
"Hosh hosh hosh.. sepertinya kita berhasil mengalahkan monster pemakai pentungan itu.." ucap Ruby yang terengah-engah karena efek melancarkan serangan energi barusan.
"Kerjasama yang bagus.." timpal Ezran yang terduduk sambil mengangkat jempol.
"Iya sepertinya begi -" ucapan Hera terpotong karena dia kaget melihat sosok yang muncul dari sisa kepulan asap yang sudah mulai menipis.
"Huh.. mustahil, bagaimana ini bisa terjadi," gumam Ezran yang juga mulai kelelahan,terlihat sosok monster yang terluka fatal dan masih memegang senjata gadanya tinggal sepotong, dengan raut wajah yang semakin menyeramkan, sorot matanya dipenuhi dengan kebencian karena merasa di permalukan oleh anak-anak kecil dari ras yang menurut mereka itu lemah.
"Grrrrr... kurang ajar kalian bocah-bocah manusia, akan ku cabik-cabik tubuh kalian tanpa ampun, dan langsung memakannya sampai tulang-tulang kalian tanpa sisa.." teriak marah Sang Monster.
"Wahai Demon lord, berikan aku kekuatan untuk membasmi para makhluk pengganggu ini," teriaknya sambil melapalkan sebuah mantra, teelihat tangan sebelah kirinya memegang erat sebuah batu giok hitam.
Lalu terjadilah fenomena yang sangat mengerikan, tiba-tiba langit menimbulkan suara gemuruh di sertai kilat hitam dan langsung sebuah petir hitam yang datang dari arah pilar melesat menyambar Sang Monster.
"Jeduaarrrr"
"Boom"
Mereka bertiga pun sedikit terdorong, karena efek angin kencan dari hasil ledakan tersebut, dan muncullah sosok dengan tekanan yang sangat menakutkan.
"Wow apa-apaan monster itu, dia bertambah besar dan kuat, lalu tekanan macam apa ini aku belum pernah merasakan hal seperti ini, sungguh sangat mengerikan," ucap Ruby yang juga mulai merinding karena aura yang di keluarkan oleh lawannya.
"Ya sepertinya, kita membuatnya marah dan tanpa sengaja membuat dia berevolusi9" jawab Hera yang juga merasakan tekanan yang berbeda dari sebelumnya.
"Hah... Sial sungguh merepotkan," gumam Ezran yang mulai bangkit dari tempat duduknya.
Semua orang yang ada di medan pertempuran pun merasakan tekanan yang sangat kuat setelah monster itu berhasil berevolusi.
"Hohoho... sepertinya si brengsek itu berhasil berEvolusi menjadi Demon level S sungguh beruntung, tamatlah manusia yang sedang berhadapannya, karena sepertinya hanya kau dan orang yang berada disana saja yang levelnya paling tinggi di antara manusia yang ada disini," kata Sang Monster level A 4 yang tengah di hadapi oleh komandan Roby.
"Sial kenapa ini bisa terjadi, ini akan semakin sulit, tapi aku harus membereskan yang disini terlebih dahulu," gumam komandan Roby dalam hati, yang merasa khawatir dengan perubahan yang tidak terduga di medan pertempuran.
"Untuk prajurit dan para pemburu yang sudah berhasil mengalahkan musuh, segera merapat ke area sebelah tenggara, bantu tim yang di sana untuk membantu mengalahkan monster yang baru berevolusi itu, sepertinya dialah yang paling kuat," ucap komandan Roby memberi perintah kepada seluruh pasukan melalui alat komunikasi khusus.
"Akan ku bereskan kau kali ini," ucap komandan Roby dengan memasang kuda-kuda sempurna.
"Hohoho... ku akui kau memang sangat hebat, tapi kau tidak akan bisa mengalahkan ku hanya dengan kemampuan yang kau miliki sekarang," jawab Sang Monster meremehkan ayahnya Ruby itu.
"POWER ON : SYRUNX BAJRADENTA," teriak Komandan Roby seketika langsung menghilang, yang membuat monster itu kelihatan bingung.
"Apa, cepat sekali ger -.." ucapan Sang Monster terpotong karena langsung terkena pukulan yang tak terlihat dari arah mana datangnya.
"Bakh Bukh Bakh Bukh"
"hyiaaaatt"
"Duarr"
"Arrrgh" apa-apaan serangnya itu, dimana dia berada? gerakannya sangat cepat sampai tak bisa dideteksi oleh mata ku" Ucap Sang Monster yang mulai babak belur.
"Siaaaal.... Haaaaaaaaaaaaaa," teriak Sang Monster mulai mengerahkan kekuatannya, dia pun mulai bisa mengimbangi kecepatan komandan Roby.
Sekilas mereka berdua seperti menghilang, karena saking cepat gerakan kedua makhluk beda rupa ini, yang terlihat hanya percikan percikan energi ketika mereka saling beradu.
"Hyiaaaaatttt... POWER ON : BRAJA PUNCH PEMUSNAH," teriak Komandan Roby kembali mengaliri energi dilengan kanan guna meningkatkan serangannya kembali.
Dia lantas menerjang kembali ketika monster itu mendaratkan pukulan, dan berhasil di blok oleh lengan kirinya, lalu lengan kanannya mulai melakukan pukulan balasan yang mematikan.
"Bruakh"
"Brashh"
Pukulan komandan Roby pun tepat mengenai dada dan berhasil menembus sampai jantung musuhnya, membuat Sang Monster mati dalam satu serangan.
"Hosh hosh.. Tidak ku sangka akan mati di tangan manusia sepertimu, bahkan setelah aku berhasil memasuki level Demon A menengah, Sepertinya kekuatan kalian para manusia mulai berkembang pesat, tapi tidak lama lagi kalian akan tetap punah setelah kebangkitan yang mulia raja kami," ucap Sang Monster yang mulai hancur secara perlahan.
"Kami manusia di seluruh dunia akan terus berkembang, guna menghalau kalian para monster yang seenak nya saja entah dari mana tiba-tiba mengacau di dunia kami," jawab komandan Roby lalu memberi pukulan terakhirnya.
"Syuuttt"
Tiba-tiba sebuah inti monster yang dia kalahkan, terbang ke arah monster level S yang membuat Komandan Roby terkejut.
"Apa sialan, ini buruk inti monsternya telah diambil oleh rekannya sendiri, aku harus segera ketempat monster level S itu" ucap komandan Roby merasa khawatir, lalu bergegas menuju tempat Ruby dan sikembar.