
Sekitar dua jam lebih, bus telah sampai di tempat tujuan. Satu persatu teman-teman alumni keluar menuruni bus dengan teratur. Tak lupa membawa serta barang bawaan mereka yang ditaruh di bagasi.
Dan saat ini, tujuan pertama mereka saat ini istirahat dan menyimpan barang bawaan ke kamar hotel. Tentunya booking hotel sudah dilakukan dari jauh-jauh hari via online. Sehingga saat ini, semuanya bisa beristirahat beberapa saat sebelum acara pokok nanti malam.
"Woi, Vin! Berhubung lo gak bawa istri dan gue juga gak punya istri, lo sekamar sama gue!" Zaki menepuk bahu Calvin. Membuatnya menoleh sepersekian detik. "Oke."
"Lo lagi ngapain? Gak masuk dulu?" Zaki menatap heran Calvin yang sedari mereka sampai di hotel, Calvin malah sibuk mengecek ponselnya. Raut wajahnya terlihat dongkol entah kenapa.
"Iya, ini gue lagi ngirim kabar sama istri, tapi gak dibales."
"Ya elah, kirain apa. Udah, lagi tidur kali. Yuk, masuk! Badan gue udah lengket, pengin mandi." Zaki memiting leher Calvin, sampai membuatnya tersentak. Dengan pasrah, Calvin ikut menyamakan langkah Zaki yang masih setia memiting lehernya.
"Anj*r lo! Iya, iya! Lepas dong! Ntar yang lihat pada salah paham." Calvin menepis Zaki lumayan kuat.
Dikira Calvin, Zaki akan marah. Namun justru laki-laki itu malah tertawa ngakak seraya mempercepat langkahnya. "Serah lo, deh! Untungnya gue masih seratus persen lurus." Tekan Zaki. Refleks Calvin berdecak.
"Lo kira gue belok? Nih, ya! Bentar lagi status gue berubah bukan cuman suami, tapi PAPA!" Calvin menegaskan dengan penuh kepercayaan diri. Sedangkan Zaki yang mendengarnya hanya mengangguk-angguk pasrah.
"Iya, gue juga tahu. Gue like postingan lo waktu itu. Semoga calon anak lo nanti gak mirip lo!"
"Sembarangan! Gue bapaknya, enak aja jangan mirip gue." Calvin menyolot tidak terima.
Apa-apaan dengan ucapan Zaki ini?
Zaki mengernyitkan dahi, seraya memperlambat langkah kaki. "Kalau misalnya nanti pas lahir gak mirip lo, dan lebih mirip istri lo?"
Pertanyaan itu tidak perlu dipikirkan baik-baik untuk menjawabnya. Tanpa ragu sedikit pun, Calvin membalas, "Ngapain dipikirin? 'Kan tinggal bikin lagi."
"Anj*rlah!"
...****...
Waktu telah menunjukkan hampir pukul tiga sore, namun sampai detik ini masih belum ada tanda-tanda dari Naura yang akan membalas pesannya. Sungguh, apakah Naura tidak merindukan Calvin? Berjam-jam Calvin di dalam kamar hotel bersama Zaki membuatnya uring-uringan.
Mau pergi makan ke luar, belum saatnya. Sekitar setengah jam lagi Calvin dan rombongan teman alumninya turun ke bawah untuk makan di restoran.
Mau mengajak Zaki mengobrol supaya tidak bosan, nyatanya laki-laki itu tengah tertidur lelap. Katanya dia lelah karena hampir beberapa hari ini kurang tidur akibat menelepon satu persatu teman-temannya untuk acara reuini.
Pelopor utama dari acara reuni kali ini tak lain adalah keinginan mutlak dari para cewek-cewek. Para cowok ikut saja, dengan catatan, semuanya diharuskan hadir. Kecuali jika memang benar-benar tidak bisa.
Lagi. Calvin terus berguling tak nyaman di atas tempat tidur yang ukurannya pas untuk sendiri. Rasanya tidak senyaman saat berada di rumah. Dan yang pasti, di sini tidak ada Naura. Jadinya, Calvin tidak bisa memeluk Naura ataupun minta jatah kiss seperti hari-hari biasa.
Arghh! Rasanya mau gilaaa!
Tring!
Bunyi notifikasi pesan, seketika membuat Calvin terlonjak. Buru-buru Calvin meraih kembali ponselnya yang ditaruh sembarangan.
