Quiet Wife

Quiet Wife
14. (Bukan) Malam Pertama 18+



"Ayok, Calvin! Makan yang banyak, jangan sungkan-sungkan,"


"Iya, Pah."


"Naura, mau tambah lagi nasinya? Biar Papa ambilkan,"


"Enggak usah, Pah. Segini cukup, kok."


Senyuman Hermawan kian merekah mendengar Naura yang membalas ucapannya. Sudut hatinya menghangat, masih tidak percaya dengan Naura yang kembali mau berbicara setelah sekian tahun putrinya menutup diri.


"Oh, iya. Setelah makan malam, Papa mau pergi ikut ronda malam sama bapak-bapak yang lain. Naura, kamu gak akan kesepian 'kan di rumah?" Sebelum kembali melanjutkan makan malam, Hermawan memberitahu Naura, jika setelah ini beliau tidak akan berada di dalam rumah.


"Papa pulangnya jam berapa?"


"Kadang pulang, kadang ikut ronda sampai subuh. Calvin, tolong kamu jagain Naura, ya!"


"Iya, Pah. Papa tenang aja, Naura biar aku yang jaga." Balas Calvin. Membuat seulas senyuman tipis di wajah Hermawan tercetak begitu saja.


Sebenarnya, Hermawan bukan mau benar-benar ronda malam. Hermawan hanya ingin membuat ruang pribadi untuk Naura dan juga Calvin. Mungkin saja 'kan anak dan menantunya ini nanti akan ...


Ekhem. Memikirkannya saja, rasanya Hermawan jadi ikut bersemangat. Dia jadi tidak sabar ingin segera menggendong cucu.


"Ekhem. Ayok, tambah lagi!"


...****...


Malam sudah semakin larut, namun baik Calvin maupun Naura, keduanya sama-sama tidak dapat memejamkan mata sedari mereka merebahkan tubuh di atas tempat tidur yang sama.


Mereka gugup? Sepertinya, tidak. Sudah beberapa malam ini keduanya telah menghabiskan tidur bersama.


Hanya tidur! Iya, tidak ada yang lain.


Lalu, apa yang membuat keduanya tidak bisa tidur? Padahal, tadi keduanya sama-sama menguap sehingga memilih untuk lanjut tidur, setelah beberapa saat menyelesaikan makan malam.


Lagi, Calvin terus bergerak gelisah mengubah posisi tidurnya. Helaan napas lagi-lagi dia embuskan. Sepasang bola matanya yang dipaksa terpejam akhirnya terbuka.


"Nau?" Panggil Calvin. Tubuhnya sengaja membelakangi Naura, berharap dirinya dapat terlelap ke alam mimpi. Dan, begitupula dengan Naura yang juga membelakangi Calvin.


"Iya?"


Mendengar sahutan itu, refleks Calvin membalikkan tubuhnya menghadap Naura. "Kamu belum tidur?"


Giliran Naura yang membalikkan tubuh menghadap Calvin, dengan sorot matanya yang tampak sayu. "Ngantuk, tapi gak bisa tidur."


"Sama. Em, mau nonton film aja?" Tawaran Calvin, seketika membuat Naura membelalakkan bola matanya.


"Film apa? Nontonnya di mana?" Tanya Naura, setengah berbisik.


"Gak di mana-mana. Di laptop aja gimana?"


"Mas Calvin bawa laptop?" Tanyanya lagi, yang dibalas gelengan pelan oleh Calvin.


Lantas, helaan napas lesu Naura embuskan. Raut wajahnya berubah malas. "Terus, kalau laptopnya gak ada, mau nonton di mana?"


"Em, kamu punya laptop, Nau?"


Lagi-lagi Naura menghela napas. "Enggak. Boro-boro, nyalain laptop aja aku gak tahu."


"Masa?"


"Iya!"


"Ya udah, lain kali aku ajarin. Mau?"


"Bo-boleh. Iihh, katanya mau nonton, kok, malah ngobrol?" Tersadar akan satu hal, Naura memperlihatkan kegemasannya pada Calvin yang dengan begitu mudah mengganti pembahasan.


Tanpa diduga-duga, Calvin malah tersenyum manis, seraya semakin mendekatkan posisinya ke samping Naura.


"Ngobrol aja, deh. Siapa tahu nanti ngantuk."


"Oh."


Hening. Tak ada lagi suara sahut menyahut dari keduanya. Calvin yang sibuk menatap Naura dalam-dalam, sedangkan Naura sendiri mencoba untuk menenangkan hati dan pikirannya, disaat dengan terang-terangan Calvin terus menatapnya hampir tak berkedip.


"Ekhem. A-aku mau tidur duluan-"


"Nau!" Sahutan rendah dari Calvin, membuat Naura menghentikan aksinya yang hendak kembali memunggungi Calvin.


Dengan jantung yang berdegup dua kali lipat lebih cepat, Naura memberanikan diri menatap sepasang bola mata Calvin, yang entah mengapa terlihat begitu berbeda malam ini.


"I-iya?"


Bukannya membalas, Calvin malah menarik pinggang Naura semakin mendekat. Refleks Naura melenguh pelan ketika jemari tangan Calvin menyentuh titik sensitifnya.


