
SILAHKAN TINGGALKAN JEJAK
BUDAYAKAN VOTE SEBELUM BACA
COMMENT SETELAH BACA
WARNING!!!
BANYAK TYPO
NO COPAS
NO DARK READERS
SELAMAT MEMBACA
^^
AUTHOR : GITA
-----~oOo~-----
Icha berjalan menyusuri jalanan sendirian. Wajahnya berubah murung, tidak tersenyum seperti tadi di cafe. Ia hanya pura-pura tegar saja. Sekarang, Icha merasa menyesal karena tidak mendengarkan perkataan abangnya yang menyuruhnya untuk menjauhi Arga. Hatinya teramat sakit sekarang. Tak terasa, langkah kaki itu membawa Icha pada sebuah taman yang ditengahnya terdapat danau buatan. Ia mengingat taman ini. Teza lah orang yang pertama kali membawanya ke taman ini. Ia lalu duduk ditempat duduknya kemarin bersama Teza. Ditatapnya danau itu hingga tidak sadar, setetes air mata jauh di pelupuk matanya.
"Ada apa?" Suara itu membuat Icha terkejut dan buru-buru menghapus air matanya.
Gadis itu menoleh ke belakang dan terlihatlah Gavin berdiri tidak jauh dari kursinya dengan kedua tangan yang ia masukkan kedalam saku. Seperti biasa, laki-laki itu kini memakai setelan hitamnya. Kedua bola mata hijaunya memandang tajam kearah Icha.

"Kenapa nangis?" Tanya Gavin lagi. Laki-laki itu berjalan menuju Icha dan duduk disamping gadis itu.
"Gak apa-apa." Lirih Icha sambil menundukkan kepalanya.
"Gak usah nangisin orang yang gak mikirin lo. Percuma." Kata pedas dari Gavin itu langsung membuat Icha terhenyak.
"Maaf." Kata Icha dengan nada pelan.
"Lo gak salah."
Setelah itu, mereka berdua terdiam selama beberapa menit. Keduanya sama-sama melihat kearah danau yang tenang itu. Tidak ada yang mau membuka suara. Akhirnya, Icha yang merasa tak tahan dengan kesunyian ini pun membuka suaranya.
"Gavin suka kesini?" Tanya Icha.
Gavin menoleh kearah gadis itu lalu mengangguk. "Disini tenang." Katanya.
Icha pun ikut mengangguk. Ia kemudian terdiam kembali.
"Kadang lega memang membutuhkan tangis." Kata Gavin membuat Icha menoleh kearahnya.
"Maksudnya?" Tanya Icha tak mengerti.
"Jangan ditahan."
Kata dari Gavin membuat Icha perlahan mulai meneteskan kembali air matanya. Gadis itu terisak. Gavin menatap kearah Icha.
"Boleh pinjam bahu Gavin?" Tanya Icha disela tangisnya.
Gavin tidak menjawab, ia lalu menarik tangan Icha hingga tubuh mungil itu menubruk dada bidangnya. Tangis Icha kembali pecah. Tangan nya meremas pelan baju berwarna hitam yang dipakai Gavin. Sedangkan Gavin, mata hijau laki-laki itu semakin menajam ketika mendengar isak tangis gadis dipelukannya itu.
"Arga brengsek." Batin Gavin.
Beberapa menit berlalu, kini tangis Icha mulai mereda. Hanya terdengar isakan kecil. Tangan Gavin dari tadi tidak berhenti memainkan rambut panjang Icha. Sesekali, dihirupnya aroma strawberry pada rambut gadis itu.
"Makasih Gavin, sudah dua kali Gavin berhasil nenangin Icha." Kata Icha dengan suara yang sangat pelan.
Icha perlahan melepas pelukannya. Kedua matanya terlihat masih berlinang. Wajahnya sembab dan hidungnya memerah. Gavin mengarahkan tangannya untuk menghapus air mata yang berada di sudut mata Icha. Setelah itu, ia menarik bibir Icha membentuk suatu lengkungan. Kini Icha tersenyum pada Gavin. Antara sadar atau tidak, Gavin pun mengembangkan senyumnya.
"Gavin!" Icha sontak langsung menempelkan kedua tangannya ke pipi kanan dan kiri Gavin. Mengarahkan laki-laki itu untuk melihat kearahnya.
Alis Gavin terangkat satu, "Kenapa?" Tanyanya.
"Gavin tadi senyum, ganteng banget." Kata Icha dengan wajah polosnya.
