Quiet Wife

Quiet Wife
30. Memperlihatkan Kebencian



Tak terasa, weekend sudah di depan mata. Hari-hari biasa yang akhir-akhir ini terasa begitu berat, dapat Calvin hempas sejauh mungkin.


Saat ini, waktu telah menunjukkan pukul enam pagi. Baik Naura maupun Calvin, keduanya masih setia berada di tempat tidur menghabiskan waktu dengan bermalas-malasan.


Sebenarnya, Naura ingin bangun dan bersiap membuat sarapan seperti hari-hari biasa. Namun, Calvin tidak membiarkannya pergi sehingga berakhirlah Naura terus berbaring di tempat tidur.


Sesekali Naura akan mencolek hidung Calvin yang tampak begitu tajam dan mancung. Reaksi erangan pelan dari Calvin yang masih memejamkan mata, membuat Naura terus menerus mengulum senyumannya. Tanpa sadar dirinya semakin memepetkan tubuhnya seraya melingkarkan tangan di pinggang Calvin.


Oh, tidak! Sepertinya, Naura tidak akan sungkan lagi untuk bermanjaan dengan Calvin. Walau Calvin belum pernah mengutarakan perasaan cintanya dengan begitu dramatis, tetapi dengan semua sikap dan perhatian yang Calvin perlihatkan sudah cukup membuat Naura paham.


Seperti ini saja, Naura sudah senang. Setidaknya, pernikahan yang awalnya adalah sebuah tragedi, menjadi pernikahan yang selayaknya dirasakan oleh pasangan-pasangan pada umumnya.


Drrt ... Drrt ... Drrt ...


Bunyi getaran dari salah satu ponsel Calvin, seketika membuat Naura menjauhkan diri. Saat hendak meraih ponsel, Calvin mencegahnya dengan semakin memeluk Naura.


"Mas Calvin!" Panggil Naura. Terdengar erangan malas dari Calvin yang masih setia memejamkan mata.


"Hapenya bunyi." Ujar Naura. Decakan sebal keluar dari mulut Calvin diiringi dengan kedua bola mata yang mengerjap pelan.


"Masih pagi, juga." Dengan malas tingkat dewa, Calvin sudah hendak bangkit untuk meraih ponselnya. Namun tiba-tiba tangannya dicekal oleh Naura, sehingga perhatian Calvin beralih pada Naura.


"Biar aku aja yang ambilin." Setelah mengatakan itu, Naura benar-benar langsung mengambilkan ponsel Calvin yang masih bergetar.


Sebuah nama yang tidak pernah sekalipun terpikirkan di benak Naura, membuat sudut hatinya tiba-tiba berdenyut ngilu.


Naima kenapa teleponin Mas Calvin pagi-pagi gini?


"Ck, ngapain sih dia nelepon?" Naura refleks mengerjap beberapa kali, saat mendengar ocehan Calvin yang tidak seperti biasanya.


Itu Naima lho yang telepon? Kok, mukanya jadi kesel?


"Gak diangkat?" Melihat gerak-gerik Calvin yang langsung mematikan ponselnya tanpa berniat mengangkatnya, tentu saja membuat Naura bertanya-tanya.


"Ngapain? Dia udah gangguin kita, Nau! Harusnya sebelum hapenya dikasihin ke aku, kamu lihat dulu siapa yang nelepon. Kalau yang nelepon Naima, langsung matiin aja. Gak penting!"


"Yakin?" Tumben?


"Kenapa gak yakin? Pokoknya kalau sewaktu-waktu kamu ketemu sama dia terus nanya-nanya soal 'apa bener kita nikah karena dijodohin?', kamu jawab aja 'iya'! Dan kalau dia nanya macem-macem, bilang aja 'kalaupun kita dijodohin, kita sama-sama cinta, kok!' Oke?"


Sungguh, ucapan panjang lebar dari Calvin membuat Naura bingung harus bereaksi seperti apa? Ucapannya begitu cepat, sampai rasanya Naura tidak langsung mencernanya begitu saja.


"Jadi, intinya harus bohong aja gitu kalau Naima nanya gitu?" Calvin mengangguk cepat.


"Ya udah, aku nurut aja." Balas Naura, pada akhirnya. Siapa yang tahu, balasan itu sukses membuat Calvin lega luar biasa.


