Quiet Wife

Quiet Wife
15. Jalan-jalan Berdua



Ponsel Calvin yang ditaruh di atas tempat tidur berdering. Calvin yang pada saat bersamaan baru saja memasuki kamar, lantas meraih ponsel tersebut.


"Halo, Mah?" Tanpa berniat menunggu lebih lama, Calvin langsung mengangkat panggilan telepon tersebut yang berasal dari Fani, mamanya.


"Gimana di sana? Aman-aman aja 'kan, Vin? Naura mana?" Suara bawel milik Fani yang cukup menggelegar, membuat Calvin spontan sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga.


"Aman, Mah. Tenang aja. Naura lagi nungguin di depan rumah tuh, udah ngajakin jalan-jalan."


"Oh, ya? Ya udah, nanti malem Mama telepon lagi, ya. Bilangin ke Naura, Mama kangen,"


"Idih, baru juga semalem, udah kangen lagi aja."


"Haduuh! Pokoknya sampein, gak mau tahu! Naura itu udah Mama anggap sebagai putri kandung Mama sendiri. Mama tuh sayang banget sama Naura. Awas, ya, Vin, kalau kamu sakitin Naura! Mama tebas leher kamu!"


"Astagfirullah, Mah! Ngeri banget main tebas-tebas? Tanpa Mama peringatin pun, Naura gak akan aku sakitin."


"Ya udah, deh, iya! Percaya! Ya udah, Mama tutup dulu teleponnya. Dah!"


"Hmm. Iya."


Seperti kata Fani, panggilan pun langsung terputus dengan beliau sendiri yang mematikannya. Dirasa selesai, barulah Calvin melenggang meninggalkan kamar, seraya memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.


Sesampainya di halaman rumah, Calvin sudah disuguhi pemandangan tak biasa, di mana raut wajah Naura tampak begitu cemberut dengan kedua tangan yang dilipat di depan dada.


"Kok, lama?"


"Mama telepon barusan, jadinya aku angkat dulu,"


Raut wajah cemberut Naura langsung berangsur menghilang saat mendengar nama mama mertuanya disebut oleh Calvin.


"Oh, ya? Mama bilang apa?" Seringai tipis mulai kembali menghiasi wajah Calvin. Sialnya, seringai itu lagi-lagi membuat Naura bergidik ngeri.


"Cie, kepo! Mau tau aja, apa mau tau banget?" Dengan usil, Calvin mencolek hidung Naura sampai membuatnya berdesis.


"Ish, apaan, sih? Ya udah kalau gak mau ngasih tahu. Gak peduli juga!" Pungkas Naura. Saat dirinya hendak melenggang lebih dulu, sontak Calvin mencegahnya.


"Iya, iya, maaf! Gak usil lagi. Itu, katanya mama kangen sama menantunya." Terang Calvin, berusaha untuk tidak memancing emosi Naura.


Kalau dipikir-pikir, kenapa akhir-akhir ini Naura sering emosian, ya? Cepet ngambek, cepet cemberut. Hm ... ada yang aneh.


"Oh." Jawaban asal dari Naura, disambut senyum tipis oleh Calvin.


Dengan lembut penuh perhatian, Calvin meraih tangan Naura, lalu saling menautkan jari-jemari mereka. Sontak hal tersebut membuat Naura mendongak menatap Calvin.


"Ayo, katanya mau jalan-jalan! Mau ke mana dulu, nih? Mau pake mobil, atau motor-"


"Mau jalan kaki aja. Cuman keliling sekitar sini doang, kok, ngapain pake kendaraan segala." Sela Naura, masih dengan raut wajahnya yang cemberut.


"Ya udah. Istriku maunya ke mana?"


Semburat merah muda lantas menghiasi kedua pipi Naura, selepas mendengar Calvin yang memanggilnya dengan panggilan tak biasa.


Terlanjur salah tingkah, Naura menolehkan kepalanya ke samping, untuk menyembunyikan perasaannya.


Sayangnya, Calvin sudah lebih dulu menyadari tingkah Naura. Dengan sengaja, Calvin mencolek pipi Naura sambil sesekali tersenyum penuh arti. "Istriku salting, ya? Gemesnya ... Suka, ya, dipanggilnya 'istriku' sama suami ganteng?"


"A-apaan sih? A-aku gak salting! Biasa aja!" Sialnya, nada suara Naura yang terbata-bata menjelaskan semuanya.


"Oh, ya? Mana, sini lihat mukanya!"


