Quiet Wife

Quiet Wife
24. Jawaban Dari Semua Keraguan



"Aha! Gue tahu!" Evelyn menjetikkan jari, membuat perhatian Naima lagi-lagi beralih padanya.


"Tahu apaan?"


"Sini, deh. Gue bisikin." Walau pada dasarnya Naima tidak menyukai Evelyn, tetap saja dirinya menurut saat Evelyn menyuruhnya mendekat untuk membisikkan sesuatu.


Awalnya, Naima ogah-ogahan mendengarkan bisikkan Evelyn. Namun lama kelamaan, kedua sudut bibir Naima terangkat membentuk sebuah senyuman licik.


"Bagus juga ide lo!" Puji Naima. Refleks Evelyn mengibaskan rambutnya ke belakang seraya memasang ekspresi puas.


"Iya, dong! Evelyn!"


"Terus, kita mulai dari mana dulu?" Pertanyaan Naima, membuat senyum di wajah Evelyn luntur.


"Yah, kirain paham. Intinya, lo harus berusaha bikin tuh cewek fake buat jauhin Calvin. Terserah lo deh, mau langsung tampakkin jati diri lo yang sebenarnya juga. Yang penting, buat dia minder sampai akhirnya dia sendiri yang memutuskan untuk pergi dari hidupnya Calvin." Setelah itu, gue bisa mulai beraksi buat deketin Calvin lagi.


Sempat dibuat terdiam beberapa saat untuk menimbang-nimbang, akhirnya Naima mulai memutuskan satu hal dalam otaknya. "Oke. Nyingkirin cewek seuprit kayak si Naura, itu terlalu mudah buat gue. Lo lihat aja! Sebentar lagi, Calvin akan kembali ngejar-ngejar gue."


Dih! Sebelum hal itu terjadi, gue yang akan dapetin Calvin lebih dulu. Gerutu Evelyn dalam hati.


...****...


"Gimana? Sekarang udah baikan?" Mendengar Naura kembali jatuh sakit, buru-buru Fani pulang ke rumah, padahal dirinya masih sangat sibuk mengurus restorant.


Selama semalam penuh kemarin, Fani sibuk mengurusi masalah di restorant.


Saat ini, Fani bersama sang suami, pun Calvin tengah mengobrol di ruang keluarga. Sementara Naura, perempuan itu sedang istirahat untuk memulihkan staminanya.


"Sekarang udah baikan, sih, Mah."


"Nanti kalau Naura udah bangun, bawa ke klinik, ya! Padahal belum lama ini baru aja sembuh, lho, masa sekarang udah sakit lagi. Papa takut ada apa-apa sama Naura." Timpal Divo, yang spontan dibalas helaan napas oleh Calvin.


"Iya, Vin! Kenapa kamu gak langsung bawa Naura ke klinik aja, sih, kemarin!" Gemas Fani, membuat Calvin bingung.


"Naura-nya gak mau, Mah, Pah! Dipaksa juga dianya nangis,"


"Serius?" Tanya Fani dan Divo bersamaan. Lagi-lagi helaan napas gusar Calvin embuskan bersamaan dengan anggukkan pelan.


"Jangan-jangan ..."


"Jangan-jangan apa?" Perhatian Divo dan juga Calvin, langsung beralih menatap Fani yang mulai memasang ekspresi tegang.


"Jangan-jangan Naura ..."


"Mah, jangan bikin takut, deh, please!" Pinta Calvin, saat Fani masih belum juga mengutarakan ucapannya.


"Jangan-jangan Naura sakit parah, tapi dia gak mau ngasih tahu kita!" Lanjut Fani. Dan jadilah Calvin kepikiran.


"Mungkin, Naura gak mau suaminya khawatir." Timpal Divo. Membuat Calvin semakin tidak tenang di tempatnya.


"Mah, Pah! Please, deh! Ck, gak tahu ah! Mau nyamperin Naura." Pungkas Calvin, seraya bangkit dari sofa meninggalkan kedua orang tuanya yang masih setia berpikir keras.


...****...


Ketika membuka pintu kamar, Calvin langsung berlari ke arah Naura yang tengah berdiri di depan jendela kamar yang terbuka. Salah satu tangannya tampak memeluk perutnya yang rata.


Apakah sakitnya kembali?


"Nau? Kenapa, perutnya sakit?"


Seolah benar-benar terkejut, refleks Naura menyembunyikan tangannya ke belakang punggung. Seulas senyuman kaku lantas Naura perlihatkan.


"Eng-gak! Aku ... cuman gak sengaja ngelamun aja,"


"Yakin?" Tanya Calvin. Refleks tangannya langsung menyentuh dahi Naura, kemudian dilanjut menyentuh area sekitaran lehernya.


"Gak panas. Masih pusing gak? Mual, gitu?"


"Aku udah sehat, kok. Nih!" Tanpa berpikir panjang, Naura mulai berputar untuk membuktikan kesembuhannya.


