Quiet Wife

Quiet Wife
29. Kebenaran Tak Terduga



Calvin tersenyum tipis, menyaksikan Naura, istrinya sendiri telah menyelesaikan meminum susu khusus ibu hamil yang belum lama ini Calvin belikan. Raut wajahnya tampak berseri, dengan sesekali akan mengajak mengobrol janin yang berada di dalam perutnya. Sesekali jemari lentiknya akan mengusap pelan permukaan perutnya yang tampak sedikit menonjol.


Ah, sial! Rasanya, Calvin ingin sekali memeluk Naura erat-erat dan tidak membiarkan siapa pun menyentuhnya.


Tidak pernah Calvin bayangkan sebelumnya, perempuan yang sempat dia nodai, kini menjadi perempuan yang paling Calvin cintai setelah mamanya.


Tanpa sadar Calvin melanjutkan langkahnya menghampiri Naura yang mulai tersadar akan kehadiran Calvin.


"Gimana? Enak, gak?" Seulas senyuman manis yang membuat kedua pipi cubby Naura tertarik, lagi-lagi membuat Calvin terbius untuk terus memokuskan perhatian pada wajah cantiknya.


"Yang ini gak bikin mual dan gak bikin enek. Makasih!"


"Kiss-nya mana?" Raut wajah Calvin sengaja dibuat memelas. Berharap mendapat sebuah ciuman walau singkat dari Naura.


Lihatlah raut wajah Naura yang berubah memerah saat ini. Ya ampun, kenapa begitu manis?


Tanpa sadar Calvin menyejajarkan posisi berdirinya dengan Naura. "Mau kiss!" Pinta Calvin lagi.


Naura menahan dada Calvin seraya membuang muka. "Ja-jangan di sini! Nanti ada Kak Arvin-"


"Kamu manggil dia 'kakak'?" Demi apa pun, hati Calvin tiba-tiba panas mendengar Naura memanggil Arvin dengan sebutan 'kakak'.


Walau Calvin dengan Arvin berpaut usia tiga tahun, entah kenapa Calvin sangat enggan memanggilnya kakak atau abang?! Terkadang, mungkin Calvin akan memanggilnya abang. Dapat terhitung jumlahnya, seberapa sering dia memanggil Arvin dengan embel-embel itu.


"Terus, aku harus panggil apa? Dia 'kan kakaknya Mas Calvin?"


Oke. Calvin masih bisa menahan diri saat Naura memanggilnya 'Mas Calvin'. Ekhem! Entah kenapa rasanya Calvin jadi baper sendiri.


"Ya udah, tapi jangan terlalu deket sama dia!"


"Kenapa? Mas Calvin cemburu?" Tanyanya, begitu polos dengan raut wajahnya yang begitu datar.


"Iya, aku cemburu!"


Sial! Ngapain juga Calvin jujur begini? Sekarang, Naura malah menertawainya tanpa ragu.


"Ya udah, aku kurangin, deh. Kalau dibilang gak akan deket-deket lagi, itu nggak mungkin! Soalnya 'kan sekarang Kak Arvin ada di rumah?! Dan lagi, dia kakaknya Mas Calvin. Masa dia ngajak ngobrol, aku anggurin?"


Astaga! Naura sudah pandai berbicara sekarang. Begitu membuka mulut, Calvin langsung dibuat tidak bisa berkata-kata lagi.


Calvin akui, Naura ini sebenarnya banyak bicara. Seandainya dia tidak memiliki trauma, mungkin Calvin akan tahu lebih banyak tentang jiwa ektrovernya.


Dari sebagian cerita yang Calvin dengar dari Hermawan, papa mertuanya, Naura tidak lagi berbicara semenjak mamanya meninggal dunia. Untuk alasannya sendiri, Calvin masih belum diberitahu secara rinci. Beliau mengatakan, akan lebih baik jika Naura yang memberitahu Calvin secara langsung.


Dan, Calvin tidak keberatan, sungguh! Masa lalu apa pun yang sudah terjadi di hidup Naura, tidak akan pernah mengubah pemikiran Calvin untuk tetap bersama dengan Naura.


"Hm, mau jalan-jalan ke taman, gak? Mumpung masih sore," rasanya, Calvin masih belum puas memandangi wajah ceria Naura hari ini. Biasanya jika Calvin mengajak Naura jalan-jalan, Naura akan memasang senyum bahkan tawa yang jauh lebih lebar dari hari ini.


Lihatlah setelah Naura mendengar ajakan dari Calvin. Raut wajahnya berubah semakin ceria dengan anggukkan antusias beberapa kali.


"Mau!"


"Ya udah, kita siap-siap dulu." Lagi-lagi Naura mengangguk antusias. Saat dirinya hendak melenggang lebih dulu, buru-buru Calvin mencegahnya.


"Ke mana?"


"Katanya siap-siap?" Wajahnya terlihat bingung, dan itu membuat Naura terlihat semakin menggemaskan.


"Barengan dong, Sayang! Suaminya jangan ditinggal!"


