Quiet Wife

Quiet Wife
19. Naima Si Mantan Primadona



"Nau, aku berangkat dulu, ya!"


"Iya, hati-hati! Bekelnya jangan lupa dimakan."


"Siap, Bu Komandan!"


Setelah berpamitan singkat di depan rumah, barulah Calvin menaiki motornya. Memakai helm yang dibantu oleh Naura. Setelah selesai, barulah Calvin menghidupkan mesin motor.


"Daah!" Ucap Naura, seraya melambaikan tangannya.


Diam-diam Calvin menghela napas gusar. "Jadi gak mau pergi."


"Gimana?" Naura menyahut bingung, saat tidak terlalu mendengar gumaman Calvin.


Refleks Calvin mengacak pelan puncak kepala Naura. "Enggak. Berangkat dulu, ya! Jangan lupa minum obat juga, biar cepet sehat."


"Iya!"


"Daah!" Pamit Calvin, untuk yang terakhir. Setelahnya, barulah Calvin benar-benar menjalankan motornya keluar dari halaman rumah.


Demi apa, gue gak ridho ninggalin istri gue di rumah! Pengin bawa ke kampus aja gituh rasanya. Gerutu Calvin, di sepanjang perjalanan.


Saat Calvin beserta motornya tak lagi terlihat, barulah Naura kembali masuk ke dalam rumah. Pagi ini, rumah yang biasanya selalu tampak ramai itu berubah sepi.


Divo, papa mertuanya, selalu berangkat pagi-pagi sekali untuk bekerja sebagai salah satu direktur eksekutif di sebuah perusahaan. Sedangkan Fani, sang ibu mertua adalah seorang mantan kepala koki yang kini beralih profesi sebagai pemilik restoran.


Setiap dua sampai tiga kali dalam seminggu, Fani selalu mengunjungi restorannya. Mungkin ada baiknya setiap hari, tetapi karena terlalu sibuk mengurus pekerjaan rumah tangga, jadilah Fani hanya mengunjungi restorannya di waktu tertentu. Tentunya Fani memiliki asisten yang akan selalu setia berada di restoran menggantikan pekerjaannya.


Dan, kebetulan hari itu tiba. Fani yang biasanya selalu berada di rumah dan menemani Naura, kini tidak ada. Rasanya, rumah yang begitu luas ini begitu dingin dan kosong.


Hanya Naura yang tidak memiliki kesibukan. Naura bingung harus melakukan apa, sehingga berakhirlah dirinya hanya rebahan di atas tempat tidur.


Karena bosen, Naura pun meraih ponselnya untuk melihat-lihat sesuatu yang mungkin akan membuatnya tertarik. Awalnya, Naura membuka aplikasi Google untuk membaca berita terkini.


Dan, tidak ada yang spesial. Tanpa scrolling lebih lanjut, Naura menutup tampilan Google, lalu beralih pada Instagram yang belum lama ini terpasang di ponselnya.


Diam-diam Naura mengulum senyumannya ketika mengingat bagaimana Calvin membuatkan akun Instagram untuk Naura.


"Hm ... lihat postingannya Mas Calvin aja kali, ya?" Naura bergumam pelan sembari men-stalking akun Calvin yang ditautkan pada akun Naura.


Dan, tidak banyak. Calvin ini tipikal cowok yang jarang bikin postingan maupun story. Hanya ada sembilan postingan dan salah satunya adalah foto Naura ketika di pantai.


Lumayan agak banyak yang menyukai dan memberi komentar. Namun, Naura tidak memedulikan hal itu. Dia terus scrolling sampai pada akhir postingan. Tahun dipostingnya sendiri sudah cukup lama. Ada sekitar empat tahunan.


Tetapi, ada satu hal yang membuat Naura jauh lebih tertarik dibandingkan dengan tanggal postingan itu. Apa lagi kalau bukan seseorang yang terakhir memberikan like?


"User name-nya gak asing. Jangan-jangan ..." Dengan cepat Naura mengklik user name mimanaimamima_.


Seperti dugaannya, akun tersebut milik Naima. Perempuan yang mengaku sebagai sahabat dari Calvin. Postingannya bisa dibilang sudah lebih dari seratus. Bahkan, akunnya saja sudah centang biru dengan followers mencapai hampir satu juta.


"Naima itu ... model, ya? Kayaknya dia ngiklanin produk-produk gitu. Cantik banget! Aku nggak ngerti, kenapa Mas Calvin gak pacaran aja gitu sama Naima dulu? Kenapa harus sama yang namanya Evelyn?-


Eh, ya ampun! Sekarang 'kan Calvin udah jadi suami sendiri! Ada-ada aja perasaan nih mulut. Aneh." Naura menggeleng-gelengkan kepala, merasa apa yang dirinya gumamkan cukup aneh dan di luar dugaan.


