
Disela mengerjakan tugas kuliah, Calvin terus memasang senyuman manis. Fokusnya terus saja tertuju pada layar ponselnya yang menampilkan potret Naura yang dikirimkan belum lama ini.
Irgha, Nino dan Brian yang mulai hafal dengan tingkah Calvin akhir-akhir ini hanya menghela napas. Ketiganya memilih melanjutkan membuat tugas mandiri dengan mencari materi dari beberapa buku paket dan juga internet.
"Vin, lo udah sampe mana?" Sahutan pelan itu terucap dari mulut Nino yang masih belum menemukan materi apa yang akan dia ambil.
"Udah, nih. Makanya gue santai." Balas Calvin, tanpa sedikit pun mengalihkan perhatiannya dari potret Naura.
"Si Calvin otaknya encer, gak perlu lama-lama mikir juga langsung dapet. Emangnya elo, No!" Irgha cekikikan sendiri disela mengcopy beberapa materi dari internet.
Sedangkan Nino yang diledek, hanya berdecih malas seraya menaruh buku paketnya. "Emangnya lo udah sampe mana? Songong amat,"
"Nih, masih anget materinya. Ntar di kostan tinggal bikin cover, judul, kata pengantar sama daftar isi."
"Pake nomor halaman gak?" Sahutan itu berasal dari Brian yang tengah merevisi tugasnya di laptop.
"Pake." Timpal Calvin.
Perhatian Brian kemudian beralih pada Calvin yang masih tampak sama. "Lo beneran udah semua, Vin? Cepet amat."
"Tinggal bikin daftar isi. Ntar aja di rumah,"
"Ooh."
Hanya itu. Selebihnya, semuanya kembali fokus pada pekerjaan masing-masing.
"Istri gue cantik banget!" Calvin bergumam tanpa sadar. Brian, Irgha dan Nino yang mendengarnya dengan sangat jelas pun hanya mencoba menyabarkan diri sendiri. Berharap diberikan ketabahan dikarenakan ketiganya masih jomlo hingga detik ini.
"Gue jadiin PP, ah!" Lagi-lagi ketiga pemuda itu mencoba menyabarkan diri. Sepersekian detik ketiganya saling tatap seolah merencanakan sesuatu.
Seolah berkomunikasi lewat mata batin, ketiganya lalu mengangguk secara bersamaan. Setelahnya, mereka mulai menutup buku serta laptop, setelah sebelumnya menyimpan terlebih dahulu dokumen yang telah diedit.
Merasa ada pergerakan tak biasa, sontak Calvin melirik ke arah teman-temannya yang terlihat membereskan barang-barang.
"Pada mau ke mana?"
"Nyari cewek!" Jawaban kompak yang keluar dari mulut ketiganya lantas membuat Calvin mengernyit.
"Tumben kompak?"
"Suka-suka kitalah." Sungut Nino.
"Bye! Gue mau tidur!" Timpal Brian, lagi-lagi Calvin mengernyit bingung.
"Bukan mau nyari cewek?"
"Ck, iya, itulah pokoknya!"
"Gue juga! Siapa tahu langsung dapet yang klop biar bisa langsung diajak ke pelaminan." Irgha ikut menyungut, tanpa sedikit pun bersitatap dengan Calvin.
Sungguh, ini teman-temannya pada kenapa, sih? Pake acara nyindir-nyindir segala. Dikira nggak peka kali, ya?
"Ya udah, sana bubar! Gue juga mau balik, biar bisa dikelonin sama istri!"
Sialan! Niat hati ingin membuat Calvin kesal, kini hal itu malah berbalik pada mereka. Kali ini mereka benar-benar telah salah memilih lawan.
...****...
Setibanya di rumah, Calvin langsung mengernyitkan dahi saat sebuah mobil berflat nomor tak asing, terparkir sempurna di depan rumahnya. Terlanjur panik, Calvin mulai melepas helm. Berjalan cepat memasuki pintu rumah yang sejatinya tertutup rapat.
Ketika pintu terbuka, beberapa anggota keluarganya, termasuk Naura istrinya, tampak menoleh ke arah Calvin yang baru saja membuka pintu dengan cukup kasar.
"Mas Cal-"
"Calvin!"
