Quiet Wife

Quiet Wife
44. Lamunan Menyedihkan



Hari yang cerah di pukul sembilan pagi, Naura menyibukkan diri dengan bermain ayunan di tepian pantai. Tatapannya begitu fokus pada laut biru di depan sana dengan deburan ombak yang masih dikategorikan normal.


Melamun. Kini kesibukkan itu menjadi bagian hidup lain dari Naura. Pikirannya terus berlabuh pada Calvin. Terkadang, pikirannya mulai membayangkan di mana Calvin akan berlari menghampirinya dari arah laut.


Sayang. Hal itu tidak pernah terjadi. Sekeras apa pun Naura menyangkal tentang suaminya yang telah pergi, dan terus berharap dia akan kembali, nyatanya dia tetap tidak kembali. Mungkin ini memang sudah takdir bagi Naura.


Walaupun begitu, Naura tetap merasa ini tidak adil. Setidaknya biarkan janinnya lahir ke dunia dan melihat seperti apa rupa ayahnya, jika memang Tuhan tidak mengizinkan Naura dan Calvin hidup bersama.


Ya. Naura tidak akan meminta permintaan yang egois. Naura hanya tidak sanggup jika nanti janinnya lahir, bagaimana dia harus mendeskripsikan tentang seperti apa ayahnya?


"Naura!" Lamunan singkat Naura diharuskan membuyar. Dengan cepat Naura menyeka air mata yang entah sejak kapan menetes dari salah satu pelupuk matanya.


Sebelum benar-benar berbalik, Naura berdeham untuk menetralkan perasaannya. "I-iya?" Senyum yang baru saja Naura pasang, diharuskan luntur ketika mengetahui siapa yang baru saja memanggil namanya.


"Aku boleh duduk di sini?" Pemuda yang kemarin berada di dapur rumah Naura, alias Ivan, bertanya halus seraya menunjuk satu ayunan lain di samping Naura.


Ada sedikit perasaan tidak rela saat ayunan itu mulai dipegang oleh Ivan. Bukan apa-apa, hanya saja dulu Calvin pernah duduk di sana. Tetapi, apa iya Naura harus melarang?


"Duduk aja." Ujar Naura. Kepalanya mulai menoleh ke arah lain. Raut wajahnya kian murung dan sedih.


Untuk yang keratusan kalinya, Naura merindukan Calvin.


"Em, Nau!" Ivan memanggil Naura tanpa berniat memokuskan perhatian padanya. Sedangkan Naura, perempuan itu kembali dibuat menoleh pada Ivan.


"Kenapa?"


Terdengar helaan napas panjang dari mulut Ivan. Kepalanya pun menoleh menatap Naura. "Kamu ... beneran gak inget sama aku?"


Naura mengernyit bingung sekaligus gugup. Takut jika jawabannya nanti akan membuat Ivan tersinggung. Seolah peka, Ivan tertawa pelan melihat reaksi bingung Naura.


"Udah, gak pa-pa, jujur aja."


"Em ... aku nggak inget. Setahuku, waktu SD nggak ada yang namanya Ivan."


"Masa, sih? Ada, Nau!"


"Nggak! Ingatan aku tuh bagus, nggak mungkin aku salah." Kukuh Naura, membuat Ivan lagi-lagi dibuat tertawa olehnya.


"Kalau gitu, kenal sama yang namanya Satria Ivan Nugraha?" Kini, Naura tampak berpikir terlebih dahulu. Kedua bola matanya tiba-tiba terbelalak saat ingatan masa lalu bermunculan satu persatu.


"Ya ampun! Kamu Satria? Kok, sekarang jadi Ivan? Kenapa nggak bilang dari awal?" Tawa Naura lantas tercetak jelas di raut wajahnya.


Dan, ya. Hal itu sukses membuat Ivan salah tingkah sehingga berakhir membuang muka.


"Hei, Satria! Kok, jadi Ivan?" Tanpa Ivan kira, Naura mencolek bahunya beberapa kali. Lagi-lagi Ivan dibuat terkejut dan semakin salah tingkah.


"Satria, Satria! Pikir aja sendiri. Yang lain juga manggilnya Ivan, cuman kamu yang manggil aku Satria. Kadang kalo kesel manggilnya Satpam." Terang Ivan, jengah. Walau demikian, jantungnya tidak bisa dibohongi jika dirinya tengah salah tingkah oleh senyuman manis Naura.


Sial! Bisa-bisanya gue digoda bumil cantik di pinggir pantai. Bisa gila!


"Oh, ya? Lupa, hehe." Naura menyengir tanpa dosa. Sedangkan Ivan malah berdecak menanggapi.


"Em, ya udah, deh. Kenalan ulang mau nggak?" Tawaran dari Naura, membuat Ivan menoleh.


