Quiet Wife

Quiet Wife
08. Naura hilang!



...Calvin...



...Naura...



Cast di atas murni pemikiran aku, ya! Buat yg gk suka skip aja:>


...****...


Sudah sekitar sepuluh menit Calvin terus mengusap perut Naura yang katanya terasa keram. Mungkin dikarenakan efek menstruasi hari pertama yang mengakibatkan perutnya terasa demikian.


Dan, sekarang. Naura sudah tertidur lelap. Kedua alisnya tak lagi berkerut dalam seperti tadi. Senyuman tipis lagi-lagi menghiasi wajah Calvin. Dengan membenarkan posisi berbaring menjadi menghadap Naura, lagi-lagi Calvin dibuat terbius oleh wajah Naura yang tampak begitu cantik walau sedang tertidur.


Namun, yang paling membuat Calvin kepikiran adalah, ketika Naura mulai membuka mulutnya dan berbicara padanya.


Ya, walaupun suaranya terdengar samar, bahkan lebih seperti suara bisikkan, tetap saja hal itu membuat Calvin kepikiran sampai berdebar.


Tak dapat dipungkiri, setelah mengetahui Naura sebenarnya dapat berbicara, perasaan aneh dalam diri Calvin rasanya semakin menyeruak keluar. Entah itu perasaan sayang maupun perasaan kesedihan, Calvin pun tidak tahu.


Ada sedikit perasaan menyayat hati saat Naura mulai berbicara padanya tadi. Asumsi Calvin pada Naura saat ini adalah, perempuan itu memiliki trauma yang begitu dalam, yang menyebabkannya tidak ingin berbicara selama bertahun-tahun.


"Sebenarnya kamu punya masa lalu seperti apa, Nau? Sampai membuat kamu jadi seperti ini. Luka apa yang kamu terima sampai tidak ingin berbicara lagi?" Ucapan itu Calvin lontarkan semata-mata hanya sebuah gumamam belaka. Calvin tidak berniat benar-benar bertanya pada Naura, dikarenakan perempuan itu baru saja tertidur pulas.


Bahkan jika Naura dalam keadaan sadar pun, Calvin tidak akan berani bertanya. Calvin takut jika pertanyaannya barusan malah membuka luka lama Naura yang telah membuatnya menjadi seperti ini.


Mungkin, ini masalah waktu. Kita tunggu sampai Naura mau menceritakannya sendiri pada Calvin.


"Apa pun yang pernah terjadi di masa lalu kamu, di masa sekarang, aku mau kamu hidup bahagia, Nau. Di mana ada aku yang akan selalu buat kamu bahagia. Selamat tidur, Naura!"


...****...


Calvin membelalakkan kedua bola matanya saat tangannya tak merasakan kehadiran Naura di sampingnya. Dan benar saja. Istrinya yang semalaman terus Calvin peluk, nyatanya telah bangun lebih dulu.


"Kok, Naura gak bangunin gue kayak kemaren, sih?" Dengan malas, Calvin mulai beranjak dari tempat tidur. Kedua kaki jenjangnya dengan langkah berat mulai memasuki kamar mandi untuk memulai ritual pagi.


Sekitar tiga puluh menit, Calvin menyelesaikan acara mandi serta berganti pakaian dengan setelan kaos hitam dan celana jeans yang dibalut dengan almamater kampus.


Ketika keluar dari kamar, perhatian Calvin langsung terkunci ke arah pintu dapur yang setengah terbuka. Dengan segera Calvin berjalan cepat menuruni tangga dengan menenteng tas di punggungnya.


Sesampainya di dapur, Calvin tidak menemukan keberadaan Naura. Padahal, barusan Calvin begitu bersemangat jika Naura saat ini tengah berkutat di dapur. Namun nyatanya, istrinya ini tidak berada di mana pun.


"Naura ke mana, sih?"


"Lho, Vin? Udah mau berangkat?" Sahutan lemah lembut itu berasal dari mamanya, yang baru saja selesai menyapu halaman belakang.


Dengan langkah pasti, Calvin berjalan menghampiri Fani yang terlihat membasuh kedua tangannya di wastafel. "Mama lihat Naura?"


"Naura? Bukannya tadi lagi masak, ya? Katanya tadi mau bikinin kamu sarapan sama bekel. Coba lihat di meja!"


"Ck! Aku lagi nyari orangnya, bukan masakannya, Mah!"


Fani yang awalnya ogah-ogahan menjawab pertanyaan dari Calvin, tiba-tiba tergerak untuk menatap dalam-dalam raut wajah Calvin yang terlihat cemberut.


