
"Hohoho...Saya kira para petualang dari mana, ternyata anda tuan Sky," Seru seseorang menyapa Tetua Sky serta rombongannya, yang ternyata seorang prajurit berperawakan pendek gempal dengan senjata kapak terpasang dipunggungnya, dan sepertinya berpangkat komandan Batalyon
"Hahaha... Selamat siang Komandan Absolom, bagaimana kabar anda," ucap Tetua Sky membalas sapaan dari komandan tersebut, setelah tiba di salah satu kerajaan yang ada di dunia galaksi atas, Tetua Sky langsung menuju barak tempat para prajurit berlatih.
"Tuan Sky, apakah mereka para murid yang akan ikut berlatih seperti biasanya, tapi kenapa tingkat energi mereka masih rendah, tidak seperti para murid sebelumnya," Ucap Komandan Absolom yang ternyata berasal dari Ras Dwarf.
"Betul sekali komandan Absolom mereka murid-murid yang akan berlatih disini, ya karena mereka bukan berasal dari Clan kami, tapi para murid magang dari negara lain, yang ada di dunia kami," jelas Tetua Sky dan Komandan Absolom mengangguk paham, karena biasanya murid inti dari Clan Fuji yang dibawa untuk berlatih tanding di sini berlevel Gold tingkat dua paling rendah, sementara rombongan ini masih ada yang dibawah level Gold.
***
Sementara murid yang tidak lulus dalam ujian memasuki gerbang, yang menghubungankan antara galaksi atas dan galaksi bawah tempat dunia mereka berada, tengah melanjutkan latihan kembali dibawah bimbingan keempat Sensei party Empat Arah Mata Angin.
"Kalian harus tetap bersemangat, meski kalian gagal dalam ujian sebelumnya, jadikan itu motivasi tambahan bagi kalian untuk berkembang," Seru Sensei Higurashi berapi-api memberi semangat pada murid magang yang menjadi tanggung jawabnya.
"Baik Sensei," Seru kompak semua murid menjawab arahan dari Sensei bertipe api tersebut, sambil fokus melakukan meditasi untuk meningkatkan kultivasi mereka.
***
"POWER ON : UNLIMITED SWORD SLASHES" Teriak Pangeran Philips mulai melancarkan serangan pertama kepada lawan yang ada dihadapannya,
"POWER ON : ESENSI PEDANG LANGKAH PERTAMA: JIRAH PEDANG" gumam lawannya yang tidak lain seorang prajurit muda, dan dengan tenang menghadapi serangan yang dilancarkan pangeran dari kekaisaran Britania itu.
"TRAANK"
"TRAANK"
"TRAANK"
Serangan pedang milik Pangeran Philips terlihat seolah-olah tidak menyentuhnya sama sekali, tapi dia terus berusaha dengan tetap fokus mengendalikan tiga tebasan yang diciptakan dari pedang besarnya yang bernama Excalibur itu.
"Ini terlalu gila, bagaimana seorang prajurit termuda dan juga kata komandan barusan adalah yang paling lemah diantara semua prajurit yang ada, aku sungguh sulit dipercaya apa yang tengah kulihat ini," ucap Enrique setelah dia mulai sedikit pulih, karena dia telah dikalahkan hanya dalam satu gerakan saja, meski dia telah mengeluarkan jurus andalannya itu.
Pangeran Philips semakin beringas, dia lantas memegang erat gagang pedang andalannya itu dan langsung menerjang kearah sang prajurit muda, karena dia merasa tersinggung telah dianggap remeh olehnya, tapi bahkan sebelum menyentuh kulit lawannya itu, dia kembali terpental seolah-olah ada dinding yang tidak terlihat, yang mampu memblok semua serangannya dengan mudah.
"Kau cukup kuat juga teman, jadi aku akan menghargaimu dengan meningkatkan esensi pedangku," ucap prajurit muda tersebut.
"POWER ON : ESENSI PEDANG LANGKAH KEDUA: SERANGAN SERATUS PEDANG PENGHANCUR,"
Lalu seratus pedang melesat ke arah Pangeran Philips, tapi dengan sigap dia menangkis seratus pedang yang mengarah kepadanya, meski ada beberapa yang membuatnya terluka dan membuatnya mundur beberapa langkah kebelakang.
"Hosh, hosh, hosh... Sial bahkan dia belum berkeringat sama sekali, apa mungkin orang ini setara dengan Sensei Arashi," gumam Pangeran Philips mulai kelelahan karena banyak mengeluarkan energi, sementara lawannya tidak bergesar satu centipun.
"Kau sepertinya lumayan juga, setidaknya tidak seperti orang yang pertama itu," Ucap sombong prajurit muda tersebut sambil menunjuk pada Enrique, sementara yang ditunjuk langsung merah padam karena menahan marahnya.
"POWER ON : UNIVERSE DESTROYER SWORD" Teriak Pangeran Philips menggunakan jurus pedang berikutnya, yang ternyata ini adalah jurus andalan dari para pangeran, konon katanya setiap pangeran dibekali jurus pamungkas dan akan dikeluarkan ketika mereka menghadapi keadaan yang sangat mendesak.
Gemuruh angin terkumpul disekitar tubuh Pangeran Philips, terlihat tangannya mulai membesar dengan otot-otot yang menonjol, pedang Excaliburpun mulai terlihat memerah membara.
