
Malamnya, tepatnya pukul delapan, Naura terbangun setelah beberapa jam tertidur cukup lama. Sepasang bola matanya yang sayu menjelajah ke sekitar kamar hotel yang tampak gelap. Sesekali, Naura akan menguap sembari mencoba turun dari atas tempat tidur.
Saat baru menapakkan kaki, pergelangan tangan Naura serasa dicekal dari belakang. Ketika menoleh, sudah ada Calvin yang berusaha membuka mata.
"Mau ke mana?" Sahut Calvin, dengan suara yang terdengar serak.
"Mau ke kamar mandi,"
"Mual lagi?" Refleks Calvin mengubah posisinya menjadi terduduk. Sepasang bola matanya menatap cemas ke arah wajah Naura yang minim tersorot cahaya.
Dengan cepat Calvin menyalakan seluruh lampu kamar hotel. Kebetulan tombol lampunya tak begitu jauh dari posisi tempat tidur.
"Gak pucet. Gimana sekarang? Udah baikan?" Calvin kembali bertanya untuk memastikan. Jawaban berupa anggukkan kepala yang diiringi dengan seulas senyuman tipis dari Naura, dibalas helaan napas lega oleh Calvin.
"Kalau gitu, aku mau ke kamar mandi dulu, ya?" Ucap Naura, yang spontan diangguki oleh Calvin.
Sepeninggalan Naura ke kamar mandi, Calvin mulai merasa bosan. Rasa kantuk rasanya telah menguap entah ke mana. Mencoba untuk menyibukkan diri, Calvin meraih ponselnya yang dia taruh di atas meja nakas sedang diisi daya.
Kedua alis Calvin refleks mengernyit saat ada sebuah notifikasi dari instagram dengan user name yang cukup familier.
"Mas Calvin!" Sahutan lembut dari ambang pintu kamar mandi, seketika memecah perhatian Calvin.
Ditaruhnya kembali ponsel tersebut di tempat semula. "Kenapa, Nau?" Perlahan, Calvin bangkit dari tempat tidur menyusul Naura yang masih bergeming di tempatnya.
Raut wajahnya tampak memelas, refleks Calvin kembali menyentuh dahi Naura untuk mengecek suhu tubuhnya. "Gak panas,"
"Aku udah sembuh, kok. Cuman ..." Naura menggantungkan ucapannya, dengan kepala yang menunduk dalam.
Haduh, gimana, ya, ngomongnya?
"Cuman?" Sahut Calvin. Beberapa saat, Naura mulai mendongakkan wajahnya, mencoba memberanikan diri menatap Calvin.
"I-itu, aku udah gak ngantuk. Jalan-jalan ke luar aja, gimana? Sebentar aja, please! Di sini sumpek." Adu Naura, masih memasang raut memelas.
Melihat hal itu, refleks Calvin terkekeh pelan menanggapi. "Sebentar aja tapi. Kalau kelamaan, nanti kamu masuk angin, baru juga sembuh."
"Janji!" Balas Naura. Raut memelas di wajahnya lantas berganti cerah dan antusias. Lagi-lagi Calvin tidak dapat menahan diri untuk tidak tersenyum maupun tertawa pelan saat melihat reaksi Naura.
"Harus pake jaket, tapi!" Peringat Calvin.
"Iyaaa! Aku mau ganti baju dulu, ya? Tungguin!"
...****...
Suasana tepi jalan yang tadi siang tampak begitu sepi, siapa yang akan menyangka di waktu malam begini akan berubah menjadi jalanan yang begitu ramai?
Bukan oleh kendaraan yang macet, melainkan oleh beberapa pedagang kaki lima yang masing-masing menjaga stan dagangan mereka. Beberapa orang pun tampak memenuhi stan pedagang kaki lima tersebut untuk sekadar membeli, tawar menawar, maupun turut mengantre.
"Mas Calvin, aku mau itu!" Naura menepuk-nepuk punggung Calvin, membuat perhatian Calvin yang masih menjelajah, lantas beralih pada Naura.
"Hm, yang mana?"
"Itu! Es kelapa muda!"
"Jam segini kamu mau es kelapa muda?" Demi apa pun, Calvin teramat syok mendengar keinginan Naura di malam yang cukup dingin ini.
Ketika Calvin melirik jam tangannya, pukul setengah delapan malam tertera di sana. Refleks Calvin menghela napas. "Naura, kamu itu baru sembuh, masa udah mau jajan yang dingin-dingin aja? Mana ini udah malem, lagi. Kalau kamu sakit lagi nanti gimana?"
"Pokoknya aku mau es kelapa muda, haus!" Rengek Naura, membuat Calvin bimbang.
"Air mineral aja, ya?" Tawar Calvin, mencoba untuk bernegosiasi. Sayangnya, ekspresi sedih yang Naura tampilkan, membuat Calvin kian frustasi.