Sialnya, Naura langsung menutup wajahnya yang terasa begitu panas.


Malu. Satu hal tersebut mampu membuat Naura teringin menenggelamkan wajahnya ke dalam sumur, ataupun lautan agar tidak ada siapa pun yang melihat rona merah di kedua pipinya.


Aku kenapa, sih?


"Naura?" Lagi. Calvin menyahuti Naura dengan nada yang semakin terdengar rendah. Bulu kuduk Naura rasanya sudah berdiri hanya karena mendengar suara Calvin.


Sentuhan lembut tiba-tiba menyentuh kedua tangan Naura. Perlahan namun pasti, Calvin melepaskan tangan lentik itu yang telah menutupi hampir seluruh wajah cantiknya.


"Kenapa ditutup?"


"Eng-gak kenapa-kenapa!"


"Bohong."


"Enggak, ah!" Sepasang bola mata Naura spontan membelalak, saat dengan sengaja Calvin mengusap pinggangnya begitu sensual.


Saat mencoba mendongak untuk menatap raut wajah Calvin, dapat Naura lihat sebuah seringaian tipis hampir tidak terlihat di wajah Calvin.


"Jadi ... di sini, ya?" Ucap Calvin, ambigu. Jantung Naura sudah mau copot akibat tangan Calvin yang terus mengusap pinggangnya.


"Mas Calvin ngapain, hmh! Geli, akh!" Kedua tangan Naura refleks mencegah tangan Calvin yang mulai menelusup masuk ke dalam piyama tidurnya.


Bukannya berhenti, Calvin malah mengubah posisinya dengan cekatan menjadi berada di atas tubuh Naura. Kedua tangannya sengaja dijadikan tumpuan agar tidak menindih Naura yang tampak terengah-engah di bawahnya.


Ditatapnya dalam-dalam sepasang bola mata Naura yang tampak sayu. Setelahnya, tanpa berniat menunggu, Calvin mulai melahap bibir Naura sambil sesekali menghisapnya.


Ciuman yang awalnya masih biasa saja, perlahan mulai berubah menuntut seiring dengan Calvin yang memimpin ciuman itu. Bahkan, kedua tangan Naura yang menganggur, sengaja Calvin kalungkan di lehernya. Membuat ciuman itu terasa semakin panas dan nikmat.


Beberapa menit berlalu, ciuman keduanya diharuskan terlepas. Masing-masing dari keduanya mulai meraup oksigen sebanyak-banyaknya, untuk menetralisir perasaan sesak namun memiliki sensasi luar biasa disaat yang bersamaan.


"Naura!" Lagi-lagi Calvin memanggil Naura. Salah satu tangannya beralih menyentuh permukaan wajah Naura. Namun, tatapan Calvin tetap tidak dapat beralih dari bibir Naura yang tampak jauh lebih pink setelah ciuman mereka.


Tanpa berpikir panjang, Calvin kembali mencicipi bibir Naura. Tidak seperti tadi, kali ini Calvin hanya membiarkannya saling menempel biasa beberapa saat. Dilanjut mencium satu persatu pipi Naura, kemudian kening, dan diakhiri dengan kembali mencium bibir yang membuat Calvin ketagihan setiap kali menciumnya.


"Naura!" Calvin kembali memanggil nama Naura. Rasanya, dia tidak merasa bosan terus memanggil-manggil nama itu yang akhir-akhir ini terus menggoncang hati dan pikirannya.


Mencoba untuk memberanikan diri, Naura kembali mendongakkan wajahnya menghadap Calvin. Tatapan Calvin yang kian menusuk, membuat Naura tanpa sadar dibuat terpikat, sehingga tanpa sadar kembali mengalungkan kedua tangannya di leher Calvin.


Tanpa diduga-duga, Naura mengecup sekilas bibir Calvin, membuat Calvin terkejut bukan main. Namun, hal itu tak lantas membuat Calvin ambil pusing. Bagi Calvin, tanpa bertanya lebih jauh pun, pasti jawabannya suduh cukup jelas saat ini.


"Ekhem. Mau ... pake ini?" Calvin merogoh saku celananya yang menyimpan sebuah benda keramat yang sempat diberikan sang papa tadi pagi.


Rasanya, Calvin tengah menjilat ludahnya sendiri saat ini. Tetapi, sepertinya tidak ada salahnya coba pakai. Iya 'kan?


"Itu, apa?" Naura menatap heran benda aneh yang mirip karet, atau ... balon? Entahlah. Naura merasa asing dengan benda itu.


"Nanti juga tahu. Jadi ... boleh?" Tanya Calvin. Lirikan matanya membuat Naura kian memerah padam di bawah sana.


Tanpa berniat menjawab secara lisan, Naura pun mengangguk. Wajahnya semakin memerah sebab menjawab pertanyaan Calvin yang cukup membuatnya berdebar.


Astaga! Apakah Naura bisa? Untuk yang kedua kalinya?


Yang pertama karena sebuah paksaan keadaan, pun karena Calvin pada waktu itu dalam keadaan setengah sadar.