"Eh, maaf! Ya udah, ayo! Seharian ini terlalu pengap di rumah mulu, jadinya pas diajak, aku langsung refleks." Naura menyengir lebar dengan kedua matanya yang refleks menyipit.


Oke, sudah cukup untuk hari ini. Bisa-bisa jika Calvin terus memerhatikan wajah cantik itu hari ini, Calvin bisa lupa diri dan berakhir membawa Naura ke dalam kamar dan ...


Itu tidak boleh terjadi!


...****...


"Bang! Nitip rumah, ya!" Calvin menyahuti Arvin yang tengah bermain game di ruang keluarga.


"Tumben manggil gue abang? Gak lagi kesurupan 'kan lo?" Arvin balas menyahut, masih dengan fokusnya bermain game.


Helaan napas lelah Calvin embuskan. Tanpa berniat membalas, Calvin menarik lembut tangan Naura yang berada di sebelahnya. "Mau pake sepeda, apa jalan kaki?"


"Hm, jalan kaki aja."


Tanpa berpikir panjang, Calvin dan Naura melenggang dari dalam rumah. Meninggalkan Arvin yang pada dasarnya tengah sok sibuk untuk mengalihkan pikirannya.


"Sialan!" Arvin melempar ponselnya ke sofa sebelah. Raut wajahnya kian muram setelah kekalahan yang dia peroleh dari hasil bermain game.


Tetapi, bukan hal itu yang membuatnya menggerutu. Sebuah surat undangan yang dikirimkan kurir beberapa menit lalu, di mana di sana tertera nama Sasha beserta calonnya dengan tujuan untuk melangsungkan pertunangan, di bagian tujuan penerima, bertuliskan nama Arvin beserta alamat lengkap.


Emosi? Jelas! Tidak pernah Arvin kira jika pertunangan Sasha akan dilangsungkan secepat itu.


Menyebalkan!


...****...


"Hm, Nau!" Panggil Calvin, ketika keduanya tengah berjalan-jalan di sekitaran area kompleks.


"Iya?" Naura yang pada dasarnya tengah melabuhkan pikirannya ke arah lain, dibuat tersadar sampai menoleh.


Perlahan, Calvin menghentikan langkahnya. Refleks Naura ikut berhenti seraya menatap bola mata Calvin dalam-dalam.


"Kenapa?" Naura kembali menyahut, saat belum ada balasan apa pun dari Calvin.


Sebenarnya, Calvin ingin mengatakannya. Tetapi takutnya malah membuat Naura kepikiran. Dokter pernah menjelaskan, ibu hamil tidak boleh stres. Itu bisa memengaruhi janin.


Dengan berat hati, Calvin menghela napasnya begitu dalam. Salah satu tangannya terangkat mengusap lembut puncak kepala Naura.


"Bukan apa-apa. Oh, ya. Kamu udah pikirin mau kasih nama anak kita siapa?"


Naura tampak sedikit terkejut mendengar pertanyaan Calvin. "Bukannya masih lama, ya?"


"Emangnya kenapa kalau masih lama? 'Kan buat antisipasi, takutnya diambil duluan sama orang lain," jelas Calvin, membuat Naura spontan terkekeh.


"Ya udah, Mas Calvin aja yang pikirin. Aku gak tahu harus kasih nama siapa."


Calvin merasakan dadanya berdenyut ngilu saat Naura memperlihatkan senyumannya yang begitu tulus. Siapa yang akan mengira, dibalik setiap senyuman yang begitu tulus itu, masih ada saja orang-orang yang tidak menyukainya. Khususnya, Naima.


Entah karena alasan apa, Naima begitu membenci Naura sampai berniat menjauhkannya dari Calvin.


Ya! Calvin tahu semua itu belum lama ini. Bisa dibilang, Calvin mengetahuinya tadi siang ketika di super market.


Ketika Calvin mencoba mencari sendiri barang yang akan dia beli, Calvin tanpa sengaja mendengar ocehan Naima yang terus menjelek-jelekkan Naura.


Awalnya, Calvin tidak percaya. Calvin juga sudah hendak melabrak Naima, namun sudut hatinya melarangnya. Mencoba tetap tenang seperti biasa, Calvin akhirnya memilih ikut berpura-pura seperti yang dilakukan Naima.


Benar kata Arvin waktu itu. Tidak seharusnya Calvin menerima kembali Naima sebagai sahabat. Tidak ada niat baik dalam semua tindakan dan perilakunya.


Yang perempuan itu inginkan adalah, semua pria harus memujanya. Tidak terkecuali Calvin dan juga Arvin yang sempat ikut terjerat pesona Naima.


Sampai-sampai, hubungan Arvin dan Calvin dibuat renggang karena memperebutkan Naima.


Di satu sisi, Arvin berpacaran dengan Naima. Namun di sisi lain, Naima justru memberikan harapan lebih pada Calvin, sehingga berujung membuat Calvin menginginkan Naima untuk berada di sisinya.


Benar-benar memuakkan!


