Quiet Wife

Quiet Wife
42. Kehilangan



Malam dengan gemericik air hujan, menjadi malam paling menegangkan di antara malam-malam yang lain. Seluruh keluarga dibuat panik oleh sebuah fakta mengejutkan yang terucap dari bibir Naura. Tubuhnya bergetar dan tangisnya meluap. Bibirnya yang mengucapkan beberapa patah kata tentang Calvin saat ini, sudah cukup membuat seluruh keluarga, termasuk Naura sendiri, memutuskan untuk menyusul ke pantai.


Fani, Divo, Arvin dan Naura, keempatnya dibuat mematung tanpa sedikit pun ada yang bersuara. Di tengah hujan yang tak lagi deras, jalanan terlihat cukup macet di depan. Perasaan kesal dan tidak terima membuat suasana semakin tegang.


Divo terus menerus menghela napasnya sembari menyandarkan kepala pada punggung kursi kemudi. Perasaannya kalut, takut sesuatu yang buruk terjadi pada Calvin.


Sedangkan Arvin, laki-laki itu sibuk menghubungi satu persatu teman alumni Calvin yang kebetulan beberapa di antaranya Arvin kenali. Sayang, satu orang pun tidak ada yang menjawab panggilannya. Arvin kian frustasi di tempat. Jemarinya dengan spontan menjambak rambutnya sendiri.


Sedangkan Fani dan Naura, kedua perempuan berpaut usia yang begitu jauh itu tengah menangis histeris.


Mungkin, yang paling histeris saat ini adalah Naura. Sementara Fani, beliau juga sama takutnya. Tetapi mengingat dirinya jauh lebih tua, Fani berusaha untuk menyembunyikan kekalutannya. Mencoba menenangkan Naura yang terus menangis menyebut nama Calvin.


Mungkin sesekali Fani juga akan meneteskan air mata. Tentu saja, ibu mana yang tahan ketika mendengar putranya sendiri dinyatakan sebagai orang yang hilang di perairan pantai?


Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi pada Calvin.


Entah karena doa yang terus mereka panjatkan tiada henti, jalanan yang tadinya macet total mulai lengang. Tanpa pikir panjang, Divo menancap gas secepatnya. Tidak sampai satu jam, mereka akhirnya sampai.


Hujan mulai berhenti, dan hal itu semakin membuat Divo yakin, jika putranya akan baik-baik saja.


"Sekarang kita ke mana?" Fani bertanya bingung. Kepalanya celingukan menatap ke segala arah.


Bukan apa-apa. Hanya saja, suasana pantai yang biasanya selalu tampak ramai, mau itu siang ataupun malam, semuanya mendadak sepi. Hanya sedikit yang berlalu lalang.


"Itu kayaknya tenda posko? Kita ke sana aja!" Arvin menunjuk sebuah tenda yang berada cukup jauh dari posisi mereka.


Tanpa berniat menunggu anggota keluarganya yang lain, Arvin lantas berlari. Papanya yang melihat hal itu pun turut berlari mengejar Arvin. Sedangkan Fani dan Naura, kedua perempuan itu tidak mungkin ikut berlari.


Mungkin Fani bisa, tapi Naura? Naura sedang hamil, dan ibu hamil tidak boleh lari-lari.


Berusaha untuk tetap bisa menyusul, keduanya hanya mempercepat langkah tanpa berniat memerhatikan sekitar.


Tanpa berucap sepatah kata, Arvin membuka tirai tenda tersebut dengan cukup kasar. Beberapa orang yang berada dalam tenda posko itu jelas saja dibuat terkejut.


"Calvin mana?" Arvin tidak memedulilan orang-orang yang menatapnya heran. Fokus tujuannya saat ini adalah Calvin.


Salah seorang laki-laki yang tengah tiduran dengan luka ringan di beberapa sudut wajah dan anggota tubuh lain tampak berusaha bangkit dari posisinya. Seorang perempuan yang berada di sisinya dengan spontan membantu laki-laki itu.


"Bang Arvin!" Sahutan serak itu seketika mengalihkan perhatian Arvin. Tanpa pikir panjang, Arvin melangkah mendekati laki-laki itu yang kalau dirinya tidak salah ingat, dulu adalah teman akrab Calvin sewaktu SMA.


"Lo Zaki 'kan? Adek gue mana? Gue denger, Calvin sama dua orang yang lain hilang di laut. Ini gimana ceritanya? Kenapa bisa kayak gini?" Tak berapa lama setelah Arvin bertanya panjang lebar, papanya datang. Raut wajahnya tampak sama takutnya.


