
Panggilan telepon yang memekakkan telinga, menghentikan Naima yang baru saja berjalan sampai depan pintu. Ketika melirik layar ponselnya, Naima bergegas menyuruh Luna, asistennya untuk keluar lebih dulu.
"Gue mau angkat telepon. Lo bisa duluan." Ujar Naima, yang diangguki oleh Luna.
Sepeninggalan Luna, Naima kembali memasuki kamar hotel. Menutup pintu seraya melirik sekilas wajah Calvin yang masih sama.
"Halo?" Naima mengangkat panggilan telepon tanpa sedikit pun mengalihkan atensinya dari wajah Calvin.
"Iya. Calvin lagi sama gue, kenapa?"
"Lo gila?" Pekikan nyaring dari seberang telepon sana, membuat Naima refleks menjauhkan ponselnya dari daun telinga. Tak berapa lama, Naima akhirnya memilih memakai speaker sambil berjalan menuju jendela kamar hotel.
"Biasa aja, gak usah panik gitu." Naima terkekeh sarkas, tidak dengan Evelyn yang mendengus kesal.
"Gimana gue nggak panik coba? Lo nggak ada niatan buat pulangin dia ke keluarganya? Lo nggak kasihan apa lihat istrinya yang lagi hamil muda? Lo bener-bener tega ya, Nai!"
"Berisik lo, Lyn! Bukannya lo dulu juga pengin dapetin Calvin? Ya, ini saatnya."
"Itu beda cerita, Naima! Keluarganya nyari-nyariin dia, bahkan istrinya udah-"
"Kalau lo teleponin gue cuman buat bahas ini, gue tutup!" Ancaman Naima berhasil membuat Evelyn terdiam. Terdengar kekehan sarkas sebelum akhirnya Evelyn kembali bersuara.
"Terserah lo, deh. Maksud gue dulu mau dapetin Calvin tuh bukan dengan cara gak sehat kayak gini. Lo emang iblis, sih, Nai! Penghancur kehidupan harmonis orang lain. Coba lo bayangin gimana nasib istrinya yang lagi hamil? Lo juga cewek 'kan?"
"Heh, Evelyn! Sejak kapan lo jadi kayak gini? Gue mual tahu nggak dengerin ocehan lo. Lo nggak usah sok-sokan ceramahin gue, deh. Lo aja dulu bersaing 'kan sama gue?" Terlalu muak, Naima memutus sepihak panggilan telepon tersebut lalu membuang asal ponselnya ke atas sofa. Mood-nya dibuat rusak gara-gara Evelyn.
"Sok suci banget tuh cewek. Udah pernah dimainin sampe viral sama si Dion malah nuduh si Davin. Dasar cewek munafik!" Gerutu Naima. Siapa yang akan mengira, gerutuannya itu berhasil membuat Calvin mengepalkan tangan dalam tidur panjangnya.
Merasa tidak ada apa-apa lagi, Naima pun bangkit meninggalkan kamar hotel. Sekali lagi, sebelum Naima pergi, perempuan itu melirik pada wajah Calvin. Menatapnya dalam-dalam dengan jarak yang lumayan cukup dekat.
"Pas lo sadar nanti, nama yang pertama harus terucap dari mulut lo adalah Naima. Bukan Naura, oke!" Setelahnya, Naima pergi dari sana. Tak lupa untuk mengunci pintu kamar hotel dari luar.
Sepeninggalan Naima, Calvin yang pada dasarnya telah lama sadar dari kemarin mulai membuka mata. Tatapan matanya yang dingin menatap nyalang ke arah pintu kamar hotel yang tertutup rapat.
"Dasar cewek iblis! Sampai kapan pun, lo nggak akan pernah bisa dapetin gue."
...****...
"Naura!" Panggilan dengan suara yang cukup memekakkan telinga itu sukses membuat sang pemilik nama menoleh. Senyuman cantiknya mengembang saat mengetahui siapa yang baru saja memanggil namanya.
"Nih, aku bawain martabak telor kesukaan kamu." Ivan menyerahkan sekantung martabak telor yang dibelinya di perjalanan menuju ke rumah Naura.
"Kok, kamu tahu aku lagi pengin ini?" Kedua bola mata Naura berbinar, apalagi ketika aroma harum dari martabak telor itu yang menusuk rongga hidungnya. Membuat Naura lapar dan tidak sabar untuk segera mencicipi.
"Gimana, ya? Insting Calon Papa?" Candanya, lalu diakhiri terkekeh pelan.
"Ivan!" Peringat Naura. Senyuman Ivan dibuat luntur seketika. "Kenapa, sih, Nau? Aku 'kan tulus sama kamu."