Dengan gemas, Fani memukul lengan Calvin menggunakan sayuran bayam yang kebetulan baru Fani cabut dari kebun halaman belakang rumahnya.


"Kamu salah nanya sama Mama! Mama itu cuman Mama Mertuanya! Sedangkan kamu itu suaminya. Ya berarti kamu dong yang paling bertanggung jawab terhadap Naura? Gimana, sih, kamu!"


Sunyi. Tak ada suara sahut menyahut lagi dari Calvin. Ketika Fani kembali melirik ke arah putra bungsunya, raut wajahnya kian cemberut.


"Udah cari di kamar mandi?" Tanya Fani.


"Kamar mandi dari pagi dipake sama aku, Mah!" Terang Calvin. Suaranya terdengar seperti sebuah rengekkan anak kecil yang tak kunjung menemukan di mana barang kesayangannya berada.


"Coba telepon Naura-nya,"


"Mama yakin nyuruh aku telepon Naura?" Ucapan Calvin yang balik bertanya, seketika langsung disadari oleh Fani.


Astaga mulutnya iniii!


"Oh, iya, ya. Kalau gitu kirim pesan aja. Mama mau ke tempat arisan Bu Laras. Duluan, ya! Tenang aja, Naura gak akan pergi jauh, kok. Percaya sama Mama." Mulai jengkel dengan Calvin, Fani memutuskan melenggang meninggalkan putranya yang masih sibuk memikirkan istrinya yang entah pergi ke mana.


"Daripada terus-terusan pusing mikirin Istri Tercinta, mending sekarang makan dulu sarapannya, tuh, keburu dingin! Jangan lupa bekelnya juga dibawa kampus. Masakan buatan istri kamu itu." Teriak Fani dari arah pintu dapur.


...****...


Iya. Kalian tidak salah dengar. Perempuan yang baru saja berbicara sendirian di depan sebuah makam lama itu, tak lain adalah Naura. Perempuan yang dianggap bisu bagi orang-orang yang tidak mengetahuinya lebih dalam.


Dengan pakaian serba hitam yang menutupi kepala, Naura berangkat pagi-pagi sekali sebelum Calvin bangun. Sebelum benar-benar pergi, Naura membuatkan sarapan dan bekal makan siang untuk suaminya. Karena bagaimanapun juga, Calvin sudah sangat baik pada Naura, apalagi saat Naura mengalami keram haid kemarin.


Dengan begitu lembut dan penuh perhatian, Calvin membantu mengusap perut Naura sampai dirinya tertidur pulas, hingga terbangun di waktu subuh. Ketika mengingat hal kemarin, Naura sadar betul apa yang sudah dia lakukan. Pasti ... Calvin terkejut saat mendengar Naura berbicara padanya. Walau berbisik, tetap saja suaranya terdengar.


Setelah ini, Calvin pasti akan bertanya panjang lebar pada Naura. Sebelum itu terjadi, Naura menyempatkan diri untuk menenangkan diri sebelum mengatakan segalanya.


Dan, ya. Menenangkan diri yang Naura maksud adalah dengan mengunjungi makam ibunya.


Biasanya, Naura ke sini setiap sebulan sekali. Naura sering merasa sedih dan rindu akan sosok ibu yang tak lagi bisa Naura rasakan. Walau kini ada Mama Fani, rasanya, ibu mertua tidak bisa mengalahkan cinta kasih dari ibu kandung yang telah melahirkan serta merawatnya.


Dengan telaten, Naura mulai membersihkan rumput liar yang tumbuh di atas makam. Setelah selesai, Naura lalu menaburkan bunga dan air doa. Dengan khusyuk, Naura mulai memanjatkan doa yang paling terbaik untuk ibunya. Selesai memanjatkan doa, Naura mengusap batu nissan sang ibu yang tampak berdebu.


Tak berapa lama, seulas senyuman getir lantas menghiasi wajah Naura.


"Naura ... udah ngelanggar janji, Mah! Padahal, Naura janji sama diri sendiri gak akan bicara siapa pun lagi kecuali sama Mama. Tapi, ternyata Naura gak bisa! Naura takut, Ma! Naura harus gimana?" Tangis yang sebelumnya mati-matian Naura tahan, pada akhirnya meluap seiring dengan berbagai ucapan yang dia ungkapkan.


Tiba-tiba, Naura teringat akan masa lalu di mana ibunya pernah menyuruh Naura untuk tetap diam, namun Naura tidak pernah bisa diam walau sedetik. Hatinya hancur saat mengingat dengan begitu jelas, bagaimana ibunya meninggal, tepat di hadapannya sendiri. Dan semuanya terjadi karena Naura yang tidak pernah bisa diam.