"Khilaf." Balas Gavin.
"Ayo senyum lagiiiiii." Kata Icha sambil tersenyum lebar.
"Gak."
"Ayo dong."
"Gak."
"Sekali aja."
"Tangannya gak pegel?" Tanya Gavin.
Menyadari bahwa kedua telapak tangannya masih berada di pipi Gavin, Icha pun langsung menurunkannya. Kedua pipinya memerah karena malu. Ia memalingkan wajahnya, tidak mau menatap Gavin yang tanpa diketahuinya saat ini sedang tersenyum geli.
"Pulang." Ajak Gavin.
"Tapi Icha masih mau disini." Pinta Icha dengan nada pelan.
Akhirnya, dengan berat hati, Icha mengikuti langkah Gavin. Langkah keduanya berhenti ketika sampai di tempat motor Gavin terparkir. Gavin duduk diatas motornya, disusul oleh Icha. Tak lama kemudian, motor itu bergerak meninggalkan taman.
"Gavin.. Icha.." Icha merasa ragu akan berpegangan kemana. Motor Gavin sangat tinggi dan cowok itu tidak memakai tas sehingga Icha bingung mau berpegangan kemana.
Masih dengan pikirannya, Icha tersentak ketika merasakan salah satu tangan Gavin menarik tangannya untuk melingkari pinggang laki-laki itu. Kini, Icha terlihat seperti memeluk Gavin dari belakang. Kepalanya ia senderkan di punggung Gavin.
"Nyaman." Kata Icha membuat Gavin tersenyum dibalik helm fullface nya.
Perjalanan mereka tidak memakan waktu lama. Kini, motor hitam itu berhenti di depan rumah megah bercat putih yang tampak asing bagi Icha. Gadis itu melepaskan kaitan tangannya pada pinggang Gavin lalu turun dari motor. Kedua bola matanya menjelajahi rumah itu.
"Gavin, ini rumah siapa?" Tanya Icha.
Gavin menatap kearah Icha tanpa menjawab pertanyaan gadis itu. Ia melangkah duluan, disusul oleh Icha. Saat sampai di depan pintu berwarna putih, Gavin mengetok pintu itu dua kali.
"Sebentar." Teriak seseorang di dalam rumah.
Beberapa saat kemudian, pintu berwarna putih itu terbuka. Icha menoleh kedepan Gavin karena tubuh cowok itu menghalangi pandangannya.
"Sudah pulang nak? Loh.. Calon mantu tante. Apa kabar? Ayo ayo masuk." Ternyata itu adalah mama Gavin.
Wanita paruh baya itu menarik pelan tangan Icha untuk memasuki rumahnya. Icha terpana melihat rumah Gavin yang sangat mewah. Rumah itu di dominasi oleh warna putih. Tante Nita atau mama Gavin membawa Icha menuju sofa putih di ruang tamu dan menyuruh gadis itu untuk duduk disana.
"Tunggu disini sebentar ya cantik, tante ke dapur dulu." Tante Nita lalu pergi menuju dapur.
Sambil menunggu Tante Nita, Icha mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang tamu itu. Matanya terpaku pada sebuah pigura yang berada di lemari kaca yang terletak bersebrangan dengan sofa yang saat ini sedang ia duduki. Icha membuka tasnya dan diletakkan diatas sofa, sedangkan ia bangkit dan berjalan menuju lemari kaca itu.
"Icha kok ngerasa familiar ya?" Gumam Icha sambil menatap foto seorang laki-laki berumur 6 tahun yang berada dalam foto itu.
"Itu foto Gavin waktu kecil." Suara itu membuat Icha kaget.
Icha membalikkan badannya dan melihat Tante Nita yang membawa nampan berisi kue dan jus mangga. Ia berjalan menghampiri dan duduk kembali ke tempatnya semula.
"Tante maaf ya Icha ngerepotin." Kata Icha merasa tak enak.
"Gak apa-apa kok. Tante seneng banget kamu main kesini. Sering-sering ya, biar tante ada temennya." Kata Tante Nita.
"Bukannya ada Gavin tante?"
"Gavin itu jarang di rumah. Biasanya dia pulang sekolah langsung ke markas geng nya itu loh. Kalo pulang udah malem." Jelas Tante Nita.
"Kalau papa Gavin dimana tante?" Tanya Icha lagi.
"Papa Gavin tiap hari kerja pulangnya malem terus, apalagi satu bulan ini ada masalah di perusahaan jadi lebih jarang ada di rumah. Tante jadi kesepian banget. Apalagi Gavin anak satu-satunya." Kata Tante Nita dengan wajah sedih.
