Power Flow

Power Flow
Semi Final



Semi final pertama mulai dilanjutkan dan mempertemukan Johan vs Danu.


"Kalian sudah siap," ucap Senior Komang.


"Yaa," jawab mereka dengan serempak.


"1 .2 .3 . mulaiii" teriak senior komang.


Keduanya pun mulai memasang kuda-kuda.


"aku harus berhati-hati dengan jurus dia yang sebelumnya, saat mengalahkan Haris," batin Johan.


"Huh sial kekuatan ku bahkan belum kembali mencapai 70%, setelah pertarungan tadi sekarang malah harus bertemu lawan yang kuat", gumam Danu.


"POWER ON : ELEPHANT PUNCH," teriak Danu memulai serangan.


"POWER ON : VARANUS CAMBUK API," johan pun mulai mengaliri energi di tangannya.


Merekapun mulai saling serang, dan tiap pukulan mereka beradu terlihat percikan percikan cahaya dan suara yang cukup keras.


"Wow seperti pertarungan dua mahluk purba ya", seru Senior Mitha.


"Emang gajah mahluk purba ya?" tanya senior winda dengan polos.


"Heh, kan gajah itu cucunya dari Mammoth",jelas Senior Mitha dengan tidak kalah polos.


"Ouh, masa,?" sambung Senior Winda


"Cih menyebalkan," terlihat wajah senior Mitha yang sedikit kesal.


Sementara diarena pertarungan semakin seru, meski Danu hampir kewalahan melawan Johan, tapi sejauh ini dia masih bisa mengimbanginya.


"Hosh hosh, sial ini sangat sulit dari pada saat melawan Haris sebelumnya, tapi bila aku menggunakan teknik *Gajah palapa lagi, bisa-bisa aku terbaring dalam beberapa minggu dan kemungkinan terburuk energiku pun akan lumpuh," batin Danu.


"Hosh hosh, menguras energi terlalu banyak juga ya untuk melawannya, bahkan dia hampir mengimbangi ku, meski di Bronze level 4," gumam Johan.


"Akanku kerahkan semua energiku pada teknik ini, POWER ON : LILITAN GAJAH MEREMUKAN GUNUNG," teriak Danu mengeluarkan tekniknya, dan seketika dia berhasil mengunci pergerkan Johan.


"Arrgh.. Sial kuat juga kunciannya," gumam Johan dalam hatinya.


"Arghhht.. POWER ON : PENGUTAN TUBUH KOMODO," teriak Johan mulai bisa mengendurkan kuncian Danu, lalu dengan membalikan badannya, dia mulai menyerang dengan teknik *cakaran komodonya, Danu pun melepaskan kuncian lalu sedikit mundur kebelakang beberapa langkah, tapi Johan tak memberi jeda sedikit pun dia langsung menyerang lagi tepat di perut Danu dengan energi yang besar.


"Arrghh", erang Danu yang kesakitan, dia pun terpental keluar dan sedikit mengeluarkan darah dari mulutnya.


"Hah akhirnya selesai juga, gila energi ku hampir terkuras habis," keluh Johan.


"Anak yang sungguh menjanjikan dan punya fisik yang mumpuni," ungkap Sang pejabat melihat penampilan Johan.


Para panitia pun mulai memperbaiki kembali arena bertarung sebelum dimulai kembali pertandingan semifinal kedua.


"Baik adikku yang cantik dan manis," balas Ezran yang mencoba mengusap kepala Hera, tapi tangannya langsung ditepis oleh adiknya itu.


"Hentikan, memalukan saja aku ini bukan anak kecil lagi, dan juga kita hanya beda beberapa detik saja," protes Hera yang tidak terima diperlakukan seperti anak kecil.


"Hey nona cantik, doain abang menang yaa," seru Ezran yang tak menggubris ocehan adik kembarnya dan coba menggoda Ruby dengan cara seperti akan memeluknya.


"Niihh," ucap Ruby yang langsung mengacungkan kepalan tangannya, membuat Ezran berhenti melangkah dan langsung berlari menuju ke arena.