"Aku tidak sudi diremehkan oleh prajurit rendahan sepertimu, sekarang apa kau mampu menahan kekuatan dari salah satu jurus pedang andalan leluhurku," ucap Pangeran Philips meluapkan emosinya dengan mengeluarkan jurus pamungkasnya meski masih belum sempurna.
"POWER ON : ESENSI PEDANG LANGKAH KETIGA: BADAI SERIBU PEDANG PENGHANCUR LANGIT" gumam prajurit muda itu juga mulai mengeluarkan jurus pedang berikutnya bahkan kali ini lebih menyeramkan, terlihat pusaran badai pedang meliuk liuk seolah-olah bakal melahap segala apa yang akan dilewatinya.
"Tetua Sky, Komandan Absolom apakah tidak mencoba menghentikan sepertinya ini sudah berlebihan," ucap khawatir Xuan'er yang melihat pertarungan mereka berdua.
"Santai saja, tidak akan terjadi yang hal-hal yang berlebihan, bahkan ini akan bagus untuk perkembangan Bocah Britania itu," jawab Santai Tetua Sky tanpa mengkhawatirkan sedikitpun apa yang akan terjadi pada kedua petarung tersebut.
"Hyaattt" Teriak Pangeran Philips.
"Bagus, bagus kerahkan semua kekuatanmu itu," ucap Prajurit muda tersebut dan masih sempat-sempatnya memprovokasi lawannya, dan secara bersamaan dia melakukan gerakan seperti mengayunkan pedang, membuat badai pedang yang dia ciptakan langsung mengarah kearah Pangeran Philips yang juga sedang menerjangnya.
"BOOOM"
Ledakan dari benturan jurus keduanya begitu dahsyat, bahkan hampir menghancurkan Array yang mengelilingi arena pertarungan tersebut, lalu setelah beberapa menit ketika keadaan di arena mulai mereda, terlihat Pangeran Philips tergeletak tak berdaya karena kehabisan energinya.
Sementara prajurit muda tersebut terlihat mundur kebelakang dan hampir keluar arena dengan luka gores yang cukup besar ditubuh bagian depannya, yang membuat baju jirahnya hancur.
"Hosh hosh, hebat juga serangan terakhirnya itu bahkan mampu menghancurkan esensi jirah pedangku" gumam Prajurit muda, lalu dia melangkah menghampiri Pangeran Philips dan mengulurkan tangannya untuk membantu Pangeran ketiga tersebut.
"Terimakasih untuk pelajaran yang sangat berharganya teman," ucap Pangeran Philips dan secara tidak langsung dia mengakui kekalahannya.
"Sama-sama, kekuatanmu sangat luarbiasa, teruslah berjuang kawan untuk meningkatkan levelmu, dan dapat mengatasi para monster yang mengganggu perdamaian kita," balas prajurit muda dengan sebuah kata yang cukup bijak.
"Vergo apa kau masih sanggup melanjutkan uji tanding dengan murid-murid yang dibawa oleh Tuan Sky ini," seru Komandan Absolom menanyai keadaan bawahannya itu.
"sepertinya tidak akan masalah Tuan Absolom," jawabnya dengan tegas dan penuh percaya diri.
"Baiklah kalau begitu, jadi siapa yang akan maju selanjutnya Tuan Sky," timpal Komandan Absolom sambil melirik kearah Tuan Sky.
"Hmmz.. Coba kita lihat undian selanjutnya, ouh ternyata orang yang selanjutnya adalah Hera," Seru Tetua Sky setelah berhasil mengundi nama-nama murid dengan acak, dan yang terpilih ternyata adalah Hera.
Ketika Hera melangkahkan kaki menuju arena semua mata tertuju padanya, melihat gadis cilik yang mendapat giliran maju, dan mereka meragukan kekuatan yang dimilikinya.
"Hai Kak Prajurit apakah anda tidak ingin beristirahat sebentar saja, untuk memulihkan keadaanmu terlebih dahulu," Ucap Hera sedikit khawatir dengan keadaan lawannya.
"Hahahaa... Jangan meremehkan ku gadis kecil, bahkan aku tidak perlu sampai mengeluarkan esensi kedua ku untuk menghadapimu," Jawab ketus si prajurit muda, tapi Hera tidak marah sama sekali bahkan dia hanya tersenyum.
"Baiklah jika kau sangat percaya pada kemampuanmu, jangan salahkan saya bila kak Prajurit kalah hanya dalam beberapa menit saja," timpal Hera sambil memperbaiki rambutnya dengan mengikat kebelakang.
"POWER ON : DOUBLE ATTACK: AMUKAN KAWAH CANDRA DIMUKA + SAMBARAN API HITAM" gumam Hera langsung menggunakan dua kekuatannya secara bersamaan.
"DUAARR"
Tanpa basa-basi Hera menyerang lawannya, dengan sambaran petir yang dia kendalikan secara sempurna dan mampu menghancurkan jirah pedang milik bawahan komandan Absolom, membuat semua prajurit bahkan sang komandan sendiri cukup terkejut.
"Oi oi oi, ayolah masa segitu saja baju jirah kebangganmu sudah hancur berkeping-keping," seru Hera meledek lawannya yang sempat meremehkan dirinya, sementara si prajurit masih menahan sakit akibat serangan petir dari Srikandi Nusantara tersebut.