Quiet Wife

Quiet Wife
27. Kejujuran Membawa Berkah



"Makasih banget buat kalian semua yang udah nyempetin waktu malam ini. Pokoknya, setelah ini kita masih harus tetep kontekan lagi, oke?"


"Oke!"


Sasha berucap lantang setelah semuanya menyelesaikan acara makan malam, hiburan karaoke, dan acara mengasyikan lainnya. Kini, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Acara yang diawali dari pukul tiga sore itu diharuskan selesai.


Mungkin, masih ada beberapa yang lanjut kumpul dengan kumpulan yang jauh lebih sedikit. Namun, ada juga yang memilih pulang seperti Sasha contohnya.


Naima? Tidak, sejak diketahui oleh Naima bahwa Sasha menghabiskan malam dengan Arvin, hubungan persahabatan keduanya merenggang.


"Sha!" Sasha menghentikan langkahnya saat terdengar seseorang dari belakang yang memanggil namanya. Ketika menoleh, lagi-lagi jantungnya dibuat berdegup tak karuan. Bahkan, hatinya lagi-lagi goyah saat menatap sepasang netra tajam nan teduh milik Arvin.


"Iya? Kenapa, Vin?"


"Pulang sama siapa?"


"Em, mungkin pesen taksi atau ojek online? Baru mau buka hape, soalnya." Balas Sasha. Sebisa mungkin dirinya tampak biasa saja.


"Bareng gue aja. Tapi gue pake motornya adek gue. Mobil lagi dipake sama dia buat anterin istrinya ke klinik,"


"Istri? Calvin udah punya istri?" Sasha yang memang tidak tahu menahu, benar-benar syok mendengar kenyataan itu. Apalagi saat melihat anggukkan singkat dari Arvin dengan wajah cueknya.


"Buset! Lo dilangkahin adek lo?" Lagi-lagi Arvin mengangguk. Tanpa sadar Sasha tertawa renyah menanggapi.


Sialnya, Arvin ikut tersenyum tipis melihat ekspresi Sasha yang berubah jauh lebih santai dibandingkan sebelumnya.


"Ekhem. Sorry!" Ucap Sasha, tersadar dengan apa yang sudah dia lakukan.


"Santai aja kali. Mau bareng?" Tawar Arvin lagi. Dan kali ini, anggukkan mantap dari Sasha seolah menjadi jawaban dari tawaran Arvin.


...****...


"Makasih, ya, Vin! Kalau gitu gue masuk dulu." Tak ada jawaban dari ucapan terima kasih Sasha. Ketika perempuan itu hendak melangkah memasuki gerbang halaman rumah, salah satu tangannya tiba-tiba dicekal oleh Arvin. Sontak Sasha kembali membalikkan tubuhnya menghadap Arvin.


"Kenapa?"


"Gue denger, lo mau tunangan, ya?" Sasha refleks menepis tangan Arvin. Pertanyaan dari Arvin barusan sudah cukup membuat Sasha kembali terguncang dan hatinya lagi-lagi dibuat goyah.


"I-iya." Sasha menunduk. Dadanya mendadak sesak mengingat pertunangan yang sebentar lagi akan digelar itu bukanlah keinginannya. Bisa dibilang, Sasha melakukannya dengan terpaksa untuk mengalihkan pikirannya dari Arvin.


Ya. Sasha tidak bisa melupakan Arvin, sekuat apa pun dirinya berusaha.


"Selamat, ya!" Arvin meyodorkan tangannya, berharap Sasha mau membalas jabatan tangannya.


Sasha terdiam untuk sesaat. Sesekali, Sasha mencoba menelan ludahnya susah payah, sebelum akhirnya dirinya membalas jabatan Arvin. Seulas senyuman getir lantas menghiasi wajah cantiknya.


"Makasih! Tapi, sejujurnya gue takut, Vin."


"Takut?" Tanya Arvin, Sasha mengangguk seraya menarik napasnya dalam-dalam.


"Gue gak bisa lupain lo! Lo adalah orang pertama yang ngelakuin itu sama gue! Tapi gara-gara itu, gue malah ngerusak hubungan lo sama Naima,"


"Bukan salah lo. Salah gue juga. Maaf, udah jadiin lo pelampiasan."


Suasana di antara keduanya mendadak canggung. Ditambah dengan hawa malam yang cukup dingin nan sunyi.