"Yes!" Calvin bersorak pelan, saat bunyi notifikasi tersebut berasal dari Naura. Senyum lebarnya kian tercetak. Tanpa basa-basi lagi, Calvin memvideo call Naura saat itu juga. Posisi tubuh yang semula tidur terlentang, mulai berganti menjadi duduk manis seraya merapikan rambut dan poni yang bisa saja akan terlihat berantakan.
Tak butuh waktu lama untuk menunggu, panggilan video diangkat oleh Naura. Wajah Naura yang cantik dengan senyuman khasnya, membuat Calvin ikut tersenyum. Rasa rindu rasanya kembali bergetar dalam diri.
"Mas Cal-"
"Sayang, kangennn!" Calvin menyela, seraya memasang raut wajah muram. Hal itu lantas membuat senyum Naura kian merekah. Seketika dirinya lupa akan suatu hal yang hendak disampaikan pada Calvin.
"Baru juga berapa jam. Eh, tadi aku habis makan duren tahu sama Kak Arvin, sama Mama! Hm, enak bangettt! Puas rasanya bisa makan duren yang manis, lembut. Sayang banget makannya gak ditemenin suami." Naura terkekeh geli diakhir kalimat yang dia ucapkan. Sementara Calvin, senyumnya perlahan luntur selepas mendengar ocehan Naura.
Kalau tidak salah, selama ini Naura belum pernah minta yang aneh-aneh pada Calvin ketika Naura ditanyatakan hamil. Calvin belum merasakan sepenuhnya menjadi suami siaga yang akan selalu memberikan apa pun untuk istrinya yang tengah ngidam.
Dan disaat Naura tengah ngidam, Calvin malah tidak berada di sisinya.
Argh, Calvin pengin pulang aja!
"Maaf, ya! Padahal tadi kamu juga udah bilang pengin makan duren. Tapi, gak aku kasih dan aku malah pergi kayak gini. Harusnya aku-"
"Mas Calvin!" Kini giliran Naura yang menyela. Dengan berat hati, Calvin menghela napas panjang lalu bergumam.
"Aku kangen! Boleh minta kiss, gak?"
Kedua bola mata Calvin sontak terbelalak. "Hah? Kamu serius minta kiss? Apa aku pulang sekarang aja kali, ya, soalnya ini perdana banget kamu minta kiss?!"
"Ih, enggak! Maksud aku tuh kiss yang flying kiss gituloh! Ayo, cepetan! Aku mau kiss!" Tuntut Naura. Raut wajahnya tampak masam. Terlalu tidak sabar untuk segera mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Ya udah nih, iya! Muah!" Calvin mulai memperagakan flying kiss yang Naura maksud. Terdengar tawa lucu dari Naura.
"Ih, lagiiii! Matanya harus merem sebelah!"
"Ya ampun, Bumil! Ngidamnya jangan yang aneh-aneh gini, dong! Ntar kalo si Zaki bangun, bisa-bisa dia langsung stroke!"
"Mas Calvin gak mau, ya? Iya, deh. Maaf!" Raut wajah Naura berubah muram. Bahkan, terlihat jelas bulir-bulir air mata yang menggenang di pelupuk matanya
"Enggak, aku mau, kok! Nih, muah! Jangan sedih gitu dong, bisa-bisa aku beneran pulang ke sana sekarang juga!"
"Kiss-nya gak ikhlas. Tapi gak pa-pa, kok. Aku ngerti. Kalau gitu aku matiin, ya, teleponnya-"
"Jangan! Please, jangan dimatiin!" Naura menghentikan jarinya yang benar-benar hendak mematikan panggilan video. Dirinya mulai menunggu dan menunggu reaksi dari Calvin selanjutnya.
"Muah! Istriku jangan marah, ya?" Calvin kembali memberikan flying kiss disertai salah satu matanya yang berkedip.
Sungguh, Calvin masih ingin berlama-lama mengobrol dengan Naura! Kalau Naura marah, nanti yang ada Calvin bisa makin uring-uringan tidak jelas.
"Aku gak marah! Aku cuman takut keinginan aku malah bikin Mas Calvin terganggu. Maaf!"
Oke, fix! Calvin bertekad akan pulang sekarang!
Bagaimana tidak? Naura tiba-tiba menangis seperti itu, bagaimana Calvin bisa tenang.
"Ya udah, aku pulang aja, ya,"
"Kenapa?"
"Aku kepikiran aja. Juga, kayaknya aku gak bisa jauh-jauh dari istri aku." Calvin mengedipkan sebelah matanya, membuat Naura salah tingkah.