"Ya udah, bentar, aku beliin."
"Makasih!" Ekspresi Naura langsung berubah seratus delapan puluh derajat saat mendengar Calvin yang menuruti keinginannya.
Dengan langkah berat, Calvin berjalan seorang diri ke arah stan es kelapa muda yang lumayan cukup ramai dikerubungi orang-orang. Sementara Naura, karena Calvin menyuruhnya diam di tempat, jadilah Naura tetap diam di tempatnya dengan patuh.
"Pak, es kelapa mudanya satu, ya!" Pesan Calvin. Tampak si penjual es kelapa muda itu spontan melirikkan matanya pada Calvin sekilas.
"Sebentar, ya, Mas! Ini mau bikin dua lagi buat mbaknya, udah nunggu dari tadi." Ujarnya, mau tidak mau diangguki Calvin.
Cukup lama menunggu, akhirnya tiba bagian Calvin.
"Satu aja, Mas?"
"Iya, buat istri saya. Tuh, lagi nunggu!" Tunjuk Calvin, tepat ke arah Naura yang tengah tersenyum begitu manis padanya. Atau mungkin lebih tepatnya, pada es kelapa muda yang sudah tidak sabar ingin segera dia cicipi.
"Ooh, begitu. Istrinya lagi ngidam, ya, Mas? Antusias sekali sepertinya."
Ngidam?
Spontan Calvin kembali menolehkan kepalanya menatap Naura.
Hamil maksudnya? Tapi, kayaknya enggak, deh.
"Enggak. Lagi mau aja, kali." Balas Calvin. Setelahnya, si penjual langsung menyerahkan satu cup es kelapa muda yang sudah dibungkus sebuah plastik transparan.
"Berapa, Pak?"
"Sepuluh ribu saja."
Calvin merogoh uang yang dia taruh di dalam dompet. Karena tidak ada uang pas, Calvin pun menyerahkan satu lembar uang seratus ribuan pada si penjual es kelapa muda. Namun, hal itu malah langsung ditolak oleh si penjual.
"Waduh, gak ada uang kecil, Mas? Saya baru mangkal, barusan yang beli juga uangnya segitu. Coba, Mas tukerin dulu uangnya. Atau enggak, minjem dulu sama istrinya, siapa tahu ada uang pas."
"Ya udah, kembaliannya buat Bapak aja. Anggap aja ini rezekinya Bapak." Calvin kembali menyerahkan uangnya ke hadapan si penjual, membuatnya lantas kebingungan.
"Jangan, Mas! Aduh, saya jadi gak enak."
"Udah, terima aja. Doain aja semoga istri saya cepet hamil. Gimana?" Tawar Calvin. Tampak masih raut wajah bingung dari si penjual.
"Aduh, tetep gak enak. Tapi, ini beneran, Mas?" Tanyanya, tidak enak hati.
"Wah, kalau begitu saya terima. Semoga cepet dapet momongan, ya, Mas!"
Entah mengapa Calvin jadi senang sendiri mendengar ucapan si penjual es kelapa muda itu.
Kalau benar ucapannya jadi doa, apa yang akan terjadi, ya?
"Aamiin. Mari, Pak!"
...****...
Sedari meminum es kelapa muda yang sudah diidam-idamkannya sedari tadi, Naura tak henti-hentinya terus menyedot es kepala muda itu hingga sisa sedikit. Saat hendak mencoba daging kelapa muda yang berada di paling bawah cup, Naura mengganti sedotannya dengan sebuah sendok plastik yang telah disediakan oleh si penjualnya tadi.
Di sisi lain, Calvin hanya bisa termenung dengan wajahnya yang datar. Tatapan matanya terus tertuju pada Naura yang tampak begitu bahagia di tempatnya.
Namun, pikirannya seketika melayang ke arah pembicaraannya beberapa saat lalu bersama si penjual es kelapa muda.
Ngidam? Kalau Naura benar-benar hamil, apa gue bisa jadi suami dan ayah yang baik? Entah kenapa gue takut gak bisa.
"Mas Calvin?"
"Hah, iya?!" Sahutan tiba-tiba dari Naura, membuat Calvin tersadar dari berbagai lamunannya.
"Kenapa? Pulang sekarang?" Raut wajah Naura langsung cemberut seketika.
"Mau cilok!" Pinta Naura, refleks Calvin mengedarkan pandangannya.
"Di mana?"
"Di sana!" Tunjuk Naura. Saat telah menemukan di mana stan penjual cilok, langsung saja Calvin berdiri, seraya menggenggam tangan Naura.
"Ya udah, ayok!" Ujar Calvin. Senyuman manis lagi-lagi menghiasi wajah cantik Naura.
"Makasih!"
