Quiet Wife

Quiet Wife
18. Apa yang salah?



"Kamu tuh, ya! Bertahun-tahun gak kelihatan, giliran dateng malah bikin pangling. Makin cantik aja Tante perhatiin. Gimana? Betah di Eropa?" Fani berucap antusias pada seorang perempuan muda yang sempat datang ke rumahnya kemarin.


Namun, dia memilih langsung pulang karena tujuan awalnya adalah untuk bertemu dengan Calvin.


"Tante bisa aja." Ujar perempuan itu. Senyumannya yang manis dengan sepasang bola mata yang sedikit menyipit tambak begitu cantik. Apalagi dipadukan dengan outfit feminin serba purple dan white. Ditambah rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai, semakin menambah kesan sempurna tersemat dalam dirinya.


Sebut saja namanya, Naima. Nama lengkapnya, Naima Ayudia. Usianya kira-kira tiga tahun lebih dewasa dari Calvin. Walau demikian, Naima dan Calvin ini sudah berteman dari sejak kecil. Dan, sampai saat ini, keduanya masih menjalin hubungan harmonis layaknya teman seumuran.


"Oh, ya, Tante. Calvin ... bukannya dulu pacaran sama Evelyn, ya? Kok, nikahnya jadi sama Naura?" Berusaha untuk tetap tampil elegan dan lembut, Naima membuka obrolan baru disela meminum secangkir teh buatan Fani.


Mendengar pertanyaan Naima, raut wajah Fani langsung berganti datar. Memorinya dengan spontan langsung melayang pada adegan yang cukup membuat Fani ikut terluka.


Mencoba untuk mengenyahkan memori buruk itu, Fani lantas berdeham pelan seraya menarik kembali kedua sudut bibirnya. "Panjang ceritanya. Bisa dibilang, Evelyn mengkhianati Calvin. Dia selingkuh sama Davin, temennya Calvin."


"Apa? Evelyn selingkuh sama Davin? Tapi, Davin 'kan sahabatan banget sama Calvin? Mereka sahabatan udah dari kecil banget, lho, Tan! Masa dia tega embat punya sahabat sendiri?" Merasa tak habis pikir, Naima ikut meluapkan kekesalannya di hadapan Fani. Reaksi Naima yang sama kesalnya dengan Fani waktu itu, lantas dibalas kekehan pelan.


"Iya. Tante juga kecewa sama Davin, khususnya Evelyn. Padahal, beberapa waktu sebelum ada kabar itu, Tante udah merestui dia buat pacaran sama Calvin. Padahal 'kan sebelumnya, gak tahu kenapa, Tante itu gak suka banget sama Evelyn! Dan ternyata, firasat Tante itu benar. Evelyn itu bukan wanita yang baik untuk Calvin. Tapi jujur, Tante bersyukur semuanya terjadi sebelum terlambat. Dan lagi, ternyata Calvin dapat dengan mudah melupakan Evelyn. Padahal Tante cemas banget, takut Calvin terus berlarut sama rasa sakitnya."


Hening. Setelah mendengar penjelasan panjang dari Fani, tiba-tiba perasaan bersalah menghinggap di dada Naima.


Jika saja waktu itu Naima tidak kalah taruhan dengan Evelyn, mungkin saat ini, Calvin tidak akan terluka sampai berakhir menikahi gadis bernama Naura yang entah bagaimana wujud rupanya.


Waktu itu, Evelyn meminta Naima menjauhi Calvin sebagai janji dari kesepakatan awal. Tetapi sekarang, Evelyn malah mendorong Calvin semakin jauh dari dirinya sendiri dengan cara yang begitu menjijikkan.


Apa maksudnya?


"Ekhem. Te-terus, kenapa Calvin bisa nikah sama Naura?" Mencoba mengenyahkan rasa kekesalannya terhadap Evelyn, Naima kembali mengajukan pertanyaan.


Tampak raut wajah Fani langsung berubah cerah setelah mendengar pertanyaan Naima. "Em ... itu yang bikin lucu!"


"Lucu?"


Fani mengangguk. "Iya. Awalnya-" sayang sekali, Fani menghentikan ucapannya saat terdengar bunyi langkah kaki dari belakang.


Saat menoleh, sudah ada Calvin dan Naura yang berjalan beriringan sambil sesekali akan saling melempar canda dan tawa. Diam-diam Fani menatap haru pemandangan itu.


Tidak dengan Naima yang raut wajahnya langsung berganti datar dengan perhatian yang terkunci pada perempuan di samping Calvin.


Jadi, dia yang namanya Naura? Biasa aja. Cantikan juga gue.


Tanpa sadar Naima mengepalkan kepalan tangannya saat batinnya menggerutu kesal. Tak berapa lama, ketika Calvin dan Naura sampai di hadapan Naima dan Fani, dengan cepat Naima memasang senyuman manis seraya buru-buru bangkit dari sofa.