"Kalau bukan gara-gara Naura yang selalu membantah ucapan Mama, pasti sekarang Naura masih bisa peluk Mama. Mungkin ... Naura gak akan dititipin ke rumahnya Mama Fani. Naura juga gak akan kesepian kayak sekarang. Semuanya salah Naura 'kan, Mah? Naura gak berhak dimaafin sama Mama! Naura-"


Hembusan napas panjang keluar dari mulut Naura, menghentikannya untuk lanjut bersuara. Tangisnya kian pecah, dan dadanya terasa begitu sesak.


Namun, di satu sisi Naura juga merasa lega karena telah mengeluarkan kegelisahannya yang terus dia pendam seorang diri.


Perlahan, Naura mulai menghentikan tangisannya. Dengan tergesa, Naura menyeka sisa air mata yang menempel di wajahnya.


Tidak! Naura datang ke sini bukan untuk menangis! Naura ke sini untuk berbagi hal menyenangkan dengan ibunya. Iya, itu tujuan awalnya!


"Oh, iya, Mah! Naura belum sempat bilang 'kan sama Mama? Naura sudah menikah, Mah! Dan ... Suami Naura itu ... orangnya baik. Sangat baik. Kalau Mama masih ada, Naura yakin, Mama juga pasti suka sama dia! Tapi ... dia gak tahu tentang Naura yang seperti sekarang. Yang dia tahu, Naura itu bisu, Mah. Buat ngasih tahu dia kalau sebenarnya Naura itu nggak bisu, kira-kira Naura harus gimana, ya, Mah? Naura takut bikin dia kecewa karena udah nyembunyiin fakta ini dari dia." Naura menarik napasnya dalam-dalam, saat raut wajah Calvin yang senantiasa memasang seulas senyuman tulus, memasuki pikirannya.


Mencoba untuk mengenyahkan segala lamunan yang memasuki otaknya, Naura lantas menggeleng-gelengkan kepala, seraya lanjut untuk berbicara.


"Oh, iya, Mah! Lain kali, Naura bakal ajak Suami Naura buat ketemu sama Mama. Mama mau, ya? Em, sekarang ... mungkin Naura mau langsung pulang aja. Langit udah mulai mendung, padahal 'kan masih pagi, ya? Takut orang rumah pada nyariin juga, soalnya Naura gak izin dulu pas datang ke sini. Kalau begitu, Naura pamit, ya, Ma. Wassalamualaikum."


...****...


Langit mendung yang sudah diperkiraan akan segera turun hujan, nyatanya benar-benar terjadi. Baru saja Naura menginjakkan kaki di sebuah halte bus, hujan lebat langsung menyebar ke seluruh bagian kota.


Dingin dan kesepian, seperti hidup Naura sebelum bertemu dengan Calvin. Dengan pasrah, Naura memilih mendudukkan diri di kursi halte, seraya memeluk erat-erat tubuhnya yang setengah basah akibat cipratan air hujan yang begitu lebatnya.


Mana gak bawa payung lagi!


Tiba-tiba saja, ponselnya yang ditaruh di dalam tas selempang bergetar. Langsung saja Naura merogoh ponselnya untuk melihat siapa yang baru saja mengiriminya pesan.


Mas Calvin?


Sepasang bola mata Naura spontan membulat saat membaca nama kontak yang baru saja mengiriminya sebuah pesan teks. Entah karena Naura terlalu lama membalasnya, Calvin kembali mengiriminya pesan lain.


》Kmu d mna?


》Kmu gk kabur 'kan, Nau?


》D sni hujannya gede bgt. Kmu gk lgi d luar 'kan?


Diam-diam Naura mengulum senyumannya setelah membaca deretan pesan yang dikirim oleh Calvin. Karena tak ingin membuatnya cemas, Naura kemudian mulai mengetikkan sesuatu di kolom pesan.


^^^《Aku lgi dduk d halte bus. Lgi nunggu hujan reda. Maaf bkin kmu khawatir, tdi aku buru-buru ke makamnya mama soalnya. Kmu gk marah 'kan?^^^


Tampak pesan dari Naura langsung centang dua biru, yang tak lama kemudian muncul tulisan bahwa Calvin tengah mengetik pesan balasan.


》Halte mna? Sharelok, aku jmput. Gk pke lma, buruan kirim lokasinya d mna!


Refleks Naura berdecak pelan membaca pesan dari Calvin yang terdengar tengah menuntutnya.


Gak sabaran banget, sih!


...《Lokasinya d TPU Cempaka No. 9. Msh nunggu hujan reda di halte samping kiri pintu msuk TPU....


^^^Lokasi○^^^


》Jgn k mna2. Tungguin d sna, aku jmput skrg.


^^^To be continued...^^^