Power Flow

Power Flow
Mendapatkan Senjata Baru



Setelah terlempar cukup jauh, Ruby mulai melangkah dengan hati-hati dan berlindungi diantara pepohonan terdekat untuk mengamati pergerakan musuhnya, "POWER ON : ICEBIRD" gumam Ruby mengaktifkan kekuatan pada Revolvernya menjadi atribut Es, karena menurutnya sangat cocok dimedan bersalju seperti gunung fuji.


"Hey dimana gadis itu, apa dia mau main petak umpet baiklah akan kupenuhi, POWER ON : CHAMELEON CHANGE" gumam Carlos lalu tiba-tiba tubuhnya berubah menjadi setengah iguana berwarna hijau.


"POWER ON : ATLATL WEAPON," lanjut Carlos mengeluarkan senjata energinya, " hai John kuserahkan pertarungan jarak dekat padamu," setelah mengatakan itu tiba-tiba tubuh Carlos menghilang. "Heh dasar kau tidak ingin bertarung secara terbuka ya, baiklah kalau begitu lakukan tugasmu," jawab John


"WHUSS"


"DUARR"


Belum sempat Ruby mengetahui posisi Carlos setelah dia tiba-tiba menghilang, sebuah ledakan yang terarah mengenai bahu kanan membuatnya mengerang kesakitan dan tanpa memberi jeda John langsung menyerang setelah mengetahui posisi Ruby.


"POWER ON : BLACK STEEL FIST," teriak John sambil menerjang kearah Ruby, namun dengan sigap dia menembakan pistolnya ke tanah untuk membuat dinding es yang cukup tebal guna menahan pukulan dari John, namun John mampu menghancurkannya dengan melakukan pukulan beruntut.


"Hei kemana perginya perempuan itu, Carlos cepat cari dia," teriak John setelah berhasil menghancurkan dinding es buatan Ruby dengan susah payah. "Sebentar aku juga sedikit lengah tadi karena penglihatanku terhalang oleh bongkahan es yang berhamburan, tapi tenang saja selama dia tidak mengetahui tentang kemampuanku, kita pasti dapat mengalahkannya," Jawab Carlos dengan penuh percaya diri.


"Hosh Hosh Hosh, sial ini merepotkan sepertinya orang satunya lagi mempunyai kemampuan memanipulasi tubuhnya untuk menghilang dan juga tidak disangka manusia besi tua itu bertambah kuat hanya dalam waktu singkat," gumam Ruby yang bersembunyi diantara tumpukan salju, " ini berarti waktunya serius,"lanjutnya.


"Hohoho... Akhirnya kau keluar juga atau apakah kau sudah menyerah," seru John merendahkan lawannya, tapi Ruby hanya tersenyum mendengarnya, "heh jangan pikir kalian sudah menang ya, asal kalian tau tadinya aku hanya ingin menghemat energi agar aku tidak terlalu kerepotan saat memasuki puncak gunung Fuji, tapi sepertinya itu tidak mungkin baiklah kali ini aku akan mengerahkan kekuatan terbaik untuk melawan kalian".


"POWER ON : PARADISE EYES"


"POWER ON : DOUBLE BIRDPOISON & ICEBIRD" gumam Ruby langsung mengaktifkan tiga kekuatan energinya sekaligus dan dia pun berjalan dengan santai menuju John dengan tatapan yang sangat mengintimidasi membuat John merasa merinding, Carlos yang saat ini sedang menyamarkan tubuhnya dengan warna pohon yang ada disekitarnya juga merasakan hal yang sama, "Tekanan macam apa ini, sangat mengerikan seperti kami tengah menghadapi monster yang berlevel S". ucap Carlos dalam hati.


"POWER ON : DESTROYER STEEL PUNCH"


"POWER ON : CHAMELEON SILENT PUNCH"


Teriak mereka berdua menerjang Ruby secara bersamaan dari arah depan dan samping, setelah berhasil mengatasi tekanan yang dikeluarkan oleh Ruby, namun Ruby dengan cepat menembakkan kembali pelurunya ketanah dan membuat sebuah dinding es kembali.


"DUARR"


Meski begitu mereka masih tetap berhasil membongkar pertahanan es milik Ruby, tapi ketika dinding es telah hancur mereka tidak menemukan keberadaan lawannya "Kemana lagi perginya gadis itu, dan bagaimana dia bisa mengetahui arah seranganku," Ucap heran Carlos. "Aku tak tau, cepat sekali dia menghilang, kita harus tetap waspada," Jawab John sambil mengedarkan matanya kesegala arah, karena pandangannya tertutup oleh kabut salju efek dari menghancurkan dinding es barusan, kini mereka saling memunggungi agar bisa saling menjaga satu sama lain, sedetik kemudian mereka terkejut melihat Ruby muncul dari atas dan langsung mendarat beberapa meter dihadapan mereka dan Ruby langsung menggebrakkan tangannya ketanah.


"POWER ON : ICE CAGE"


"WHUSSS"


Lalu muncul kali ini lingkaran dinding es disertai hembusan angin kearah dua musuhnya dan langsung membuat mereka terjebak di dalamnya, "karena ini daerah bersalju yang cukup menguntungkanku dalam membuat dinding salju sesuka hati, hai besi karat dan kadal gurun, aku sarankan kalian menyerah saja," Ucap Ruby.


