
Perlahan, Calvin kembali menghela napasnya yang diakhiri dengan mengangguk beberapa kali. "Sebentar, ya." Ucap Calvin, seraya menjauhkan sedikit posisinya dari Naura untuk mengangkat panggilan telepon.
"Halo, Nai?"
"..."
"Sorry, gue gak bisa! Naura sakit, mungkin lain kali."
"..."
"Hm. Have fun!" Panggilan telepon pun selesai dengan Calvin yang memutuskannya lebih dulu.
Saat hendak memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celana, perhatian Calvin tiba-tiba beralih pada Naura. Entah mengapa rasanya seperti ada yang tengah Naura sembunyikan darinya.
Calvin kembali menghela napasnya, seraya menghampiri Naura. "Udah selesai. Kamu mau bicara apa?"
"Eng, na-nanti aja. Nggak penting juga, kok!" Ucap Naura. Kepalanya lagi-lagi menunduk lesu.
"Yakin gak penting?" Tanya Calvin, berusaha memancing Naura agar mau berbicara padanya.
Mendengar hal itu, refleks kepalanya mendongak menatap Calvin. Jantungnya lagi-lagi berdegup tak karuan tanpa sebab yang jelas.
"I-iya! Mungkin ... lain kali aja," ujar Naura. Membuat Calvin menghela napas pasrah mendengarnya.
"Oke. Em, masih pusing? Gimana kalau kita ke klinik-"
"Enggak!" Calvin semakin yakin jika ada suatu hal yang disembunyikan Naura. Namun, Calvin tidak tahu apa itu. Yang jelas, sikapnya menjadi aneh.
"Kenapa?"
"Ka-karena, aku gak pa-pa! Aku baik-baik aja, kok."
"Bohong. Sebenarnya ada apa sih, Nau? Kamu gak mau berbagi hal itu sama aku?" Tanya Calvin lagi.
Jujur, Calvin terlanjur ingin tahu apa yang hendak dikatakan oleh Naura. Hanya karena sebuah panggilan telepon, Naura memilih melupakan niat awalnya untuk mengatakan suatu hal penting pada Calvin.
Ya. Calvin rasa, hal yang hendak diberitahukan padanya adalah suatu hal penting.
"A-aku belum siap. Mungkin lain kali aja." Balas Naura, setelah beberapa saat terdiam mencerna.
"Oke, terserah kamu." Pada akhirnya, Calvin jadi kesal sendiri dan meluapkan amarahnya dengan melenggang dari dalam kamar. Melupakan Naura yang pada dasarnya masih belum menyentuh makan dari sejak pagi.
...****...
Rasa pusing dan mual sudah mulai sedikit mereda. Dengan langkah hati-hati, Naura berjalan keluar dari dalam kamar menuju dapur. Sesungguhnya, sampai saat ini Naura masih belum menyentuh makanan apa pun.
Calvin yang awalnya peduli sudah pergi entah ke mana. Mungkin karena suaminya terlanjur kesal, sebab Naura yang tidak jadi memberitahukan sesuatu.
Sesampainya di dapur, Naura dibuat memaku saat melihat Calvin yang berkutat sendirian memasak sesuatu.
Naura kira, Calvin pergi sebab kesal. Ternyata, jauh lebih dari itu, Calvin begitu peduli padanya. Naura jadi merasa bersalah.
"Mas Calvin masak?" Perlahan, Naura melanjutkan langkahnya walau terasa berat.
Mendengar ada seseorang yang menyahuti, refleks Calvin menoleh. Kedua kakinya dengan cepat berlari menghampiri Naura. "Kok, turun? Emangnya gak pusing? Kenapa gak tunggu di atas aja?"
"A-aku kira ... Mas Calvin pergi,"
"Terus?"
"Jadi, aku mau isi perut dulu mumpung agak baikan."
Calvin mendengus. "Ya udah. Mending sekarang kamu duduk dulu. Aku lagi bikin bubur, bentar lagi juga mateng."
"Makasih!" Tanpa diduga-duga, Naura memeluk Calvin dengan mengalungkan kedua tangannya di leher Calvin. "Sebenarnya, aku mau bilang, tapi aku takut." Bisik Naura, refleks Calvin mengangkat tangannya untuk membalas pelukannya.
"Kamu gak perlu takut. Coba kamu jujur. Aku suami kamu 'kan, Nau?"
"I-iya, maaf-"
"Kok, jadi minta maaf?" Calvin melepaskan pelukan keduanya, kemudian menatap sepasang bola mata Naura penuh selidik.
Sementara Naura, perempuan itu sudah hendak kembali menunduk, namun ditahan oleh tangan Calvin yang dengan cepat menarik nagunya.
"Naura!" Panggil Calvin. Saat Naura hendak menyahut, tiba-tiba indera penciumannya mencium aroma asing.
