Quiet Wife

Quiet Wife
31. Akhirnya Bercerita



"Akhirnya buka mulut juga. Ketahuan, deh. Padahal tadi gue cuman nebak aja. Muka lo mirip sama kontestan remaja tujuh tahun yang lalu, yang sempet dikagumin sama Calvin."


"A-apa?" Naura memundurkan langkah kakinya saat Naima berjalan tepat ke arahnya. Seringaian jahat yang terpatri di wajah Naima, tanpa sadar membuat bulu kuduk Naura berdiri.


"Lo-"


"Apa-apaan lo!" Suara lantang dari arah lain, seketika membuat perhatian Naura, tak terkecuali Naima, dibuat terpecah.


Belum sepenuhnya menoleh, Naura sudah ditarik menjauh dari hadapan Naima yang raut wajahnya mulai memucat. Keringat dingin rasanya mulai melanda diri Naima saat melihat tatapan asing nan tajam dari Calvin yang ditujukan langsung padanya.


"Calvin? Lo ..."


"Lo apain istri gue?"


"Ha-hah?" Tubuh Naima rasanya semakin bergetar hebat karena pertanyaan Calvin. Jujur saja, Naima begitu takut saat menatap mata Calvin saat ini.


"Gu-gue nggak ngap-"


"Gak usah bohong! Lo pikir gue gak tahu? Lo gak suka 'kan sama Naura? Lo mau nyingkirin Naura dari gue, biar lo bisa deket lagi sama gue. Itu 'kan yang lo mau?"


Naima semakin dibuat diam tak berkutik oleh pertanyaan Calvin. Sungguh, bagaimana Calvin bisa mengetahui hal itu?


"Gue nggak-"


"Sorry! Kalaupun Tuhan mau misahin gue sama Naura, lo gak akan pernah bisa masuk ke dalam hidup gue." Tekan Calvin. Saat itu juga, Calvin langsung menarik Naura untuk segera menjauh dari Naima. Sementara Naima, perasaannya kian bergejolak, namun bukan perasaaan cinta yang menguasai.


Melainkan ketakutan akan Calvin yang mulai membencinya.


"Enggak! Ini nggak boleh terjadi!" Tubuhnya masih bergetar hebat. Bahkan ketika Naima hendak melangkah, kakinya sempat tidak seimbang, sehingga hampir saja Naima terjatuh.


Beruntung Naima dengan sigap menahan bobot tubuhnya dengan segera menegakkan posisi berdiri. Setelahnya, Naima langsung mengejar Calvin yang punggungnya perlahan semakin menjauh lalu menghilang.


...****...


"Calvin, dengerin gue! Lo Salah paham sama gue!" Naima terus menerus merengek sembari mengejar langkah Calvin yang terbilang gontai. Naura yang sedari tadi ditarik sana-sini oleh Calvin hanya bisa pasrah dan menurut.


Dari wajahnya saja sudah terlihat jelas jika Calvin sedang marah saat ini. Kedua alisnya mengerut dalam. Tatapan matanya pun begitu tajam seolah siap membunuh siapa saja. Bahkan, cengkramannya di salah satu pergelangan tangan Naura begitu kuat. Membuat Naura tanpa sadar berdesis ngilu.


"Calvin!" Naima berhasil mencegat langkah Calvin dengan berdiri di hadapannya. Napasnya terlihat memburu dengan kedua tangan yang sengaja direntangkan.


Calvin terdiam, menatap tajam Naima yang belum melakukan apa-apa. Sesekali, Calvin akan berdecih pelan melihat Naima yang sepertinya akan kembali bersandiwara.


"Gue mohon lo dengerin gue! Sumpah, gue gak ngapa-ngapain istri lo! Lo salah paham sama gue, gue gak pernah punya niat jahat buat pisahin kalian! Lo denger dari siapa, sih? Lo gak boleh dengerin omong kosong orang-orang! Mereka cuman iri dan mau jadiin gue kambing hitam, Vin! Please, percaya sama gue, ya!? Gue nggak-"


"Cukup!" Calvin menyela. Naima yang masih belum selesai mengeluarkan berbagai kalimat dustanya, diharuskan terpotong di tengah jalan.