"Kenalan ulang?" Beo Ivan, yang dengan cepat diangguki Naura. "Ya udah, gimana coba,"


"Ekhem. Naura! Istrinya Calvin Bintang Regartha yang sekarang ... lagi pergi." Naura memasang senyuman kaku, saat dirinya masih belum bisa mengkonfirmasi sendiri status Calvin yang telah ditetapkan meninggal.


"Bukannya udah meninggal?"


Pertanyaan Ivan membuat Naura cemberut. Dengan cepat Naura menurunkan tangannya yang hendak menjabat tangan Ivan.


"Enggak, tuh. Suami aku ... belum meninggal. Kalau dia emang meninggal, aku harus melihat sendiri jasadnya. Sementara ini, sampai sekarang aku belum melihat jasadnya, berarti ada kemungkinan suami aku belum meninggal." Naura refleks membuang muka saat air mata lagi-lagi lolos menuruni pipinya.


Berbeda halnya dengan Naura, Ivan hanya terdiam seraya menelan mentah-mentah semua ucapan Naura tentang suaminya.


Jujur saja, dadanya sakit mendengar itu. Bukan karena turut sedih, melainkan karena perasaan cintanya serasa dicabik-cabik secara tidak langsung.


Bisa dibilang, Ivan telah menyukai Naura dari dulu sekali. Ketika jaman SD? Iya! Seperti cinta monyet, tapi sayangnya, cinta monyet itu malah merambat hingga ke saat dewasa. Dan bisa dibilang juga, Ivan ini terus memendam perasaannya seorang diri tanpa diketahui Naura.


Sejak lulus SD, Ivan diharuskan pindah ke kota sebelah bersama keluarga. Anehnya, walau berpisah jarak selama hampir belasan tahun pun, Ivan masih tetap memiliki perasaan pada Naura.


Sayangnya, Naura tidak demikian. Sekitar dua minggu yang lalu di mana Ivan memutuskan kembali untuk mengejar Naura, Ivan disuguhkan kenyataan di mana katanya, Naura sudah menikah dan saat itu tengah mengandung. Namun, ada juga berita lain di mana suaminya Naura digosipkan meninggal karena terseret oleh badai laut.


Dan sepertinya, berita itu memang benar. Namun ketika bertanya secara langsung pada Naura, perempuan itu tidak mengiyakan. Dia membantahnya dan bersikukuh jika suaminya masih hidup.


Sungguh kasihan.


...****...


Sore menjelang malam, Naura berjalan keluar rumah seorang diri. Dikarenakan cuaca yang sedikit dingin dan berangin, Naura mengenakan pakaian panjang untuk membungkus tubuhnya.


Kedua kakinya dengan cepat duduk di bangku halaman rumah untuk menatap cahaya mentari senja yang begitu indah tanpa sedikit pun menyilaukan mata.


Astaga! Naura lagi-lagi merindukan Calvin.


Dikala Naura masih setia melamun, perutnya tiba-tiba bergemuruh. Bukan karena lapar, melainkan karena kemungkinan janinnya juga tengah merindukan sosok ayahnya.


Naura menunduk sedih untuk yang kesekian kalinya. Tangannya lagi-lagi terulur mengelus perutnya. Berharap dengan demikian, Naura bisa sedikit menghilangkan perasaan yang juga dirasakan oleh janinnya.


"Kenapa di luar?" Sahutan ramah itu berasal dari sang papa. Beliau baru saja menyelesaikan mandi sore.


Naura menghela napas berat tanpa sedikit pun menoleh ke arah Hermawan yang mulai menduduki bangku di sampingnya.


"Naura?" Panggil Hermawan. Salah satu tangannya menyentuh punggung tangan putrinya.


"Putri Papa kenapa, hm?" Tanya Hermawan lagi. Namun hal itu tak lantas membuat Naura mendongak menghadapnya.


"Aku ... takut, Pah." Ujar Naura, setelah cukup lama perempuan menunduk dan terdiam.


"Apa yang kamu takutkan, hm?" Dengan penuh kasih sayang, Hermawan mengelus surai hitam Naura, sampai membuat kepalanya bersandar pada bahu tegapnya.


"Kalau nanti Jui lahir, Jui nggak punya Papa."


"Jui?" Hermawan mengerutkan dahi mendengar sebutan asing yang terucap dari dari bibir Naura.


"Itu, nama janinnya. Naura belum tahu jenis kelaminnya apa, jadi sementara panggilnya Jui." Terang Naura. Spontan Hermawan terkekeh geli.


"Kamu gak perlu khawatir. Walaupun nanti Jui nggak punya Papa, 'kan Jui punya Eyang. Ya 'kan, Jui?" Tatapan Hermawan beralih pada perut putrinya yang semakin hari semakin terlihat membesar.