"Heh enak saja kau bilang kami harus menyerah, dinding es seperti ini akan mudah kami hancurkan, hyaaaa" teriak John dari dalam dan terdengar suara pukulan yang berturut-turut menghantam dinding es tersebut, "Hosh hosh hosh, tidak mungkin kenapa menjadi seperti ini, setiap kita berusaha menghancurkannya, dinding ini malah berhasil menutup bekas pukulan kita bahkan malah semakin tebal dan energiku seperti terkuras dengan sangat cepat," ucap Carlos yang mulai kelelahan akibat melancarkan serangan bertubi-tubi tapi tidak berhasil sedikitpun.


"Percuma saja kalian berusaha menghancurkan sangkar es miliku ini, bahkan seorang Master Gold level menengah pun akan kesulitan dan lagi pula apa kalian tau, kenapa energi kalian terkuras dengan sangat cepat?, itu karena aku memadukan ICEBIRD dengan BIRDPOISON tipe korosif dalam sangkar esku kali ini, apalagi kau manusia rongsokkan, apa kau masih belum menyadarinya," Seru Ruby dari luar sangkar, sengaja memberitahu mereka agar semangat keduanya jatuh.


"Dasar perempuan kejam lepaskan kami, bila kau berani ayo bertarung dengan adil, jangan menggunakan cara pengecut seperti ini," teriak John terlihat marah karena frustasi apalagi dia mulai merasakan energinya terkuras dengan sangat cepat, sementara Carlos hanya diam karena dia mulai merasakan kedinginan. "Heh kau menginginkan pertarungan secara adil, kalian saja mengeroyokku, apalagi siiguana itu gaya bertarungnya yang secara sembunyi-sembunyi, apa itu disebut pertarungan yang adil.?" Jawab Ruby dengan nada mengejek.


"Hei kapten, kau sedang menangkap apa? sampai mengeluarkan sangkar es segala," Celetuk Ezran mendekati Ruby dan tak lama kemudian Hera pun muncul menghampiri mereka berdua, "Kalian sudah mengatasi mereka semua?" tanya Ruby heran, karena hanya dirinya yang belum mengatasi lawannya.


"Baiklah sepertinya aku juga harus membebaskan mereka, kalau terlalu lama bisa-bisa kehabisan nafas anak orang," gumam Ruby Kemudian dia mulai melepaskkan segel sangkarnya dan terlihat kedua lawannya sudah tak berdaya karena hampir membeku.


"Wow kau kejam sekali kapten," Seru Ezran setelah melihat lawan bertarung Ruby yang sudah tidak sadarkan diri, setelah itu dia mencoba mengambil kunci yang tergantung pada tangan kanan patung yang berukuran hampir tiga meter dengan wujud pendeta zaman edo.


"BUKH"


"ARRGH" erang Ezran yang terpental akibat serangan mendadak dari patung tersebut, dan patung itupun mulai bergerak seperti mempunyai kesadaran sendiri.


"ternyata patungnya bisa bergerak, sial sakit sekali," Ucap Ezran sambil memegang perutnya, "POWER ON : ICEBIRD" teriak Ruby lalu dia menembakkan senjatanya tepat pada kedua kakinya yang mana membuat monster itu kesulitan dalam bergerak. "POWER ON : AMUKAN KAWAH CANDRA DIMUKA" teriak Hera mengeluarkan tekniknya dengan cepat yang membentuk sebuah pedang dan langsung menebas kepala patung tersebut yang masih dalam keadaan tidak bisa bergerak.


"SLASH"


"BRUAGH"


Kepala patung tersebut langsung menggelinding ketanah dan terbakar habis setelah terkena serangan kombinasi Ruby dan Hera, lalu dada patung tersebut terbuka dan tiga buah kotak item keluar dari dadanya. "Aku pilih yang ini, sepertinya kotak ini memanggilku," ucap Ruby langsung meraih kotak yang paling panjang dan langsung membukanya, "Wow Tombak perak bermata berlian, begitu ringan saat digenggam tapi ujungnya sangat tajam, ini sangat cocok dipadukan dengan teknik Garudaku" seru riang Ruby sambil mengibas-ibas tombak tersebut.


"Karena kakak tidak melakukan apa-apa saat kami mengalahkan patung ini, jadi aku duluan yang memilih item yang ada dalam kotak ya?" ucap Hera, "Baiklah terserah kau saja" jawab singkat Ezran, kemudian Hera pun bergegas mengambil salah satu kotak yang dia pilih, lalu saat dibuka ternyata sebuah pedang berwarna hitam dengan garis vertikal berwarna merah dikedua sisinya, diapun berseru riang "Waahh kereenn, baiklah akan kuberi nama pedang PRAJNA PARAMITA" gumam Hera sambil mengayunkan pedang tersebut.


"Baiklah sisanya tiggal diriku, mudah-mudahan ini juga bagus," gumam Ezran dan langsung membuka kotak tersebut dan ternyata sebuah sarung tangan berwarna silver, " Hei hei yang benar saja, cuman sarung tangan itupun hanya sebelah, sungguh ini tidak adil tapi akan kusimpan saja lebih dulu," Ucapnya agak jengkel, ketiganya pun membuka gerbang dan langsung menuju puncak Gunung Fuji.