Calvin semakin mengernyit tak suka saat istrinya hendak memanggil namanya, tetapi orang lain dengan cepat menyela. Seolah tidak memiliki urat malu, seseorang yang tidak lain ialah Naima, berjalan menghampiri Calvin. Raut wajahnya terlihat menyedihkan dengan sisa-sisa air mata di beberapa sudut wajahnya.
"Siapa yang nyuruh dia masuk?" Calvin berjalan melalui Naima yang hendak menyentuhnya. Tatapan nyalang Calvin yang ditujukan pada masing-masing anggota keluarganya, tak terkecuali pada Naura, membuat semuanya menunduk tak berani.
"Itu-" Naura menggantungkan ucapannya, saat tatapan menusuk Calvin kini beralih padanya.
"Dia mohon-mohon buat masuk, padahal gue udah cukup kasar ngusir dia! Tapi, Mama gak tega dan gak enak juga sama tetangga yang lain, jadinya ..."
"Jadinya Mama bawa dia masuk, gitu?" Calvin menyela ucapan Arvin yang terlihat sama kesalnya.
"Maafin Mama! Tetangga pada lihat, jadi Mama gak enak, takut ada fitnah." Fani berucap gugup. Sungguh, Calvin terlalu menakutkan jika sedang dalam mode garang seperti ini.
Perlahan, Calvin menarik napasnya dalam-dalam. "Mama sama Naura ke atas dulu." Suruhan dengan nada rendah dari Calvin, terdengar tidak bisa diganggu gugat. Saat Naura hendak menyela, Fani langsung menghentikannya dan membawa Naura untuk segera pergi ke lantai atas.
...****...
Di tempatnya, Naima dibuat tidak nyaman oleh tatapan Arvin pun Calvin yang posisinya berseberangan dengan Naima. Kedua kakak beradik itu benar-benar menyimpan dendam yang teramat pada Naima. Sedari dirinya kembali mendudukkan diri di sofa, Naima masih belum bisa melontarkan ucapannya yang harus segera dia sampaikan, khususnya pada Calvin.
"Diem aja, udah. Niat lo ke sini emang cuman mau bikin satu rumah panik 'kan? Lo tuh sengaja sok kasihan di depan rumah! Supaya banyak orang yang lihat dan supaya lo bisa masuk ke rumah ini!" Arvin berucap lantang seraya menunjuk wajah Naima.
Dengan perasaan tidak nyaman, Naima kian menunduk di tempatnya. "Maaf, tapi di sini gue-"
"Maaf? Bentar, ini siapa, ya? Naima yang gue kenal itu gak pernah berucap kata 'maaf' sekalipun." Calvin menepuk bahu Arvin, mencoba menenangkan abangnya agar tidak terus menerus tersulut emosi dan berakhir memojokkan Naima.
Bukan karena kasihan. Melainkan jika hal itu terus terjadi, maka Naima akan semakin lama berada di sini. Niat Calvin pulang ke rumah adalah untuk bermesraan dengan Naura. Jangan sampai karena kedatangan Naima, membuat semua rencana Calvin hancur.
"Gue gak mau basa-basi lagi. Lo mau apa ke sini?" Calvin bertanya to the point. Tak lupa terus melayangkan tatapan tajamnya pada Naima.
"Kedatangan gue hari ini, gue cuman mau pamit sama lo, Cal. Soalnya gue-"
"Lo kalau mau pergi selamanya, udah gak usah pake pamit-pamit segala! Gue sama Calvin dengan sangat senang hati mempersilakan lo untuk pergi menjauh." Sela Arvin, semakin membuat Naima tidak dapat berkutik.
Tak berapa lama, seulas senyuman miris perempuan itu perlihatkan. Tatapan matanya masih menunduk, tidak seperti Naima yang biasanya. Tanpa menatap ke arah kedua lawan bicaranya, Naima berkata; "Ka-kalau gitu, gue pamit!"
...****...
Calvin tak habis pikir dengan Naima. Mamanya serta Arvin berkata, jika perempuan itu datang sambil mengetuk pintu beberapa kali, dan ketika pintu dibuka oleh Naura, Naima langsung menangis. Suaranya terdengar cukup nyaring saat beberapa kali memohon permintaan maaf pada Naura.
Arvin pada dasarnya tengah bermain game di kamar. Saat mendengar tangisan itu, dengan segera Arvin berlari menuju asal suara.