Dan saat ini, keduanya sama-sama sadar dan tidak dalam keadaan terpaksa.


Tunggu, kenapa Naura menyetujui? Apakah ... Naura mencintai Calvin?


Sebelum mengidentifikasi perasaannya sendiri, kecupan lembut lagi-lagi mendarat di atas bibir Naura. Naura yang sudah tidak bisa memikirkan apa-apa lagi pun dibuat terhanyut oleh Calvin.


Dan, malam yang sunyi nan dingin itu, berubah panas disetiap detiknya.


...****...


Pukul tujuh pagi tertera gamblang di dinding kamar Naura. Naura yang telah bangun lebih awal lantas memilih membersihkan diri sebelum Calvin yang tidur di sebelahnya terbangun dan mengacau rencananya.


Ketika sesampainya di dalam kamar mandi, senyum di wajah Naura tak henti-hentinya terus terangkat dengan kedua pipinya yang memerah.


Mencoba untuk mengenyahkan segala pikirannya tentang kemarin malam, Naura memulai rutinitas dengan menggosok gigi yang kemudian dilanjut dengan mencuci muka menggunakan sabun dan air.


Ketika hendak berjalan menuju bathub, pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka. Naura yang sepenuhnya telah menanggalkan pakaiannya, dibuat ketar-ketir saat melihat siapa yang baru saja membuka pintu kamar mandinya.


Astaga, sampai lupa belum dikunci!


"Mas Calvin! U-udah bangun?" Perlahan, Naura memundurkan langkah kakinya seraya menarik handuk yang untungnya tak begitu jauh dari posisinya berdiri. Dengan begitu alakadarnya, Naura lantas menutup tubuh polosnya.


"Kenapa gak bangunin aku?" Tanpa aba-aba, Calvin menarik tangan Naura sampai tubuhnya dibuat membentur tubuh Calvin yang hanya memakai sebuah handuk di pinggang.


Sekuat mungkin Naura menahan handuk di tubuhnya yang hampir melorot akibat Calvin yang selalu bertindak tak terduga.


"A-aku takut ganggu Mas Calvin yang lagi tidur. Y-ya udah. Mas Calvin mau mandi juga? Kalau gitu aku keluar-"


"Kenapa keluar? 'Kan bisa bareng!"


"Ha-hah!?"


Mampus! Entah mengapa rasanya begitu mencekam saat Calvin kembali memperlihatkan seringai di wajahnya. Tanpa sadar Naura kembali memundurkan langkah kakinya sampai membentur dinding, ketika Calvin terus berjalan ke arahnya sambil memasang seringaian mengerikan itu.


"Mas Calvin!" Naura menahan pergerakan Calvin yang pagi-pagi begini sudah mau mencuri ciuman lagi.


Apa yang kemarin masih belum cukup?


Helaan napas panjang lantas Calvin embuskan. "Kenapa?" Entah sengaja atau tidak, Calvin memasang raut wajah memelas di depan Naura.


Benar-benar menyebalkan!


"Masih pagi," suara Naura terdengar menciut, dengan wajahnya yang terus menunduk.


"Emangnya kenapa?" Seolah sengaja, Calvin menarik pinggang Naura, lalu memeluknya begitu erat.


"Gak boleh! Kemaren 'kan udah."


"Sekali lagi aja, ya? Janji, cuman sekali!"


"Bohong! Kemaren juga jajinya sekali. Tapi buktinya apa? Gara-gara Mas Calvin, kemaren aku tepar, tahu!" Berusaha melupakan rasa malu, Naura mulai mengeluarkan kekesalannya pada Calvin.


Sedangkan Calvin, laki-laki itu malah terkekeh pelan mendengar ocehan Naura.


Tepar katanya? Siapa suruh Naura begitu cantik. 'Kan jadi gak kuat.


"Ekhem. Kali ini aku janji, cuman sekali. Ya? Em, atau gini, deh. Kamu apa, aku kabulin. Hm?"


"Gak mau!" Tekan Naura, membuat Calvin frustasi.


"Yah, mau dong, Nau! Kalau aku ingkar, kamu boleh, deh, cium aku duluan!"


"Enak di kamu, dong? Enggak!" Tolak Naura lagi. Calvin semakin bingung harus tawar-menawar dengan apa lagi! Adiknya sudah bangun gara-gara melihat tubuh Naura yang begitu seksi di pagi hari.


"Ya udah, jewer kuping, deh!" Putus Calvin, pada akhirnya. Siapa yang mengira, ternyata tawarannya langsung diangguki?


"Setuju!"


"Ada yang gak beres, nih. Kayaknya kamu udah dari tadi, deh, pengin jewer kuping aku?" Bukannya bahagia mendengar jawaban Naura, Calvin malah curiga.


"Emang iya! Soalnya aku mau balas dendam sama Mas Calvin!"


Seringaian mengerikan lagi-lagi Calvin perlihatkan. Dengan tangan yang mulai nakal, Calvin lantas membisikkan satu hal, tepat di depan telinga Naura.


"Sebelum kamu balas dendam duluan, aku yang akan lebih dulu bikin kamu nangis, Nau!"


^^^To be continued...^^^