengahi, mencoba untuk membuat putranya mengerti.


"Hm, ya udah, deh. Yang penting Sean punya adek, yeay!" Senyum Sean kian tercetak jelas. Begitupula dengan Naura dan Calvin.


Ah, ini terlalu indah untuk diakhiri. Semuanya berjalan terlalu manis setelah beberapa kali terjadi drama yang begitu menyedihkan dan memilukan.


Dan, ya. Hari ini adalah saatnya untuk menuai buah kebahagiaan.


Kisah memang telah berakhir, namun kehidupan keluarga kecil Calvin baru saja dimulai sepenuhnya. Masih banyak drama kehidupan yang menanti keluarga kecil itu di masa depan.


"Ayok, makan yang banyak! Pah, Sean, cobain ayam kecap buatan Mama, deh. Enak, lho!"


"Mauuu!"


"Hm, masakan apa pun kalau Istriku yang masak, semuanya pasti enak."


...~TAMAT~...