"Jangan! Mas Calvin jangan pulang, nanti aja kalau udah selesai, baru Mas Calvin pulang. Aku yakin, aku akan baik-baik aja di sini. Mas Calvin juga jaga diri baik-baik. Jangan sakit! Jangan ..."
"Jangan?" Calvin menunggu lanjutan dari perkataan Naura.
Bukannya melanjutkan kata-katanya, Naura malah menunduk dengan pipinya yang bersemu. Jelas saja Calvin kembali panik. Jangan-jangan mau nangis lagi!
"Nau?" Panggil Calvin. Tak berapa lama, Naura pun mendongak. Bibirnya cemberut dengan kedua bola mata yang kembali berkaca-kaca.
"I-itu ... jangan deket-deket cewek lain." Ucap Naura. Demi apa, rasanya terdengar begitu melegakan sekaligus menyenangkan di telinga Calvin.
"Kirain apaan,"
"Pokoknya gak boleh deket-deket cewek lain!"
"Mantep, udah berani larang-larang sekarang." Naura kian cemberut mendengar ucapan Calvin.
"Iyaaa, gak berani deketin cewek manapun! 'Kan ada kamu! Ngapain aku ngelirik-lirik cewek lain? Gak ada kerjaan banget."
"I-iya udah, deh. Aku cuman kepikiran aja. Tadi aku baca berita online, katanya ada sepasang suami istri yang menikah, tapi pas istrinya hamil terus badannya jadi gemuk, suaminya selingkuh dan ngelirik cewek lain." Naura kembali menunduk setelah mengutarakan kegelisahannya.
Helaan napas panjang Calvin embuskan. "Jangan baca berita gituan lagi! Bumil itu harusnya bahagia terus, jangan stres."
"Iyaaa! Em, aku tutup dulu, ya! Tiba-tiba laper, hee! Boleh 'kan?"
"Ya udah, makan yang banyak biar cepet gede."
Refleks Naura mengernyit. "Apanya?"
"Perutnya. Biar bisa dipeluk kalau pas tidur." Calvin memperagakan bagaimana nantinya jika perut Naura sudah mulai membesar. Dan, ya. Hal itu seketika mengundang tawa dari Naura.
"Ya udah, aku tutup, ya!" Naura melambaikan tangannya pada kamera. Begitupula dengan Calvin. Walau dalam hati Calvin masih teramat betah mengobrol dengan Naura.
Setelahnya, panggilan video benar-benar ditutup. Entah kenapa rasanya begitu singkat, padahal durasi mereka menelepon hampir empat puluh menit.
"Udah, teleponannya?" Sahutan datar dari arah belakang, membuat Calvin yang semula masih memasang senyuman manisnya, dibuat terlonjak sampai melatah.
Perlahan, Calvin menarik napas dalam-dalam untuk menetralisir perasaan terkejut dalam dirinya. "Sejak kapan lo bangun?"
"Belum lama. Paling pas lo bilang, ekhem! 'Sayang kangennn!' Gitu." Melihat raut wajah Calvin yang terlihat datar, Zaki langsung tertawa ngakak sembari mengubah posisi tidurnya.
"Ya itu mah dari awal banget, dodol!" Calvin menggeplak kepala Zaki menggunakan bantal. Beruntungnya Zaki bukan tipe cowok yang ngambekkan. Sehabis ditimpuk bantal pun, laki-laki itu masih tertawa puas.
"Ekhem. Gara-gara lo teleponan sama istri lo, gue juga jadi pengin punya istri! Apalagi sekarang istri lo lagi hamil 'kan? Arghh! Pokoknya gue juga mauuuu!" Zaki tiba-tiba memekik seperti orang kesetanan. Calvin yang melihatnya bukannya panik, malah tersenyum sombong.
"Nikah enak, cuy! Tiap malem dikelonin. Beuh, nikmat mana yang hamba dustakan!?"
"Kalau yang nggak enaknya?" Pertanyaan Zaki, seketika membuat otak Calvin melayang pada satu hal yang selama ini terus dia pikirkan.
"Nggak enaknya ... gue belum bisa memberikan sesuatu yang terbaik buat istri gue."
"Contohnya?" Tanya Zaki lagi. Sebelum benar-benar menjawab, Calvin tampak kembali berpikir beberapa saat.
"Contohnya, gue belum bisa memberikan rumah yang akan dihuni khusus buat kita bertiga nanti."
^^^To be continued...^^^