
"Hebat juga mereka mampu membuat Monster sekelas level S babak belur, apalagi Hera dimana dia mempelajari jurus api hitam itu," ucap komandan Roby merasa kagum terhadap generasi muda yang satu tim dengan anaknya.
"Saya juga tak tau komandan, bahkan jurus-jurus dan gerakan yang di keluarkan Ezran pun, termasuk kategori jurus teknik kuno, meski mereka bukan anak atau cucu dari pendiri padepokan mana pun.." jawab Tetua Juna yang juga merasa heran.
"Hmm.. jangan terlalu dipikiran dulu, lebih baik kita harus membereskan musuh yang ada di depan sana terlebih dahulu.." lanjut Komandan Roby sambil menunjuk ke arah Monster.
"Ya saya setuju, monster ini sangat kuat, tapi untungnya anak-anak itu berhasil membuat dia banyak kehilangan kekuatan," timpal Tetua Juna.
"Mari kita mulai.. POWER ON : DOUBLE ATTACK SEGORO GENI Power," gumam Tetua Juna mulai menyiapkan golok energinya.
"Ya kita harus cepat karena biasanya monster level S ke atas mempunyai kemampuan berregenerasi, POWER ON : BIG MINGO PENCAKAR LANGIT," komandan Roby pun mulai melakukan hal yang sama, yaitu dengan cara mengalirkan energi di tangannya yang membentuk armor energi berbentuk kaki burung flamingo, keduanya pun melakukan serangan dengan cara menebas dan mencakar udara.
"Syuuuttt"
"Syuuttt"
"Trank Trank"
Tapi kedua serangan itu berhasil di blok oleh monster tersebut dengan menggunakan tameng energi, tapi tidak sampai disitu keduanya pun terus melakukan serangan, sambil menangkis pukulan-pukulan yang di lancarkan musuhnya itu, meski sudah kehilangan ketiga tangannya tapi monster itu tetap lincah dalam bergerak.
"Grrrr... sialan gara-gara serangan sebelumnya, regenerasi tubuhku sekarang sangat lambat.." ungkap Sang Monster dalam hati.
"Whussh"
"Duarr"
Monster itu pun melancarkan tendangan, tapi bisa di hindari oleh kedua orang tersebut, dan hanya bangunannya saja yang hancur akibat terkena efek tendangan.
"POWER ON : BRAJA PUNCH PEMUSNAH," teriak Komandan Roby mengeluarkan jurusnya kembali, lalu dia menghentakan kaki ke tanah yang membuatnya seperti menghilang karena saking cepatnya.
"Bukk"
"aarrgh"
Monster dengan tinggi mencapai dua meter lebih itu pun terkena pukulan telak diperutnya, dan terpental ke belakang sampai menabrak puing hingga berhamburan, membuat monster tersebut memuntahkan darah dari mulutnya.
"Whusssh"
"Slash"
"Arrgh"
Sebelum sempat berdiri dengan sempurna, Tetua Juna pun melakukan tebasan yang mengenai dadanya.
"Grrrrr.. Arrgghhh" teriak penuh amarah Sang Monster dan mulai mengerahkan energinya, lalu terlihat petir-petir kecil dan angin mengelilingi tubuh.
"Drrt Drrt Drtt"
Energinya pun kembali bertambah kuat, meski belum seratus persen seperti saat melawan Ruby dan sikembar, beberapa derik kemudian terlihat tangan satunya mulai tumbuh kembali.
"wWhuss"
"Blass"
"Duaarr"
Tendangannya begitu cepat dan tepat mengenai Komandan Roby, yang membuatnya terpental cukup jauh, Tetua Juna mencoba menyerang ketika monster itu masih fokus ke komandan Roby.
"Slash"
"Trank"
"Braakh"
"Arrrgh"
Tapi Sang Monster sekarang begitu peka terhadap segala bahaya, hingga dia mampu memblok serangan dari tetua Juna, dan mampu menyerang balik dengan cepat, membuat Tetua Juna pun terkena pukulan yang mengakibatkan dia memuntahkan darah segar.
"Hosh hosh hosh.. Kuat sekali monster ini meski masih ditahap level S awal," ucap Tetua Juna yang menyeka darah dari mulutnya.
"Ya sepertinya kita harus mengerahkan kekuatan sampai batas maksimal kita sekali lagi," timpal komandan Roby yang juga tidak luput dari luka.
"POWER ON : CAMBUK GUNTUR,"
"POWER ON : SERULING TATAR BAYU,"
"Duar"
''Duar"
Mendadak ada serangan di kedua sisi Sang Monster yang membuatnya sangat terkejut, tapi dia berhasil bertahan dengan mengaktifkan tameng energi secara cepat.
"Maafkan kami sedikit terlambat Tetua juga Komandan, apa kalian baik-baik saja," ucap Senior Dian yang baru saja melakukan serangan mendadak bersama dengan Senior Winda.
"Ya kami lumayan baik-baik saja.."jawab komandan Roby padahal mereka hampir babak belur.
"Bagus sekali kalian sungguh tepat dengan datang kesini, apa energi kalian sudah pulih kembali?" tanya Tetua Juna pada mereka berdua.
"Ya meski hanya baru 75% sepertinya," Timpal Senior Winda.
"Grrrr... ternyata bertambah semut penggangu sungguh menyebalkan tapi itu tidak akan berpengaruh," geram Sang Monster
"haaaaaaaaa..." teriak Sang Monster kemudian terlihat dia menghisap sisa energi dari seluruh monster yang telah mati diseluruh medan pertempuran.
"Hah ini gawat dia mencoba menghisap energi monster lainnya yang telah mati," ucap Tetua Juna.
"jangan biarkan dia melakukan hal itu, cepat ganggu dia dengan serangan kita," perintah Komandan Roby.
"SERULING TATAR BAYU,"
"Syuutt"
"CAMBUK GUNTUR BIRU,"
"Ctarrr"
"SEGORO GENI PENYAYAT JIWA,"
"SLash"
"BIG MINGO PENCAKAR LANGIT,"
"Whooss"
keempatnya pun menyerang secara bersamaan, ketika monster itu sedang berkonsentrasi menyerap energi dari monster lain.
"Boom"
Suara ledakan dan kepulan asap pun terjadi akibat serangan gabungan dari keempatnya barusan.