
"Davin itu ... dulu sahabatan sama Calvin dan Naima dari kecil. Tapi, beberapa bulan yang lalu, ada rumor dari sebuah video yang menyudutkan kalau Davin berselingkuh dengan pacarnya Calvin, disaat Calvin sama perempuan itu masih status pacaran."
Naura menghela napas berat ketika pikirannya kembali berlabuh pada ucapan Fani beberapa saat lalu.
Jadi, cerita yang dimaksud sama Davin itu ...
Sungguh, Naura semakin bingung harus bersikap bagaimana? Walau telah dijelaskan sedemikian rupa oleh Fani pun, Naura masih tidak percaya jika Davin seperti itu.
Entahlah. Walau Naura baru pertama kali bertemu dengan Davin, Naura merasa jika laki-laki itu tidak seperti yang dikatakan. Bahkan, Davin sepertinya sangat tulus pada Calvin.
Tapi ...
"Ck! Kok, jadi mikirin Davin? Itu 'kan bukan urusan aku, ngapain aku pikirin terus?" Naura mendengus sebal ketika menyadari apa yang tengah dirinya lakukan.
Tanpa berniat memikirkan lebih, Naura lantas memakan seblak yang telah dihidangkan tanpa pikir panjang.
Sialnya, Naura lupa jika seblaknya ini baru saja matang. Jadilah rasa panas bercampur rasa pedas melukai permukaan lidahnya. Refleks Naura memuntahkannya kembali ke sendok.
"Panas!" Kedua matanya berkaca-kaca. Sungguh, lidahnya terasa mati rasa saat ini. Beberapa kali Naura menenggak air putih pun, rasa panas terus melekat di lidahnya.
Tetapi, hal itu tak menyurutkan niat Naura untuk segera memakan seblaknya. Sudah dari tadi sekali Naura teringin makan seblak. Jadilah demi bisa terus memakan seblaknya, Naura memutuskan meniupinya dengan kipas tangan milik Fani. Beruntungnya kipas tersebut berada di atas meja ruang tengah.
Beberapa kali Naura tampak meniupi seblaknya, ponsel yang ditaruh di atas meja berbunyi. Senyumannya merekah seiring membaca nama penelepon yang tak lain ialah Calvin. Tanpa pikir panjang, Naura pun mengangkat panggilan tersebut dengan jantung yang berdebar.
"Halo ..?"
"Istriku lagi apa?" Senyuman Naura kian merekah mendengar sapaan Calvin yang terdengar begitu lembut. Sayup-sayup Naura mendengar suara angin laut dan deburan ombak di seberang sana.
"Em, aku ... lagi makan seblak." Naura mulai memakan seblaknya di sela menelepon. Untungnya suhu seblaknya tidak sepanas tadi.
"Seblak? Pedes, nggak?"
"Em, dikit!"
"Yakin?"
"Yakin!"
Terdengar suara helaan napas berat dari Calvin. "Ya udah. Awas aja kalau terlalu pedes."
Naura terkekeh mendengar ucapan peringatan Calvin. "Mas Calvin mau nggak? Enak, lho! Ini murni buatan aku sendiri. Em ... sedikit dibantuin sama Mama,"
"Nggak, deh. Daripada makan itu, aku lebih pengin makan kamu aja." Kekehan nakal Calvin membuat Naura spontan terbatuk. Sialnya, kerongkongannya terasa begitu panas dan pedas akibat seblak yang belum sepenuhnya ditelan.
Dengan cepat Naura mengambil air minum dan menenggaknya dengan terburu-buru. Bukannya merasa bersalah, Calvin malah tergelak di sana.
"Uhuk! Mas Calvin uhuk! Bener-bener, ya! Aku tuh lagi makan!" Naura benar-benar dibuat kesal setengah mati oleh ucapan Calvin. Disaat seperti ini, bisa-bisanya Calvin berucap hal ambigu.
Calvin pikir, Naura tidak akan paham maksudnya?
"Iya, iya, maaf! Kamu lanjutin makan lagi, gih! Jangan lupa kirim foto kamu. Aku kangen, pengin peluk, pengin cium, pengin makan-"
"Setooppp!" Naura menjerit spontan dengan wajah yang memerah padam.
Lagi-lagi terdengar suara kekehan nakal dari Calvin. "Iya, Sayang, iya! Aku tutup dulu, ya! Nanti aku telepon lagi."
Naura menghela napas kesal seraya kembali mendekatkan ponselnya pada daun telinga. "Tumben?"
"Gimana, ya? Soalnya istri aku lagi fokus makan, takutnya malah gangguin dia kayak tadi."