"Kamu itu masih muda, masih ganteng. Pasti banyak cewek yang mau sama kamu, jangan sama aku! Aku itu-"
"Perempuan yang udah pernah nikah dan sekarang lagi hamil?" Sela Ivan, hafal betul lanjutan dari perkataan Naura setelahnya. "Aku nggak peduli, Nau! Aku sayang sama kamu dan juga calon anak kamu. Biarin aku jadi papa dari anak kamu, ya?"
Naura menghela napas panjang mendengar permohonan itu. Sudah cukup sering ucapan itu terlontar dari mulut Ivan.
"Emangnya kamu nggak malu? Lihat, deh. Perut aku udah kelihatan. Semua orang juga tahu status aku sekarang apa. Nanti kamu jadi bahan gosip, Ivan!" Ucap Naura, tak henti-hentinya terus mengingatkan Ivan.
"Udah, ya, jangan ngomongin itu lagi! Aku udah pernah bilang, aku nggak peduli! Yang aku peduliin cuman kamu dan calon anak kamu. Kalau kamu berkenan, aku juga mau memanggilnya sebagai calon anak aku."
Naura menghela napas lelah, bingung harus bagaimana lagi menghadapi Ivan. "Kalau kamu udah pindah ke hati perempuan lain, tolong kasih tahu aku, ya!" Setelah berucap demikian, Naura melengos dari hadapan Ivan dan memilih duduk di atas bangku halaman rumah yang tak jauh dari posisinya berada.
Sedangkan Ivan, pemuda itu tampak mengerutkan kening tanda tak paham. "Kok, gitu?" Ivan ikut mendudukkan diri di samping Naura yang tengah mengeluarkan satu buah potongan martabak telor.
"Ya, karena kamu harusnya memang kayak gitu. Mau, nggak?" Tawar Naura, saat hendak mencoba gigitan pertama.
"Buat kamu aja." Ujar Ivan, seraya membuang muka.
"Nih, ya, Van! Walaupun kamu bilang nggak peduli sama pandangan orang-orang, tapi orang tua kamu bakal peduli. Dia pasti nggak suka lihat anaknya yang masih muda deketin janda yang sebentar lagi akan punya anak."
Ivan terdiam meresapi berbagai ucapan demi ucapan dari Naura. Ya, memang benar orang tuanya pernah menentang. Tetapi Ivan memberontak dan tetap bersikukuh ingin menikahi Naura.
"Kamu masih kuliah 'kan, Van?" Tanya Naura lagi, disela menyuapi diri sendiri.
"Hm."
"Tuh! Masih kuliah masa mau nikahin janda?"
"Ya 'kan ini bukan sembarang janda." Gerutu Ivan, membuat Naura terkekeh.
"Makasih, ya, martabaknya! Nanti uangnya aku ganti. Sekarang aku mau mandi dulu, udah jam segini." Naura bangkit dari bangku, sedangkan Ivan masih dalam posisi yang sama.
"Nggak usah, 'kan niatnya juga buat bahan nyuap,"
"Itu dia! Aku gak bisa nerima suap cuma-cuma ini dari kamu." Terang Naura.
"Tapi itu dimakan!" Tunjuk Ivan. Kepalanya mendongak menatap Naura.
"Makanya aku bilang uangnya mau diganti." Kata Naura lagi, seraya tersenyum bingung.
Terjadi keheningan beberapa saat di antara keduanya. "Terserah kamu." Pungkas Ivan, lalu melenggang meninggalkan Naura yang dibuat memaku tidak enak.
...****...
"Udah berapa lama gue di sini?" Calvin melirik sekeliling kamar hotel, berharap menemukan sesuatu seperti kalender untuk mengecek tanggal dan bulan berapa saat ini.
Dan, ya. Ada sebuah kalender mini di atas laci nakas. Kedua bola mata Calvin melotot saat melihat kalender tersebut. "Gila! Ini udah tiga bulan lebih. Naura!"
Suara pintu kamar hotel yang sepertinya hendak dibuka dari luar, mengalihkan atensi Calvin. Dengan cepat dirinya menaruh kembali kalender tersebut di tempat semula.
Tepat ketika pintu terbuka, seseorang dibuat memaku saat melihat punggung tegap Calvin terpampang nyata di hadapannya.
"Calvin? Lo udah sadar?" Sahutan Naima tanpa sadar membuat Calvin berdecak. Namun seperti rencana awal, Calvin akan menahan diri terlebih dahulu.
Ketika Naima hendak berlari memeluk Calvin, Calvin dengan cepat menahan pergerakannya. Tatapan matanya begitu dingin. Membuat Naima bertanya-tanya akan tatapan tak biasa itu.
"Cal? Lo nggak inget gue? Ini gue, lho! Naima!" Naima masih setia mengulum senyumnya, berharap dapat membuat Calvin luluh atau apa pun itu.
