
"Drt Drt Drt"
Sosok monster muncul dari kepulan asap dan terlihat dia tidak terluka sama sekali, serangan gabungan dari keempat orang seolah hanya sia-sia belaka, bahkan sekarang energinya telah bertambah kuat seakan dia menyerap energi dari serangan yang mengarah ke padanya.
"Huh... Tidak mungkin, tidak ada efek sama sekali," seru Senior Dian terkejut.
"Ya tapi setidaknya kita berhasil mengganggu dan menggagalkan pemulihan kekuatannya sampai 100%," ucap Tetua Juna yang masih berpikir positif.
"Bersiaplah kalian,sekarang akan lebih merepotkan," ucap Komandan Roby memberi peringatan pada semuanya.
"Baik komandan," jawab singkat Senior Winda
"Boom"
Tiba-tiba monster itu langsung menyerang dengan meledakkan energi kearah mereka berempat, dan membuat keempat nya berpencar menghindar.
"bukh"
"Bukh"
"Bukh"
"Bukh"
Meski berhasil menghindari ledakan energi yang di lancarkan Sang Monster, tapi dengan kecepatnya dia langsung memukul satu-satu persatu manusia yang dia lawan itu.
"Arrgh cepat sekali" gumam Senior Dian.
"Hosh hos... Sial kecepatannya meningkat dengan pesat," ucap Komandan Roby
"Bahkan mataku pun tak bisa mengikuti pergerakannya," timpal Tetua Juna.
"Arrgh... Apa-apaan itu tadi", gumam Senior Winda yang juga kaget, bahkan pukulan tersebut membuat keempatnya terpental cukup jauh.
"Jie jie jie.... Mungkin kekuatan ku tak semaksimal tadi ketika melawan tiga bocah brengsek itu, tapi dalam hal kecepatan meningkat lebih cepat dari sebelumnya dan hampir mendekati Demon level S puncak," ungkap Sang Monster dengan bangga.
"Aku harus meningkatkan energi semaksimal mungkin untuk kesekian kalinya," gumam Tetua Juna sambil meminum ramuan penyembuh yang dia bawa, itu juga yang dilakukan oleh ketiga rekannya.
"Komandan lindungi saya, ketika akan meningkatkan energi maksimal dalam tubuhku," seru Tetua Juna pada Komandan Roby.
"Baikla serahkan pada kami," timpal Komandan Roby menyetujui permintaan dari Tetua cabang Kujang Sakti itu.
"Haaaaaaaaaaa..." teriak Tetua Juna mencoba mengeluarkan energi dalam tubuhnya secara maksimal mungkin.
"Whusssh"
Monster itu mencoba menyerang Tetua Juna, tapi dengan cepat Senior Winda mengaktifkan jurus andalannya yaitu *serat jiwa 3 lapis* lalu muncullah tameng emas tiga lapis yang melindungi area disekitar Tetua Juna.
"Bruakh"
"Praank"
"Aarrgh.. Tidak mungkin pertahanan terbaik yang kupunya, bisa hancur hanya dalam sekali pukul," ucap Senior Winda terkejut.
"POWER ON : CEMETI NISKALA PEMAKAN GUNTUR," teriak Senior Dian mencoba memukul mundur Sang Monster yang menyerang Senior Winda.
"Chtarr"
"Duarr"
Serangan itu berhasil membuat sang monster menghindar menjauh dari Senior Winda.
"Whussh"
"Duarr"
Sekarang giliran komandan Roby yang melakukan pukulan pada musuhnya, tapi masih bisa diblok oleh sang monster hanya dengan satu tangan dan melakukan pukulan balasan.
"Bukk"
Kali ini pukulan Sang Monster berhasil ditahan oleh Komandan Roby menggunakan tameng energinya, tapi meski begitu tetap membuatnya terdorong kebelakang beberapa meter.
"Kalau begini aku juga sepertinya harus meningkatkan kekuatan ku", gumam Komandan Roby.
