Quiet Wife

Quiet Wife
48. Kembali



Seminggu telah berlalu sejak Calvin mulai tersadar dari koma. Calvin sudah mulai bisa beraktifitas seperti biasa. Kakinya yang sempat lemas tidak bisa berdiri, semuanya kembali normal. Sayangnya, Calvin masih terkurung bersama Naima di hotel yang sama.


Tidak ada yang terjadi di antara keduanya. Hanya hal-hal biasa, di mana Naima sering berlaku manja pada Calvin, yang selalu berakhir dengan Calvin yang tidak mengindahkannya.


Seperti halnya yang terjadi saat ini. Naima membawa Calvin jalan-jalan ke pesisir pantai. Perempuan itu terus berceloteh manja pada Calvin, seolah Calvin adalah kekasihnya.


Sedangkan Calvin sendiri, dia masih enggan untuk berbicara. Mulutnya terkatup rapat dengan ekspresi datar penuh tekanan.


Calvin ingin pulang dan menemui Naura. Namun karena Naima, Calvin selalu mengurungkan niatannya. Apalagi ketika disetiap harinya perempuan itu selalu memperlihatkan potret bahkan video kebersamaan Naura dengan pemuda asing yang terlihat semakin akrab.


Sialnya, Calvin yang awalnya masih teguh pada kepercayaan dirinya, perlahan rasa itu sedikit demi sedikit mulai melebur.


Apakah Naura benar-benar telah melupakannya?


Apa yang akan terjadi jika Calvin pulang dan menemui Naura, tetapi istrinya itu malah bersama dengan pria lain?


Apa yang harus Calvin lakukan?


"Calvin? Kok, lo bengong aja, sih?" Tepukan pelan di lengan Calvin, seketika menyadarkannya dari lamunan. Kepalanya refleks menoleh pada Naima yang belum juga tampak lelah memperlihatkan rona kepalsuan.


Kedua alis Calvin berkerut dalam. Ingin rasanya Calvin membentak maupun menyingkirkan tangan Naima yang dengan berani memeluk lengannya.


"Cal?" Naima menyahut bingung akan ekspresi Calvin. Dengan malas, Calvin mendengus seraya membuang muka dari Naima.


Senyum di wajah Naima perlahan mulai luntur karena keterdiaman Calvin. Selama seminggu penuh ini, Naima tidak pernah absen untuk memberikan perhatian dan ketulusannya pada Calvin. Tapi sayangnya, Calvin masih tetap demikian. Dingin dan tidak tersentuh.


Sebenarnya, di mana yang salah? Pikir Naima.


"Ekhem. Cal, lihat, deh. Lautnya bagus banget 'kan? Biru langit cerah gitu. Lo-"


"Laut? Sea? Seanna? Seanno?" Naima menoleh bingung mendengar gerutuan Calvin.


"Lo ngomong apa?"


"Nggak. Gue cuman lagi mikirin nama yang cocok buat calon anak gue nanti." Hening. Naima seketika bungkam oleh penuturan Calvin.


Kenapa rasanya begitu menyakitkan? Apakah selama ini Naima salah telah memisahkan Calvin dari Naura?


Seberapa keras pun Naima berusaha menerobos dinding pertahanan yang dibuat Calvin, Naima tetap tidak bisa menghancurkannya.


Jujur saja, jika terus demikian, Naima juga lelah! Dia juga ingin dicintai oleh Calvin, seperti Calvin yang tidak pernah absen mencintai Naura.


Apa selama ini gue udah salah, ya? Apa gue ikhlasin Calvin dan ... Enggak! Sadar, Naima! Ini cuman tentang waktu! Gue yakin dalam sebulan, Calvin akan kembali mencintai gue seperti dulu! Iya, itu pasti.


"Cal, kita-"


"Seanno Angkasa Regartha, Seanna Claudia Akmilia. Antara dua nama ini gue yakin bakal cocok buat calon anak gue. Opsi pertama kalau anak gue cowok, opsi kedua kalau anak gue cewek." Naima semakin dibuat membisu tatkala Calvin melanjutkan ucapannya tanpa sedikit pun mengajak Naima untuk masuk ke dalam obrolannya.


Sial!


