
Pertempuran pun mulai terjadi, terdengar suara ledakan dan dentingan suara beradunya senjata di setiap sudut medan pertempuran.
"Sesuai rencana awal, kita akan mempertahankan benteng pasar sentral ini, dan setelah berhasil menumpas monster-monster yang merengsek menyerang pertahanan kota, kita akan terus bergerak maju ke daerah bekasi, nantinya di sana kita akan bertemu dengan pasukan pemburu dari padepokan waliwis bodas, yang juga sedang mempertahankan daerah di bagian cikampek, dan akan sama-sama menghancurkan pilar yang ada didaerah bekasi kota," seru tetua Juna memberi intruksi kepada semua.
" POWER ON : BIRDPOISON," seru Ruby yang mulai menembaki para monster dan berhasil menumbangkan banyak makhluk menyeramkan itu.
"Hera, Ezran tetap jaga formasi segi tiga bermuda ini untuk kita saling melindungi," teriaknya memberi intruksi ke pada sikembar.
"Aye aye kapten," jawab singkat mereka secara berbarengan.
"Sial tidak ada habisnya, jadi selama ini mereka bersembunyi dimana ya?" ucap Ezran yang cukup kesal dengan terus membantai monster-monster itu satu persatu.
"Tidak menurut info dari padepokan, mereka bukan bersembunyi, tapi selalu berkumpul di pusat pilar dan membentuk suatu dungeon untuk mengisi daya tempur mereka dengan cara menyerap energi di dalam bumi dan terus berkembang meningkatkan kekuatan mereka", jelas Komandan Roby melalui alat komunikasi yang terpasang di sekitar kepalanya, beliau adalah seorang kepala komandan di daerah kota hujan bagian timur.
"Meski hanya level E & D ternyata sangat merepotkan kekuatan mereka berbeda dihari biasanya," ucap Hera yang melapisi tangan nya dengan energi api untuk menghabisi musuhnya.
"POWER ON : SAPU JAGAD, hiyaaaaattt," teriak Ezran yang dengan semangat membantai para monster itu.
"Boom"
"kaboom"
Terlihat pukulannnya mampu menghasilkan ledakan di sertai angin yang menghempaskan beberapa monster dan membuat hancur berkeping-keping.
"Aku tidak akan membiarkan kalian melewati sejengkal kakipun dari hadapan ku," ucapnya lagi dengan nada marah, karena bila bulan iblis Blood sky tiba dia selalu teringat kenangan pahit yang terjadi 10 tahun lalu.
"Hey kakak jangan terlalu menguras energimu dengan cepat, karena ini masih hari pertama dan baru monster level D yang muncul, kita harus menghemat energi seminimal mungkin," seru Hera mengingatkan.
"Betul jangan terbawa emosi dan tetap tenang," timpal Ruby yang masih menembaki monster-monster itu.
"Hahha.. maaf-maaf aku terlalu bersemangat," ucap Ezran sambil tertawa.
Sudah hampir 3 jam peperangan dengan monster berlanjut, meski sudah banyak yang berhasil membantai para monster tapi mereka seperti tidak ada habisnya.
Sementara di sisi lain.
"tim medis segera bawa para prajurit yang terluka parah untuk segera di obati," teriak komandan Roby(gold level 3) yang tak lain adalah ayahnya Ruby memberi intruksi.
Terlihat tim medis hilir mudik menandu para prajurit yang terluka.
"Komandan sepertinya lawan yang cukup merepotkan akan segera tiba," seru prajurit yang berada di menara pengawas memberi informasi.
"Maksudmu apa prajurit?" tanya komandan Roby memastikan perkataan dari prajurit yang bertugas di atas menara.
"Gerombolan monster level C dan level B 2 telah muncul," jawab prajurit menjelaskan situasi yang dia pantau.
"Huh padahal baru hari pertama, tidak seperti biasanya,: gumam Sang Komandan.
"Segera gunakan meriam energi," perintahnya kemudian.
"Tapi komandan bukankah itu untuk hari ke 10?" tanya sang prajurit memasti perintah dari atasannya itu.
"Jangan ragu keluarkan saja, ini diluar prediksi," terang komandan Roby.
"Baik komandan.!" seru prajurit lantas dia pun menghubungi tim pengendali meriam, dan para prajurit pun mulai mengeluarkan meriam-meriam energi ke tengah-tenga medan perang.
"Tembaaak." seru setiap kapten batalion memberi intuksi kepada bawahannya
"whussss"
"whussss"
"khaboomm"
Lalu terlihat monster yang berlevel D serta C langsung musnah seketika dan ada beberapa level B yang terluka parah.
"Whoow amazing," seru Ezran yang melihat daya hancur dari meriam energi tersebut.