"Eeh, nanti pusing, Nau!" Dengan cepat Calvin menghentikan Naura. Demi apa pun, Calvin masih sangat khawatir saat ini.


Walau Naura mengatakan dirinya sudah sehat, tetap saja wajahnya masih terlihat pucat. Dan hal itu membuat Calvin yakin, jika Naura masih belum sepenuhnya pulih.


Apa seharusnya Calvin tidak ke kampus saja, ya, besok?


"Em, Mas Calvin!" Naura memanggil Calvin. Membuat berbagai lamunan dalam diri Calvin membuyar begitu saja.


"Hm, kenapa? Ada yang sakit?" Tanya Calvin. Raut wajahnya semakin cemas. Membuat Naura spontan tertawa pelan.


"Aku udah gak pa-pa! Aku cuman mau minta izin,"


"Ya udah, mau minta izin apa?"


"Hm, itu. Mau jalan-jalan ke luar sebentar. Pengap!" Ujar Naura. Tanpa sadar, Calvin kembali menghela napas saat mendengarnya.


"Ini udah mau sore, nanti kamu masuk angin, Nau!"


"Sebentar aja, please!"


Entah dari sejak kapan tepatnya, rasanya Naura semakin bertingkah manja pada Calvin. Saat keinginannya tidak langsung dipenuhi, wajahnya langsung cemberut. Kedua bola matanya juga terlihat berkaca-kaca. Membuat Calvin jadi tidak tega.


"Ya udah, aku temenin. Pake pakaian hangat, tapi!"


"Oke! Tunggu, ya! Ganti baju dulu,"


"Hm." Balas Calvin, pasrah.


...****...


"Lho? Itu ... sepedanya siapa?" Saat Naura turun mengejar langkah Calvin yang telah lebih dulu, Naura menemukan suaminya tengah mencoba sebuah sepada di teras depan.


Sesekali, Calvin akan mengecek ban sepeda, rem depan dan belakang, dan lain sebagainya.


"Hm, boleh." Tanpa berpikir panjang, Naura menghampiri Calvin yang mulai menaiki sepeda.


Jika dilihat-lihat, ternyata Calvin juga mengganti setelan pakaiannya dengan pakaian hangat. Terlihat jauh lebih santai apalagi ketika poninya dibiarkan ke depan.


"Ayo, naik!" Suruh Calvin. Senyuman manis tak henti-hentinya Calvin perlihatkan, membuat Naura ikut tertular dan menyinggingkan senyumannya.


Perlahan, Naura naik di kursi belakang. Kedua tangannya dengan ragu memegang ujung hoodie Calvin.


Diam-diam Calvin terkekeh pelan melihat itu. "Pegangan yang erat, Nau!" Suruh Calvin lagi, seraya menarik satu persatu tangan Naura agar mau melingkar di pinggangnya.


Setelahnya, Calvin mulai menggoes sepeda keluar dari area rumah. Senyumannya seolah tak pernah luntur sedari keduanya menaiki sepeda bersama-sama.


Semilir angin sore terasa menyapu wajah Naura. Bahkan, rambutnya yang dibiarkan tergerai turut diterbangkan. Sesekali, Naura akan menghirup udara dalam-dalam sembari memejamkan mata. Tanpa sadar kedua tangannya semakin erat memeluk pinggang Calvin.


Sementara Calvin sendiri, dirinya tak henti-hentinya terus melirik Naura, masih dengan senyuman di wajahnya. Ketika angin sore kembali bertiup, perasaan bersemangat seakan terus meluap. Dengan cepat Calvin menggoes sepedanya cukup laju mengitari jalanan kompleks.


"Pelan-pelan, takut!" Naura memekik, seraya semakin mengeratkan pelukannya pada Calvin.


"Pegangan makanya!"


"Udah, tapi jangan cepet-cepet bawa sepedanya, nanti jatuh!" Pekik Naura lagi yang mau tidak mau dituruti oleh Calvin.


Tiba-tiba, Calvin mengerem sepedanya cukup mendadak. Sontak Naura mencolek punggung Calvin, sampai membuatnya menoleh.


"Kok, berhenti?"


"Duduk di sana, yuk!" Calvin menunjuk sebuah taman bermain anak-anak yang letaknya bersebelahan dengan sebuah mesjid.


"Tapi banyak anak kecil."


"Gak pa-pa. Kita duduk di bangku yang di sana! Gimana?" Ucap Calvin lagi. Jari telunjuknya menunjuk sebuah bangku taman yang kebetulan tengah kosong, karena anak-anak memang dominan bermain di beberapa wahana kecil.


"Ya udah." Tanpa bertanya lagi, Naura mulai turun dari atas sepeda. Disusul Calvin yang mulai memarkirkan sepedanya.