"Cal!" Perlahan, Naima melepaskan pelukannya pada lengan Calvin. Kepalanya menunduk seiring dengan tetes demi tetes air mata yang jatuh menuruni wajah.


"Lo selalu penasaran 'kan, kenapa lo bisa berakhir di sini sama gue? Gue akan cerita." Ungkapan itu membuat Calvin lantas menoleh dan memokuskan perhatiannya pada Naima.


Dan, ya. Hal itu semakin membuat Naima yakin jika Calvin, selamanya tidak akan beralih mencintainya.


"Soal acara reuni waktu itu yang jadwalnya dipercepat, sebenarnya itu ide gue. Gue nyuruh orang dalam buat mempercepat acara itu."


"Jadi dari awal lo yang nyelakain gue?" Ekspresi Calvin berubah keruh, dan hal itu membuat Naima kelimpungan.


"Enggak! Bukan gitu. Dengerin gue sampai akhir, gue mohon!" Saat Calvin berancang-ancang hendak pergi, Naima buru-buru mencegahnya. Karena terlanjur terbawa emosi, Calvin menepis tangan Naima seraya membuang muka.


"Niat awal gue adalah mau deketin lo di sana. Pura-pura menjadi pertemuan tidak disengaja. Dan ..."


"Dan apa?" Nada suara Calvin terdengar begitu rendah sampai membuat Naima bergidik mendengarnya.


"I-ini baru rencana. Gue mohon untuk lo jangan marah dulu dan dengerin gue sampai selesai, oke?" Calvin mendengus kesal lalu berdecak. Kepalanya mengangguk dengan malas.


"Gu-gue ... punya rencana buat jebak lo di hotel ini. Harapan gue adalah, lo terbangun di hotel sama gue yang di samping lo. Tapi semuanya gagal ketika gue denger berita kalau lo terseret badai laut.


"Terus?" Calvin masih merasa ada yang mengganjal. Dan Calvin ingin mengorek semuanya.


"Terus ... beberapa hari kemudian, gue denger keluarga lo terus nyariin lo. Gue sempet mau ngasih tahu keluarga lo, tapi sisi jahat gue berkata buat rahasiain ini supaya lo tetap berada di sisi gue sampai hari ini."


Calvin terkekeh sarkas mendengar akhir dari penuturan Naima yang terkesan seperti cerita dongeng. Terlalu palsu untuk dipercaya.


"Ini serius, Cal! Dan sekarang, gue nyesel. Maafin gue, ya, Cal! Lo boleh pergi sekarang." Kekehan Calvin seketika terhenti ketika mendengar ujaran lain dari mulut Naima. Kepalanya kembali menoleh pada perempuan itu yang tampak menunduk dalam, seolah benar-benar menyesal dengan apa yang sudah dia perbuat.


"Titip salam buat Naura, bilang kalau gue dalang dari semuanya. Dia boleh nggak maafin gue, karena gue juga sadar, kesalahan gue terlalu fatal. Mulai sekarang, gue nggak akan pernah tampakkin diri lagi di hadapan lo maupun istri lo. Sekarang, lo bebas, Cal! Lo boleh temuin istri tercinta lo yang lagi mengandung."


"Ini bukan trik lo 'kan?" Sejujurnya, masih terlalu dini bagi Calvin untuk memercayai Naima. Rasanya tidak mungkin, tetapi Calvin ingin sekali memercayainya agar dia dapat segera bertemu dengan Naura.


"Maaf, ya, Cal! Naura lagi ada di rumah papanya kalau lo mau nyari dia. Dari sini cuman setengah jam. Dan gue jamin, di antara Naura dan cowok yang selalu ada di foto yang gue kasih ke lo, mereka gak pernah punya hubungan spesial. Semoga kalian bisa hidup bahagia. Gue ... bener-bener minta maaf!"


...****...


"Naura, aku ... pamit, ya?" Sebelum benar-benar pergi menuju bandara, Ivan memilih berpamitan terlebih dahulu dengan Naura. Setelah penolakan jelas dari Naura hari itu, Ivan memutuskan berhenti mengganggu Naura.


Seperti kata penggalan nasehat yang Ivan baca di forum internet, "Merelakan kepergian seseorang yang dicintai itu tidaklah mudah. Butuh waktu dan proses yang lama untuk bisa kembali bangkit seperti semula."