"Tapi ..."


"Kalau kamu khawatir, nggak ada salahnya mencari pengganti."


"Maksud Papa?" Raut wajah Naura berubah suram. Tatapannya seketika terkunci pada papanya yang juga tengah balas menatapnya.


"Kamu pasti paham maksud Papa,"


"Enggak, aku nggak akan mencari penggantinya Mas Calvin! Aku sangat yakin kalau sampai saat ini, Mas Calvin lagi nungguin aku. Nggak mungkin aku malah mencari laki-laki lain." Naura menggeleng-gelengkan kepala. Saat hendak bangkit, Hermawan menghentikannya.


"Naura! Ini sudah begitu lama sejak tragedi itu terjadi. Kamu harus bisa mengikhlaskan Calvin. Calvin itu-"


"Enggak! Bagi aku, Mas Calvin itu belum meninggal! Sampai kapan pun, kalau jasad Mas Calvin belum ditemukan, aku akan selalu yakin bahwa Mas Calvin masih hidup!" Terlanjur terbawa emosi, Naura benar-benar bangkit dan pergi. Meninggalkan Hermawan yang memanggil namanya berulang kali.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin membuat putriku terus berlarut akan suaminya yang masih belum ditemukan hingga saat ini."


Frustasi? Tentu saja. Ayah mana yang bisa tega melihat putrinya terluka sampai seperti ini.


"Pokoknya, aku harus melakukan sesuatu."


...****...


"Mah?" Panggilan halus yang tidak memiliki niatan untuk mengejutkan itu, tanpa sadar membuat Fani tersentak sampai menjatuhkan gelasnya ke lantai.


Bunyi pecahan gelas yang begitu nyaring, semakin membuatnya tersentak. Refleks Fani berjongkok untuk membersihkan pecahan tersebut sebelum ada seseorang yang menginjaknya.


"Mama kenapa?" Divo ikut berjongkok membantu istrinya membereskan kekacauan.


Jujur saja, akhir-akhir ini istrinya sering sekali melamun. Bahkan, diam-diam dirinya sering menangis sendirian di dalam kamar sembari meratapi potret Calvin, putra bungsunya.


"Maaf! Mama masih kepikiran sama anak kita. Entah kenapa, Mama masih belum bisa nerima kalau anak kita itu udah nggak ada. Apa ... karena sampai sekarang jasadnya belum bisa ditemukan, ya, makanya Mama sampai sekarang belum bisa ikhlas?" Terdengar helaan napas berat dari mulut Fani. Dirasa selesai membereskan kekacauan, Fani memilih mendudukkan diri di kursi makan. Diikuti Divo yang juga menduduki kursi di sebelah istrinya.


"Iya, Papa juga. Rasanya ini seperti sebuah mimpi buruk. Mimpi buruk yang tiada akhir."


Fani menunduk sedih saat air mata lagi-lagi menuruni wajahnya. "Apa Calvin bisa ditemukan?" Gumamnya, refleks Divo memeluk tubuh istrinya dan mengusapnya penuh kasih sayang.


"Kita berdoa saja, ya."


"Mama butuh kejelasan! Ini terlalu kejam! Calvin punya salah apa sampai dia harus dinyatakan meninggal dengan cara seperti ini? Hanya kemungkinan, bukan berarti kenyataannya Calvin sudah meninggal 'kan?"


"Tapi, manusia tidak akan bisa bertahan selama itu jika terseret ombak, apalagi dalam keadaan tidak sadarkan diri. Mungkin saja Calvin memang sudah meninggal. Kita lebih baik berdoa saja, semoga secepatnya Calvin bisa segera ditemukan." Fani semakin tidak dapat menahan tangisannya. Untuk yang kesekian kali, Fani menangis di pelukan suaminya.


Di tengah kekalutan yang melanda, suara dering ponsel mengalihkan atensi mereka. Dengan spontan keduanya mulai melepaskan pelukan dan mengecek ponsel masing-masing.


"Punya Papa!" Ujar Divo. Ketika sudah hendak mengangkat panggilan telepon, Divo langsung tersadar dengan nama kontak yang meneleponnya.


"Siapa?" Tanya Fani. Divo menginterupsi istrinya untuk tetap diam beberapa saat.


"Halo?" Divo merasakan jantungnya berdegup kencang. Apalagi ketika balasan dari seberang telepon sana yang menjelaskan secara singkat dan rinci perihal putranya.


"Mah!"


"I-iya?"


"Calvin udah ditemukan!"


"Ini nggak bercanda 'kan? Calvin masih hidup?" Raut wajah Fani tampak berbinar. Sayangnya, senyuman itu tidak bertahan lama, apalagi ketika balasan singkat berupa gelengan kepala dari suaminya.


^^^To be continued...^^^