Quiet Wife

Quiet Wife
35. Mama dan Papa Muda



"Bang!"


"Hm."


"Lo balik ke Belanda kapan?"


Arvin yang pada dasarnya tengah sibuk berselancar menonton video-video pendek di sebuah aplikasi, lantas menghentikan kegiatannya. Jemarinya dengan refleks mematikan ponsel, lalu menaruhnya sembarangan. Bahkan sepasang bola matanya mulai menatap nyalang Calvin yang posisinya berada tepat di sampingnya.


"Ngapain lo nanya-nanya? Lo mau ngusir gue?" Arvin bertanya nyalang, yang dibalas decakan malas oleh Calvin.


"Gue nanya, bukan ngusir!"


"Ya elo nanyanya kek orang yang gak ikhlas kalau gue kelamaan di sini! Asal lo tahu aja, gue nekat izin dua minggu demi ketemu sama lo! Bersyukur harusnya punya abang yang baik kayak gue." Arvin mendumel panjang kali lebar, membuat Calvin diam dan pasrah.


Di malam yang telah menunjukkan pukul sepuluh ini, tiba-tiba saja Calvin tidak bisa tidur. Istrinya sendiri sudah tertidur pulas setelah dibuat lelah oleh Calvin.


Biasa, Calvin minta lagi. Beruntungnya tidak sampai ke inti. Hanya ciuman panjang yang lumayan mendebarkan.


Sebenarnya, Calvin sudah sempat terlelap sekitar sepuluh menit. Gara-gara notifikasi dari ponselnya yang lupa dimode silent, Calvin jadi terjaga. Hingga saat ini Calvin berada di ruang keluarga, bersama dengan Arvin yang ternyata juga belum memejamkan mata.


Ditanya alasannya kenapa, Arvin pun menjawab; lagi gak mood tidur.


"Heh, gue mau nanya dong." Arvin menepuk bahu Calvin, setelah cukup lama keduanya terdiam dalam lamunan.


Calvin yang pada dasarnya tengah memokuskan perhatian pada layar televisi, lantas menoleh pada Arvin. "Nanya apaan?"


"Kado tunangan buat mantan mendingan yang kayak gimana?"


Calvin seketika dibuat tersedak ludah sendiri tatkala mendengar penuturan Arvin. "Mantan yang mana, nih?"


"Mantan partner tidur." Celetuk Arvin. Tampak raut wajah Calvin yang mendadak berubah serius.


"Kak Sasha?" Bisa dibilang, Arvin tidak pernah merahasiakan apa pun dari Calvin, khususnya yang satu ini.


Dengan blak-blakan Arvin berkata demikian, karena semata-mata Calvin telah mengetahui semuanya. Termasuk kebrengsekan Arvin.


"Dia mau tunangan?"


Terdengar helaan napas berat dari mulut Arvin. "Gitu deh,"


"Kayak gak ikhlas lo,"


"Emang iya."


Diam-diam Calvin tertawa pelan. "Kasih apa ajalah gampang. Baju, tas, sepatu. Yang penting dia suka."


"Tapi gue gak yakin dia bakal suka,"


Calvin mengangguk. "Gue rasa dia bakal nyesel tunangan sama orang lain. Yang ada ntar dia nangis kejer pas dapet kado dari lo!"


"Sotoy lo!"


"Lo sendiri yang bilang sama gue kalau Kak Sasha masih belum bisa move on dari lo! Oh, ya. Denger-denger mereka dijodohin sama orang tuanya,"


Arvin berdecih malas saat Calvin sepertinya mulai mengorek sana-sini masalah orang lain. "Tukang gosip lo! Awas ketahuan istri, bisa habis lo!"


"Siapa yang tukang gosip? Gue cuman denger, dan di sini niat gue cuman ngomong. Siapa tahu aja lo belum tahu,"


Lagi-lagi terjadi keheningan beberapa saat. Calvin yang kembali melanjutkan menonton televisi, sedangkan Arvin yang sibuk mencerna perkataan dari Calvin.


"Gue emang baru tahu. Dia bilang, dia terpaksa ngelakuin itu."


"Yah, melow ... Perjuangin sana! Udah pernah lo icip, kasian entar suami masa depannya nyobain bekas lo!"


Sungguh, ucapan Calvin rasanya seperti tengah menampar wajah Arvin berkali-kali. Agak menyebalkan, tetapi memangnya Arvin bisa apa? Semua ucapan Calvin tidak ada yang salah. Memang benar Arvin sudah mencicipi Sasha. Brengsek memang.


"Gue punya malu kali. Gue juga sadar diri."


Kini giliran Calvin yang menghela napas. "Terserah elo, deh. Gue cuman ngasih tahu. Nanti jangan nyesel kalau udah jadi istri orang! Udahlah, gue mau tidur aja. Duluan, ya!"