"Drt Drt Drt"
Terlihat tetua Juna sudah berhasil meningkatkan kekuatan energi dengan tekniknya.
"Syiing"
"Slash"
Secara tiba-tiba Tetua Juna berhasil membuat luka ditangan kanan Sang Monster menggunakan golok andalannya.
"Aargh... Cepat juga kau manusia, ternyata kekuatanmu pun meningkat pesat ya, pantas saja dua saudara ku berhasil di kalahkan olehmu, padahal mereka hampir selangkah lagi menembus Level yang sama dengan ku",ucap Sang Monster.
"Arrrghhh" teriak Komandan Roby mencoba meningkatkan kekuatan
"Drt Drt Drt"
"Meski tidak seperti Tetua Juna yang bisa meningkatkan seluruh energi dibadan nya, tapi aku bisa meningkatkan kekuatan di kedua tangan dan kaki kiriku, tapi dalam hal waktu energiku lebih bisa bertahan lama dari pada energi Tetua Juna" gumam Komandan Roby dalam hatinya.
"Whoossh"
"Bukkh"
Monster itu pun terkena pukulan akibat sedikit lengah karena terlalu memperhatikan Tetua Juna.
"Grrrr.. sialan ternyata masih ada yang bisa meningkatkan energi selain satu orang itu," umpat kesal sang monster sambil mengusap darah dimulutnya.
"Hah benar-benar beda level, mereka berdua bisa dengan mudah menembus puncak gold dalam keadaan tertentu",ungkap Senior Dian melihat perubahan kedua seniornya.
"Ya tapi kita juga harus memaksimalkan kekuatan yang kita punya untuk membant," ucap Senior Winda.
"Hmm.. itu pasti" timpal Senior Dian
"POWER ON : DOUBLE ATTACK WARINGIN SUNGSANG," gumam Senior Winda mulai meningkatkan serangannya.
"Meski aku bakal pingsan lagi setelah menggunakan jurus ini, tapi tidak ada pilihan lain.." gumam Senior Winda dalam hati.
"POWER ON : ENCHANCEMENT BRAJANEKA PEMUSNAH," kata Komandan Roby yang juga menyiapkan serangan terkuat ditangan kanan nya.
"POWER ON : KIDUNG GOLOK KEMBAR PEMBANTAI IBLIS," teriak Tetua Juna mulai mengeluarkan jurus pamungkasnya.
"Oke kita harus mengalahkannya dalam 10 menit, dan aku akan mengeluarkan pusaka BIRDCAGE untuk mengurangi gerakannya, dan Winda tugasmu adalah menyerangnya untuk menggiring dia kemari, dan kami bertiga akan menghabisinya dengan serangan terkuat kami," ucap Komandan Roby menjelaskan.
"Baik komandan," balas Senior Winda
"Baik semua berpencar, tapi jangan terlalu jauh," lanjut Komandan Roby.
"Hai monster jelek," teriak Senior Winda
"Whoos"
"Syuut"
"Boom"
Tanpa banyak bicara Senior Winda langsung menyerang dan ledakan pun terjadi, tapi monster itu berhasil memblok serangan tersebut, dan Senior Winda pun berlari menjauh yang membuatnya semakin marah dan mengejar.
"Sialan para bapak-bapak itu menjadikan ku sebagai umpan, mentang-mentang aku tipe petarung jarak jauh," gerutu Senior Winda sambil berlari dengan cepat.
"Sial cepat sekali pergerakan Monster itu haaaaa," seru Senior Winda melakukan serangan kembali.
"Syuut"
"Boom"
Tapi tetap masih bisa ditahan dengan mudah oleh sang monster.
"Hosh hosh hosh.. Sepertinya energiku mulai habis," gumam Senior Winda sambil kembali berlari.
"Hai gadis kecil kurang ajar kau mempermainkan ku," teriak marah Sang Monster.