"Gue muak sama lo, Nai! Harusnya gue ikutin saran Bang Arvin buat jauhin lo, bukannya nerima lo kembali menjadi sahabat gue. Lo emang gak bisa dipercaya. Hobi lo adalah membuat semua cowok bertekuk lutut di hadapan lo. Selama ini lo gak pernah jatuh cinta sama siapa pun, termasuk sama gue dan sama Bang Arvin. Lo cuman gengsi. Lo gak suka perhatian para cowok berpaling dari lo sedetik pun. Yang lo mau adalah, semua cowok harus memokuskan perhatian cuman sama lo!"


"Enggak! Gue enggak-"


"Satu hal lagi!" Calvin kembali menyela. "Lo gak usah bawa-bawa orang lain buat bikin alesan. Gue tahu semua niat busuk lo dari mulut lo sendiri. Kalau dari mulut orang lain, mungkin aja gue gak akan langsung percaya seperti sekarang."


Naima tak lagi tampak berusaha menjelaskan. Perempuan itu hanya terdiam sembari mengalihkan pandangan matanya dari Calvin.


Sayangnya, kepalanya tidak sampai menunduk. Dia masih Naima, yang memiliki ego di atas rata-rata. Setetes air mata tiba-tiba luruh dari salah satu pelupuk matanya. Terlihat seperti Naima-lah yang paling tersakiti di sini. Padahal kenyataannya tidak demikian.


Dan, ya. Calvin tidak akan lagi tertipu untuk yang kesekian kalinya oleh Naima.


"Udah, ya. Jangan gangguin hidup gue sama Naura. Gue udah cukup bahagia sekarang, apalagi gue udah mau jadi papa. Makasih untuk semua lukanya."


...****...


Di perjalanan pulang, suasana di antara Calvin dan Naura terasa begitu hening, dingin dan mencekam. Sesekali, Naura akan melirik Calvin yang masih memperlihatkan rona kemarahan di wajahnya. Karena tidak berani mengusik, Naura memilih diam dan menunduk.


"Kamu ... gak pa-pa 'kan?" Sahutan lembut dari Calvin, seketika membuat Naura mendongak. Kepalanya refleks menoleh pada Calvin yang masih setia memokuskan perhatian pada jalan raya.


Ucapan dari Naima ketika di super market tadi sungguh mengganggu pikirannya.


Kontestan remaja tujuh tahun yang lalu yang sempat dikagumi oleh Calvin ...?


"Maaf, aku-"


"Mas Calvin, aku mau cerita!" Naura menyela ucapan Calvin, sehingga membuat Calvin menoleh sekilas pada Naura.


"Mau cerita apa?"


Naura menarik napasnya dalam-dalam sebelum dirinya benar-benar akan mengatakan hal yang selama bertahun-tahun ini terus dia sembunyikan seorang diri.


"Dulu banget waktu masih remaja, aku pernah ikutan audisi nyanyi di tv!"


"Oh, ya?" Calvin sangat terkejut mendengar penuturan Naura. Ketika Calvin menoleh, sebuah anggukkan pasti yang diiringi dengan seulas senyuman manis membuat rasa ragu Calvin melebur.


"Kira-kira waktu itu umur aku baru tiga belas tahun. Karena aku suka nyanyi, aku maksa sama Mama pengin ikutan audisi nyanyi yang diselenggarain di Jakarta. Dan, aku masuk final sampai lima besar. Tapi, aku nggak lanjut. Aku tereliminasi karena diri aku sendiri yang memutuskan untuk berhenti."


"Kenapa?" Calvin yang sedari tadi diam dan mendengarkan, ternyata ada saatnya Calvin ikut merasa kecewa hanya karena mendengarkan cerita dari Naura.


"Karena ... Mama meninggal tepat di hari babak penyisihan. Seandainya saat itu aku gak maksa Mama buat nemenin aku audisi, mungkin sekarang Mama masih ada di dunia ini."


Hening. Suasana dalam mobil lagi-lagi terasa dingin dan canggung. Calvin dengan otaknya yang terus mengingat-ingat masa lalu. Sementara Naura sibuk mengingat kesalahannya yang telah membuat nyawa sang mama melayang.