"Abang-abang, kepalamu peyang aku ini lebih tua 1 tahun darimu loh, dan lagi pula kau harus menang, minimal masuk final jangan mempermalukan tim kita",cerocos Ruby.


"Baik nenek", gumam Ezran yang sudah di dalam arena.


"Pletak"


"Aw aw, sakit tau," protes Ezran yang kesakitan sambil memegang kepalanya yang kena lemparan batu kecil dari Ruby, membuat semua penonton tertawa dengan adegan konyol tim tersebut.


"Huh, sungguh tim yang humoris ya",ucap Laela.


"Yaa begitulah masa begitu donk," timpal Ezran sambil tersenyum


"Tsk, sepertinya kau cukup angkuh untuk orang yang masih bronze level 3, kali ini kau pasti bakal kalah(aku harus berhati dengan teknik-teknik anehnya itu)," lanjut Laela menganggap remeh Ezran tapi dalam hatinya dia agak gentar, apalagi melihat teknik terakhir dipertandingan sebelumnya.


"Ya siapa tau sebelum dicoba kan," balas Ezran tersenyum, merekapun mulai mengeluarkan teknik masing masing.


"POWER ON : GAGAK LUMAYUNG," ucap Laela memulai serangan dengan cakar yang sudah dilapisi energi, Ezranpun mengelak serangan yang menuju kearah wajahnya, tapi dia lengah dengan tangan yang satunya lagi, dan telak mengenai dadanya membuat terdorong kebelakang beberapa langkah.


"Arrgh,sial aku lengah, ternyata serangan kombinasi ya," gumam Ezran yang kesakitan akibat serangan dari Laela, diapun terus melanjut pukulannya yang mengarah kepada Ezran.


"POWER ON : KUNYUK MEMETIK BUAH," gumam Ezran mulai mengaliri tangannya dengan energi, dan kedua pukulan mereka pun beradu, kali ini Laela yang terdesak oleh serangan Ezran, tapi saat dia seperti yakin bakal mengenai Laela, alangkah terkejutnya Ezran karena dia hanya mengenai tempat yang kosong.


"POWER ON : JALAK MANDI," Laela menghindari pukulan dengan teknik tersebut lalu mengeluarkan jurus berikutnya, "POWER ON : TYTO ALBA MENCENGKRAM NAGA," lanjut Laela meneruskan serangannya dan tepat mengenai tubuh Ezran yang membuatnya terjungkal kebelakang.


"Arrghh" serunya tertahan, lalu dia menghentakan tangannya sekuat tenaga ke lantai arena, yang membuatnya kembali berdiri. Laela pun berhenti sejenak karena cukup kelelahan tapi itulah kesalahan terbesarnya, ketika dia mulai melancarkan kembali, Ezranpun mulai memasang kuda-kuda dan secara tiba-tiba terdengar suara yang cukup keras.


"Plaakk.." Laela langsung berdiri mematung seperti tak sadarkan diri.


"POWER ON : SAPU JAGAD," gumam Ezran mengeluarkan teknik pukulannya dan langsung melancarkan pukulan pada lawan yang tengah mematung.


"Bukh"


Laela pun terpental keluar arena, dan seperti sebelumnya, Ezran hanya mengincar pundak belakang lawannya.


"Arrghht sial sial siaaall aku lengah, harusnya tak memberikannya jeda," umpat kesal Laela sambil menahan sakit.


"Hmmz,.. Lagi-lagi teknik itu sangat ampuh, membuat lawan mematung, seperti terkena ilusi saja," ucap Senior Dian.


"Yaa tapi itu sangat berbeda dengan teknik ilusi, dalam ilusi lawan masih bisa bergerak meski pergerakannya tak beraturan, tapi ini seolah-olah dia bisa menghentikan waktu untuk lawannya, yang membuat seperti berhenti bergerak secara total," jelas Senior Erick tapi dirinya pun masih penasaran bagaimana cara kerja teknik barusan.