Naura tidak lagi berniat membalas. Sudut hatinya tiba-tiba merasa sedih tanpa sebab. Rasanya, air mata sudah menggenang basah di pelupuk matanya.
"Mas Calvin!" Panggil Naura. Nada suaranya terdengar lemah, tidak seperti tadi.
"Hm?"
"Kamu kapan pulang?"
"Kangen, ya?" Tanya Calvin, yang dibalas gumaman singkat oleh Naura.
"Ya udah, nanti agak sorean aku pulang aja."
Naura seketika membelalakkan mata. Perasaannya pun mendadak sungkan. "Ta-tapi, gimana sama acara reuninya?"
"Gak pa-pa, 'kan kemaren juga udah. Tadi juga cuman main-main aja, gak ada yang istimewa. Tungguin, ya! Hari ini aku pulang."
Naura tidak bisa berkata-kata lagi. Air matanya luruh tanpa sepengetahuan Calvin. "Aku tunggu."
...****...
Calvin menaruh ponselnya kembali di atas meja. Raut wajahnya mendadak resah setelah menyelesaikan panggilan telepon dengan istrinya. Helaan napas gusar tak henti-hentinya terus Calvin embuskan.
Seperti perkataannya pada Naura beberapa saat lalu, Calvin akan pulang sekarang. Sebelum itu, Calvin akan berpamitan dulu pada teman-temannya lalu mengemasi barang-barang setelahnya.
Dengan langkah cepat, Calvin bangkit dari kursi. Menghampiri teman-temannya yang tengah berjemur di balik payung yang ditancapkan di pasir.
"Guys, keknya gue mau balik sekarang!" Sahutan Calvin yang to the point, membuat mereka semua lantas menoleh dengan ekspresi terkejut.
"Balik ke mana?" Sahutan itu berasal dari Dani. Dia yang tengah bersantai di sebuah kursi, dibuat bangkit berdiri.
"Gue mau pulang ke rumah. Gue ... nggak nyaman ninggalin istri gue lama-lama."
"Yahh ..." Selorohan kecewa itu keluar dari mulut semuanya.
"Buru-buru banget lo, Vin! Emangnya istri lo kenapa?" Pertanyaan Romi dibalas senggolan refleks oleh Zaki. Seolah peka, Zaki memperingati Romi untuk tidak bertanya lebih.
"Ya udah, lo balik aja gak pa-pa. Kita semua ngerti, kok." Zaki menyentuh bahu Calvin, berharap temannya ini tidak merasa terbebani karena memilih untuk pulang lebih cepat dari jadwal.
"Sorry, ya! Soalnya-"
"Gini, deh. Sebelum lo balik, gimana kalau kita main selancar sekali lagi? Gue belum main sama lo soalnya," Reki yang sedari tadi sibuk berpacaran, akhirnya membuka suara. Seketika perhatkan semuanya terpusat pada Reki.
"Nah, gimana tuh, Vin? Jujurly, daritadi gue nyariin lo buat snorkeling, tapi lo nggak join,"
"Sekali aja, Vin! Ini masih belum telat, kok. Jarak dari sini ke rumah lo juga nggak akan sampe seharian,"
"Iya, bentar aja, Vin!"
Calvin benar-benar dilema dengan semua permintaan teman-temannya. Tapi sepertinya, bermain satu kali lagi juga tidak masalah.
"Ya udah, ayok! Snorkeling? Selancar? Banana boot? Ayo! Tapi, setelah ini gue langsung beres-beres buat balik."
"Nah, good! Ayoklah, gasss!"
...****...
Tasha seketika melepas kacamata hitam yang terpatri di wajahnya. Kedua bola matanya membebalak. Dengan cepat dia menepuk bahu teman-temannya yang berada di sisi kanan dan kirinya.
"Guys, guys, guys! Itu ombak beneran 'kan?" Sahutan Tasha, membuat yang lain seketika ikut memokuskan perhatian mereka.
"Anginnya mendadak gede. Yang lain udah pada keluar 'kan?" Ilma bertanya khawatir. Perhatiannya terus menjelajah ke arah gumpalan ombak yang mendadak mengganas. Bahkan, angin dingin mulai berembus begitu kencang. Menerbangkan benda-benda ringan termasuk debu yang mengotori mata mereka.
Tak berapa lama, hujan deras mulai mengguyur pantai. Karena panik, semuanya yang didominasi para perempuan mulai menjauh dari TKP. Mereka pergi ke tempat teduh untuk mengungsi. Tak berapa lama, beberapa laki-laki datang dengan keadaan basah kuyup. Raut wajah mereka tampak kusut dan suram, seolah tengah memikirkan sesuatu.
"Yang lainnya mana?" Aliya bertanya spontan pada Romi. Kepalanya pun terus celingukan menatap sekitar area pantai.