Melihat Arvin yang tengah bertanya intens pada seorang pemuda yang memiliki beberapa luka di tubuhnya, lantas saja Divo menghampiri mereka.


"Di mana Calvin?"


Zaki menghela napas panjang sembari menunduk. "Maaf, Om, Bang! Saya ... juga tidak tahu. Saya juga baru siuman belum lama. Reki sama Calvin sampai sekarang belum ditemukan."


"Apa?" Ucapan syok itu bukan terlontar dari Arvin maupun Divo. Melainkan Fani dan Naura yang baru saja tiba di depan pintu tenda.


"Jadi di sini Zaki juga salah satu korban orang yang hilang itu, Kak, Om! Zaki baru siuman belum lama. Kakinya patah dan tubuhnya luka-luka." Aliya menyela dengan perasaan takut.


Jujur saja, tatapan Arvin padanya begitu dingin dan mengerikan. Entah karena dia cemas pada adiknya atau bagaimana, yang jelas, Aliya sungguh sangat takut melihatnya.


"Tapi, tim penyelamat masih beroperasi 'kan?"


"Itu ..." Zaki menjeda ucapannya saat ponsel Aliya berbunyi. Aliya yang pada saat ini kebetulan tengah menggenggam ponselnya pun tanpa pikir panjang langsung mengangkatnya.


"Iya, Rom? Gimana? Reki sama Calvin udah ketemu?" Seolah paham maksud gestur tangan serta wajah yang diperlihatkan Arvin, Aliya mulai menjauhkan sedikit ponselnya dari daun telinga. Lalu menekan tombol speaker agar semua dapat mendengarnya.


"Parah, Al! Tim penyelamat harus nunda operasi karena gelombang laut yang semakin besar. Bahkan katanya diperkirakan bakalan ada badai laut susulan."


Naura semakin menangis dalam dekapan hangat Fani. Batin serta pikirannya sudah tidak bisa lagi diajak berpikir positif.


"Terus kira-kira lanjut operasinya lagi kapan?" Bukan hanya keluarga dari Calvin, Aliya pun merasakan hal yang sama saat ini.


"Kalau badainya nggak parah, mungkin dilanjut lagi jam satu atau nggak jam dua subuh. Tapi kalau parah, mungkin lanjut besok pagi. Dan, tim penyelamat bilang kemungkinan walaupun korban ditemukan, mungkin sudah dalam keadaan yang berbeda. Mohon lo sampein ini ke keluarganya Calvin sama Reki."


Semuanya tidak bisa lagi berkata-kata. Hanya keterdiaman serta air mata yang memenuhi suasana malam berangin itu.


Suasana tegang rasanya semakin bertambah kacau. Calvin hilang dan masih belum bisa ditemukan. Sedangkan Naura, perempuan itu dibuat terlalu syok sampai berujung pingsan. Tanpa pikir panjang, Arvin membopong tubuh Naura dan menidurkannya di tenda posko yang masih memiliki sedikit ruang.


...****...


"Makan dulu, Din-"


"Nggak. Gue nggak mau! Gue mau ketemu sama Reki!"


"Kita doain yang terbaik, ya. Semoga Reki sama-"


"Kalau sampai Reki kenapa-kenapa, gue nggak mau hidup lagi."


Naura mengernyitkan dahi, saat suara bising orang-orang di sekitar, menusuk indera pendengarannya. Perlahan, Naura menarik napas dalam-dalam. Menghirup aroma hangat nan menenangkan dari botol minyak angin yang dibiarkan terbuka di depan rongga hidungnya.


Dengan sangat berat, Naura mulai mengerjapkan mata sampai akhirnya mulai tersadar sepenuhnya. Fani yang sedari tadi menangis melihat kondisi Naura, perlahan senyumannya mulai kembali walau sedikit.


"Naura! Kamu udah sadar?" Divo dan Arvin yang tengah berjaga di luar dibuat kembali memasuki tenda posko.


"Gimana? Ada yang sakit, pusing? Mau Papa beliin minum?"


"Biar aku aja, Pah, yang beli minum." Arvin berucap cepat, lalu melenggang membeli air minum untuk Naura.


"Mas Calvin mana? Tadi aku mimpi, kalau Mas Calvin ninggalin aku sama calon anak kami selamanya. Tapi ... itu cuman mimpi 'kan, Mah?" Fani dan Divo, serta beberapa teman dari Calvin, seketika dibuat terdiam oleh perkataan Naura. Air mata lagi-lagi luruh membasahi wajah mereka.


"Enggak, itu bukan mimpi! Kita doakan semoga Calvin cepat ditemukan, ya! Kamu harus ikhlas, apa pun yang terjadi nanti." Fani lantas memeluk tubuh menantunya yang kembali menangis.