Bisa-bisanya Calvin terjerat pesona Naima hingga menjadi bodoh waktu itu! Beruntungnya, tak sampai bertahan lama, Calvin menemukan cintanya yang lain.


Siapa lagi jika bukan Evelyn? Tetapi, itu juga tidak bertahan lama. Hanya bertahan sekitar setahun lebih beberapa bulan, hubungannya diharuskan kandas, di mana dengan tega Evelyn berselingkuh dengan Davin, mantan sahabat Calvin.


Dan setelah berbagai kesialan akan cinta yang tak ada habisnya, Calvin bertemu dengan Naura. Awalnya, Naura diperkenalkan di keluarga Calvin sebagai anak dari almarhummah sahabat mamanya. Karena tidak tega membiarkan seorang gadis duduk sendirian di rumahnya, Fani membawa Naura ke rumah atas izin dari Hermawan.


Sialnya, hubungan Calvin dan Naura yang awalnya murni orang asing, berakhir menjadi pasangan suami istri setelah insiden malam itu.


Tidak! Calvin tidak mabuk! Seseorang meracik minumannya ketika Calvin dan beberapa teman seangkatan SMA melakukan acara reuni makan malam di sebuah restoran hotel. Samar-samar Calvin mendengar suara perempuan, namun entah siapa pemilik suara itu.


Beruntung, Irgha dan Nino dengan cepat menyelamatkan Calvin. Membawanya pulang ke rumah, setelah sebelumnya samar-samar Calvin mendengar bentakan dan teriakan dari kedua sahabatnya.


Namun, bukan hal yang baik yang terjadi, walau Calvin telah dengan cepat diselamatkan oleh Irgha dan Nino. Justru, Calvin dibuat menggila karena reaksi obat pun adanya seorang wanita cantik di sampingnya yang tak lain ialah Naura.


Tidak dapat Calvin pungkiri, Naura begitu cantik ketika pertama kali keduanya dipertemukan. Bahkan ketika malam itu berlangsung begitu lama, Calvin tak henti-hentinya terus menciumi bibir Naura begitu rakus. Rasa panas yang semakin menjalar, membuat Calvin semakin kehilangan kontrol atas dirinya sendiri.


Jujur saja, Calvin mengingat semuanya dengan begitu jelas. Setiap inci lekukan tubuh Naura, pun raungan dan tangisan dari Naura, Calvin ingat semuanya! Hal yang membuat Calvin tidak bisa melepas tanggung jawab setelah apa yang sudah dia lakukan pada Naura karena ingatan terperinci itu.


Bahkan jika Calvin melupakannya, Calvin akan tetap bertanggung jawab terhadap Naura.


Calvin kembali menghela napas gusar, sehingga bayangan demi bayangan masa lalu yang berbeda-beda itu ikut menghilang. Mencoba menghilangkan perasaan tak nyaman, Calvin kembali meraih tangan Naura untuk dia genggam sepenuh hati.


"Ekhem. Kira-kira kamu maunya anak kita itu cewek, apa cowok?" Calvin mencoba terus bertanya hal-hal yang berkaitan dengan calon anak mereka.


Rasanya, jika Calvin membahas ke sana, Calvin bisa sedikit melupakan masa lalu yang begitu mengerikan.


"Em, cewek boleh, cowok juga boleh! Kalau Mas Calvin?"


"Sama. Mau cewek ataupun cowok sama aja." Lagi-lagi Naura tersenyum, entah apa maksud dari senyumannya kali ini.


"Kalau cewek, kira-kira nama yang bagus menurut Mas Calvin, apa?"


"Hm ..." Calvin tampak berpikir keras, sedangkan Naura masih setia menatap raut wajah Calvin tanpa sedikit pun berniat mengalihkan perhatian.


"Sofia?" Balas Calvin, lebih terdengar seperti sebuah pertanyaan.


"Kayak tokoh kartun," ujar Naura. Raut wajahnya terlihat sedikit masam. Dan hal itu sukses membuat Calvin tersenyum lebar.


"Hm, terus apa dong?"


"Kalau cowok?" Seolah belum menyerah, Naura kembali menanyakan pertanyaan sama, dengan tujuan yang berbeda.


"Cowok, ya. Hm, Raiden Angkasa Regartha!"


"Panggilannya?" Tanya Naura, menuntut. Tanpa sadar membuat Calvin menghela napas mendengarnya.


"Raiden-lah,"


"Apa nggak terlalu panjang? Kayaknya bakalan susah,"


"Ya udah, nanti pikirin lagi. Anaknya Calvin harus pake nama yang paling bagus." Calvin mengedipkan sebelah matanya ke arah Naura. Bukannya baper, Naura malah kian merengut di tempat.


"Kok, anak kamu? Anak akulah!" Naura meralat ucapan Calvin. Jelas, yang mengandung 'kan Naura! Begitulah pikirnya.


"Anak kita!" Ujar Calvin, ikut meralat ucapan Naura seraya memeluk tubuh Naura dari samping.


^^^To be continued...^^^