
Naura refleks mengatupkan mulutnya saat melihat raut wajah kesal Calvin yang tengah berdiri kaku di balkon kamar. Kedua alisnya terlihat begitu jelas berkerut dalam. Sayup-sayup Naura mendengar gerutuan kesal dari mulut Calvin.
"Mas Calvin?" Perlahan, Naura memanggil Calvin seraya berjalan menghampirinya.
Tidak ada balasan maupun gestur tubuh dari Calvin. Seolah bisu dan juga tuli, Calvin tetap pada pendiriannya untuk tidak bereaksi, apa pun yang nanti akan Naura lakukan untuk membujuknya.
Yang pasti, Calvin marah saat ini!
"Mas Calvin! Mas Calvin cuekin aku?" Nada suara Naura terdengar memelas. Refleks Calvin melirik sekilas pada Naura.
Sial! Pertahanan diri Calvin mulai melemah melihat raut wajah cantik Naura yang memperlihatkan rona menyedihkan. Pikiran Calvin mulai menjelajah ke mana-mana hanya karena raut wajah itu.
Calvin mencoba menarik napas dalam-dalam untuk menetralisir desiran tak biasa dalam dirinya. Kedua tangannya terangkat untuk dilipat tepat di depan dada. Sementara bola matanya yang sempat melirik Naura, kembali dibuat menatap lurus ke depan.
"Mas Calvin jangan marah gitu dong! Aku 'kan kayak gini demi Mas Calvin. Kalau kebanyakan absen gak bagus tahu!" Naura berujar pelan, halus dan lembut. Membuat Calvin tanpa sadar dibuat terhanyut beberapa saat oleh ucapan itu.
Ekhem! Tidak boleh! Calvin harus tahan!
"Gini aja, deh. Mas Calvin mau apa, aku kabulin!"
"Yakin?" Balasan singkat nan padat yang terdengar begitu datar, tanpa sadar membuat bulu kuduk Naura berdiri. Entah mengapa rasanya Naura seperti salah berbicara barusan.
"Asalkan ... masuk akal?" Diam-diam Naura menelan ludahnya susah payah saat tanpa diduga Calvin menarik salah satu sudut bibirnya membentuk sebuah seringaian tipis.
Bahkan, Calvin mulai melangkah pelan menghampiri Naura yang tanpa sadar dibuat memundurkan langkahnya. Sepasang bola mata Naura seolah dibuat terkunci pada tatapan menusuk Calvin yang entah mengapa terlihat begitu mengerikan.
"Ma-mas Calvin? Awh!" Naura refleks mengaduh hampir terjatuh, saat betisnya menabrak ujung kasur.
Beruntung dengan cekatan Calvin langsung menarik Naura, sampai berakhir berada di pelukannya.
Naura mencoba memberanikan diri untuk menatap Calvin. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang, apalagi ketika merasakan embusan napas teratur dari Calvin yang menerpa sebagian wajahnya.
Refleks Naura membelalakkan mata, saat tubuhnya dibuat melayang tiba-tiba. Kedua tangannya dengan spontan menggantung di leher Calvin, sang pelaku yang telah berhasil menggendong tubuhnya.
"Mas Calvin ... mau apa?"
"Mau nagih janji yang barusan."
"Tapi, Mas Calvin gak akan apa-apain aku 'kan?"
Kedua sudut bibir Calvin dibuat terangkat membentuk sebuah senyuman yang berakhir menjadi kekehan pelan.
"Justru itu yang mau aku lakuin, Sayang!" Calvin berbisik sensual tepat di telinga Naura. Lagi-lagi Naura merasakan bulu kuduknya berdiri. Desiran panas terasa menjalar ke seluruh tubuhnya.
Perlahan namun pasti, Calvin menurunkan tubuh Naura ke atas tempat tidur. Tatapan matanya seolah belum juga teralihkan dari Naura yang tengah menatapnya penuh waspada.
Tiba-tiba, Calvin melepas cardigan yang membungkus tubuh Naura. Menaruhnya sembarang, lalu dilanjut dengan menyentuh ujung piyama Naura. Belum sempat Calvin menelusupkan tangannya, Naura langsung menghentikannya. Wajahnya begitu memerah padam dengan deru napas yang mulai tidak beraturan.