"Whoossh"
"Bruakh"
"arrrgh", erang Senior Winda yang terkena tendangan di punggungnya, dan membuat dia terpental cukup jauh, untungnya berhasil di tangkap oleh Tetua Juna
"Ctharr"
"Duarr"
kini giliran Senior Dian yang menyerang.
"Sekarang komandan" teriak Senior Winda
"sraat"
"sraaat"
"Arrgh..apa-apaan ini," kaget Sang Monster sambil menggeliat mencoba melepaskan dari terlilit sesuatu yang tak terduga.
"Percuma itu tak akan semudah itu-," kata Komandan Roby terpotong.
"Aaarrrghhhht"
"Duarr"
Dengan mengeluarkan seluruh kekuatannya, monster itu pun berhasil melepaskan diri dari jeratan birdcage milik Komandan Roby.
"Apa, kenapa bisa, dia lepas dengan mudah komandan", tanya heran Senior Dian.
"Hahhaa... Ternyata memang tidak cukup untuk menangkap monster dengan level S," tawa komandan Roby tanpa dosa, yang membuat Senior Winda agak sebal.
"Hey komandan, jadi itu memang tidak bisa menahannya ya?" tanya Senior Winda.
"Ya memang begitu, tapi sepertinya dia kehabisan energi lumayan banyak sewaktu melepaskan diri dari birdcage barusan," tawa Komandan Roby.
"Sial dasar bapak-bapak gak ada ahlak," gerutu Senior Winda dalam hatinya karena jengkel.
"Istirahatlah dulu," kata tetua Juna ke Senior Winda dan langsung memasang array pelindung disekitarnya.
"Grrrr.. kurang ajar kalian, berani mempermainkan raja ini," teriak Sang Monster penuh amarah dan langsung menerjang.
"Chatrr"
"Whuss"
"Slash"
Pertarunganpun berlanjut, sekarang 3 lawan 1 membuat monster itu cukup kewalahan, karena kehabisan energi sehabis melepaskan diri dari Birdcage.
"Trang Trang"
"Bukh"
"Haaa.. POWER ON : CEMETI NISKALA PEMAKAN GUNTUR," teriak Senior Dian kembali melakukan serangan dengan cambuk andalan.
"Chtarr"
"Bhusss"
"Whooss"
Kemudian disusul dengan serangan komandan Roby, monster itu pun melawan dan berhasil menahan serangan dari Senior Dian dengan susah payah, tapi dia langsung terkena serangan dari komandan Roby karena jarak serangannya cuma sepersekian detik.
"Ini Waktunya tetua juna", teriak Komandan Roby
Ketika Sang Monster terpental di udara, akibat serangan gabungan yang dilakukan oleh Senior Dian dan komandan Roby, Tetua Juna pun melakukan serangan pamungkas.
"Slaash"
"Boom"
"Arrrgh"
"Terrus serang" teriak Tetua Juna.
"Pisau guntur" teriak Senior Dian
"Brajaneka Punch"
"Boom"
"Boom"
Ledakan-ledakan yang saling susul-menyusul tercipta akibat serangan kombinasi dari ketiga orang tersebut, terlihat api membara dan petir merah diserta angin yang dahsyat sambil terus mendorong sang monster dan akhirnya.
"Khabooom"
Ledakan dahsyat pun terjadi, membuat semua orang yang ada di depan benteng array khawatir karena efek anginnya pun sampai kesana.
"aku harus kesana" ucap Ruby khawatir, yang sekarang sudahmulai sadar.
"Tidak biar kami saja, nona masih dalam keadaan cedera," jawab para prajurit.
Mereka pun langsung mengendarai mobil taktis diiringi meriam energi,sekitar 30 menit lebih mereka pun kembali dengan membawa keempat orang tersebut, terlihat 2 diantaranya sudah pingsan sementara 2 lain nya masih sadar meski dengan begitu banyak luka disekujur tubuh mereka.
"cepat gunakan array terkuat dengan 9 lapis, dan setiap lapis pasang jebakan bom ranjau energi", perintah orang itu yang tak lain adalah komandan Roby.