
Setelah berhasil memasuki gerbang terakhir ketiganya pun sudah berada di area puncak gunung Fuji, "Waw sungguh pemandangan yang indah banyak bunga sakura bermekaran" Seru Ezran.
"Ini sangat aneh padahal dari bawah sampai ke area pintu terakhir saljunya begitu lebat, tapi disini seolah-olah sudah musim semi, apa ini sebuah ilusi" Ucap Hera sambil mengamati sekitar.
"Selamat datang kalian para senjata tumpul dan karena kalian telah berhasil sampai ketempat ini, maka kalian telah diterima sebagai murid magang di Clan kami selama satu bulan dan juga berhak menerima hadiah ramuan Vena Bumi tingkat menengah masing-masing mendapatkan sepuluh botol" seru Sang pengawas ujian sambil mengeluarkan banyak botol ramuan dari dalam gelang penyimpanannya.
"Wow.. Ramuan yang sungguh luarbiasa, bahkan hanya dengan menghirup sedikit saja membuat vitalitasku naik begitu drastis pantas saja master guild menyuruh kami berusaha keras dalam Tournamen ini" seru seorang peserta setelah membuka salah satu botol yang ditangannya, membuat sebagian para peserta yang lainpun mencoba melakukan hal yang sama.
"Baiklah karena hari ini sudah hampir sore dan juga Tournamen juga telah selesai kalian boleh pulang dulu untuk beristirahat, dan akan dipanggil tiga hari lagi jadi manfaatkan waktu sebaik mungkin, karena Ujian sesungguhnya akan dimulai setelah ini" ucap pengawas panitia. "Permisi mister bagaimana cara kami kembali ke bawah?, apa kami harus melewati gerbang itu kembali?" tanya salah satu peserta dari negara Azzuri.
"Hahaa... Tidak usah khawatir, kami telah menyediakan pintu dimensi yang terhubung langsung dengan gerbang di depan gunung Fuji yang ada dibawah sana" jawab Sang pengawas, setelah itu para tim peserta sepuluh besar mulai berjalan ke pintu dimensi yang telah ditunjukan oleh Pengawas dan mereka akan berkumpul kembali tiga hari kemudian.
...'' Wow sungguh luar biasa ternyata ini benar-benar langsung terhubung dengan pintu yang ada di bawah sini,'' seru para peserta setelah mereka tiba di gerbang Di mana mereka mulai, setelah itu Mereka pun membubarkan diri dan pergi menemui pendamping masing-masing....
" Hei Kemana perginya senior?'' ucap Ezran sambil melihat sekitar, " Mungkin dia pergi duluan ke penginapan'' Timpal Hera.
"Lihat itu Senior Erick" seru Ruby yang menunjuk ke arah gerbang yang tadi mereka lewati terlihat banyak orang yang keluar dari sana, yang ternyata mereka semua adalah pendamping para peserta Tournamen.
"Senior disini" teriak Ezran memanggil Senior Erick dan dia pun menghampiri ketiga juniornya tersebut, "apa yang Senior lakukan, tiba-tiba muncul dibalik gerbang itu?" tanya Ruby heran.
"Kami para pendamping dijamu oleh Tuan rumah Clan Fuji dan juga Clan Miko dibalik gunung, untuk membahas sesuatu yang penting untuk disampaikan pada para Master dinegara masing-masing, dan sepertinya mereka masih berbaik hati dengan membagi tiga botol ramuan Vena Bumi untuk tim yang tidak masuk sepuluh besar, ngomong-ngomong sudah berapa lama kalian tiba disini?" tanya balik Senior Erick setelah menjelaskan dirinya yang terlambat menemui mereka.
"Hampir setengah jam sih," Jawab Ezran, merekapun kembali ke penginapan yang telah disewa selama berada di negeri sakura ini.
Tiga hari kemudian mereka berkumpul kembali di depan gerbang gunung Fuji bersama beberapa tim lainnya, "baiklah setelah ini aku akan pulang dulu ke negeri kita untuk menyerahkan ramuan Vena Bumi pada para Master padepokan, nanti aku akan kembali lagi untuk menjemput kalian setelah pelatihannya selesai," ucap Senior Erick, "Baiklah kalau begitu Senior, titip salam untuk semuanya, terutama keluarga kami" Timpal Ruby mewakili teman-temannya.