"Hm."


...****...


"Beneran gak mau aku ikut?" Calvin terus bertanya hal yang sama pada Naura yang tengah mencoba menghabiskan segelas susu.


Setelah benar-benar habis, barulah perhatian Naura beralih pada Calvin. "Kita udah sepakat. Kemarin kamu udah aku kasih, jangan serakah."


Calvin tertawa pelan melihat reaksi garang Naura yang tidak seperti biasanya. Benar-benar diluar prediksi, namun begitu menggemaskan.


"Iya, iya. Kalau gitu aku berangkat. Nanti hati-hati di jalannya. Jangan lupa buat kabarin!" Calvin menggandeng tangan Naura, mengajaknya keluar rumah untuk melihat Calvin berangkat ke kampus.


"Iya, nanti aku kabarin. 24/7 kalau bisa." Ucap Naura, meyakinkan Calvin.


Berat sekali rasanya meninggalkan Naura yang akan melakukan check up tanpa dirinya. Ya, walau Naura ditemani Mama Fani dan juga Papa Hermawan, Calvin merasa ini tidak adil. Mereka saja ikut, kenapa Calvin tidak?


"Nau!" Panggil Calvin. Dirinya masih enggan untuk meninggalkan Naura.


"Hm?"


"Mau kiss!" Calvin menunjuk bibirnya. Refleks Naura membelalakkan mata. Kepalanya mulai celingukan menatap sekitar area halaman kompleks. Takut jika ada seseorang yang melihat maupun lewat.


Dirasa aman, Naura kemudian berjalan menghampiri Calvin, menatap sepasang bola mata Calvin dalam diam. Kakinya kemudian dibuat berjinjit. Kecupan singkat lantas Naura daratkan tepat di atas permukaan bibir Calvin.


Perlu digaris bawahi, hanya sekilas.


"U-udah. Sana berangkat!" Suruh Naura. Jujur saja, tindakannya barusan terlalu berani. Naura sampai tidak mengenali dirinya sendiri yang telah dengan nekat mengecup bibir Calvin di luar pintu rumah.


"Segitu doang?"


"Jangan ngelunjak, deh! Kemarin 'kan udah." Naura menarik napasnya dalam-dalam seraya memejamkan mata.


Terdengar suara kekehan pelan yang diiringi dengan usapan halus di area puncak kepala Naura. "Bercanda. Aku berangkat dulu, ya,"


"Hm."


"Dih?"


"Papa berangkat dulu."


Habislah sudah!


Naura dibuat tidak bisa berkata-kata setelah apa yang baru saja diucapkan Calvin.


Dengan begitu lembutnya Calvin mengusap perutnya seraya memanggil dirinya sendiri dengan sebutan papa. Sungguh tidak dapat dipercaya!


Aaak! Tolong, Naura baper!


"Mas Calvin ... mau dipanggil 'Papa'?" Naura mencoba memberanikan diri bertanya.


"Kenapa nggak? Calon Papa Muda, nih. Senggol dong!" Calvin mengedipkan salah satu matanya, membuat Naura refleks tertawa.


"Ya udah, kalau gitu Papa Muda buruan berangkat, nanti telat." Ujar Naura, ikut-ikutan meniru Calvin.


"Yah ... Oke, deh. Papa Muda mau berangkat dulu. Mama Muda jangan lupa buat kabarin terus pas mau berangkat sama pas lagi diperiksa. Kabarin juga kalau udah selesai."


"Udah, iihh, geliii! Papa Muda, Mama Muda! Sana ngampus!" Sudah cukup untuk godaan pagi ini. Rasanya jika diteruskan, Naura jadi semakin enggan untuk ditinggal Calvin.


Tanpa berbasa basi lagi, Calvin menaiki motornya. Menghidupkan motor kemudian memakai helm. Dirasa selesai, barulah Calvin menaikkan standar. "Berangkat dulu, ya, Sayang!"


"Hm. Hati-hati!"


...****...


Tiba di kampus, senyuman hangat nan manis seolah terus menghiasi wajah tampan Calvin. Beberapa mahasiswa khususnya para mahasiswi yang menyaksikan rona kebahagiaan yang tercetak di wajah Calvin tak ayal dibuat salah tingkah.


Calvin terlalu tidak nyata ketika tengah tersenyum lebar seperti itu. Mereka hampir saja melupakan kenyataan lain, di mana sebentar lagi Calvin akan menjadi seorang ayah.


"Woi, Vin! Gue panggilin dari tadi kagak nyaut-nyaut. Sombong amat lo!" Sentakkan diiringi tepukan di salah satu bahu Calvin, seketika membuyarkan lamunan indah Calvin.


"Lo nyautin gue?" Calvin menunjuk dirinya sendiri dengan begitu polosnya. Sontak Brian berdecak. "Iyalah! Lempeng aja terus sampe senyum-senyum gak jelas gitu. Mikirin apaan?"