"Kontestan 1178 Naura?" Gumam Calvin, sontak membuat Naura menoleh. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang saat Calvin menyebutkan nomor urut Naura waktu pertama kali datang menjadi salah seorang kontestan.


"Jadi, itu kamu ya, Nau." Tak berapa lama, Calvin memasang seulas senyuman tipis di wajahnya. Kepalanya menoleh seiring dengan mobil yang bergerak melambat sampai akhirnya berhenti.


"Kenapa kamu gak bilang dari awal? Dan lagi, kenapa kamu bilang kalau Mama meninggal gara-gara kamu. Memangnya, apa yang udah kamu lakuin?"


"Aku-"


Sungguh, pertanyaan Calvin terdengar begitu mencekik di telinga Naura! Namun, tatapan yang Calvin berikan saat ini begitu lembut dan berbanding terbalik dengan apa yang didengar. Rasanya, Naura ingin sekali menangis sekarang.


Tidak! Naura tidak boleh menangis!


Tetapi, tiba-tiba Naura merasakan usapan hangat di salah satu pipinya.


"Apa pun yang udah terjadi waktu itu, itu bukan salah kamu, Nau! Jadi tolong, setop hukum diri kamu sendiri." Bagai mendapat sebuah sambaran petir di tengah hari, Naura mulai merasakan sesak yang teramat menyiksa di area dadanya.


Tak bertahan lama, air mata yang entah datang dari mana ikut menerobos seiring dengan ingatan demi ingatan masa lalu yang terus menghampiri.


Satu isakkan tangis, lolos dari mulut Naura. Seiring dengan kedua matanya yang terpejam, air mata terus menerobos tiada henti sampai membanjiri wajah cantiknya.


"Tapi mereka bilang, Mama meninggal gara-gara aku! Aku penyebab Mama meninggal! Kalau aja aku gak ngeyel pengin ikutan audisi, Mama gak akan-"


"Naura, hei!" Calvin meraup kedua pipi Naura sehingga perhatian Naura langsung terkunci pada wajah Calvin. Mulutnya tampak bergetar hebat, pun air mata yang tak berhenti terus mengalir keluar.


"Udah, ya! Setop nyalahin diri sendiri! Kamu gak salah!"


"Mas Calvin gak lihat, makanya Mas Calvin bilang kayak gitu!" Naura memekik histeris, seraya menepis tangan Calvin dari kedua pipinya.


"Maksudnya?"


Perlahan, Naura menarik napasnya dalam-dalam. "Di hari aku masuk lima besar, Mama datang jauh-jauh demi ngasih surprise buat aku. Sebelum benar-benar ngasih surprise, beliau telepon aku, nyuruh aku buat berdiri di depan gedung. Aku pikir, Mama bilang kayak gitu cuman mau main-main, atau nggak dia mau ngirim sesuatu lagi lewat kurir. Dan ternyata, ketika aku udah berdiri di depan gedung, aku ngelihat Mama lari sambil pegang buket. Wajahnya tersenyum begitu tulus, sampai membuat aku sendiri ikut tersenyum. Belum sempat aku lari buat meluk Mama, sebuah motor berkecepatan tinggi menerobos lampu merah, sampai akhirnya menabrak tubuh Mama."


Kedua bola mata Calvin rasanya sudah hendak melompat keluar dari tempatnya.


Jujur saja, Calvin tidak tahu harus bereaksi seperti apa lagi. Terlalu sakit rasanya walaupun hanya dibayangkan lewat kepala. Apalagi Naura yang merasakan pun melihat dengan jelas detik-detik terakhir di mana sang mama tercinta meninggal dengan begitu tragis.


"Mas Calvin tahu? Saat itu waktu rasanya berhenti. Melihat genangan darah yang semakin merembes keluar, bukannya berlari menuju Mama, aku malah dengan polosnya bengong gitu aja! Orang-orang di sekitar mulai mengerubungi Mama, tapi aku masih tetap bengong selayaknya orang kebingungan! Dan saat mulai datang pertolongan, aku akhirnya sadar di mana aku saat ini, dan apa yang baru saja terjadi."


^^^To be continued...^^^