
"Grrrrrr.. Kurang ajar kau, akan ku beri kau rasa sakit yang melebihi dari kematian, sehingga kau akan memohon untuk segera dibunuh saja!" teriak Sang Monster Gorbon dengan amarah yang memuncak.
"Hosh hosh hosh... Sial energiku mulai menurun secara drastis, tadinya aku mengincar jantung si monster ular tersebut, tapi itu cukup sulit karena tameng energi di jantungnya sangat berlapis, hanya area sekitar ketiaknya saja yang tidak dilindungi dengan tameng energi," gumam Bang Drio yang mulai kelelahan tapi dia tetap fokus.
"Heh.. Dasar bodoh dia hampir saja mati oleh Manusia itu," ucap Bhuto Sang Monster yang tinggi besar dan berwarna hijau.
"Xixxixxi.. Dia terlalu percaya diri, padahal kemampuannya paling rendah diantara kita dan juga sepertinya manusia itu mempunyai teknik untuk meningkatkan kekuatannya dalam jangka waktu tertentu," timpal Sang Monster Dark Angelo yang mengamati kekuatan milik Bang Drio dengan mengaktifkan mata mata merahnya.
Sementara keduanya pun mulai bertarung lagi, terlihat Gorbon begitu beringas menyerang Bang Drio tapi meski kewalahan menakis pukulan-pukulan yang dilancarkan musuhnya, dia tetap tenang dan mencoba menganalisis serangan guna mencari celah diantara gerakan lawannya.
"Brugh"
"Boom"
Kedua pukulan pun saling bertemu mengakibatkan ledakan energi yang cukup besar dan mereka pun terdorong beberapa langkah kebelakang tapi dengan cepat Bang Drio melakukan serangan kembali ketika lawannya masih lengah akibat terhalang oleh asap bekas ledakan tersebut.
"POWER ON BAZOOKA CARSTENSZ," teriak Bang Drio sambil mengarahkan lengan kirinya kedepan, lalu melesatlah energi berbentuk piramid yang sebelumnya berada dilengan kiri yang dipakai sebagai senjata itu kearah Gorbon.
"Brash"
"Boom"
"Arrghh" teriak Gorbon dengan penuh kesakitan.
Serangan itu pun berhasil mengenai sebagian perut Gorbon dan menghancurnya terlihat darah mengalir deras diperutnya yang terkoyak itu tapi meski begitu dia masih belum tumbang juga.
"Hebat sekali Master padepokan kita, dia berhasil mengalahkan Monster level elit," kata pemburu dari anggota padepokan Cendrawasih itu dengan bangga.
"Yapi masih banyak monster yang lebih kuat dari lawan yang sekarang sedang dihadapi oleh Master Bang Drio," ucap temannya yang begitu cemas melihat situasi.
"Bagaimana dengan bantuan dari padepokan lainnya?" tanya Tetua Josep pada orang yang bertugas dibagian informasi.
"Katanya mereka akan tiba beberapa jam lagi," jawab sang petugas yang bagian informasi itu.
"Dari padepokan mana saja itu," tanya Senior Roby penasaran.
"Itu dari padepokan Bajing Palawan dan padepokan Tarsius, sepertinya padepokan lainnya kira kira akan sampai 4 jam lagi, itu pun bila tidak ada halangan di jalan yang menuju kemari," Lanjut Sang petugas memberi penjelasan.
"Haaaaa.!"Teriak Sang Monster Gorbon lalu secara mengejutkan tangan yang terpotong, dan perutnya yang terkoyak oleh serangan sebelumnya mulai kembali tumbuh.
"Grrr.. Sial kau sampai membuat ku terlihat lemah dimata para Demon elit lainnya, akan ku pastikan kau mati dengan sangat mengenaskan," ucap geram Gorbon.
"SNAKE NO OROCHI," teriak Gorbon dan dia mulai berubah bentuk menjadi ular hitam berkepala tujuh, ini adalah bentuk terkuat dari diri Sang Monster Gorbon.
"Jhahaa.. Sepertinya dia benar-benar terdesak sampai-sampai menggunakan wujud terkuatnya," ucap Sang Monster Blackie sambil tertawa.
"Sungguh menyeramkan apakah ini wujud level S yang sesungguhnya," gumam Tetua Elijah merasakan aura yang dipancarkan oleh Monster ular tersebut.
"Kalian bersiaplah, kita akan membantu Pimpinan karena sepertinya dia mulai kehabisan energi, dan untuk kalian, Johan serta Rea juga Tolehu, bawa sebagian pemburu yang masih dibawah level Silver bersama sebagian prajurit untuk mengevakuasi warga ke daerah terdekat dan kalau bisa sampai di pulau dewata," ucap Tetua Mario memberi perintah ke Johan,Rea, dan juga Tolehu.
"Tapi Tetua kami masih ingin tetap disini untuk bertarung bersama kalian sampai titik darah penghabisan," jawab Johan berapi-api.
"Tidak, ini adalah perintah kita harus menyelamatkan nyawa penduduk sebanyak mungkin,karena sepertinya peluang kita untuk bertahan sangat tipis," ucap tegas tetua Mario.