Mencoba menghilangkan pemikiran tersebut, Naura membuka satu persatu postingan akun Naima dimulai dari yang paling terakhir dia mengirimkan postingan.



"Cantik banget." Gumam Naura, tanpa sadar jemarinya mengklik dua kali postingan tersebut hingga berakhir mengirimkan like.


Sontak hal itu membuat Naura memelotot dan buru-buru menarik kembali like yang dia berikan, kemudian menutup tampilan aplikasi Instagram dan mematikan ponselnya.


Sial! Naura ketahuan, dong, kalau dirinya sedang men-stalking akun Naima? Gimana ini?


Apakah Naima akan menerima notifikasi like darinya?


"Enggak mungkin! Yang like postingannya Naima pasti bukan cuman aku doang! Iya, 'kan? Tenang Naura, tenang." Ujar Naura, mencoba untuk menetralkan perasaan menggebu dalam hatinya.


Karena terlanjur gugup, Naura tidak akan membuka ponselnya untuk beberapa saat. Hari ini, demi mengalihkan perhatiannya, Naura akan berjalan-jalan beberapa saat di luar rumah.


Ya. Itu lebih baik.


...****...


"Anjaaay! Calvin balik ngampus, nih, gaess!"


"Cuty sehari ngapain aja, Bro? Jangan-jangan ..."


"Jangan-jangan ..."


Sesampainya di parkiran kampus, Calvin sudah dikerumuni oleh Brian, Irgha dan juga Nino yang entah dari sejak kapan ketiganya berada di sekitarnya.


Bukannya berucap salam, ketiganya dengan heboh bin menyebalkan, menggoda Calvin habis-habisan, padahal Calvin baru saja turun dari atas motornya dan belum sepenuhnya melepas helm.


"Apaan, sih, kalian? Baru juga dateng, udah ribut aja." Sarkas Calvin. Dibalas senyuman misterius oleh ketiganya.


"Habis ngapain aja sama Ayang Naura?" Sahutan Brian, sontak dibalas delikan tajam oleh Calvin.


Terdengar suara gelak tawa dari ketiganya, khususnya dari Nino yang paling dominan.


"Santuy, Vin, santuy! Makin cemburuan aja lo, gue lihatin. Sesayang itu lo sama bini lo?" Pertanyaan Irgha yang murni tidak sengaja, dibalas tatapan mengerikan oleh Calvin.


"Lo nanya?"


Demi apa, Irgha menyesal melayangkan pertanyaan itu. Seharusnya, Irgha tidak perlu ragu lagi atas semua sikap dan perhatian Calvin pada Naura tempo hari, ketika Calvin membawa Naura ke kampus.


Mampus gue!


"Hehehe! Si Irgha cuman bercanda kali, Vin. Sensi amat perasaan. Maafin si Irgha, ya?" Nino menyela, seraya berdiri di tengah-tengah Irgha dan Calvin.


Perlahan, Calvin sedikit memundurkan langkah kakinya, kemudian menghela napas pasrah. "Hm."


"Eeh, btw, Vin! Lo udah tahu belom, kalau kampus kita hari ini kedatangan para alumni sukses?" Brian kembali menyahut, mencoba untuk memecah suasana canggung di antara mereka.


"Udah." Balas Calvin, singkat. Kemudian berjalan lebih dulu meninggalkan parkiran, yang akhirnya diikuti oleh Brian, Irgha dan Nino setelahnya.


"Tahu dari mana lo? Beritanya baru masuk barusan perasaan?" Tanya Nino, tak habis pikir.


Perlahan, Calvin menyunggingkan senyumannya tanpa sedikit pun menoleh ke arah teman-temannya. "Gue 'kan punya orang dalem,"


"Orang dalem?" Brian, Irgha dan Nino, spontan berucap bersamaan.


"Oh! Kak Naima 'kan?" Irgha menepuk jidatnya, saat mengingat siapa 'orang dalam' yang dikatakan Calvin.


"Oh, iya! Cinta pertamanya Calvin!" Celetuk Nino, membuat langkah Calvin terjeda beberapa saat, dengan perhatian yang beralih pada Nino.


"Elo, sih, No! Punya mulut makanya dijaga! Sekarang udah beda, udah punya bini dia." Bisikkan Irgha teruntuk Nino, terdengar cukup jelas di telinga Calvin. Diam-diam Calvin kembali menghela napas lelah.