"Maafin aku, ya, Van! Semoga di luar sana, kamu bisa menemukan wanita paling sempurna yang akan mengerti dan mencintai kamu seutuhnya." Naura mengulurkan tangannya, berharap Ivan mau menjabat tangannya.


Sempat terdiam beberapa saat, Ivan menerima tulus uluran tangan Naura dan menjabatnya cukup lama. "Doain, ya. Aku juga akan doain kamu, semoga di hari persalinan nanti, semuanya bisa berjalan lancar. Kalau gitu, aku pamit."


"Aamiin. Makasih, ya, Van! Hati-hati di jalan!" Naura melepaskan jabatan tangannya. Dan hal itu membuat Ivan semakin sadar untuk segera beranjak dari sana.


Dengan berat hati, Ivan tersenyum miris seraya memundurkan langkahnya. "Aku pamit!" Ucap Ivan lagi, seraya melambaikan tangan. Setelahnya, tanpa berniat lebih lama, Ivan mulai memasuki mobil yang dikendarai oleh supir pribadi papanya.


Dan, ya. Tujuan Ivan kali ini adalah, pulang. Kembali ke tempat asalnya atau mungkin pergi ke Swis seperti yang telah dia ucapkan pada Naura.


Swiss adalah negara impian Ivan yang berangan-angan jika suatu saat, Naura menjadi miliknya. Tetapi sepertinya, Swiss akan menjadi negara pelarian Ivan untuk melupakan Naura.


Mobil Ivan telah sepenuhnya pergi dari pelataran rumah Naura. Kini, tinggal Naura seorang diri.


Naura kecewa?


Tentu saja tidak! Ivan pantas mendapatkan yang jauh lebih baik ketimbang dirinya. Sekarang, semuanya sudah jelas. Sekalipun Calvin memang telah tidak ada, Naura akan tetap hidup demi calon buah hatinya.


Dengan langkah pelan, Naura berjalan menuju pintu rumahnya yang terbuka lebar. Belum sempat kakinya menginjakkan kaki di teras rumah, suara dari sebuah mesin mobil terdengar memasuki pelataran rumahnya.


Ketika menoleh, Naura mengira jika itu adalah Ivan yang kembali karena melupakan sesuatu. Namun ternyata, itu bukanlah Ivan. Flat nomor beserta mobilnya tidak sama dengan milik Ivan.


Kedua alis Naura sempat mengernyit saat sosok di balik kaca mobil itu tampak terburu-buru mematikan mesin dan melepas ikatan sabuk pengaman. Ketika pintu mobil mulai terbuka dan mulai menampakkan sosok tak terduga, dari situlah Naura dibuat terkejut sampai tidak bisa berkata-kata.


"Mas Calvin?" Naura menggerutu pelan, masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.


Waktu seolah berhenti berputar ketika tak ada siapa pun diantara mereka yang memilih menghampiri satu sama lain. Keduanya seolah sama-sama terkejut dan tidak percaya atas apa yang saat ini terjadi.


"Naura! Aku pulang!" Saat itu juga, Naura serasa ditarik kembali ke dunia nyata. Air matanya luruh dengan kedua kakinya yang dengan cepat berlari menghampiri Calvin.


Begitupula dengan Calvin. Laki-laki itu melotot begitu melihat istrinya yang tengah hamil berlari untuk menghampirinya.


"Naura, jangan lari!" Calvin menangkap tubuh Naura dan berakhir memeluk erat tubuhnya yang terasa berisi.


Tangis keduanya pecah seiring dengan pelukan mereka yang terasa begitu nyata.


Tidak, ini memang nyata!


Sudah Naura kira jika Calvin akan kembali kepadanya. Tuhan begitu baik sudah menerima doanya dan memulangkan Calvin kembali ke sisinya.


"Akhirnya kamu pulang! Aku senang sekali! Doa aku akhirnya terkabul. Mas Calvin, suami aku kembali!" Naura tidak bisa menahan tangis dan haru. Semuanya terjadi begitu tiba-tiba. Rasanya tidak nyata, namun inilah yang terjadi.


"Maaf, aku baru kembali! Aku janji, aku nggak akan ninggalin kamu lagi! Kecuali kalau aku benar-benar pergi untuk selamanya."


^^^To be continued...^^^