"Jangan! Ini masih sore, di luar ada Mama Fani sama Papa! Nanti mereka denger gimana?"
Sungguh, Naura tidak pernah merasa segugup ini seumur hidup! Mungkin pernah beberapa kali, tetapi rasanya tidak semenegangkan hari ini. Naura sangat takut jika Calvin akan benar-benar melakukan itu saat ini.
"Mereka gak akan denger, kalau kamu gak bersuara."
"Mas Calvinnn!" Wajah Naura kian memanas. Cubitan pedas lantas Naura berikan pada lengan Calvin yang dengan nakalnya terus menelusup masuk ke dalam piyama Naura.
Dengan lembut, Calvin mengelus permukaan perut Naura yang sedikit membuncit. Lenguhan pelan mulai lolos dari mulut Naura. Padahal, Naura sudah mati-matian menahannya. Namun tetap saja tidak bisa.
"Mas Calvin, jangan! Aku emh- gak bisa! Nanti aja, ya, aku mohon!"
Bukannya berhenti seperti yang dipinta Naura, Calvin malah menidurkan Naura, masih dengan tangannya yang mengusap sensual perut Naura, kemudian dilanjut pada pinggang.
"Emhh!" Naura mulai membekap mulutnya untuk meminimalisir suara yang keluar dari sana.
"Jangan! Gimana kalau ketahuan sama- ah hmph!" Sungguh, suaminya ini kenapa? Tanpa melontarkan kata-kata, Calvin telah berhasil membuat Naura tak berdaya.
"Ssttt!"
...****...
Senyuman lebar terus menghiasi wajah Calvin setelah dirinya mendapatkan apa yang dia inginkan dengan begitu instant. Fani, Divo, Hermawan, bahkan Arvin yang baru saja keluar kamar, dibuat terheran oleh tingkah Calvin.
Berbeda halnya dengan Calvin, justru di sini Naura sebaliknya. Jika mengingat hal apa yang sudah terjadi, Naura sangat malu sampai rasanya ingin menenggelamkan wajahnya ke dalam sumur.
Bisa-bisanya Calvin benar-benar melakukan hal itu di sore hari yang masih begitu terang ini? Seberusaha apa pun Naura menahan suaranya, suaranya tetap lolos.
Tak hanya suaranya, bunyi deritan tempat tidur rasanya semakin membuat Naura gugup. Takut jika sewaktu-waktu ada yang mengintip bahkan sampai membuka pintu disaat Calvin dan Naura sedang ...
Lupakan!
Pokoknya, Naura kesal pada Calvin!
"Kalian ... gak pa-pa?" Fani yang sedari tadi bertanya-tanya dalam hati, akhirnya melontarkan pertanyaan pada Calvin dan Naura.
"Nggak pa-pa." Calvin menyahut ceria. Tidak dengan Naura yang menghela napas berat seraya memejamkan kedua matanya.
"Tapi, Naura ..."
"Ekhem. A-aku ke toilet dulu." Buru-buru Naura beranjak dari sofa menuju toilet yang berada di dapur.
Merasa ada yang tidak beres, Arvin menepuk bahu Calvin. "Bini lo kenapa?"
"Mungkin ... kebelet?" Ujar Calvin, masih dengan memasang senyuman tak biasa.
...****...
Naura refleks mengerutkan alis, ketika melihat punggung tegap Calvin berdiri beberapa meter di depan pintu toilet. Namun, bukan hal itu yang membuat Naura bertanya-tanya. Melainkan gestur tubuh pun mulutnya yang tengah berbicara serius di telepon.
Saat Naura selesai menutup pintu toilet, Calvin membalikkan tubuhnya. Hingga tatapan keduanya kembali bertemu. Disela mendengarkan obrolan di telepon, bisa-bisanya Calvin masih sempat melempar senyuman manis pada Naura.
Sialnya, Naura jadi kepikiran lagi soal yang tadi. Wajah Naura rasanya kembali memanas, sehingga dengan spontan memutus kontak mata dengan Calvin.
Mencoba tetap tenang dan berpura-pura tidak peduli, Naura lantas berjalan melewati Calvin. Sayangnya, baru beberapa langkah Naura berjalan, tangannya langsung dicekal oleh Calvin. Mengakibatkan Naura kembali memundurkan langkahnya sampai berakhir berada di depan Calvin.