"Sama-sama. Kiss dulu tapi." Ucapan Calvin selanjutnya sanggup membuat kedua pipi Naura memanas sampai merona.
Melihat reaksi lucu itu, lagi-lagi Calvin memasang tawa. "Bercanda. Ayok!"
...****...
Pagi-pagi sekali, Calvin dan Naura sudah berangkat untuk melanjutkan perjalanan mereka yang sempat tertunda. Tepat pukul sembilan pagi, Calvin dan Naura telah sampai di rumah. Dibantu beberapa asisten penjaga rumah yang membawa masuk barang-barang mereka.
Kedatangan Calvin dan Naura tentu saja disambut antusias oleh Fani. Tak habis-habisnya wanita paruh baya itu terus menanyai keadaan Naura.
"Mah! Naura harus istirahat, pending dulu nanyanya, ya? Baru juga sampe,"
"Ck! Iya, iya, bawel! Naura, sekarang kamu ganti baju dulu, ya? Kalau sudah selesai, jangan lupa samperin Mama. Cerita sama Mama semuanya, ya?" Ujar Fani, membuat Calvin refleks mendengus pelan.
"Iya, Mah. Kalau begitu, aku naik dulu mau ganti baju."
"Iya, Sayang. Jangan lupa, ya!" Peringat Fani, yang langsung diangguki Naura.
...****...
Setelah cukup lama mencuci muka dan berganti pakaian, Naura menolehkan kepalanya menatap jam dinding yang telah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Teringat akan ucapan dari Fani beberapa saat lalu, Naura memilih berjalan keluar dari dalam kamar.
Namun, baru saja Naura menutup pintu kamar, terdengar suara tawa beberapa orang yang sepertinya berasal dari lantai bawah.
Naura yang terlanjur kepo lantas mengintip sedikit dari ujung tangga. Dan, sebuah pemandangan tak terduga, di mana Calvin tengah tertawa begitu lepas dengan seorang perempuan asing di sampingnya, seketika membuat Naura termangu.
Entahlah. Ada sedikit perasaan iri saat melihat interaksi hangat antara keduanya. Bahkan, Naura juga melihat Mama Fani di sana yang juga tengah tertawa lepas bersama Calvin dan perempuan asing tadi.
Apa sebaiknya aku gak usah turun aja, ya? Mereka kayaknya akrab banget. Aku takut bikin suasana di antara mereka jadi rusak gara-gara aku.
Mencoba menetralisir perasaan ngilu di dada, Naura memutuskan kembali ke dalam kamar. Tentunya dengan melangkah pelan agar tidak diketahui.
Sesaai tiba di dalam kamar, suara tawa itu kembali terdengar, padahal Naura sudah menutup rapat pintu kamarnya. Hati Naura mendadak sesak, apalagi tawa Calvin juga terdengar lumayan jelas dari sini.
Mas Calvin seneng banget, ya, kayaknya? Jangan-jangan, itu mantan pacarnya Mas Calvin lagi. Jangan-jangan, mereka putus gara-gara aku.
Banyak hal negatif yang terus Naura pikirkan seorang diri. Sayang sekali, tidak ada satu pun jawaban yang pasti akan pertanyaan-pertanyaan tersebut yang murni sebatas dilontarkan dalam hati.
Beberapa lama dibuat kalut akan asumsi yang tidak ada gunanya, pintu kamar tiba-tiba terbuka. Refleks Naura menoleh, lalu mendapati Calvin yang tersenyum sumringah memasuki kamar.
"Lho, kok, malah di sini?" Sahut Calvin, seraya berjalan menghampiri Naura yang tengah menunduk di sebuah sofa.
"A-aku ..."
"Ke bawah, yuk! Ada temen lama aku yang baru dateng dari Eropa, mau nyapa katanya."
"Temen?" Spontan Naura mendongak, saat mendengar kata 'teman' terucap dari mulut Calvin.
Jadi, bukan mantannya Mas Calvin, dong?
Seulas senyuman lega Naura perlihatkan. "Ya udah, boleh." Saat Naura sudah berdiri dan hendak melenggang, Calvin tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Kenapa? Apa ... ada yang salah?" Jawaban berupa gelengan dari Calvin, membuat Naura mengernyit bingung.
"Sebentar." Ucap Calvin. Setelahnya, secepat kilat dia langsung mencuri kecupan di bibir Naura.
Sontak hal itu membuat Naura bergeming beberapa saat, sebelum pada akhirnya tersadar akan sentuhan hangat Calvin yang menyentuh permukaan telapak tangannya.
"Udah, ayok!"
Lagi. Senyuman manis kembali terpatri di wajah Calvin. Naura yang salah tingkah, hanya dapat kembali menundukkan wajahnya yang serasa memanas.
Dasar Mas Calvin ngeseliiinnnn! Untung, suami!
^^^To be continued...^^^