
WARNING!!! Full eps aku kasih rate 18+, yak! Dari awal cerita ini udah dilabeli 18+ di bawah sinopsisnya.
Selamat membaca sampai kejang-kejang!:*
...****...
"Aku gak tahu kalau Mas Calvin bakal pulang jam segini. Kalau tahu ... tadi mungkin udah aku tungguin."
Ya ampun, istrikuuu ... Apa yang harus aku lakukan padamu?
"Ya udah, makan lagi aja." Ujar Calvin, membuat Naura melotot.
"Ih, nggak mau! Aku udah kenyang, Mas Calvin aja,"
Calvin berdecak pelan. "Masa sendirian? Ya udah, minimal temenin, kek."
"Hm ... boleh, deh."
Senyuman Calvin langsung merekah saat itu juga. Dengan penuh semangat, Calvin bangkit dari sofa. Salah satu tangannya dengan terburu-buru meraih pergelangan tangan Naura dan membawanya menuju dapur. Sesampainya di dapur, ketika Naura hendak melepaskan diri, Calvin justru kian mengeratkan genggaman tangannya. Salah satu alisnya terangkat dengan raut wajahnya yang datar.
"Ke-kenapa?" Naura menatap sepasang bola mata Calvin dalam-dalam.
Seolah tersihir, Calvin dibuat memaku di tempat dengan perhatian yang terkunci pada satu titik. Entah ada angin lalu apa, Calvin mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Naura. Tak berapa lama, seolah juga ikut tersihir, Naura mulai memejamkan mata.
Seringaian tipis lantas terbit di wajah Calvin. Tanpa berniat menunggu lebih lama lagi, Calvin ikut memejamkan mata seraya menjatuhkan bibirnya tepat di atas bibir Naura yang semakin hari, semakin terlihat menggiurkan.
Waktu seakan berhenti berputar. Tak ada pergerakan alami dalam ciuman manis tersebut. Perlahan, Calvin membuka matanya untuk menatap seperti apa raut wajah Naura saat ini.
Dan, wajahnya begitu memerah. Rasanya, Calvin ingin sekali melahap Naura saat itu juga. Spontan Calvin kembali memejamkan mata, seraya memagut pelan bibir mungil itu. Salah satu tangan Calvin yang menganggur ikut andil untuk menarik tengkuk Naura untuk memperdalam ciuman mereka.
Sial! Kenapa bibir Naura rasanya begitu manis? Calvin jadi lupa diri 'kan! Tangan Calvin yang satunya mulai nakal menarik pinggang ramping Naura, sehingga jarak diantara keduanya tak lagi tersisa.
Tepukan pelan di dada bidang Calvin, menjadi interupsi untuk segera melepaskan pagutannya. Ditatapnya dalam-dalam, tampak wajah Naura yang memerah padam tengah meraup udara sebanyak-banyaknya.
"Napas, Naura! Jangan ditahan."
Seolah tersadar, refleks Naura menjauhkan diri dari Calvin. "Mas Calvin nyebelin!" Gerutu Naura, sembari berdiri memunggungi Calvin
"Kok, nyebelin?" Calvin menarik salah satu alisnya, seraya menatap Naura yang masih berdiri memunggunginya.
"Iyalah! Kenapa gak bilang dulu kalau mau cium?" Dengan ekspresi kesal, Naura menatap Calvin begitu menggebu. Sialnya, ekspresi Naura teramat menggemaskan di wajah Calvin. Sebisa mungkin Calvin menahan debaran hebat yang menggoncang dadanya.
"Jadi ... kalau mau cium lagi harus bilang dulu, nih? Ya udah." Ujar Calvin, sanggup membuat Naura kian memanas.
Saat Naura hendak berbalik dan pergi, Calvin langsung mencegahnya. "Kok, pergi? Katanya mau nemenin aku makan?"
"Gak jadi. Makan aja sendiri." Pungkas Naura, kemudian menepis pelan tangan Calvin, dan berjalan cepat meninggalkan dapur.
"Lha? Ampun dah, istri gue! Padahal lagi romantis-romantisnya tadi. Aarrghhh! Elo sih, Vin! Punya iman tipis amat. Jadinya Naura marah 'kan sama lo?"
...****...
Malamnya, setelah selesai makan malam, Calvin dan Naura, pun Mama Fani dan Papa Divo, keempatnya tengah sibuk bercengkrama di ruang tengah. Mereka semua tengah menikmati sebuah tayangan televisi dengan sesekali dibumbui canda dan tawa.
"Oh, iya, Vin! Besok 'kan weekend. Kamu bisa 'kan temenin Naura?" Sahutan dari Divo, seketika membuat seluruh perhatian beralih padanya.