"Iya! Walaupun sempet jadi cinta pertama, tapi itu dulu, No! Sekarang udah bucin banget sama bininya. Bininya juga gak kalah cantik dari mantannya yang selingkuh!" Timpal Brian. Membuat Calvin semakin jengah untuk terus berlama-lama di sekitar mereka bertiga.


"Oh, iya, ya! Eh, Vin! Mau ke mana?" Pekik Nino, saat menyadari Calvin telah melenggang meninggalkan mereka.


...****...


"Calvin!" Sahutan yang terdengar begitu lemah lembut, seketika membuat perhatian Calvin yang semula tertuju pada layar ponselnya, langsung membuncah.


Saat menoleh, dari arah lain tampak Naima dengan setelan casual dibalut almamater kebanggaan kampus, berjalan melewati beberapa orang yang juga memusatkan perhatian padanya.


Oh, ya. Bisa dibilang, dari pertama awal masuk kampus sampai lulus sarjana, Naima ini sangatlah terkenal di seluruh angkatan. Dia pernah menjuluki Ratu Kampus, saking populernya.


Selain kareba memiliki fitur wajah yang cantik dan bentuk tubuh yang ideal, sikapnya yang senantiasa tampak tenang dan anggun sering menjadi impian bagi para mahasiswa. Bahkan, para mahasiswi pun seolah tak henti-hentinya terus mengagumi kecantikan dan sikap tenang Naima.


Sesampainya Naima di hadapan Calvin, perempuan itu semakin mengembangkan senyumannya. Kedua pipinya bersemu seiring dengan waktu yang berjalan semakin terik.


"Gimana tadi gue? Keren 'kan?" Sahut Naima. Perempuan itu tengah mengungkit soal tadi ketika masih berada di aula kampus, di mana Naima beserta beberapa angkatan alumni sukses lainnya berbicara panjang lebar di hadapan para adik-adik alumni.


"Hm, lumayanlah!" Balas Calvin, langsung mendapat tatapan tajam dari Naima.


"Kok, lumayan?" Tanya Naima, sedikit tidak terima. Padahal ketika memberikan kuliah tadi, Naima merasa tidak ada yang salah dalam penyampaian maupun isi dari apa yang Naima beberkan.


"Bagus, Nai!" Ucap Calvin, pada akhirnya. Seulas senyuman lagi-lagi terbit di wajah Naima.


"Gitu, dong! Susah amat muji dikit,"


"Hm."


"Ish! Lo kenapa, sih? Perasaan sekarang lo kalau gue tanya, balasannya simpel mulu, kek orang gak niat. Lo dendam sama gue?" Pertanyaan Naima, membuat Calvin sontak mengernyitkan dahi.


"Emang iya?"


"Iya, Vin! Lo gak sadar?" Naima menatap Calvin penuh selidik, namun yang ditatap malah terkekeh. Hampir membuat Naima dibuat terpesona untuk sesaat.


"Gue gak sadar, sorry, ya! Em, mungkin, karena gue udah nikah, jadi gue mencoba untuk sedikit jaga jarak dari lawan jenis."


Naima merasakan hatinya mencelos begitu dalam, saat ucapan Calvin selanjutnya membuat Naima tersadar akan sesuatu.


Calvin sudah menikah!


"Lo ... serius sama hubungan lo?" Tanya Naima. Nada suaranya terdengar melemah. Perhatian sepasang bola matanya pun mulai jengah menatap sekitar.


"Harus! Pernikahan itu bukan sebuah candaan. Walaupun kita nikah karena, ya ... Pokoknya, gue gak akan pernah melepas ikatan pernikahan ini, sampai kapan pun!"


Sudah cukup! Pengakuan Calvin terlalu menyakitkan untuk didengar Naima. Rasanya, sudah tidak ada lagi celah dan harapan untuk Naima bisa kembali masuk ke dalam hidup Calvin.


Tapi, memangnya kenapa? Yang pacaran saja masih bisa putus. Yang menikah pun masih bisa cerai. Pokoknya, Calvin harus menjadi milik Naima!


"Ekhem! Jadi, lo cinta sama si- em maksudnya, sama istri lo, Naura? Udah sejauh mana hubungan kalian?" Mencoba untuk menetralkan perasaan sesak yang terasa semakin menjalar, Naima kembali mengajukan pertanyaan, setelah sebelumnya Naima menarik napas dalam-dalam.


Tampak seulas senyuman tipis terukir di wajah Calvin yang tengah menunduk. "Sejauh suami-istri pada umumnya?"


"Apa?"


^^^To be continued...^^^