"Baiklah untuk yang mempunyai Element dasar api pergi kesebelah barat, untuk element air pergi kesebelah timur dan untuk element angin sebelah selatan terakhir element tanah pergi kesebelah utara," seru salah satu murid senior dari Clan Fuji memberi intruksi pada peserta murid magang yang baru saja tiba ditempat pelatihan mereka.
"Perkenalkan namaku adalah Arashi, aku bertipe angin meskipun begitu aku sedikit menguasai beberapa element lain, dan selama satu bulan kedepan kalian akan berada dibawah bimbinganku jadi mohon kerjasamanya," ucapnya memperkenalkan diri.
"Jadi untuk percobaan pertama, aku ingin lihat seberapa mahir kalian dalam mengendalikan element angin, jadi gunakan kain ini sebagai bahan percobaannya"
"POWER ON : TATSUMAKI NO ARASHI"
"Baiklah 10% dulu kayaknya sudah cukup untuk latihan dihari pertama, caranya sangat mudah sekali, kalian hanya harus memotong kain ditengah pusaran badai, kalian diberi kesempatan selama lima menit," Ucap Sensei Arashi setelah mengeluarkan jurusnya, dan terlihat sebuah tornado setinggi sepuluh meter dengan diameter lima meter muncul disamping dirinya dengan kecepatan yang luarbiasa.
" Wow Apanya yang hanya 10% ,kekuatannya setara dengan tetua Guild kami" seru salah seorang peserta dari negara piramid.
"jadi siapa yang akan maju terlebih dahulu," lanjut Sensei Arashi memandang delapan murid magang tersebut, lalu dengan langkah yang penuh percaya diri seorang wakil dari Negeri Gingseng maju untuk mencoba.
"Baiklah perkenalkan dirimu terlebih dahulu," ucap Sensei Arashi.
"POWER ON : SAYATAN PEMUTUS LANGIT"
Mori langsung menebas udara dengan senjatanya yang telah dialiri energi dan terus berlari dengan cepat mengitari angin tornado guna mengincar kain sebagai target latihan yang diberikan oleh Sensei Arashi.
"SLASH"
"TRAAANK"
"Sial sulit juga ternyata" gumamnya.
"DUARR"
"Wow, apa-apaan itu kenapa tidak bilang kalau tornadonya dapat menyerang balik," seru Mori yang terpental kebelakang beberapa meter akibat serangan dari ujung atas tornado layaknya seperti belalai gajah.
"Hahaa... maaf aku lupa mengatakanya bahwa tornado itu dapat bergerak sendiri apabila ada serangan yang mengenainya, jadi anggap saja kalian sedang menghadapi monster sungguhan dan kain itu sebagai jantungnya" ucap Arashi sambil tertawa lepas.
"Huh.. untung aku tidak maju lebih dulu," gumam seorang wanita cantik dengan busana pendekar china jaman dulu.
Lima menit pun berlalu tapi Mori tidak bisa mengenai kain tersebut, dia pun mundur dan digantikan oleh murid yang lain, "Sekarang giliranku mencobanya," ucap seorang yang perempuan dengan busur panah dipunggungnya yang ternyata perwakilan dari Negeri Azzuri yang bernama Alesa.
"POWER ON : A THOUSAND ARROWS" teriak Alesa mengeluarkan kemampuannya sambil menarik busur ke arah tornado lalu muncullah ribuan anak panah yang siap menghujam targetnya.
"SYUUUT"
Sebagian anak panah meluncur mencoba mengenai target dan sebagian lagi, mencoba menghalau serangan balik yang dilakukan tornado tersebut.
"TRAANK TRAANK"
Anak panah yang jumlahnya begitu banyak melesat cepat kearah targetpun masih terpental dan Alesa pun kewalahan menghadang serangan balasan dari jurus yang diciptakan oleh Sensei Arashi tersebut.
"Hosh hosh hosh.. sial apa benar itu hanya kekuatan sepuluh persennya" gumam Alesa yang kelelahan karena hampir semua energinya terkuras dengan cepat padahal hanya beberapa menit saja sejak dia mengeluarkan kemampuannya.
"hosh hosh, aku menyerah" ucapnya mengangkat satu tangannya keatas karena dia merasa energinya akan benar-benar habis apabila melanjutkannya.
"Baik siapa lagi yang akan maju," Ucap Sensei Arashi memandang kearah muridnya, tapi cukup lama tak ada yang menjawab.
"Bolehkah saya mencobanya Sensei," seru seseorang dari arah belakang, membuat semuanya menoleh kearahnya.