"Gak mau! Nanti diledek!"


"Katanya tadi gak salting? Kalau gak salting gak akan diledek, serius!"


"Ck, iihh! Iyaaa, aku salting! Puas?!"


Sudah cukup! Calvin tidak kuat lagi untuk menyembunyikan rona tawa di wajahnya. Apalagi setelah mendengar pengakuan dari Naura yang masih terus menyembunyikan wajahnya.


Ya ampun! Gini, ya, rasanya pacaran setelah menikah?


"Ekhem. Jadi jalan gak, nih?" Dirasa cukup untuk hari ini, Calvin memutuskan kembali fokus ke inti.


"Ya, jadilah!" Balas Naura, masih belum mau menampakkan wajahnya di hadapan Calvin.


"Ya udah, ayo! Aku jajanin sampe puas!"


...****...


Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan hampir tengah hari sejak Calvin dan Naura berjalan-jalan sekitaran pesisir pantai. Membeli ini, membeli itu. Makan ini, dan makan itu. Terkadang, Calvin diam-diam akan memotret Naura yang sibuk dengan dunianya sendiri.


Baguslah. Seperti kata papa mertuanya tempo hari, Naura sudah lama sekali menutup diri. Bahkan, dia tidak pernah bersenang-senang selepas dan sebebas ini. Naura juga tidak pernah sekalipun terlihat tertawa lagi setelah kejadian memilukan itu.


Rasanya, Calvin ingin sekali membuat Naura jauh lebih baik lagi. Calvin ingin Naura lebih terbuka, bukan hanya pada Calvin dan keluarganya. Tetapi pada semua orang.


Seperti beberapa saat lalu ketika Naura ingin dibelikan es krim. Perempuan itu kembali tidak berucap apa-apa, dan hanya memberikan kode pada Calvin.


Mungkin, suasana saat itu tengah ramai oleh orang-orang yang berlalu lalang. Dan mungkin, Naura masih belum bisa benar-benar membuka diri pada orang-orang luar.


Helaan napas panjang mulai Calvin embuskan. Fokusnya yang semula menatap lurus pada Naura yang tampak melamun, kini beralih pada ponselnya.


Tampak beberapa foto Naura yang Calvin ambil tanpa sepengetahuannya. Namun, Naura tetap terlihat cantik dilihat dari berbagai sudut manapun.


"Nau, kamu punya IG?" Sahutan lembut Calvin, lantas menyadarkan Naura dari berbagai lamunannya.


Sempat berpikir beberapa saat, Naura pun menggeleng seraya tersenyum tipis.


"Mau aku bikinin, gak?"


"Aku mau post foto, ceritanya mau aku tag kamunya."


"Ooh. Ya udah, nih!" Naura menyerahkan ponselnya yang tidak diberikan dikunci apa pun. Dengan senang hati Calvin menerimanya dan mulai mengutak-atik ponsel Naura.


Karena terlanjur kepo, Naura menggeser tempat duduknya semakin berdekatan dengan Calvin. Fokus sepasang bola matanya tertuju pada layar ponselnya yang menampilkan tampilan daftar membuat akun IG.


Tidak perlu menunggu lama, akun IG yang dibuatkan Calvin pun selesai. Namun, Calvin belum menyerahkan ponsel tersebut ke tangan Naura. Calvin masih setia mengutak-atiknya.


"Itu ... udah beres?" Tanya Naura, sesekali melirik Calvin yang begitu tekun dengan kegiatannya.


"Udah."


"Terus, itu mau diapain lagi?" Tanya Naura lagi.


Jujur, dia tidak paham dengan teknologi jaman sekarang. Di ponselnya, Naura hanya punya aplikasi WA. IG? Baru hari ini diinstall dan didaftarkan oleh Calvin.


"Post foto." Jawab Calvin, membuat Naura refleks mengernyitkan keningnya.


"Foto siapa? Aku gak pernah foto." Tanpa mengatakan apa-apa, Calvin lalu menyerahkan ponsel Naura.


Naura yang bingung pun lantas mengalihkan perhatiannya pada layar ponselnya yang masih menyala. Dan, betapa terkejutnya saat melihat Calvin memposting sebuah foto dirinya sendiri di akun IG Naura.


"Lho, ini kan ...?"



"Gimana? Suaminya ganteng, gak? Gantenglah. Calvin!" Ujar Calvin, membuat Naura refleks tertawa.