Dengan cepat Calvin memeluk tubuh Naura sambil sesekali saling menggesekkan pipi mereka. "Makin sayang sama Istriku, muah!"


...****...


"Tumben siang amat baru turun?" Sahutan yang lebih ke arah ledekan itu terucap dari mulut Divo, sang papa yang tengah sibuk membaca berita harian di tablet miliknya.


Tentu saja ledekan itu beliau tujukan pada Calvin dan Naura yang baru saja turun di jam yang menunjukkan hampir setengah delapan pagi. Mana masih mengenakan piyama tidur, lagi.


Bukannya malu, Calvin memasang raut wajah tengil terhadap papanya. "Cie, iri, ya!"


"Heh, anak durhaka! Bapak lo ini!? Waah, harus dibasmi kayaknya," Arvin menyolot tak terima sebagai seorang kaum jomblo.


Jujur saja, hatinya panas dan rasa iri rasanya terus menggerogoti dada Arvin. Sedangkan Divo, pria itu hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah ajaib Calvin yang kekanak-kanakan.


Sejak kapan Calvin jadi begini?


"Pasti kamu ngancem Naura 'kan, biar gak ikut sarapan bareng sama kita? Awas kamu, Vin!" Divo memberikan tatapan tajam, disertai kedua jemarinya yang menunjuk tepat ke arah mata Calvin.


"Sembarangan! Enggaklah, orang Naura-nya aja mau, kok."


"Anj*rlah! Lo sengaja, hah?! Sini lo! Gak sopan umbar kemesraan di hadapan abang sendiri! Gue mau lo berlutut di hadapan gue, sekarang! Sini, gak lo!" Arvin sudah berancang-ancang hendak melabrak Calvin. Berharap adiknya ini mau menuruti perintahnya, sehingga Arvin dapat tetap diam di sofa.


Sayangnya, Calvin tetaplah Calvin. Setenang apa pun sifatnya, tetap kejahilannya tidak akan pernah berubah.


"Najis."


"G*b-"


"Heh, heh, heh! Masih pagi, gak usah pada toxic. Kalau kamu iri pengin kayak si Calvin, makanya bawa cewek ke hadapan Papa! Biar Papa nikahin saat itu juga." Divo mulai turun tangan untuk melerai adu argumen antara kedua putranya.


"Dengerin, tuh! Udah, ya, gue mau sarapan dulu bareng istri. Bye, Kaum Jomblo!"


"G*bl*k lo!"


"Arvinnn!" Ucapan penuh peringatan itu terlontar dari mulut mamanya, Fani, yang entah sejak kapan berada di belakang Divo.


"Dahlah, males! Mending nyari cewek buat ntar malem." Gerutu Arvin, membuat Fani melotot.


"Ngomong apa? Coba yang keras?"


"E-eh, enggak, Mah, candaaa! Serius amat. Ya udah, mau mandi dulu, deh. Bye!"


...****...


Sekiranya sudah tiga puluh menitan keduanya menghabiskan waktu berjalan-jalan menyusuri setiap sudut super market. Dan di setiap menit-menit waktunya, Calvin tak lupa untuk mengecek keadaan Naura. Takut jika istrinya ini kelelahan karena terus menerus berjalan ke sana ke mari tiada henti.


Sejujurnya, Calvin tidak ingin mengajak Naura tadi. Mengingat Naura sedang hamil dan pastinya akan mudah lelah, Calvin menyuruh Naura tetap tinggal di rumah. Sayangnya, Naura kukuh pengin ikut.


Karena bingung, jadilah Calvin membawa Naura ikut serta.


"Capek, nggak?" Tanya Calvin, entah untuk yang keberapa puluh kalinya dia menanyakan hal yang serupa pada Naura.


"Biasa aja,"


"Coba sini lihat!" Calvin menyuruh Naura untuk berbalik menghadapnya.


Pasrah, Naura pun mengikuti semua yang Calvin perintahkan. Senyuman yang teramat manis menjadi simbol bahwa Naura baik-baik saja.


Helaan napas lantas Calvin embuskan. "Kalau capek, bilang ya!" Peringat Calvin, yang spontan diangguki Naura.


"Sini!" Calvin menarik Naura agar berjalan di sebelahnya. Satu tangannya menggenggam tangan Naura, sementara tangannya yang satu lagi Calvin gunakan untuk mendorong troli belanjaan yang baru terisi setengah. Masih banyak yang harus mereka beli.