"Ekhem. Gue, masuk dulu!" Pamit Sasha untuk yang terakhir. Tanpa menunggu Arvin membalas, Sasha membuka pintu gerbang rumahnya dengan berat hati.


Saat hendak kembali menutupnya, suara dari Arvin, seketika menghentikan langkah kaki Sasha. "Seandainya lo gak jadi tunangan, kasih tahu gue, ya!"


Spontan Sasha kembali membalikkan tubuhnya menghadap Arvin. Bedanya, di antara keduanya saat ini terhalang sebuah pintu gerbang yang lumayan tinggi. Kedua alis Sasha sontak berkerut ketika menatap Arvin.


"Biar gue yang gantiin cowok itu buat nikahin lo."


...****...


Pagi ini, adalah pagi di mana Naura bisa menghirup udara segar dengan leluasa. Selain karena dirinya yang tidak lagi menyembunyikan rahasia, Naura juga merasakan adanya perubahan dari Calvin.


Sejak kepulangan keduanya dari klinik kemarin, Calvin tak henti-hentinya terus membuntuti Naura ke manapun dirinya pergi. Bahkan, ketika Naura mulai merebahkan diri di tempat tidur, Calvin terus menerus memeluknya. Seolah tidak membiarkan Naura pergi sejengkal pun dari Calvin.


Dan saat ini, baru saja Naura selesai meregangkan tubuhnya di balkon kamar, sentuhan sensual yang diakhiri dengan pelukan erat, membuat Naura terlonjak sampai refleks melatah.


"Mas Calvin! Kenapa gak bilang aja, sih? Aku 'kan kaget!" Kesal Naura. Apalagi ketika tangan Calvin mulai nakal mengelus-elus perutnya yang masih rata namun terasa sedikit membulat.


Sungguh, sentuhan itu membuat Naura geli! Dia hampir saja membuat suara-suara aneh, jika tangannya tidak segera membekap mulutnya.


"Aku ... gak usah ngampus aja, ya!" Ujar Calvin tiba-tiba. Refleks Naura melepaskan bekapan tangannya seraya menoleh menghadap Calvin.


"Kenapa- ah! Mas Calvin! Geliii!" Naura menepis kasar tangan Calvin yang lagi-lagi berbuat nakal. Kedua pipi Naura sudah memerah akibat sentuhan tangan Calvin yang cukup membuatnya terpancing.


Bukannya merasa bersalah, Calvin malah tersenyum manis sembari menarik Naura kembali ke dalam pelukannya. Bedanya, sekarang Calvin memeluk Naura dari depan.


"Hari ini nggak ngampus lagi, ya, Nau! Masih pengin bertiga,"


"Bertiga? Sama siapa?" Naura mendongak, menatap Calvin bingung.


"Aku, kamu, sama calon anak kita."


Demi apa pun, Naura sudah tidak kuat lagi mendengar ucapan Calvin yang lagi-lagi membuatnya tersipu dan melayang. Rasanya aneh, geli, namun baper juga diwaktu yang bersamaan.


"Mas Calvin harus ngampus, gak boleh bolos terus!" Balas Naura, dirasa perasaan menggebu di hatinya mulai sedikit memudar.


"Males, gak ada Naura,"


"Gak boleh gitu!"


"Ya udah, panggil dulu 'sayang' baru pikirin ngampus atau nggak, deh."


"Ha-hah?!" Naura seketika dibuat membeku oleh permintaan Calvin yang tidak biasanya.


"Ayo, Nau! Panggil dulu gini; 'Sayang, kamu tuh harus ngampus, blablabla'. Gitu,"


"Ha-harus banget?" Tolong, jantung Naura rasanya sudah mau meloncat dari tempatnya! Ini Calvin kenapa, sih?


"Harus! Kalau nggak, ya udah nggak ngampus!"


"Iih, harus ngampus!"


"Ya udah, berarti harus ..?" Calvin menunggu saat-saat di mana Naura akan memanggilnya dengan sebutan mesra.


Masih Calvin perhatikan. Gerak-gerik Naura yang terlihat gugup dan bingung, membuat Calvin semakin gencar untuk terus memandangi wajah cantik itu dalam jarak yang begitu dekat.


"Ekhem. Sa-sayang!" Naura menjeda ucapannya. Entah mengapa terasa begitu menantang hanya karena mengucapkan panggilan mesra pada Calvin.


"Hm, terus?"


"Kamu harus ngampus!"