"Hai! Gue, Naima! Sahabatnya Calvin!" Seolah melupakan kekesalannya beberapa saat yang lalu, Naima mengulurkan tangannya ke hadapan Naura yang dibuat syok beberapa saat.


Karena ragu, Naura melirik Calvin, mencoba meminta persetujuan. Lagi-lagi Naima menggerutu sebal dalam hati saat melihat Naura yang seolah-olah bersikap sebagai seorang istri di hadapan orang lain.


Kalau bukan karena Calvin yang udah duluan cerita sama gue, gue akan ketipu sama semua sandiwara lo!


"Maaf, ya, Nai! Naura masih gugup ketemu sama orang baru. Ini aja, gue yang paksa dia buat ketemu sama lo. Lo gak pa-pa 'kan?"


Sial! Apaan, sih, Calvin! "Oh, iya, gak pa-pa. Santai." Naima menghempaskan tangannya dengan spontan, namun raut wajahnya masih memasang senyuman hangat.


Percaya atau tidak, walau Naima memasang senyuman yang begitu hangat sekalipun, di mata Naura, rasa-rasanya ada yang aneh dengan sikap Naima.


Senyuman manis itu seperti dibuat terpaksa, apalagi ketika Naima yang tadinya menyodorkan tangan ke hadapan Naura, namun karena ucapan Calvin, membuat Naima lantas menghempasnya.


Ya. Cara Naima menghempaskan tangannya begitu kasar, membuat Naura spontan menunduk tak nyaman.


"Mumpung semuanya lagi ada di sini, gimana kalau kita makan siang bareng? Kebetulan, Mama udah masak dari pagi-pagi banget. Paling nanti tinggal diangetin aja." Sahutan dari Fani, seketika mengalihkan atensi semuanya.


Lagi-lagi Naima memasang senyuman manis nan cantiknya, namun kali ini dia tujukan khusus pada Fani. "Wah, kenapa Tante repot-repot? Jadi enggak enak,"


"Enggak repot, kok. Niat Tante tuh dari awal masak buat Naura. Tante gak mau Naura jatuh sakit lagi kayak kemaren, jadinya Tante banyak masak makanan sehat, deh."


Senyuman manis Naima dibuat luntur mendengar penuturan Fani. Perasaan iri, cemburu dan kesal, seolah semakin meluap sampai titik batas.


Lagi-lagi si Naura! Cewek ngeselin yang muka doang polos, sok ngaku bisu, padahal dia sendiri masih bisa ngomong, kok! Paling dia cuman mau minta simpatinya Calvin sama keluarganya aja. Secara 'kan, Calvin ganteng, baik lagi. Emangnya dia?


"Oh, gitu, ya, Tante. Tapi, emangnya Naima boleh ikut makan siang di sini?"


"Yah, sok sungkan banget jadi orang. Biasanya juga gak tahu malu." Ledekkan yang lebih terdengar seperti sebuah candaan, terlontar dari mulut Calvin. Sontak perhatian Naima, termasuk Naura dan Fani, beralih padanya.


"Vin!" Peringat Fani. Sebelum pada akhirnya, beliau memilih melenggang terlebih dahulu ke dalam dapur. Sontak Naura pun berjalan mengekori langkah Fani untuk ikut membantu-bantu sedikit.


"Suka agak ngeselin, ya, lo?" Naima terkekeh sinis. Sesekali, matanya akan melirik Naura yang tanpa disuruh maupun diajak, sudah lebih dulu mengikuti langkah Fani ke dapur.


Dasar caper!


"Elo yang sok-sokan jaim! Depan gue aja gak punya urat malu." Cetus Calvin, kemudian melenggang dari hadapan Naima, berniat untuk menyusul Naura yang meninggalkannya begitu saja.


...****...


"Nih, udah Mama angetin makanannya. Ayo, duduk! Naura, jangan capek-capek! Kamu baru sembuh, Sayang! Duduk di samping Calvin!"


Terus gue? Gue juga mau duduk di samping Calvin! Atau enggak minimal duduk di depannya gituh. Ini di depan malah si cewek sialan!


"Naima? Kok, kamu diem aja? Kamu udah gak terbiasa, ya, sama masakan Indonesia?" Sentuhan halus dari Fani, seketika menyadarkan Naima yang terus menggerutu dalam hati.


"Eh? Bu-bukan begitu, Tante! Naima cuman nggak sengaja ngelamun aja tadi, maaf! Naima terima, ya, niat baik, Tante." Ujar Naima. Demi apa, Naima sungguh dibuat terkejut oleh Fani. Hampir saja dirinya keceplosan menatap tajam Naura.


"Ya udah. Lauknya ambil sendiri aja, ya. Gak usah sungkan pokoknya, ambil aja." Ungkap Fani. Dan, ya. Saat ini beliau mulai sibuk mengambil nasi dan beberapa lauk untuk dirinya sendiri. Sementara untuk anak, menantu, dan temannya, Fani biarkan agar mereka mengambilnya sendiri.