"Mas Calvin!" Tiba-tiba Naura teringat satu hal. Spontan dirinya memanggil Calvin yang pandangannya terlihat sibuk menjelajah seisi super market.


"Hm." Balas Calvin, tanpa sedikit pun menoleh pada Naura.


"Mau es krim!" Ucap Naura pelan. Saat itu juga, Calvin langsung memokuskan perhatiannya pada Naura.


Sempat terdiam beberapa saat, Calvin mengangguk menyanggupi. "Ya udah, ayo!"


"Aku aja yang ambil! Mas Calvin lanjut cari barang yang mau kita beli aja, gak lama, kok."


"Yakin?" Tanya Calvin, dan Naura mengangguk.


"Oke. Hati-hati, ya! Jangan sampai hilang!" Peringat Calvin, membuat Naura tanpa sadar mendengus.


"Aku bukan anak kecil, gak akan hilang!"


"Itu dia, kamu itu kayak anak kecil. Perlu dilindungi, takutnya nanti kenapa-kenapa,"


"Kalau kenapa-kenapa, Mas Calvin repot maksudnya?" Naura menunduk segan, membuat Calvin spontan menarik dagunya agar kembali mendongak menatapnya.


"Lebih dari itu. Kalau kamu kenapa-kenapa, nanti aku bisa gila!"


"Hah?!" Naura menelan ludahnya susah payah mendengar jawaban Calvin yang begitu jauh dari ekspektasinya.


Apa katanya tadi? Bisa gila? Kenapa jantung Naura rasanya mau copot?


"A-aku mau ngambil es krim dulu!" Tanpa berniat memperpanjang, Naura langsung berlari meninggalkan Calvin. Jelas Calvin langsung panik melihat itu.


"Jangan lari!" Tidak ada balasan, membuat Calvin lagi-lagi menghela napas. "Ya ampun, istri gueee! Manisnya gak ada obat."


...****...


"Makasi-" Naura menghentikan perkataannya, ketika menyadari siapa yang baru saja membukakan pintu lemari pendingin.


Setelah mendapatkan es krim yang diinginkan, tiba-tiba Naura kepengen minuman dingin. Karena cukup kesusahan, pintu lemari pendingin itu terbuka oleh seseorang. Siapa yang akan menyangka jika orang yang baru saja membantunya adalah Naima?


"Akhirnya, lo ngomong juga. Capek, ya, pura-pura bisu?"


Naura cukup terkejut mendengar ucapan Naima yang terdengar begitu menusuk. Tidak seperti ketika perempuan itu bertamu ke rumahnya beberapa waktu lalu.


"Kok, diem lagi? Ketahuan sama gue, jadinya malu, ya?"


Naura semakin bingung dengan pertanyaan Naima yang seolah begitu membencinya. Seingat Naura, dia tidak melakukan kesalahan apa pun pada Naima? Naura juga baru bertemu lagi dengan Naima setelah pertemuan pertama waktu itu! Tapi kenapa ...


"Gak usah sok-sokan pendiem. Gue tahu semuanya tentang lo!"


Tahu? Maksudnya?


"Kalau gak salah, lo kayaknya pernah muncul di tv, deh, beberapa tahun yang lalu. Iya 'kan? Walau keknya masih remaja belasan tahun gitu, tapi gue inget itu lo. Ya 'kan?"


Naura merasakan jantungnya berdegup kencang pun dengan tubuhnya yang ikut bergetar hebat. Bahkan, napasnya terasa begitu berat saat mendengar penuturan Naima yang begitu tepat.


Tapi, tunggu! Kenapa Naima bisa tahu?


"Gak usah sok kaget gitu. Dulu gue pernah ngefans soalnya sama lo,"


"Bohong!" Naura memberanikan diri membalas ucapan Naima, walau hampir seluruh tubuhnya dibuat bergetar hebat.


Tiba-tiba, Naima tergelak mendengar Naura berbicara setelah beberapa saat terus berdiam diri seperti sebuah patung. "Akhirnya buka mulut juga. Ketahuan, deh. Padahal tadi gue cuman nebak aja. Muka lo mirip sama kontestan remaja tujuh tahun yang lalu, yang sempet dikagumin sama Calvin."


"A-apa?"


^^^To be continued...^^^