"Kenapa harus?" Calvin sengaja terus melontarkan pertanyaan. Tidak tahu saja jika Naura ini sedang dilanda gugup setengah mati karena suruhannya.


"Y-ya pokoknya harus, gak boleh bolos. Kalau bolos, nanti gak dikasih jatah ma-"


"Jatah malem?" Sela Calvin buru-buru. Naura yang tidak langsung menangkap ucapan Calvin, hanya bisa cengo sesaat sambil terus berpikir.


"Jatah malem maksud- iiihh! Bukan itu!" Pekik Naura. Dengan cepat dirinya melepaskan diri dari pelukan Calvin. Kedua pipinya lagi-lagi dibuat memanas karena ucapan Calvin yang begitu ambigu.


"Oke, aku ngampus. Berarti ntar malem ..."


"Enggak!" Naura refleks menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Wajahnya semakin memerah menahan malu dan gugup diwaktu bersamaan.


"Oke, deh. Mau siap-siap ngampus dulu, biar ntar malem bisa ..." Calvin menaikturunkan kedua alisnya seraya memasang senyuman genit.


Sialnya, Naura jadi takut dengan senyuman itu. "A-apa, sih? Enggak!"


"Janji, ya, Nau!"


"Janji apa, aku gak janjiin apa-apa!? Hei!" Seolah tuli, Calvin terus bergerak sana-sini, bergegas memasuki kamar mandi untuk memulai ritual pagi.


Naura lantas menghela napas pasrah. "Ya ampun, salah aku di mana? Maksud aku 'kan jatah makan, bukan jatah yang itu!" Gerutunya, kemudian berjalan meninggalkan kamar tanpa mau semakin memikirkan ucapan Calvin yang begitu menyebalkan.


...****...


"Huwek!" Naura refleks menjauhkan segelas susu yang diberikan Fani beberapa saat yang lalu. Demi apa pun, aroma amis dari susu yang dibuatkan Fani, membuat Naura berakhir muntah-muntah di wastafel.


Karena cemas, refleks Fani berlari mendekati Naura. "Nau? Ya ampun, masa susunya gak jadi diminum?"


"Mual, Mah- huwek!"


Tak berapa lama, Calvin datang setelah cukup lama dirinya mandi dan mempersiapkan segalanya untuk berangkat ke kampus. Melihat Naura yang muntah-muntah ditemani sang mama, tentu saja Calvin terkejut.


"Nau? Naura kenapa?" Calvin menggeser posisi Fani, sehingga yang berada di sisi Naura saat ini adalah Calvin.


"Naura mual habis nyium susu yang Mama buatin. Atau mungkin emang lagi morning sickness aja. Itu hal yang biasa, kok!"


"Masa?" Calvin ragu, apalagi ketika raut wajah Naura berubah pucat setelahnya.


"Udah baikan? Gimana kalau susunya langsung diminum, nanti keburu dingin,"


"Aku gak bisa, Mah! Aromanya bikin aku mual, aku gak sanggup!" Adu Naura. Perempuan itu sudah hendak kembali memuntahkan isi perutnya. Beruntung yang baru saja terjadi hanya mual biasa.


"Tapi-"


"Udah, jangan dipaksa, Mah! Nanti biar aku beliin varian rasa yang lain. Kamu mau rasa apa? Susu ibu hamil selain rasa vanilla, masih ada rasa lain lagi 'kan?" Tanya Calvin. Perhatian semuanya saat ini tertuju pada Naura yang tampak berpikir menimbang-nimbang.


"Kalau ada, aku pengin yang rasa coklat aja." Pinta Naura, yang dibalas helaan napas lega oleh semuanya.


"Ya udah, habis pulang dari kampus aku beliin, ya?"


"Makasih!"


Diam-diam Fani mengulum senyumannya melihat interaksi manis antara Calvin dan Naura. Tidak pernah dirinya bayangkan hubungan mereka yang diawali karena tragedi itu bisa menjadi seharmonis ini. Bahkan, di antara mereka sudah ada calon bayi yang akan memperdalam sekaligus menguatkan hubungan mereka.


Karena tidak ingin mengganggu, Fani memilih menyibukkan diri pada kegiatan lain. Membiarkan anak dan juga menantunya terus berbincang hal manis yang tanpa sadar membuat Fani ikut menyunggingkan senyumannya.


Semoga keharmonisan ini tidak bertahan sampai hari ini saja.


^^^To be continued...^^^