Quiet Wife

Quiet Wife
13. Wejangan Bapak Mertua



Setelah menyelesaikan mandi dan berganti pakaian, Calvin tak menemukan keberadaan Naura di dalam kamar. Membuatnya harus berjalan keluar untuk mencari keberadaannya.


Baru membuka pintu, Calvin langsung disuguhkan oleh Hermawan, papa mertuanya yang tengah mencicipi gorengan serta secangkir kopi seorang diri.


Menyadari kehadiran Calvin, seulas senyuman manis lantas terbit di wajah Hermawan. "Calvin? Baru selesai mandi?"


"Iya, Pah. Em, Naura di mana, ya? Saya cari di kamar, dia nggak ada."


Senyuman manis seolah terus menghiasi wajah Hermawan. Dengan hati yang berbunga-bunga, beliau menginterupsi Calvin agar duduk di sampingnya. "Sini dululah, Vin! Naura lagi di pesisir pantai. Paling juga lagi merenung sambil mikirin mamanya."


Calvin mengangguk paham, seraya ikut mendudukkan diri di sebuah sofa lain, dikarenakan sofa yang ditempati oleh Hermawan adalah sofa single.


"Mau kopi, Vin? Biar Papa suruh istrinya Mang Ujang bikinin satu lagi buat kamu," tawaran Hermawan, tak langsung diangguki oleh Calvin.


"Nggak usah, Pah. Takutnya malah ngerepotin."


"Kok, ngerepotin? Kamu 'kan sudah menjadi anggota keluarga ini juga. Kamu itu suaminya Naura, menantu Saya. Mau, ya?" Tawar Hermawan lagi yang kini dibalas senyuman tipis oleh Calvin.


"Boleh, Pah. Terima kasih."


"Rani! Buatin kopi satu lagi buat Mas Calvin!" Hermawan menyahut lantang, yang dibalas sahutan lantang juga dari arah dapur.


"Iya, Pak!"


"Lupa. Kopi apa, Vin?"


"Apa aja, Pah." Balas Calvin, yang disambut kekehan pelan oleh Hermawan.


Tak butuh waktu lama, Rani, perempuan muda yang katanya adalah istrinya Mang Ujang, seorang supir, penjaga rumah sekaligus tukang kebun, membawakan sebuah nampan berisi secangkir kopi hitam dan beberapa toples camilan.


"Diminum dulu, Mas Calvin. Maaf, kopinya cuman ada ini. Rani lupa belum nyetok." Ujarnya, sopan. Tak lupa diiringi dengan seulas senyuman.


"Gak pa-pa. Makasih, ya, Mbak Rani."


"Sama-sama."


Setelah usai, barulah Rani kembali ke dapur, untuk melanjutkan aktivitasnya memilah bahan makanan. Oh, ya. Rani adalah seorang pembantu di rumah Hermawan yang bertugas sebagai tukang masak dan beres-beres rumah. Dia sudah cukup lama bekerja di sini bersama dengan Ujang.


"Diminum, Vin!"


"Iya, Pah."


Hening. Suasana mendadak canggung, tak ada lagi obrolan di antara keduanya. Calvin yang sibuk memikirkan perasaan bersalah pada Hermawan yang selama ini terus menghinggapi dadanya. Sedangkan Hermawan, beliau sedang memikirkan bagaimana caranya memulai obrolan itu, namun tidak langsung bertanya ke inti.


Helaan napas berat sama-sama keduanya embuskan. Tersadar melakukannya bersamaan, keduanya lantas saling pandang beberapa saat. Kemudian diakhiri dengan tertawa pelan setelahnya.


"Sebenarnya, Papa mau bicara empat mata sama kamu, Vin. Tapi ... Papa gak tahu harus mulai dari mana dulu?"


Calvin terkekeh pelan, sebelum dirinya benar-benar menyeruput kopinya. "Serius banget kayaknya,"


"Iya. Mau didengerin, gak, nih?"


"Didengerinlah, Pah. Masa mertua sendiri ngajak ngobrol, kok dianggurin." Ujar Calvin. Sanggup membuat Hermawan lagi-lagi terkekeh akibat perkataannya.


"Sebenarnya ... Papa mau tanya satu hal sama kamu. Kalau boleh tahu, dari sejak kapan Naura kembali berbicara? Dan, apa penyebabnya? Jujur, melihat Naura memanggil nama Papa tadi, Papa terkejut! Bahkan, rasanya Papa pengin nangis sambil menyebutkan nama almarhummah istri Papa tadi. Papa senang sekali melihat Naura seperti dulu lagi. Jujur saja, Papa rindu suara Naura yang begitu merdu."


Sungguh, perkataan demi perkataan Hermawan membuat Calvin kian penasaran, dengan apa yang sudah terjadi pada Naura. Apalagi ketika melihat sepasang bola mata Hermawan yang berubah berkaca-kaca.