"Emang besok Naura mau ke mana?" Calvin menoleh ke arah Naura yang berada tepat di sampingnya.
"Katanya Naura mau ke rumah papanya. Anterin, ya, Vin." Sela Fani, menghentikan Naura yang sudah mau membuka mulut.
"Oh. Ya udah. Mau nginep?" Tanya Calvin lembut, teruntuk Naura.
"A-"
"Paling tiga hari. Lebih juga gak pa-pa. Tapi 'kan, kamu harus kuliah, jadi gak usah lama-lama cutinya. Cuti sehari bisa 'kan, Vin?" Lagi-lagi Fani menyela, membuat Calvin hanya bisa menghela napas pendek.
"Oke. Mau siap-siap sekarang?" Saat melihat Fani yang sudah hendak kembali membuka mulut untuk menyela, buru-buru Calvin menginterupsi mamanya untuk tetap diam.
"Calvin nanya sama Naura, Mah! Na-u-ra!"
"Ck, iya, iya!" Fani langsung cemberut saat dengan tegas putra bungsunya ini menekankan deretan kalimatnya.
"Oh, iya. Minggu depan kakak kamu mau pulang, Vin!" Divo kembali bersuara, setelah beberapa saat beliau hanya diam dan memerhatikan interaksi istri dan anaknya.
"Ngapain?"
"Kok, ngapain? Dia itu belum sempet datang ke nikahan kalian, lho! Dan baru bisa pulang minggu depan katanya." Penjelasan Fani selanjutnya tak dibalas apa-apa oleh Calvin. Putranya itu hanya diam dengan kedua alisnya yang berkerut dalam.
"Ya udah. Nau, kita beres-beres sekarang aja gimana?" Naura yang sempat dibuat melamun beberapa saat, lantas mendongak menatap wajah Calvin. Senyuman hangat pun diiringi anggukkan pelan, menjadi jawaban atas usulan yang Calvin berikan.
...****...
"Kita mulai di mana?"
"Em, aku mau ambil baju!"
"Ya udah, aku ambil koper."
Sepasang suami istri muda itu tampak begitu akur saat hendak mempersiapkan diri untuk hari besok. Dengan telaten, Calvin mengambil sebuah koper berukuran besar yang nantinya akan diisi oleh beberapa pakaian keduanya selama di rumah papanya Naura.
Ekhem. Papanya Calvin juga. Soalnya Naura sekarang adalah istrinya, bukan lagi seorang perempuan yang selalu Calvin anggap sebagai adik.
Omong-omong soal itu ... Calvin lupa tidak menanyakan kapan hari ulang tahun Naura!
"Em, Nau?" Sahut Calvin. Diam-diam matanya melirik pada Naura yang tengah sibuk memilah bajunya sendiri di atas tempat tidur.
"Iya?" Balas Naura, tanpa menatap Calvin.
"Mas Calvin gak tahu?" Helaan napas kecewa Naura embuskan. Dengan mood yang mulai turun, perempuan itu kembali melanjutkan kegiatannya.
"Makanya aku nanya,"
"Padahal mah gak usah nanya aja."
"Kok, gitu?" Gumaman Naura, membuat Calvin tertarik sampai ikut mendudukkan diri di atas tempat tidur. Lagi-lagi Naura kembali menatap Calvin dengan tatapan kecewa.
"Aku aja tahu, lho, Mas Calvin ulang tahunnya kapan! Jahat banget, sih."
"Oh, ya? Kok, bisa?"
Naura kembali mengembuskan napasnya, namun kali ini terdengar jauh lebih panjang.
Apakah Naura kesal?
"Aku lihat di buku nikah kita." Gerutu Naura. Wajahnya langsung bersemu, dengan kedua tangan yang kembali menyibukkan diri untuk memilah bajunya yang masih belum selesai dipilih.
Sedangkan Calvin, laki-laki itu langsung bangkit dari posisinya, seraya berlari kecil ke arah laci khusus untuk mencari di mana buku nikah yang dikatakan oleh Naura.
"Jadi ... kamu lahir tanggal 28 November?"
"Hm."
"Berarti tahun ini kamu belum genap dua puluh tahun?"
"Masih sembilan belas."
What? Apakah Calvin sudah sangat berdosa? Apa yang sudah dia lakukan pada seorang gadis kecil seperti Naura?
Memang jika menurut perhitungan tahun, Calvin dan Naura itu cuman beda satu tahun. Lebih cepat Calvin tentunya. Tapi kalau menurut bulan ... bisa sampai dua puluh satu bulan, cuy!
"Mas Calvin bajunya mau yang mana? Mau aku bantu pilihin, gak? Atau mau sendiri aja?" Sahutan dari Naura selanjutnya, sukses membuat Calvin tersadar dari berbagai lamunan.