"Yang lain di sebelah sana. Cuman ..." Romi menggantungkan ucapannya, membuat seluruh perhatian lantas beralih padanya.
"Cuman apa?" Raut wajah Adinda berubah cemas, apalagi netranya masih belum menemukan di mana keberadaan pacarnya, Reki.
"I-itu. Yang lain lagi ngungsi sambil usaha buat nelepon tim penyelamat. Zaki, Reki sama Calvin sampai sekarang belum keluar dari-"
"Maksud lo pacar gue hilang, gituh?" Adinda meluapkan emosinya. Spontan yang lain menenangkan Adinda yang terlihat menatap nyalang Dani dan Romi.
"Kita berdoa yang terbaik. Tadi pas kita ajak buat udahan, mereka bertiga masih asyik. Jujur aja, kalau kita tahu gelombang air laut bakal kayak gini, kita gak akan biarin mereka buat lanjut." Romi mencoba untuk menjelaskan. Sialnya, penjelasan Romi membuat Adinda melemah hampir ambruk.
"Coba lo jelasin yang rinci kronologi sebenarnya! Kok bisa mereka sampe- gue masih kurang paham!"
Dani, Romi, dan dua orang teman lainnya refleks saling menghela napas. "Intinya pas hujan barusan, kita baru sadar buat nengokin mereka bertiga. Tapi ... yang kelihatan cuman papan selancar mereka doang. Gue sama yang lain udah mau nyebur buat nyariin mereka, tapi gue disetop sama orang-orang yang ada di sana! Jujur aja, gue masih panik sampe sekarang! Gimana gue jelasin semua ini sama keluarga mereka?"
Sungguh, Adinda semakin syok di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang seolah hendak meloncat dari tempatnya. Badannya bergetar hebat. Pikirannya dengan nakal mulai memikirkan hal-hal negatif yang mungkin terjadi pada Reki dan beberapa temannya.
"Halo, Gin? Gimana, tim penyelematnya udah sampe 'kan?" Dani menelepon Gino untuk menanyakan kabar terbaru. Sayangnya, jawaban yang tidak sesuai dengan ekspektasi Dani, membuatnya menghela napas berat.
"Jadi ... pencarian gak bisa langsung karena badai laut, ya? Terus, nasib temen-temen kita gimana?"
...****...
Hari telah menjelang malam, tepatnya pukul delapan lewat sepuluh menit. Naura yang telah diiming-imingi oleh Calvin yang hendak pulang dari tengah hari, sampai detik ini pun, Calvin masih belum pulang. Ponselnya mendadak tidak bisa dihubungi. Hal itu membuat Naura cemas setengah mati. Beberapa kali perempuan itu terus mengecek ke luar jendela kamarnya. Berharap Calvin muncul dengan sebuah taksi atau apa pun itu.
Sayangnya, seberapa sering pun Naura mengecek, nyatanya tak ada satu pun kendaraan yang parkir di depan rumahnya. Perasaannya kian risau saat hujan lebat tiba-tiba turun membasahi bumi.
"Duh, Mas Calvin mana, ya? Kok, lama? Katanya mau pulang hari ini, gimana sih? Senggaknya kasih kabar kek jangan ngilang." Naura terus bergerak gelisah sampai rasanya kedua kakinya mulai merasa pegal dan linu.
Saat Naura mulai memutuskan untuk duduk di atas tempat tidur, ponsel yang terus berada di genggamannya tiba-tiba berbunyi. Tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang tengah menelepon, Naura langsung mengangkatnya.
"Mas Calvin di mana? Kamu pulang hari ini 'kan?"
"Halo, ini dengan Naura 'kan?" Jawaban dari seseorang tak dikenal dari seberang sana, membuat senyuman Naura perlahan luntur. Dengan cepat dirinya menjauhkan ponsel untuk melihat siapa yang baru saja menelepon.
Tetapi benar, kok, ini nomornya Calvin! Tapi kenapa orang yang menyahuti bukan Calvin?
"Ini ... siapa, ya?"
"Saya Romi, salah satu temennya Calvin. Ini dengan ... istrinya Calvin?"
"I-iya. Mas Calvin-nya mana? Kok hapenya ada sama temennya?"
Terdengar suara tarikan napas panjang dari orang yang mengaku bernama Romi. Membuat Naura semakin dilanda perasaan resah di tempatnya.
"Maaf sebelumnya. Mungkin ini bukan kabar baik. Tapi, sepertinya saya harus bilang ini sama pihak keluarga." Romi menjeda perkataannya sejenak. "Calvin sama dua orang teman kami yang lain dinyatakan sebagai korban hilang saat berselancar."
"Apa?"
^^^To be continued...^^^