"Sejujurnya, Saya belum melakukan apa-apa untuk membuat Naura seperti sekarang ini, Pah. Saya gak tahu kalau Naura itu sebenarnya tidak benar-benar bisu. Saya terkejut ketika dia meminta pertolongan Saya waktu itu. Tetapi, Saya berusaha untuk tidak bertanya panjang lebar sama dia. Saya takut jika Saya bertanya, Saya akan membuka luka lama Naura."


"Jadi ... Naura yang lebih dulu meminta pertolongan sama kamu, makanya sampai sekarang dia terus berbicara? Pada siapa pun?" Tatapan penuh rasa keterkejutan Hermawan, dibalas anggukkan pasti oleh Calvin.


"Tapi, Naura tidak berbicara pada sembarang orang. Dia hanya berbicara pada Saya. Pada Mama dan Papa, itu pun Naura baru mencoba sedikit tadi sebelum berangkat ke sini. Mama juga kelihatannya syok, tapi seperti Papa, Mama tidak berbuat apa-apa selain hanya tersenyum bahagia." Terang Calvin. Saat itu juga, helaan napas lega keluar dari mulut Hermawan.


Secuil harapan yang selama ini terus ia panjatkan, ternyata benar-benar ada. Putrinya yang sudah Hermawan anggap tak akan lagi berbicara setelah semua kejadian memilukan yang terjadi, nyatanya hari ini, Naura kembali menjadi Naura yang dulu.


Walau baru sedikit, asalkan Naura mau, dia bisa melakukan apa pun. Yang terpenting, dia mau terbuka pada keluarganya. Termasuk Calvin, suaminya.


"Terima kasih, ya, Calvin. Dulu, Papa sempat benci sama kamu karena sudah menodai putri Papa satu-satunya. Tetapi sekarang, sepertinya Papa tidak harus membenci kamu lagi. Apa ... kamu mencintai Naura?" Pertanyaan tiba-tiba itu sedikit membuat Calvin termangu beberapa saat. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, apalagi ketika memikirkan pertanyaan Hermawan tentang, apakah dirinya mencintai Naura?


"Saya ..."


...****...


"Naura!" Calvin berlari menghampiri Naura yang terlihat melamun di atas sebuah ayunan kayu di pesisir pantai.


Tersadar ada yang menyahuti, refleks kepalanya menoleh ke belakang. Sebuah senyuman yang terlampau manis lantas terbit di wajah Naura.


"Mas Calvin kenapa ke sini?" Senyuman itu kian merekah, sesaat ketika Calvin tiba di hadapannya. Meraup udara sebanyak-banyaknya, setelah cukup lelah dirinya berlari menghampiri Naura.


"Pulang, yuk! Mbak Rani udah siapin makan malem." Jawaban kontan dari gelengan kepala yang Naura perlihatkan, membuat Calvin spontan mengerutkan kedua alisnya.


"Kenapa?" Menyadari ada ayunan lain yang kosong di samping Naura, langsung saja Calvin mendudukinya.


"Masih pengin di sini. Aku kangen sama suasana rumah. Udah hampir dua bulan aku gak main di sini. Dan, udaranya masih sama." Terang Naura. Diam-diam dia melirik Calvin yang tengah menatap jauh ke arah ombak dan lautan pun langit yang mulai berwarna jingga kemerahan.


"Hm, Nau!"


"Iya?" Sahutan Calvin, lagi-lagi membuat Naura menoleh dengan begitu antusias.


Dengan perhatian yang kembali pada Naura, Calvin bertanya, "Di mata kamu ... aku kayak gimana?"


"Hm ... baik?" Jawab Naura, namun pengucapannya lebih terdengar seperti sebuah pertanyaan.


"Doang?"


"Enggak!"


"Perhatian?"


"Lagi?"


"Ganteng?"


Sial! Bisa-bisanya Naura memuji Calvin yang sedang berusaha untuk serius. Rasanya, telinganya sangat panas hari ini. Dengan degup jantung yang bertalu-talu, Calvin berusaha tetap tenang, walau telinganya sudah tampak seperti tomat masak.


"Ekhem. Terus, ada lagi?"


"Dih! Nggak ada, udah habis."


Ya ampun, Nau! Baru juga dibuat terbang, udah disuruh merangkak lagi aja. Untung, sayang.


"Dikit banget."


"Ck. Emangnya ada apa, sih? Tiba-tiba nanya begituan. Ya, bingunglah!" Naura melipat kedua lengannya di dada. Perasaannya mendadak dongkol akibat Calvin yang terus menuntut lebih.


"Ya, nanya doang, sih. Gak boleh?"