Jujur saja, Fani tidak rela jika putranya akan bernasib begitu tragis seperti saat ini. Posisinya masih belum bisa diperkirakan, tapi kondisinya kemungkinan besar tidak akan seperti semula, yang artinya; kemungkinan besar nyawa Calvin sudah tidak ada.


"Aku mau ketemu Mas Calvin, Mah! Dia udah janji mau pulang hari ini nemuin aku! Aku mau ketemu sama Mas Calvin, dan bilang kalau aku udah punya rekomendasi nama yang cocok buat calon anak kami! Mah, aku mohon! Aku mau ketemu sama Mas Calvin!" Naura kian menangis histeris, membuat beberapa orang yang juga berada di dalam satu tenda posko yang sama, dibuat ikut merasakan kesakitannya. Termasuk Adinda, selaku pacar dan tunangan dari Reki.


"Apa gue berlebihan? Bahkan ada orang yang jauh lebih menderita dibanding gue. Dia lagi hamil muda dan sekarang harus kehilangan suaminya. Sedangkan gue, gue sama Reki aja cuman status tunangan dan udah seterluka ini? Apalagi dia?" Adinda berkali-kali terus menyeka air mata yang menerobos tanpa diminta. Begitupun dengan beberapa sahabatnya yang ikut menjadi saksi.


"Kalau jadi Naura, gue nggak akan sanggup. Apalagi sekarang dia lagi hamil. Mungkin kalau itu gue, gue akan mengakhiri hidup." Timpal Tasha, yang dibalas anggukkan spontan oleh Adinda dan Wika.


"Baru ngebayangin aja gue udah gak mampu, apalagi dia yang ngerasain? Ya ampun, gue gak bisa berhenti nangis!" Wika menyembunyikan wajahnya dengan air mata yang terus mengguyur tanpa mau berhenti.


Seperti kata ketiga perempuan itu, membayangkan sesosok orang paling dicintai pergi tiba-tiba, rasanya begitu menyakitkan sampai tidak kuasa untuk hanya sekadar membayangkan.


Semoga kita semua tidak akan pernah merasakan kehilangan yang teramat menyedihkan seperti yang dirasakan oleh Naura.


Sayangnya, kenyataan akan perpisahan itu nyatanya tidak akan pernah bisa dihindari.


...****...


Pagi harinya, tim penyelamat memulai kembali operasi pencarian yang sempat tertunda akibat gelombang air laut pasang dan juga badai yang kembali menerjang. Perasaan kalut dari sejak kemarin malam, sampai di pagi hari ini pun perasaan itu masih tetap melekat sama. Atau bahkan kian meronta.


Di pinggiran pantai dengan cuaca yang terbilang cukup bagus, Arvin, beserta seluruh anggota keluarganya telah stand by di tempat. Raut tegang masih setia terpancar. Sesekali, batin mereka terus memanjatkan berbagai doa yang terbaik untuk keselamatan Calvin.


Jika memang Calvin telah meninggal, setidaknya pertemukanlah mereka dengan jasadnya. Mungkin setidaknya, perasaan tegang itu akan sedikit melebur. Dan mungkin setelah itu, mereka hanya tinggal berusaha untuk mengikhlaskan.


Sedari kemarin sampai pagi ini, Naura terus menerus melamun dengan pandangan mata yang kosong. Wajahnya pucat dan matanya sembab. Semalaman perempuan itu terus menangisi Calvin. Berharap suaminya dapat segera ditemukan dalam keadaan baik-baik saja.


Namun sepertinya, takdir berkata lain. Sampai detik ini pun, tim penyelamat masih belum bisa menemukan Calvin.


Ya Tuhan! Mengapa Engkau tuliskan kisahku seperti ini? Awalnya Engkau yang menyudutkanku dalam situasi di mana aku diharuskan menikah dengan laki-laki yang tidak pernah aku pikirkan.


Namun ketika aku mulai mengenalnya lebih dalam bahkan sampai mencintainya dan mengandung buah hatinya, mengapa Engkau malah menjauhkanku dengannya?


Takdir seperti apa yang Kau tuliskan untukku?


Apakah maksud dari semua yang terjadi sampai hari ini adalah teguran, karena aku telah membuat nyawa Mamaku sendiri melayang?


Jika iya, Hamba mohon, jangan hukum Hamba lebih banyak lagi! Sesungguhnya, Hamba bukanlah manusia kuat. Hamba rapuh!


Tolong, kembalikan Suami Hamba! Hamba sangat mencintainya!


^^^To be continued...^^^