Saat Fani hendak memasukkan suapan pertama, kedua bola matanya refleks melotot dengan perhatian tertuju ke arah isi piring Naura.


"Lho? Kok, cuman pilih tempe, Nau? Ayamnya, enggak? Sini, mana piringnya!" Fani sudah mau berdiri, hendak mengambil alih piring Naura. Namun, gelengan kepala cepat dari Naura, berhasil menghentikannya.


Karena bingung, perhatian Fani langsung beralih menatap Calvin. Paham maksud dari tatapan mamanya, Calvin berucap, "Perut Naura masih nggak nyaman katanya, belum mau makan yang berat-berat."


"Ooh, gitu. Apa ... mau Mama buatin bubur aja?" Buru-buru Naura kembali menggelengkan kepalanya. Lantas, Fani mengembuskan napasnya dalam-dalam, kemudian mengangguk.


"Ya sudah. Tapi kalau masih nggak nyaman, jangan sungkan-sungkan, ya, bilang sama Mama?"


Nih, cewek pake pelet apaan, sih? Perasaan dari tadi Tante Fani perhatian banget sama dia. Bikin gak mood aja, deh.


Jujur, Naima sudah cukup lelah dan sumpek dengan hari ini. Entah untuk yang keberapa puluh kalinya Naima terus menerus menggerutu dalam hati. Dan semuanya karena perempuan bernama Naura.


Kenapa juga harus jadi istrinya Calvin? Atas dasar apa dia dinikahin Calvin? Ngapain juga Calvin pake acara terima-terima aja dijodohin sama dia oleh orang tuanya?


Ya. Setahu Naima, Calvin menikah dengan Naura karena dijodohkan. Calvin sendiri yang bercerita. Dan tentu saja, itu hanyalah sebuah karangan cerita dari Calvin. Tidak mungkin dirinya menyebar aibnya sendiri tentang kecelakaan di mana Calvin sempat menodai Naura.


Tidak akan pernah Calvin beritahukan pada siapa pun, kecuali anggota keluarganya yang memang sudah tahu dari awal.


...****...


Setelah sepeninggalan Naima yang pamit undur diri sekitar beberapa saat lalu, entah mengapa rasanya Naura mulai bisa bernapas lega. Bahkan, saat ini Naura tengah mencicipi beberapa kudapan manis yang berada di atas meja di ruang tengah.


Dan entah mengapa rasanya begitu nikmat sampai membuat Naura ketagihan untuk mencicipinya lagi dan lagi.


Tiba-tiba, tanpa sepengetahuan Naura, Calvin ikut menduduki sofa di sampingnya. Refleks Naura terbatuk beberapa saat akibat terkejut.


Karena bingung, Calvin hanya menyengir tanpa dosa. Saat sepasang bola matanya menjelajah, berharap menemukan air minum, Naura sudah lebih dulu berlari ke dapur. Membuat perhatian Calvin lantas beralih mengekori langkah Naura.


"Nau? Are you okay?" Sahut Calvin. Salah satu tangannya meraih sebuah toples berisi kudapan manis yang sempat dicicipi beberapa buah oleh Naura.


Tidak ada balasan atas sahutan Calvin. Terlanjur cemas, Calvin bangkit dari sofa. Dengan cepat berjalan menuju dapur untuk menyusul Naura.


Sesampainya di dapur, Calvin menemukan Naura tengah menuangkan minuman jus buah yang dia ambil dari kulkas. Calvin kira terjadi sesuatu yang genting sampai Naura tidak membalas sahutannya.


"Nau?"


"Hm."


"Mau juga, dong!" Ujar Calvin. Raut wajahnya sengaja dibuat memelas untuk menarik perhatian Naura.


"Hm, bentar!" Seperti kata Naura, dia memilih langsung meminum jus buah tersebut sampai tak bersisa. Terdengar bunyi sendawa ringan dari mulut Naura yang membuat Calvin spontan menyunggingkan senyumannya.


"Aku ambilin gelasnya dulu, ya-"


"Gak usah! Itu aja." Tolak Calvin. Lantas Naura mengernyit bingung.


"Tapi, ini 'kan bekas aku!"


"Gak pa-pa." Tanpa berniat lanjut beradu argumen, Calvin mengambil alih gelas di tangan Naura. Mengisinya dengan minuman jus buah hanya setengahnya, kemudian meminumnya tepat di atas bekas bibir Naura.


Kok ...?


^^^To be continued...^^^


...Calvin, Suami Naura, Idamannya Para Cewek⬇️...



...Naura, Istrinya Calvin, Hanya Punya Calvin⬇️...



...Naima, Ngakunya Sahabat, Tapi Malah Diam-diam Naruh Harapan⬇️...



...Evelyn, Udah Berani Selingkuhin, Malah Pengin Balikan⬇️...