"Ini ... bau gosong 'kan?"
Sial! Buburnya!
"Ya ampun! Duduk dulu, Nau!"
Panik? Jelas! Spontan Calvin berlari menuju kompor dan mematikannya dengan terburu-buru. Tanpa berpikir panjang, Calvin membuka penutup panci yang sialnya begitu panas. Refleks Calvin menjatuhkan penutup panci tersebut ke lantai sampai mengeluarkan bunyi yang cukup nyaring.
"Mas Calvin gak pa-pa?" Terkejut dengan bunyi barang terjatuh, sontak Naura berlari ke arah Calvin. Mengecek satu persatu bagian tubuh suaminya dengan cemas.
"Aku gak pa-pa, Nau! Cuman kaget doang, soalnya tutup pancinya panas." Calvin memperlihatkan telapak tangannya yang tidak terlihat lecet sedikit pun walau sempat menyentuh benda panas.
"Yakin, gak pa-pa?"
"Iya, Istrikuuu! Udah, kamu duduk lagi. Kamu tuh lagi sakit, sana duduk!"
"Iya, iyaaa!" Naura mendengus pelan, saat Calvin terus mendorongnya untuk kembali duduk di kursi makan. Dengan pasrah, Naura pun kembali menuju salah satu kursi makan yang sempat dia duduki beberapa saat yang lalu.
Beberapa saat menunggu dalam diam, Calvin akhirnya selesai. Semangkok bubur polos serta segelas air putih dihidangkan di depan Naura. Walau sempat terjadi drama gosong, untungnya bagian gosong itu hanya sedikit. Sisanya masih utuh dan bisa dimakan.
"Sini, biar aku suapin!" Calvin menarik kursi lain di sebelah Naura. Sengaja mendekatkan posisi agar memudahkannya untuk menyuapi Naura.
Biar ala-ala drama percintaan gitulah pokoknya.
"Mau pake kecap, gak?" Tawar Calvin, disela meniupi bubur.
"Gak usah, gitu aja,"
"Kerupuk, gituh?"
"Aaa!" Satu suapan bubur polos buatan Calvin melayang menuju mulut Naura. Tanpa ragu, Naura menerima suapan itu dengan hati berbunga-bunga.
"Hm. Enak!" Puji Naura. Membuat Calvin kian mengembangkan senyumannya.
"Oh, ya?" Tanya Calvin. Anggukkan antusias dari Naura, membuat Calvin ikut mencicipi sedikit bubur buatannya.
"Biasa aja, sih. Bumbunya cuman garem doang. Tapi, lumayanlah. Mau lagi, gak?" Tanya Calvin lagi yang juga dibalas anggukkan sama.
...****...
"Gimana? Udah mendingan?" Calvin bertanya halus seraya mengusap pelan surai hitam Naura.
Naura tidak langsung membalas ucapan Calvin dengan lisan. Perempuan itu hanya mengangguk pelan, sembari mencoba mendekatkan posisi tidurnya pada Calvin.
"Ya udah, kamu tidur aja. Tapi harusnya minum obat dulu,"
"Gak mau!" Katanya perempuan hamil gak boleh sembarangan minum obat.
"Iya, gimana maunya kamu aja." Ujar Calvin, pasrah.
Terjadi keheningan beberapa saat, hingga ketika Naura mendongakkan wajahnya menatap Calvin, barulah keduanya kembali beradu argumen.
"Kenapa?"
"I-itu. Bukannya sekarang harusnya Mas Calvin lanjut bikin tugas, ya. Mas Calvin gak mau balik lagi aja gituh ke rumah temennya buat lanjut bikin tugas?" Naura bertanya panjang lebar, membuat Calvin refleks mengernyitkan dahi.
"Besok aja." Balas Calvin, lalu memejamkan mata. Salah satu tangannya bahkan mulai memeluk pinggang ramping Naura.
"Emangnya gak pa-pa?" Tanya Naura lagi. Mau tidak mau, Calvin kembali membuka matanya untuk menatap Naura.
"Bodo amat! Istriku lebih penting." Ujar Calvin, tegas. Namun sanggup membuat Naura terdiam dengan kedua pipi yang memerah.
"Cantiknya,"
"A-apaan, sih?"
"Udah, tidur. Aku temenin."
...****...
"Sorry, ya, Gha, Dev! Kemaren gue bener-bener gak bisa balik ke kostan, soalnya istri gue tiba-tiba sakit. Bahkan, kalau misalkan gue gak pulang kemaren, gue gak tahu nasib dia sekarang kayak gimana." Calvin berucap penuh penyesalan pada Irgha dan juga Devano, teman satu kelompoknya.
"Emang, istri lo kenapa kemaren?" Devano bertanya spontan karena kepo. Tetapi malah mendapat senggolan pelan oleh sikutnya Irgha.