Betapa terkejutnya saat melihat Naima yang berada di teras rumah, menangis histeris sembari memohon-mohon untuk masuk ke dalam rumah. Tentunya, dia tak sendiri. Ada Naura dan mamanya yang baru saja tiba. Raut wajahnya sama bingungnya dengan Arvin pun Naura.
Saat Arvin berusaha menjauhkan Naura dari Naima, perempuan itu kian menangis histeris, membuat beberapa tetangga yang juga mendengar tangisannya, dibuat mengerubungi rumah mereka.
Karena bingung dan takut menjadi bahan fitnah, Fani membawa Naima untuk masuk walau Arvin terus bersikukuh melarangnya. Belum ada sekitar sepuluh menit setelah mengajak Naima masuk, Calvin pun tiba dengan mendobrak pintu.
"Dia gak apa-apain kamu 'kan?" Calvin pusing, sungguh! Bisa-bisanya Naima membuat keributan dengan menangis seperti seseorang yang paling tersakiti di sini.
Sungguh menyebalkan!
"A-aku gak pa-"
"Naura tadi sempet kedorong sama Naima!" Arvin menyela cepat, membuat Naura kelimpungan di tempat.
"Hah? Serius? Sini lihat, di mana yang kena?" Calvin baru saja bernapas lega, namun sekarang dirinya diharuskan kembali merasa cemas.
"A-aku gak pa-pa, kok! Naima gak sengaja!"
"Ck! Dia itu sengaja! Mana lihat!" Nada suara Calvin terdengar membentak. Dengan pasrah sekaligus takut, Naura memperlihatkan satu sikutnya yang sempat terdorong oleh Naima hingga membentur palang pintu.
Calvin kembali berdecak melihat sikut Naura yang memar sampai membiru. "Sakit?" Tanya Calvin, yang spontan dibalas gelengan pelan oleh Naura.
Ketika Calvin berusaha menyentuhnya dengan sangat perlahan, Naura refleks berdesis ngilu dengan sikutnya yang spontan dijauhkan dari Calvin.
"Katanya gak sakit?" Naura semakin tidak berani menatap Calvin. Padahal, niat Naura di sini adalah tidak memperpanjang masalah, makanya Naura berbohong. Tetapi, semuanya malah sia-sia karena Arvin yang langsung membongkar begitu saja.
"Udah, Vin. Lo jangan nakutin gitu cara ngomongnya. Kasihan Naura." Arvin lagi-lagi menyela pembicaraan antara Calvin dan Naura.
Tak berapa lama, Fani datang memasuki ruang utama. Membawa sebuah kotak P3K di pangkuannya.
"Tadi Naura sikutnya sempet kejedot keras banget. Coba sini, Mama lihat?" Saat Fani hendak melihat luka Naura, Calvin langsung mencegahnya. "Biar aku aja, Mah." Ucap Calvin.
Tanpa menunggu mamanya mengangguk setuju, Calvin langsung mengambil alih kotak P3K itu. Mencari sebuah salep khusus luka memar untuk mengobati sikut Naura.
"Sini!" Dengan hati-hati, Calvin meraih kembali sikut Naura. Mengoleskan salep tersebut dengan begitu perlahan sampai salep itu teroles sempurna.
"Sementara jangan banyak gerak dulu." Ujar Calvin, yang hanya dibalas anggukkan pelan oleh Naura.
...****...
Di tempat lain, tepatnya di sebuah hotel mewah berbintang, Naima dengan raut wajah setenang air, terus menatap lurus ke luar jendela kamar sambil sesekali menenggak wine yang tinggal sisa sedikit.
Seolah tengah memikirkan hal yang lucu, perempuan itu tersenyum dalam keterdiamannya. "Ini baru permulaan. Walau gue juga gak tahu kenapa tadi gue ngelakuin hal itu, yang pasti gue gak akan pernah membuat hidup kalian tenang."
Tak diduga, hujan deras mulai mengguyur kota. Senyuman Naima semakin lebar melihat alam yang sepertinya juga merestui rencananya.
Helaan napas Naima embuskan. Daripada terus menunggu dan menunggu, lebih baik Naima berendam air hangat untuk merayakan awal dari berbagai rencana terperincinya.
"Lihat aja nanti! Lo akan menjadi milik gue, Calvin."
^^^To be continued...^^^