"Gak boleh!" Ucap Naura, sengit. Sepasang bola matanya sengaja menyipit tajam yang langsung ditujukan pada Calvin.


"Kenapa gak boleh?" Melihat Naura yang emosian karena ulahnya, Calvin jadi tertarik untuk semakin mengusili Naura. Dengan sengaja, Calvin menarik ayunan agar posisinya dapat semakin berdekatan dengan Naura.


"Ish!" Terlanjur kesal setengah mati, Naura bangkit dari ayunan. Saat hendak pergi, Calvin buru-buru mencegahnya.


"Mau ke mana?"


"Pulang!"


"Kok, gak ngajak?"


Terdengar dengusan panjang dari mulut Naura. "Ya udah, ayok!"


"Ke mana?" Tanya Calvin, sengaja ingin membuat Naura tambah emosi.


"Pulang!"


"Pulang ke mana?"


"Iihh! Ke rumah papa, yang di situ tuh!" Dengan kesabaran yang berada di ujung tanduk, Naura menunjuk rumah papanya yang berada cukup jauh dari tempat mereka berdiri.


Melihat reaksi Naura yang marah-marah, membuat Calvin tidak bisa lagi menahan tawa. "Lucu banget si ekspresinya, ululuhh! Istriku lucu bangettt!" Calvin mencubit kedua pipi chubby Naura, dan memainkannya beberapa saat.


Tentu saja apa yang Calvin lakukan, membuat Naura menjerit kesal. "Iiihh! Mas Calvin! Kok, pipi aku dicubit?"


"Siapa suruh pipinya chubby, lucu, kayak kucing."


"Apa? Kucing?"


Habis sudah kesabaran Naura teruntuk Calvin. Untuk balas dendam atas semua cubitan dan panggilan aneh dari Calvin, Naura menggelitiki tubuh Calvin.


Siapa yang menyangka, ternyata Calvin begitu sensitif?


"Aw! Nau, apaan sih? Geli! Aw!"


"Siapa suruh Mas Calvin nyebelin? Cubit-cubit pipi orang sembarangan, mana ngatain aku kayak kucing lagi! Aku tarik lagi ucapan aku tentang kalau Mas Calvin itu orangnya baik, perhatian dan ganteng."


"Heh, gak bisa gitu! Emangnya tali ditarik-tarik? Aw! Nau!?" Terlanjur terbawa suasana, Calvin menarik kedua tangan Naura, tepat ke hadapannya. Membuat tubuh Naura yang memang cukup mungil bila disandingkan dengan tubuh Calvin, ikut tertarik ke depan.


Saat itu juga, Naura yang masih memasang tawa karena telah berhasil mengerjai Calvin, langsung terdiam seribu bahasa. Kedua bola matanya lantas memelotot. Bahkan, tenggorokannya tiba-tiba terasa kering entah kenapa.


"Hm? Mau gelitikin lagi? Ayok! Mana yang lebih cepet, tangan kamu atau bibir aku."


Seketika itu juga, rona merah muda kembali menghiasi wajah Naura. "A-apaan sih? Le-lepas!"


"Enggak! Minta maaf dulu,"


"I-iya udah, aku minta maaf! Lepas, please!"


"Gak tulus gitu minta maafnya. Sekali lagi." Suruh Calvin, sengaja memasang raut wajah serius, padahal dalam hati, Calvin sedang berusaha menahan tawa.


"Maaf!" Ujar Naura, masih berusaha bersabar. Takut jika sewaktu-waktu Calvin akan kembali mencuri ciuman di bibirnya.


Seulas senyuman miring kemudian terpampang jelas di wajah Calvin. Sialnya, senyuman itu membuat Naura bergidik, jika sewaktu-waktu, Calvin akan berbuat yang aneh-aneh.


"Ya udah. Tapi sebagai gantinya, aku mau sesuatu."


"Apa?" Tanya Naura, suaranya terdengar begitu kecil hampir terkubur oleh suara deburan ombak.


Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Calvin melepaskan tangan Naura tanpa dirinya sadari. Setelahnya, dengan nakal, satu tangannya menarik Naura semakin mendekat. Dan tangan satunya lagi terangkat untuk mengangkat dagu Naura hingga sedikit mendongak.


Tanpa menunggu lebih lama, Calvin menjatuhkan ciumannya di bibir Naura.


Candu. Satu kata itu seolah menguasai diri Calvin untuk terus mencicipi rasa manis dari bibir Naura yang membuatnya ketagihan. Sekali mencoba, ingin terus melakukannya.


Seolah belum cukup puas hanya saling menempelkan, Calvin menggigit pelan bibir bawah Naura, membuat mulutnya lantas terbuka walau sedikit.


Kesempatan!


"Eumh ... Mas Calvin- hmph!"


^^^To be continued...^^^