Power Flow

Power Flow
Gelombang Bencana Dimulai



"Himbauan untuk semua warga, selama 15 hari kedepan bapak ibu dan juga anak-anak diharapkan harus tetap dirumah saja, karena kita akan mengalami gelombang bulan iblis Bloods Sky dan pasang array pertahanan di rumah masing-masing yang telah dibagikan oleh para prajurit pada hari sebelumnya," seru Komandan pasukan melalui pengeras suara memberi ultimatum pada warga yang tidak mempunyai kemampuan bertarung.


Setiap tempat mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi fenomena Bloods sky para prajurit dan pemburu monster sudah berjaga-jaga disetiap benteng array, untuk mempertahankan wilayah yang sudah diperluas, karena pada saat Bloods sky monster-monster level A sampai level S akan keluar untuk merusak dan menguasai tempat-tempat umat manusia bahkan monster level B kebawah pun bila pada saat Bloods sky kekuatan mereka meningkat drastis dari sebelumnya bahkan ada kemungkinan berevolusi menjadi level A.


"Hey kira-kira gerbang monster akan muncul didaerah mana ya untuk bulan ini.?" tanya Ezran ingin mendengar tebakan dari temannya.


"Itu sangat sulit untuk diprediksi, karena pilar hitam tempat biasanya gerbang monster muncul itu, masih banyak tersebar di daerah nusantara ini, bahkan di java saja ada sekitar 100 pilar belum lagi daerah lainnya..!" timpal Ruby mencoba menjelaskan pada Kakaknya Hera itu.


"Ya itu akan sulit dan lagi para monster level B kebawah pun pada momen fenomena Bloods sky sering kekuatan mereka meningkat secara drastis dan mulai menggila," ucap Hera menambahkan penjelasan sang kapten.


"Tapi pada saat yang sama juga, pilar hitam itu akan melemah dan mudah untuk dihancurkan,jadi bersiaplah kalian para pemburu," ucap seseorang dari belakang yang tiba-tiba nimbrung dalam percakapan mereka yang tak lain adalah Senior Dian yang sudah memasuki level gold 2 tahap awal.


"Wah Senior Dian, anda ditugaskan dengan siapa di daerah kami," ucap Hera yang lumayan terkejut melihat salaj satu Senior yang dia kenal di barak pelatihan dua bulan yang lalu.


"Tuh sama cewek itu," jawab Jenior Dian sambil menunjuk kearah belakang dan terlihat Senior Winda sedang berbicara dengan komandan prajurit.


"Hai semuanya bagaimana kabar kalian?" sapanya setelah mendekat.


"Kabar kami baik-baik saja Senior," jawab Ruby


"Hai juga Senior, makin cantik aja ya.." timpal Ezran yang membuat wajah Senior Winda tersipu, merekapun mengobrol dengan seru, namun tiba-tiba langit mulai berubah dan terdengar suara guntur bersahutan.


"Sudah dimulai ya.." gumam Senior Dian yang mulai waspada dengan melihat kearah depan.


"Persiapkan mental kalian, karena ini adalah pertama kalinya kalian terjun secara langsung digaris depan," ucap Senior Winda dengan mode serius tanpa menoleh dan masih terus menatap lurus dengan kewaspadaan penuh.


Terdengar suara suara lolongan mengerikan dan derap kaki dari kejauhan langit pun perlahan mulai berubah warna menjadi merah darah.


"Huh suasana yang mencekap sekali ya, kalau aku yang dulu mungkin akan sangat ketakutan," gumam Ruby sambil memperbaiki anak rambutnya.


"Oi Komandan apa para penduduk sudah semuanya berada didalam rumah," tanya Hera pada komandan prajurit yang ada di dekatnya.


"Hmm.. Sepertinya sudah semuanya Nona," Jelasnya singkat.


"Baiklah semuanya, sebagian prajurit segera naik ke atas menara dan yang lainnya bertahan di pintu gerbang, persiapkan senjata kalian dan lindungi tim medis," teriak komandan mulai memberi intruksi ke semua bawahannya.


"Tim medis tetap dibelakang para prajurit," seru Hera mengingatkan pada bagian medis, meski dia sendiri adalah seorang healer tapi dia tidak mau ditempatkan di belakang, karena dia percaya dengan kemampuan bertarungnya.


"Tetua bagaimana dengan tim dari padepokan kita?" tanya Ruby pada Tetua padepokan.


"Tenang saja mereka sudah disebar disetiap penjuru, dan mendampingi 10 pemburu pemula setiap orangnya," ucap tetua Juna menjelaskan pergerakan dari padepokan yang dia pimpin, meski tim Ruby juga pemula tapi kekuatan tempur mereka setara dengan party yang sudah beberapa kali terjun di medan pertempuran.


"Lapor sepertinya mereka mulaii bergerak," seru prajurit yang berada diatas menara pengawas.


Terdengar derap kaki yang menggetarkan tanah pun mulai mendekat.


"Seraaangg, gunakan panah kalian", teriak Sang Komandan memberi intruksi dengan menggerakan tangannya kedepan.


"Syuutt"


"Syuutt"


"Syuuttt"


Pasukan pun mulai menyerang dengan melesatkan anak panah dan terlihat beribu anak panah mulai meluncur kearah para monster.