Seolah diingatkan, Calvin kembali menarik kedua sudut bibirnya. Tangannya dengan refleks menyingkirkan tangan Brian yang berada di bahunya. "Mikirin kalau sebentar lagi gue mau jadi papa. Keren 'kan?"


Brian tiba-tiba mual mendengar ucapan Calvin. "Udah, Vin! Lo ngeri, sumpah! Iya, gue tahu bini lo hamil dan lo bentar lagi mau jadi bapak. Gue tahu! Tapi tolong, lo jangan kayak gini. Sumpah, gak kayak lo yang biasanya! Gue takut, Vin!"


"Ck! Lebay lo! Lo belum berpengalaman, gak tahu apa-apa. Minggir, gue mau ke kelas!" Seperti katanya, Calvin benar-benar melenggang meninggalkan Brian yang dibuat memaku di tempat.


"Dia bilang gue apa? Lebay? Tuh orang gak nyadar diri apa gimana?" Ketika mengingat-ingat kembali, Brian kembali dibuat bergidik ngeri.


"Dahlah, lupain. Mungkin si Calvin terlalu bahagia, makanya tingkahnya jadi ajaib gitu. Gue sebagai sahabat harus tetap mensupport, walau rasanya gue juga ragu."


...****...


"Jadi, bagaimana keadaan calon cucu kami, Dok?" Hermawan bertanya empat mata dengan seorang dokter kandungan yang telah selesai memeriksa Naura.


Sementara Fani, wanita itu tengah membantu Naura untuk bangkit dari atas ranjang klinik.


"Calon cucu Bapak serta ibunya baik-baik saja. Semuanya sehat dan normal. Saya akan tuliskan resep vitaminnya lagi, ya. Em, yang terakhir ke sini sepertinya suaminya?" Sang Dokter bername tag Amira, berujar demikian sembari melirik ke arah Naura sekilas.


"Iya, itu menantu Saya. Hari ini Saya ditemani besan buat anterin Naura check up lagi. Kebetulan suaminya lagi gak bisa."


"Kira-kira usia kandungannya baru berapa minggu, Dok, kalau kami boleh tahu?" Fani ikut menambahi, tepat ketika dia beserta Naura ikut mendudukkan diri di samping Hermawan.


"Dilihat dari data sebelumnya, seharusnya sekarang usianya sudah menginjak lima minggu." Ujar Dokter Amira, yang spontan dibalas anggukkan paham oleh semuanya.


"Saya lupa bertanya tadi. Kira-kira apa sudah bisa mengecek jenis kelamin janin?"


"Untuk jenis kelamin masih belum bisa, ya, Pak. Bisa dicek lagi nanti ketika usia kehamilan sudah memasuki usia 18-20 minggu, atau sekitar usia 4-5 bulanan." Terang Dokter Amira yang lagi-lagi dibalas anggukkan paham oleh semuanya.


...****...


Sepulang dari klinik, Naura kembali mengirimkan kabar pada Calvin seperti yang telah dijanjikan. Selain mengirimkan bukti foto hasil USG dan bukti pemeriksaan lain, Naura juga mengirimkan sebuah foto selfie dirinya pada Calvin.


Belum ada balasan memang. Tetapi Naura terus merasa girang sendiri. Tiba-tiba Naura terpikirkan sesuatu untuk memposting foto selfienya barusan ke IG.


"Em, kayaknya sesekali gak pa-pa. Mas Calvin juga gak akan marah. Em, posting deh." Sebelum Naura memposting foto selfienya, Naura jadi kepikiran untuk mengganti foto profil juga.


"Sekalian, deh." Gumamnya, mulai memilah beberapa foto yang paling cocok sebagai kandidat foto profilnya. Dirasa menemukan satu yang menurutnya cocok, tanpa pikir panjang lagi, Naura mulai memajangnya sebagai foto profil.


Seperti niatan awalnya, Naura lanjut memposting foto selfienya ke IG tanpa caption apa pun.



Karena dirasa tidak ada hal lain, Naura memilih keluar dari aplikasi IG, lalu mematikan ponselnya. Namun, baru beberapa saat ponselnya dimatikan, terdengar bunyi notifikasi beruntun. Dengan cepat Naura kembali membuka ponselnya.


Beberapa pesan balasan dari Calvin serta notifikasi IG memenuhi layar teratas ponsel Naura.


》Yes, jdi pengin cepet pulang!


》Istriku cantik bgttt!>~<


Naura mengulum senyuman malu-malu membaca pesan balasan dari Calvin. Kedua pipinya bersemu disela mengetikkan pesan balasan.


^^^Makasihh《^^^


》Aku jadiin fto profil;)


"Hah?!"


^^^To be continued...^^^


...Outfit ngampus hari ini, ceekkk!!!...