Icha yang melihat mama Gavin memasang wajah sedih pun menjadi tak tega. "Icha bakal sering main kesini kok tante." Kata Icha berusaha membuat Mama Gavin tersenyum kembali.
Benar saja, wanita paruh baya itu mengembangkan senyumannya. "Janji?"
"Janji."
Mereka berdua pun mengobrol ringan, dimulai dari menceritakan masa kecil Gavin, kejadian konyol laki-laki itu dan sampailah pada cerita mengapa sifat Gavin yang dulunya ceria berubah menjadi dingin tak tersentuh.
"Dulu, Gavin punya temen masa kecil namanya Imel. Imel itu teman pertama Gavin karena memang sebelumnya, Gavin gak mau berteman sama siapa pun. Sampai suatu hari, Imel pergi dan Gavin berusaha nyari gadis kecil itu tapi gak berhasil. Dua tahun Gavin terpuruk dan selalu meratapi gadis kecilnya itu. Dan dengan susah payah, tante berhasil buat Gavin bangkit kembali, tapi Gavin jadi lebih menutup diri." Jelas Tante Nita.
"Gavin gak pernah dekat sama cewek lagi semenjak kejadian itu. Sampai dia ketemu kamu. Tante bisa lihat ada perubahan dalam diri Gavin. Seakan kamu adalah cahaya yang membuat Gavin keluar dari kegelapannya. Jadi Icha, tante minta tolong ya. Jangan tinggalin Gavin. Tante gak mau dia kembali ke masa terpuruknya lagi. Kamu mau kan? Terus ada di samping Gavin, selalu ada untuk Gavin dan mau bantu tante ubah sikap Gavin biar hangat lagi?" Pinta Tante Nita dengan wajah memohon.
Icha terlihat menimbang sesuatu, disamping itu, dia merasa tidak tega melihat wajah memohon Tante Nita. Akhirnya, Icha pun mengangguk pelan. "Iya tante, Icha bakal usahain."
"Makasih ya cantik."
Percakapan mereka terhenti karena suara deringan dari handphone milik Tante Nita. Wanita itu melihat kearah ID Name di handphonenya.
"Icha, kamu tolong panggilin Gavin ya. Ajak dia makan, soalnya dari tadi dia belum makan. Langsung ke kamarnya aja, ada di lantai dua yang pintunya warna hitam. Tante mau angkat telfon dulu."
"Iya tante."
Setelah kepergian Tante Nita, Icha pun melangkah menuju lantai atas. Ia menaiki undakan tangga itu lalu mencari letak pintu berwarna hitam yang katanya adalah kamar Gavin. Setelah menemukannya, ia pun mengetuk pintu itu.
"Gavin, Tante Nita nyuruh kamu kebawah untuk makan." Kata Icha.
Tidak terdengar sautan dari dalam. Icha pun mengetuk pintu itu lagi. "Gavin?" Panggilnya.
Ketika tidak mendapatkan jawaban, akhirnya Icha membuka pelan knop pintu itu. Matanya menjelajahi isi kamar Gavin yang sangat rapi dan maskulin itu. Kamar itu di dominasi oleh warna hitam, abu-abu dan putih.
"Gavin?" Panggil Icha lagi.
Icha melangkah menelusuri kamar Gavin. Langkahnya terhenti di depan nakas yang terletak di samping kasur. Tangannya tergerak mengambil bingkai foto yang terpajang di nakas itu.
"Loh, ini kan foto Icha waktu kecil. Kok sama Gavin?" Kata Icha dengan penuh tanda tanya.
Di dalam foto itu, terdapat Icha kecil yang memakai gaun berwarna putih sambil memegang boneka beruang berwarna pink. Sedangkan di sebelahnya terdapat sosok Gavin kecil yang memandangi Icha yang sedang tersenyum ke kamera.
"Ngapain?"
Icha terlonjak kaget mendengar suara itu. Untung saja bingkai yang dipegangnya tidak terjatuh. Dengan segera, Icha meletakkan kembali bingkai itu ke tempat semula. Ia lalu berbalik badan dan melihat dada bidang seseorang yang berdiri di depannya. Jarak mereka sangat dekat sehingga membuat Icha yakin jika ia bergerak sedikit saja maka wajahnya akan bertemu dengan dada bidang itu. Kepala Icha perlahan mendongak.
"Gavin?"
-----------
TO BE CONTINUE