"Ini siapa yang foto? Ada-ada aja, deh, Mas Calvin,"


"Itu foto lama. Diambil sama si Nino waktu liburan tahun kemaren,"


"Tengil banget ekspresinya, ya ampun!" Naura masih tak habis pikir. Bisa-bisanya Calvin masih menyimpan foto dirinya sendiri dengan tampang yang agak menyebalkan itu.


Ya, mungkin dilihat sekilas memang tidak ada yang salah. Tapi, coba deh, perhatikan baik-baik.


"Kok, tengil? Ganteng, Nau!" Calvin merebut ponsel Naura, seraya menelisik fotonya dalam-dalam.


Gak ada yang salah, kok! Mungkin, difoto itu Calvin kelihatan pede banget. Tapi, emangnya kenapa?


"Iya, iya. Gak ada yang salah, kok. Suami aku gantenggg bangettt!" Ujar Naura, masih dengan seulas tawa tipis di wajahnya.


"Bilang ganteng banget-nya kek gak ikhlas. Awas aja entar malem!" Ancaman dari Calvin, refleks membuat Naura menjauhkan posisi duduknya seraya menyilangkan kedua tangan di dada.


"E-emangnya mau ngapain lagi entar malem?" Tanya Naura, kedua pipinya lagi-lagi memanas dengan jantung yang berdegup tak karuan.


Lirikan tajam Calvin, diiringi dengan wajahnya yang dicondongkan tepat ke wajah Naura, membuat Naura terpojok di tempatnya. "Nas Calvin ... maunya ngapain?"


Glek!


Tak berapa lama, Calvin pun tergelak. Dengan cepat dirinya kembali ke posisi semula seraya merogoh ponselnya.


Dalam hati Naura yang terdalam, dirinya teramat malu saat ini. Entah mengapa Calvin menjadi semakin menyebalkan di mata Naura.


"Coba lihat lagi IG-nya. Barusan aku tag kamu,"


Dengan malas, Naura kembali merogoh ponselnya yang sempat ditaruh terburu-buru. Saat mencoba scrolling, tiba-tiba sepasang bola matanya melebar. Perhatiannya lalu kembali pada Calvin.


"Ini ... kapan?"



"Gak tahu. Kapan, ya?" Balas Calvin, lalu mengedipkan salah satu matanya.


Naura tidak lagi menyahut maupun membalas ucapan Calvin. Fokus kedua matanya seolah tertuju pada potret dirinya di postingan IG Calvin.


"Makasih." Ucap Naura, pelan.


Entah mengapa ucapan itu terdengar begitu menusuk di telinga Calvin. Dadanya tiba-tiba berdenyut ngilu selepas mendengar ucapan Naura. Apalagi ditambah seulas senyuman tipis yang Naura perlihatkan disela menatap potretnya.


"Ada yang komen,"


"Oh, ya?" Seolah tersadar dengan apa yang tengah Naura lamunkan, buru-buru dia membuka ikon komentar.


Seperti kata Calvin, fotonya yang baru diposting beberapa menit itu langsung mendapat beragam komentar, khususnya dari teman-teman Calvin.



Diam-diam Naura mengulum senyumannya membaca komenan tersebut. "Temen-temennya Mas Calvin unik, ya?"


"Unik dari mananya? Mereka pada bawel gitu, ngeselin lagi." Merasa tidak ada lagi jawaban dari mulut Naura, Calvin kembali melirik Naura yang masih sibuk membaca komentar-komentar yang berdatangan.


"Ck! Jangan kebanyakan lihatin hape, gak bagus!" Calvin berucap spontan, membuat Naura lagi-lagi tersadar dengan apa yang dia lakukan.


Buru-buru Naura mematikan ponselnya. "Maaf! Habisnya, yang komen pada aneh-aneh aja. Ada yang komen, katanya gak rela Mas Calvin nikah duluan. Pasti salah satu pengagumnya Mas Calvin di kampus. Iya, 'kan?"


"Mana Saya tahu? Saya 'kan ikan?"


"Ck, iihh!" Naura mendengus pelan mendengar jawaban Calvin yang asal-asalan.


"Udah, jangan ngambek. Gimana kalau keliling lagi? Makan bakso yang kuahnya pedes, enak kayaknya,"


"Ayok!" Jawaban antusias Naura, tanpa sadar membuat Calvin terkejut. Tak berangsur lama, Calvin bangkit dari posisinya menyusul Naura yang telah lebih dulu berdiri.


^^^To be continued...^^^