Berusaha untuk melepaskan diri, Calvin malah berakhir memeluknya dengan sebelah tangan. Tidak membiarkan Naura pergi, walau dirinya masih sibuk menelepon.
"Jadi fix-nya minggu depan?" Sahut Calvin, setelah beberapa saat hanya diam dan mendengarkan.
"Gue gak boleh bawa istri gue, nih?" Sahut Calvin lagi. Naura mendadak kepo dengan pembicaraan Calvin bersama seseorang dibalik telepon itu.
Mereka lagi bahas apa sih?
Terdengar helaan napas berat yang Calvin embuskan seraya berakhir melirik Naura yang tengah menatapnya.
"Ya udah, lo kabarin gue lagi aja. Gue pasti dateng. Thanks, ya!" Panggilan telepon pun terputus. Tanpa menunggu lebih lama, Calvin lantas memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
Raut wajahnya berubah lesu. Membuat Naura bertanya-tanya akan hal apa yang membuat Calvin tampak demikian.
"Barusan siapa yang nelepon?"
Sebelum menjawab pertanyaan dari Naura, Calvin kembali menghela napas seraya memeluk tubuh Naura begitu lengket. "Temen SMA. Mereka ngajak reuni."
"Ooh. Bagus dong? Jadinya Mas Calvin bisa kumpul-kumpul lagi sama mereka,"
"Tapi katanya dilarang bawa pasangan, kecuali kalau pasangannya satu alumni. Jahat banget! Padahal aku mau ajak kamu."
Naura terkekeh gemas melihat tingkah manja Calvin yang terus menerus menggesekkan pipi mereka. Karena geli, Naura mendorong wajah Calvin agar sedikit berjarak dengannya.
"Emangnya tempat reuninya mau di mana?"
"Hm, kalau jadi katanya di Pantai Ancol."
"Deket, kok. Paling berapa lama?"
"Tiga hari."
"Tuh, gak lama!"
Calvin kian mengeratkan pelukannya dengan sesekali mengerang sebal. "Tiga hari tanpa Naura itu rasanya kayak makan sup tanpa garam. Hambar. Apa ... gak usah ikut aja kali, ya?"
"Tadi di telepon udah janji. Udah, jangan murung gitu. Kalau Mas Calvin kangen, Mas Calvin kabarin aja terus. Oke?" Ucapan Naura sedikit menarik perhatian Calvin.
"Aku emang bakal kangen banget. Tapi, emangnya kamu gak bakal kangen juga? Sedih banget. Sepihak, nih,"
"A-aku ... juga bakal kangen." Naura spontan menundukkan wajahnya selepas mengucapkan kalimat itu.
Entahlah. Rasanya aneh saja. Naura belum pernah mengungkapkan perasaannya dengan begitu gamblang pada lawan jenis. Dan hari ini, Calvin adalah orang pertama.
"Aku bakal kangen bangettt!" Balas Calvin, masih setia memeluk Naura.
"U-udah, jangan peluk lagi! Nanti kalau ada yang lihat gimana?" Naura berusaha melepaskan diri dari pelukan Calvin, mengingat keduanya telah berada cukup lama berpelukan di dapur.
Sejujurnya, Naura merasa waswas sedari keduanya terus bermesraan di dapur. Takut jika ada seseorang yang datang dan melihat keromantisan mereka dan berakhir diledek.
Bukannya melepaskan Naura seperti yang diminta, Calvin malah semakin menjadi-jadi untuk terus menempel pada Naura.
"Kapan lagi kita kayak gini,"
"Bukannya tiap hari juga kayak gini?" Gerutu Naura. Terkadang dirinya suka bingung dengan Calvin yang bilang begini, padahal kenyataannya lain lagi.
"Mau jadi egois, penginnya setiap saat."
"Mas Calvin!" Peringat Naura, tak lantas membuat Calvin melepaskan pelukannya.
"Hm."
"Lepas dulu!"
"Ck, ya udah. Nanti lanjut lagi, tapi."
^^^To be continued...^^^
...Calvin...
..."Bisa gak, ya, liburan tanpa istri?"...
...Naura...
..."Jadi gini ya, rasanya dicintai?"...