"Siapa Naima?" Mendengar pertanyaan aneh Calvin, Naima lantas memundurkan langkahnya. Kedua alisnya berkerut dengan berbagai pertanyaan yang terbesit di kepala.
"Cal? Lo nggak lagi bercanda 'kan?"
Ada yang aneh dengan Calvin. Apa jangan-jangan karena efek samping dari benturan keras di belakang kepala Calvin waktu itu menyebabkannya amnesia?
Tapi, bentar, deh. Bukannya itu bagus, ya?
"Ekhem. Gue Naima, Cal, sahabat lo! Dan juga ... mantan pacar lo. Dulu kita saling mencintai, lho, Cal!"
"Terus kenapa kita putus?" Pertanyaan di luar ekspektasi itu membuat Naima gelagapan.
"Hah?"
"Lo bilang, lo mantan gue 'kan?"
"I-iya!"
"Terus, alasan kita putus karena apa?" Tanya Calvin lagi. Dan kali ini, Naima semakin hingung harus menjawab seperti apa.
Duh, ribet juga jawabnya! Gimana, ya? Gue sama Calvin belum pernah pacaran, sih, cuman dulu kita pernah kasmaran di belakang si Arvin. Kita juga pernah hampir ciuman, cuman gagal gara-gara si Arvin Sialan!
"I-itu ... agak panjang ceritanya. Tapi sekarang kita udah balikan lagi, kok! Lihat, deh, cincin di jari lo! Itu cincin pertunangan kita!" Ide mulai bermunculan tatkala perhatian Naima tidak sengaja melirik ke arah cincin pernikahan yang masih setia dikenakan oleh Calvin.
Beberapa kali Naima sudah mau membuang cincin itu, namun entah mengapa begitu sulit sekali terlepas dari sana seolah memiliki lem tak kasat mata.
"Oh, ya?" Perhatian Calvin beralih pada cincin pernikahannya dengan Naura. Hatinya sakit saat memikirkan kemungkinan besar jika Naura mengira Calvin sudah meninggal.
"Iya!"
"Terus, kenapa cuman gue yang pake? Punya lo mana?" Pertanyaan Calvin yang lain, membuat Naima semakin kelabakan. Dia lupa untuk memikirkan hal itu.
Sialll!
"Ka-karena ..."
"Setop!" Calvin memotong ucapan Naima. Salah satu tangannya terangkat menginterupsi gadis itu untuk menutup mulutnya.
"Gue di mana?"
Naima menghela napas panjang mendengar pertanyaan Calvin. Hampir saja. Naima kira, Calvin tengah berusaha membuka kedoknya. Namun ternyata, dia hanya peduli pada dirinya sendiri.
"Lo ... di hotel!"
"Hotel mana?"
"Hm, hotel deket pantai. Lo boleh lihat ke luar jendela, kok. Takutnya lo nggak percaya sama gue." Naima mempersilakan Calvin. Sayangnya, saat Calvin hendak berdiri, tubuhnya sudah mau ambruk. Beruntung Naima dengan sigap menahan tubuh Calvin.
"Kaki lo lemes, ya? Mungkin efek lo koma selama tiga bulan, jadinya-"
"Gue 'kan pasien koma, kenapa ada di hotel?"
Naima berdesis kesal dalam hati. Entahlah. Sejak Calvin sadar, sudah terlalu banyak pertanyaan ini dan itu yang terucap dari mulutnya.
"Lo pernah dirawat si rumah sakit, kok. Tepatnya waktu pertama kali gue temuin lo! Mungkin sekitar dua minggu, gue pindahin lo ke sini, deh, sampai sekarang." Terang Naima, jujur. Sayangnya, Calvin tidak berniat memercayai. Sudah terlalu banyak kebohongan yang terucap dari mulut perempuan itu.
"Kenapa lo gak telepon orang tua gue? Mereka nggak tahu 'kan kalau gue di sini dan masih hidup?"
"Calvin!" Nada suara Naima berubah dingin. Tangannya yang masih setia menopang tubuh Calvin, dengan cepat dia lepaskan sehingga membuat Calvin kembali terjatuh ke tempat tidur.
"Lo sebenarnya gak amnesia 'kan? Pertanyaan lo terlalu banyak untuk orang yang amnesia!"
"Yang bilang gue amnesia siapa?" Seringai tipis menghiasi wajah Calvin. Dan hal itu sanggup membuat Naima terguncang.
Jadi kebohongan yang tadi ...
"Entah setan apa yang merasuki tubuh lo, tapi di sini gue mohon banget sama lo. Tolong pulangin gue! Gue mau ketemu sama istri gue!"
^^^To be continued...^^^