"Gue nemuin dia udah pingsan di lantai dapur. Lo berdua 'kan tahu, Nyokap sama Bokap udah gak pake pembantu tetap lagi. Di rumah cuman ada dia, Nyokap lagi urus restorant soalnya lagi ada problem juga."
"Serius lo? Udah dibawa ke klinik?" Irgha yang awalnya masih mencoba bersikap normal, nyatanya ketika mendengar hal buruk yang menimpa istrinya Calvin, dirinya jadi ikut cemas.
"Nggak sempet ke klinik. Dia gak mau, jadinya cuman gue bikinin bubur aja, terus ajak istirahat."
"Tapi lo suruh minum obat 'kan?" Tanya Devano. Dibalas gelengan pelan olah Calvin.
"Lo gimana, sih, Vin? Istri sakit, dibawa ke klinik, kagak. Dikasih obat, juga kagak. Lo sayang, gak, sih, sebenarnya?"
"Dia nggak mau, b*go! Lo kira gue sebodoh itu apa? Udah gue paksa, masalahnya dia gak mau! Yang ada gue malah bikin dia gak nyaman."
"Tapi sekarang udah baikan?"
"Yah, sekarang ada Nyokap yang jagain. Jadi gak khawatir lagi kalau semisal dia pingsan kayak kemaren. Tapi gue harap hal itu nggak terjadi lagi."
Irgha dan Devano mengangguk sembari menghela napas lega. "Syukur, deh."
"Turut seneng dengernya. Semoga istri lo cepet sembuh, Bro!"
"Thanks, ya! Kalau gitu gue ke perpus dulu, mau lanjut yang kemaren. Ntar kalau udah beres gue kasih tahu, deh,"
"Yo'i! Tenang aja, masih ada tiga hari, kok. Santuy, Vin, santuy!"
"Duluan, ya!" Pamit Calvin. Tanpa berlama-lama, dia pun mulai melenggang meninggalkan kedua temannya.
...****...
"Heh, Naima! Muka lo kenapa? Kek, nggak seneng gitu, gue perhatiin. Hari ini adalah hari pertama lo kembali menjadi seorang mahasiswi. Harusnya muka lo tuh cerah sentosa, bukannya mendung kek awan hitam!?" Evelyn lantas meraih salah satu kursi kosong di hadapan Naima yang tengah melamun dengan wajah kusut di sebuah meja kantin.
Tersadar ada orang lain, sontak Naima berdecak. "Ngapain lo nyamperin gue?"
Mendengar pertanyaan itu, sontak Evelyn tertawa menggelegar, sampai beberapa mahasiswa yang berada di sekitar mereka, dibuat menoleh penuh tanya.
"Lo gila?" Naima mendengus kesal, saat seluruh perhatian kini tertuju pada Evelyn yang menggila. Sialnya, Naima ikut tertempel getahnya karena ulah Evelyn.
"Oke, oke! Btw, muka lo kusut pasti karena Calvin yang kemaren menolak tegas ajakan lo. Iya 'kan? Bener 'kan? Hahh! Udah dibilangin, si Calvin udah gak butuh cewek lain lagi! Dia udah punya istri. Ya, walaupun bisu."
"Dia gak bisu." Tatapan Naima berubah menusuk yang dia layangkan pada Evelyn.
"Maksudnya?"
Perlahan, Naima bangkit dari posisi duduknya, kemudian mencondongkan tubuhnya ke hadapan Evelyn sambil memasang tatapan yang sama.
"Cewek itu, si istri hasil perjodohan dari ortunya, nggak bisu! Dia itu pura-pura bisu!" Pekik Naima. Lagi-lagi perhatian beberapa mahasiswa kembali tertuju ke arah meja mereka.
"Apa? Lo ... tahu dari mana?"
"Calvin sendiri yang ngomong sama gue!"
"Hah? Kok, bisa? Terus, terus? Dia gak ada niatan buat cerai gituh? Soalnya si Naura-Naura itu 'kan gak bener-bener bisu. Selama ini dia cuman pura-pura biar bisa dapetin hatinya Calvin,"
"Nah! Lo juga nangkepnya kalau tuh cewek cuman pengin simpatinya Calvin doang, 'kan? Gue juga mikir gitu! Heran gue. Sebucin itu Calvin sama cewek yang namanya Naura! Padahal dulu Calvin sempet ngejar-ngejar gue." Naima menggigiti ujung kukunya, seraya terus berpikir. Sialnya, apa yang dia katakan di paling akhir, dibalas kekehan sarkas oleh Evelyn.
"Itu namanya KARMA! Makanya, gak usah sok-sokan gak suka! Giliran cowoknya pindah haluan, baru tahu rasa."
"Diem lo!" Tekan Naima, yang dibalas jengah oleh Evelyn.
^^^To be continued...^^^