"Oi Hera, Ezran ayo kita maju kedepan untuk menghadapi monster level B 2 itu, aku ingin mencoba apakah kekuatan kita semakin meningkat dari satu bulan yang lalu, sejak misi yang waktu itu," ucap Ruby yang semangat karena melihat monster level B 2 yang sudah muncul.
"Ya ide yang bagus kapten," timpal Hera yang tidak kalah semangatnya.
"Hadeuhhhh.. Tadi katanya untuk berhemat energi, tapi sekarang malah kalian yang ingin menguras energi lebih, dasar betina sukanya plin plan," ejek Ezran sambil menggelengkan kepala.
"Ini sudah lain ceritanya karena level B 2 muncul lebih awal," jawab Ruby membela diri dan tidak mau disalahkan.
"Ayah eh komandan serahkan bagian sisi depan ini kepada kami, karena kami lihat ternyata senjata itu masih belum cukup untuk membunuh monster level B 2 meski mampu melukainya lumayan parah, lalu kami mempercayakan belakang kami pada prajurit9" ucap Ruby menghubungi seseorang melalui jamnya yang tak lain adalah komandan perang kali ini.
"Baiklah tapi kalian harus berhati-hati," jawab komandan Roby, memberi izin pada tim anaknya itu.
"Hah anak itu," gumamnya dalam hati.
Tim Ruby pun mulai merangsak maju ke depan sambil menembaki para monster yang menghalangi jalan mereka, dan beberapa meter dibelakangnya tim Ruby di back up oleh prajurit yang mengendarai meriam energi yang membuatnya lebih tenang.
"Bagus ini jadi lebih mudah untuk maju ke depan karena di bantu oleh meriam energi itu",gumam Ezran.
Ketiga pemburu muda itu pun sudah sampai di depan, tapi ternyata bukan hanya mereka saja yang ada disana karena sudah ada sekitar 20 pemburu lainnya, termasuk Senior Dian dan Senior Winda yang tengah berhadapan dengan gerombolam monster level B.
"Baiklah komando di sini saya ambil alih," seru Senior Dian karena dia sekarang sudah berada di level gold 2 puncak, jadi semuanya mempercayainya untuk mengambil alih komando untuk area garis depan.
"Untuk yang level silver kalian harus menghadapi tiga monster sekaligus, apa kalian sanggup? dan bila sudah selesai tolong bantu yang lainnya dan serahkan sebagian besar monster itu pada kami yang sudah berada di level gold," Seru Senior Dian mulai memberi intruksi.
"Siaaapp ndan.." jawab serentak para pemburu.
"Seraaaang dan hancurkan," teriak para pemburu dengan penuh semangat.
"Hei kita juga jangan terlalu jauh oke," ucap Ruby kepada dua rekannya tersebut.
"Oke capt.." jawab mereka berbarengan
"Heh monster jelek ini, dulu aku kewalahan menghadapi monster dengan level seperti kalian, tapi kali ini tidak akan meski jumlah kalian ada 100 juga," ucap Ruby percaya diri karena dia sekarang berada dilevel gold tingkat satu.
"POWER ON : DOUBLE BIRDPOISON," teriak Ruby penuh percaya diri dengan memulai menghadapi 5 monster sekaligus.
"POWER ON : RENGKAH GUNUNG," gumam Ezran yang berkonsentrasi penuh memusatkan energi pada tangannya.
"POWER ON : AMUKAN KAWAH CANDRA DIMUKA," teriak Hera tidak kalah garang dan langsung menyerang.
Pertempuran pun berlanjut hingga sore hari, dan terlihat banyak kepulan asap dan api berkobar dimana-mana, menjelang senja baru pertempuran mulai mereda, dan para monster pun tidak muncul lagi karena menjelang malam para monster tidak akan bergerak maju mereka akan bertahan di wilayahnya.
"Baiklah para ahli pembuat array, bangunlah tembok pertahanan baru disini, dan kalian beristirahatlah untuk memulihkan kekuatan," perintah Sang Komandan.
"Komandan kenapa kita tidak gempur saja para monster itu di malam hari bukankah bila malam kekuatan mereka melemah," ucap salah satu prajurit yang terlihat masih berumur sekitar 20 tahun dan sepertinya dia juga pertama kali ikut terjun di medan tempur.
"Tidak itu tidak akan berhasil, pertama kita juga sudah ke lelahan, yang kedua bila malam hari mereka juga selalu memasang kabut ilusi di dekat mereka untuk bertahan, dan meski terbatas jangkauannya kabut ilusi itu menurut informasi mampu mengacaukan pikiran manusia, jadi itu sangat berbahaya",jelas Sang Komandan panjang lebar.