Setelah selesai, barulah Calvin menyusul Naura yang berjalan lebih dulu. Tak butuh waktu lama, keduanya mulai duduk di bangku tujuan. Menatap sekeliling taman bermain kompleks yang suasananya lumayan cukup ramai oleh anak-anak berbagai usia. Bahkan, diantaranya ada yang masih balita yang diajak bermain oleh ibunya.


Tentu saja, pemandangan itu tak luput dari perhatian Naura. Pikirannya tiba-tiba membayangkan satu hal di mana nanti, dia juga akan seperti itu. Tanpa sadar tangannya terangkat menyentuh perutnya yang baru Naura sadari sedikit membuncit.


"Menurut kamu, kalau ngurus bayi, apa aja yang kira-kira perlu kita siapkan?" Naura bergumam pelan, namun suaranya terdengar jelas di telinga Calvin.


"Hm, banyak. Materi itu udah pasti. Yang paling utama itu kesiapan mental."


"Oh." Naura menggigit bibir bawahnya, seraya menarik napasnya dalam-dalam.


Jujur saja. Perasaan ragu untuk memberitahu Calvin semakin bersinggah dalam dada.


"Ekhem. Mi-misal kamu dikasih satu kesempatan buat punya bayi. Menurut kamu gi-gimana?" Mati-matian Naura mencoba tidak mencolok saat melontarkan pertanyaan itu. Sialnya, jantungnya berdegup tak karuan. Takut sewaktu-waktu Calvin menyadari ucapannya.


"Kalau bisa mungkin jangan sekarang."


Naura merasakan jantungnya seakan berhenti berdegup saat mendengar jawaban Calvin. Mencoba tetap biasa saja, Naura kembali mengajukan pertanyaan.


"Ke-kenapa?"


"Pertama, karena belum siap. Kedua, aku belum punya apa-apa. Tapi kalau-"


"Ekhem. Pu-pulang, yuk! Udah mau maghrib." Naura tiba-tiba berdiri, sehingga memotong ucapan Calvin yang belum sepenuhnya dilontarkan.


"Ayo!" Tanpa merasa curiga sedikit pun, Calvin berjalan lebih dulu menuju sepedanya. Sementara Naura, diam-diam perempuan itu menyeka air mata yang luruh tanpa diminta.


...****...


"Kalian udah pul-" Fani seketika menjeda ucapannya, saat Naura berjalan cukup cepat menuju tangga. Sempat dibuat bertanya-tanya, perhatian Fani kemudian beralih pada Calvin yang tampak biasa saja.


"Naura kenapa? Buru-buru banget?"


"Katanya sih kebelet." Jawab Calvin, yang langsung diangguki Fani.


"Ooh. Kirain."


"Papa mana?" Tanya Calvin, sebelum Fani kembali melengos memasuki dapur.


"Tuh, lagi jemput abang kamu di bandara!"


"Dia jadi dateng? Hari ini?"


"Iya. Makanya Mama masak banyak. Yang akur, ya, Vin. Lupain masa lalu, sekarang 'kan udah ada Naura." Ucapan Fani selanjutnya, sontak membuat otak Calvin berlabuh pada memori masa lalu, di mana dirinya dan juga sang kakak pernah terlibah sebuah konflik cinta segitiga.


Jika dipikir-pikir lagi buat apa Calvin berbuat begitu saat itu? Benar-benar tidak dewasa.


"Calvin mau ke atas dulu, Mah!" Pungkas Calvin, yang dibalas anggukkan oleh Fani.


...****...


Ruang kamar mendadak terasa sepi. Tidak ada tanda-tanda Naura berada di sana. Pikir Calvin, mungkin sedang di kamar mandi. Dan, tebakan Calvin benar. Naura keluar dari sana dengan mengenakan jubah mandi pun handuk yang dililit di kepala.


"Habis keramas? Kamu 'kan baru sembuh, Nau." Sahutan dari Calvin, dibalas tatapan sekilas oleh Naura. Tanpa berniat membalas, Naura memutuskan melanjutkan langkahnya menuju lemari pakaian. Di sana, Naura mulai memilih pakaian yang sekiranya akan nyaman sampai ketika nanti dipakai tidur.


"Naura?" Merasa ada yang berbeda, Calvin berjalan menghampiri Naura. Menatap dalam-dalam raut wajahnya yang tampak begitu fokus memilih pakaian.


"Hm." Hanya itu balasan dari Naura tanpa sedikit pun menoleh menatap Calvin. Refleks Calvin mendengus pelan dengan kedua lengan yang dilipat di depan dada.


"Nau-"


"Aku ganti baju dulu, yah, sebentar." Tanpa membiarkan Calvin melanjutkan ucapannya, Naura meninggalkan Calvin ke kamar mandi.


Sungguh, ini bukan firasat Calvin saja 'kan? Kenapa rasanya Naura seperti sedang menjaga jarak?


"Gue ... ada salah, ya?"


^^^To be continued...^^^