Power Flow

Power Flow
Penasaran



"Aku harus memikirkan cara untuk mencegah dia menggunakan teknik yang aneh itu, meski dia hanya di level 3 aku harus tetap berhati-hati," ucap Johan yang sekarang sedang melakukan meditasi untuk memulihkan kekuatannya.


Ya sejak kejadian di pertandingan itu, Ezran menjadi buah bibir diantara peserta lain dan juga para panitia dengan teknik anehnya yaitu tepukan tangannya itu.


"Junior Ezran, anda dipanggil oleh pimpinan Erick, disuruh menghadap ke ruangannya", ucap panitia yang bertugas sebagai Helper itu membawa pesan pada Ezran yang tengah duduj santai.


"Ah ,eh iya baik," balas Ezran gelagapan, dia sedikit terkejut karena sedang melamun.


"Wah ada apa ya, aku sampai dipanggil Senior Erick," gumamnya dalam hati sambil berjalan ke ruangan Senior Erick.


"Masuklah," panggil Senior Erick yang sedang dalam posisi bermeditasi.


"Apa anda memanggil saya Senior?" tanya Ezran sambil melirik ruangan sekitar.


"Yaa " timpalnya kemudian sambil bangun dari posisi meditasi.


"Aku ingin kau melakukan sesuatu terhadap ku," lanjut Senior Erick.


"apa itu,?" Tanya Ezran penasan.


"Gunakanlah teknik tepukan tangan yang tadi pagi kau gunakan itu terhadapku.! seru Senior Erick


"Hah,?" ucap Ezran yang terkejut, sekaligus penasaran, "apa senior ingin membeberkan rahasia itu kepada finalis yang lain,?" lanjutnya yang sedikit curiga.


"Hahaaa, aku ini bukan orang yang picik seperti itu nak, karena aku adalah seorang peneliti tentang ilmu-ilmu beladiri kuno jadi aku penasaran cara kerja teknikmu itu" jelas Erick sambil tertawa, dia pun mengerti kecurigan juniornya itu, dan itu adalah hal wajar.


"Baiklah kalau begitu, bersiaplah Senior", ucap Ezran sambil berjalan perlahan secara zig zag.


"Hah,apa-apaan ini, dia mampu menghilangkan hawa membunuhnya dengan cukup baik, seperti orang yang sudah berada di level silver tingkat 5 saja," Senior Erick begitu terkejut, dan dia pun mulai meningkatkan ke waspadaannya, tepat pada jarak yang kurang lebih satu meter Ezran pun menggunakan tekniknya "Plakk" sesaat Senior Erick pun mematung dalam sepersekian detik, tapi dia langsung melompat kebelakang sambil reflek melemparkan energi padat kearah Ezran yang membuatnya terpental dan menabrak dinding.


"Arrgh.." erang Ezran kesakitan akibat serangan dari seniornya.


"Maafkan aku, tak sengaja mengeluarkan serangan energi barusan", ucap Senior Erick yang merasa bersalah, karena secara reflek melakukan penyerangan.


"terimakasih Senior", balas Ezran


"Sekarang aku mengerti dan merasa yakin, ini memang bukan sama sekali termasuk teknik ilusi, ini seperti aku terkena sebuah efek kejut layaknya petir yang menyambar tepat didepan muka, yang membuatku terkesiap dan seluruh indraku berhenti berfungsi dalam beberapa detik, dan hebatnya lagi teknikmu itu juga tanpa rapalan, teknik yang sungguh mengerikan andai kau sudah mencapai minimal level silver tingkat 5 bisa-bisa kau dengan mudah mengalahkan ku meski berada di level gold 2", jelas Senior Erick yang merasa takjub.


"Dan ngomong-ngomong siapa yang mengajarimu teknik itu,?" lanjutnya.


"Yang mengajari teknik ini adalah kakek saya",jawab Ezran.


"Siapa namanya dan apa masih hidup.?" tanya Senior Erick dengan semangat.


"namanya kakek Sugenar, sayangnya sudah meninggal 12 tahun yang lalu karena sakit," jelas Ezran yang terlihat murung, dia berpikir andai kakeknya masih hidup waktu terjadi bencana Bloods Sky, mungkin keluarganya masih utuh, tapi sekarang hanya tinggal neneknya saja yang tersisa, dan merawat mereka berdua hingga saat ini.


Karena kedua orang tuanya meninggal saat kejadian Bloods Sky melanda negeri, dan pada waktu itu ayahnya tengah bekerja disebuah proyek di jakarta, dia meninggal karena melindungi temannya dari monster yang tiba-tiba muncul entah dari mana, meski ayahnya dapat mengalahkan satu sampai dua monster tapi dia tetap gugur, karena meski dia sedikit menguasai teknik beladiri tapi itu hanya teknik yang paling dasar saja yang pernah dipelajari dari Ayahnya.


Pada saat disuruh belajar oleh ayahnya (kakeknya Ezran) dia sangat malas dan selalu menghindar dengan alasan sudah ketinggalan jaman dan ibunya pun meninggal karena penyakit asmanya kambuh, ketika mendengar kabar kematian suaminya.


Dia masih ingat ketika membawah ibunya kesana kemari untuk dirujuk kerumah sakit, tapi kamar pasien selalu penuh akibat serangan besar-besaran monster pada waktu itu, yang menimbulkan banyak korban, hingga akhirnya ibu Ezran dan Hera pun menghembuskan nafas terakhir, ketika akan dirujuk ke Rumah sakit yang ke tiga kalinya, pada waktu itu keduanya masih berumur tujuh tahun.


"Eh maafkan aku," ucap Senior Erick yang sedikit tidak enak hati melihat perubahan wajah murung juniornya itu.


"Tidak apa-apa senior," timpal Ezran


"karena sudah malam jadi beristirahatlah, biar besok kau kembali fitt di pertandingan final nanti", ucap Senior Erick


"terimakasih Senior dan selamat malam " ucap Ezran lantas undur diri dari ruangan tersebut.


"Tidak, harusnya aku yang berterimakasih kepadamu, karena memperbolehkan ku melihat teknik rahasiamu," jawab Senior Erick.


Ezran pun undur diri dari ruangan Senior Erick dan menuju kamarnya.