"Johan percayalah, serahkan yang disini kepada kami, dan kami akan mempercayakan keselamatan nyawa penduduk di pundakmu, jadi lakukanlah tugasmu dengan baik," ucap Tetua Elijah meyakinkan Johan.
"Whusss"
"Bruagh"
Sang Monster Gorbon mulai menyerang dengan menyemburkan energi ke arah Sang pimpinan padepokan Cendrawasih itu, terlihat tempat berpijak sebelumnya meleleh karena semburan tersebut, tapi dia berhasil menghindar dengan cara melompat kesamping, namun dengan cepat Gorbon mengibaskan ekornya dan langsung telak menghantam tubuh Bang Drio membuatnya terhempas ketanah dengan sangat keras.
"Duar"
"Arrgh" erang Bang Drio yang sekarang tergeletak di tanah yang sudah retak akibat hantaman keras dengan tubuhnya, dia mulai berusaha berdiri lagi dengan susah payah.
"Uugh" Bang Drio pun memuntahkan darah segar dari mulutnya, sesaat dia berusaha untuk berdiri kini tubuhnya bergetar hebat menahan rasa sakit yang luar biasa disekujur tubuhnya.
"Whuss"
Ekor Monster Gorbon itu kembali menyerang Bang Drio
"POWER ON : PERISAI WURAMON ASMAT," teriak seseorang melompat ke arah Bang Drio untuk melindunginya, yang tak lain adalah Tetua Josep.
"Bruagh"
Ekor Sang Monster Gorbon pun terpental kembali, karena tidak mampu menembus perisai yang dibuat oleh Tetua Josep itu, Gorbon pun sempat terkejut karena baru kali ini ada perisai yang mampu bertahan dari ekornya, selain jendral elf yang menggunakan perisai kayu Adam dan para pimpinan Ras Demon lainnya.
"Sial perisai terkuat di bumi papua saja hampir retak hanya dengan sekali pukul,".gumam Tetua Josep yang cukup terkejut.
"Sepertinya aku menginginkan tameng itu," Ucap Sang Monster Blackie, yang tertarik melihat alat pertahanan yang digunakan Tetua Josep.
Xixxixi, senior tertarik karena tameng itu mampu menahan hantaman ekor dari si Gorbon ketika dalam bentuk orochinya itu kan," timpal Bhuto yang tau maksud dari Sang Monster Blackie.
"Hohoho.. Tau saja kau, karena kita pun akan cukup kerepotan ketika si Gorbon dalam mode orochi, karena ekornya akan sama keras seperti bangsa Naga kuno, tapi tameng itu mampu menahannya meski baru satu kali pukulan sih," jawab Sang Monster Blackie.
"Hai Valderou, pertunjukan sudah berakhir, suruh semua Monster mulai menyerang para manusia itu, dan cepat cari inti bumi yang berada di pulau ini," perintah Sang pimpinan Monster yaitu Zou King kepada jendralnya.
"Baik tuan akan segera saya lakukan," jawab Sang Jendral Monster Valderou, dia pun segera mengeluarkan suara lengkingan yang begitu keras, membuat Monster yang tadinya hanya melihat pertarungan Bang Drio dan Gorbon, kini mulai menyerbu ke arah pasukan pemburu dan para prajurit.
"jangan gentar, pertahankan tanah air kita sampai titik darah penghabisan, dan keluarkan semua kemampuan kalian," teriak Komandan Viktor(Gold level 3) sebagai pimpinan komando untuk daerah Nusa tenggara timur ini mencoba menyemangati para bawahannya.
"Aye aye komandan, tanah air harga mati," balas semua prajurit dengan penuh semangat juang.
"Baiklah Johan, Rea dan kau tolehu, cepatlah pergi untuk evakuasi warga bersama para pemburu pemula, dan kau Johan saya tunjuk sebagai pemimpin rombongan," perintah Tetua Elijah kepada mereka bertiga.
"Baik tetua, kami akan melakukan dengan sebaik mungkin," Jawab Rea meski merasa berat untuk meninggalkan medan pertempuran, mereka pun mulai pergi ketika kekacauan mulai berlangsung.
"Hei lindungi dan beri jalan buat para anak-anak, dan juga warga," teriak tetua Elijah kepada para pemburu senior.
Sementara ditempat Bang Drio dan Tetua Josep berada terlihat Sang Monster Gorbon mulai menyemburkan kembali bisa beracun melalui salah satu mulutnya.
"Bhusss"
"whusss"
"POWER ON : HEMPASAN CENDRAWASIH SUPERBA," teriak tetua Elijah, lalu muncullah sayap dipunggungnya, sejurus kemudian dia mengepakkan sayapnya tersebut, dan berhasil menghempaskan kembali serangan dari Sang Monster Gorbon, bisa beracun tersebut malah terkena anak buahnya, yang membuat monster yang terkena itu langsung melebur tanpa sisa.
Tetua Elijah pun sekarang berdiri disamping kedua rekannya, untuk saling bahu membahu mengalahkan musuh yang ada dihadapan mereka.