Dengan langkah pasti, Calvin menghampiri Naura dengan membawa serta buku nikah mereka. Calvin kemudian kembali menduduki tempat tidur di samping Naura.
"Jadi ... ulang tahun aku kapan?"
"2 Februari. Satu tahun lebih tua dari aku."
"Jangan lebih tua dong, Nau, bilangnya."
"Hah? Emangnya Mas Calvin lebih muda dari aku? Coba lihat!" Saat Naura hendak merebut buku nikah di tangan Calvin, buru-buru Calvin menyembunyikannya di belakang punggung.
"Enggak, kamu gak salah." Calvin lantas membuang muka dari Naura yang tengah menatapnya penuh tanya.
Sempat dibuat tidak paham beberapa saat, akhirnya Naura mulai menangkap satu hal yang sepertinya memang kurang disukai oleh Calvin.
"Ooh, jadi Mas Calvin gak suka dibilang tua, gituh? Tapi 'kan emang bener, Mas Calvin udah tua. Sedangkan aku masih muda! Aku masih sembilan belas. Mas Calvin udah dua puluh satu." Tawa di wajah Naura langsung tercetak jelas setelah dengan berani menertawai Calvin. Jelas saja, Calvin kesal dibuatnya.
"Oh, jadi aku tua? Kalau gitu Naura mau ikut Om jalan, gak, besok? Nanti Om yang jajanin." Raut wajah Calvin langsung berubah serius, atau lebih tepatnya dibuat sok serius dengan kedua alis yang sengaja dinaik-turunkan.
"Serius, Om? Boleh- Bwahahahaa! Ah, apaan sih? Mas Calvin tengil!"
Siapa yang akan menyangka, Naura akan tertawa selepas itu karena candaan Calvin. Wajahnya begitu manis, sampai rasanya Calvin sudah mau diabetes dibuatnya.
Ya ampun, Nauraaaa! Untungggg lo istri gue! Cantik banget siiii! Jadi pengin makan.
Tanpa diduga-duga, Calvin kembali mendekatkan wajahnya pada Naura yang masih tertawa. Saat itu juga, Naura langsung menghentikan tawanya. Raut wajahnya berubah tegang saat menyadari wajah Calvin yang hampir tak berjarak dengan wajahnya.
"Istriku makin cantik kalau ketawanya lebar." Ujar Calvin, sedikit berbisik. Dan hal itu sanggup membuat wajah Naura memerah menahan malu.
"Mas Calvin apaan, sih? Jangan-" Naura seketika melebarkan bola matanya, saat dengan tiba-tiba Calvin kembali menjatuhkan ciuman di bibirnya. Sepasang bola matanya tampak terpejam beberapa saat, membuat Naura ikut memejamkan kedua bola matanya.
Ciuman yang awalnya hanya saling menempelkan, berubah panas seiring dengan tangan Calvin yang entah sejak kapan menempel di pinggan Naura.
"Eungh ..." Lenguhan dari bibir Naura, membuat Calvin kian bersemangat dan terus menuntut, sehingga berakhir membuat tubuh Naura berbaring dan berada di bawah kungkungannya.
Beberapa saat, Calvin melepaskan ciuman keduanya. Napas Calvin pun Naura tampak begitu terengah-engah dengan tatapan mata yang berubah sayu.
Calvin menatap dalam-dalam wajah Naura yang memerah. "Nau, udah selesai?" Bisikkan rendah Calvin yang to the point, tak lantas membuat Naura yang masih menstabilkan napasnya dibuat paham.
"Mak-sud-nya?"
"Em, itu. Datang bulannya." Ujar Calvin. Saat itu juga, Naura langsung paham maksud dari pertanyaan Calvin padanya.
"U-udah. Hari ketiga juga udah selesai, padahal biasanya suka lebih dari seminggu."
Duhh ... ngapain sih, pake ngejelasin segala? Bikin tambah malu aja, deh!
"Kalau gitu kamu mau-" ucapan Calvin langsung terpotong, saat kedua tangan Naura membekap mulutnya tiba-tiba.
"I-itu. Bajunya belum selesai diberesin. U-udah malem banget. Lain kali aja, bisa? Eh!"
Sial! Naura salah bicara! Bukan itu intinya!
Lihatlah Calvin. Laki-laki itu awalnya terkejut dengan jawaban dari Naura. Namun tak berapa lama, Calvin tersenyum puas.
"Oke."
Bukan gituuu! Ah, sudahlah!
Mau nyebur ke laut sekarang, masih sempat gak, ya? Naura malu, sungguh!
^^^To be continued...^^^