
Bel istirahat telah berbunyi lima menit yang lalu. Icha terlebih dahulu keluar dari kelas menuju toilet. Sebenarnya Gavin menawarkan untuk mengantarnya, namun Icha menolaknya.
Icha menatap dirinya dari cermin yang berada di depannya. Ia menumpukan kedua tangannya pada pinggiran wastafel. Pintu kamar mandi terbuka menampilkan seseorang yang menatap Icha dengan benci. Icha dapat mendengar suara langkah kaki mendekat kearahnya. Tanpa berbalik pun ia sudah tau langkah milik siapa itu dari cermin yang berada di depannya.
"Lo tau gimana rasanya dibenci sama orang yang lo cinta?" Tanya orang itu berdiri beberapa langkah di belakang Icha.
Icha hanya diam tidak menjawab. Hal itu membuat orang yang kini menatap Icha pun terkekeh sinis. "Jelas, lo pasti gak tau kan rasanya dibenci dan gak diinginkan. Semua yang gue rasain sekarang. Dan semua itu karena lo!"
"Icha gak ngelakuin apa-apa." Icha berbalik menatap Dara yang kini bersedekap dada, menatap tajam penuh kebencian kearahnya.
"Gak ngelakuin apa-apa kata lo? Huh. Gue akui, hidup lo sempurna Cha. Semua orang sayang sama lo, bahkan orang yang gue cinta. Sedangkan gue?" Dara berdecih lalu membuang mukanya.
"Bahkan orang tua gue sendiri aja benci sama gue. Gue hidup tanpa kasih sayang Cha. Bahkan dari orang tua gue sendiri. Sedangkan lo.. Salah gak sih gue minta satu aja kasih sayang aja dari semua yang lo punya? Dari awal gue ketemu Gavin, gue bisa nyimpulin suatu perasaan yang belum pernah gue rasain sebelumnya. Apa salah gue berharap bisa dicintai juga Cha? Apa salah gue berharap suatu saat ada juga yang sayang sama gue?!" Suara Dara mulai meninggi.
"Dara.."
"GAK USAH NGOMONG! GUE BENCI DENGER SUARA LO! GUE BENCI NGELIAT LO YANG SOK LEMAH! GUE BENCI SAMA LO!" Dara maju mendekati Icha dengan wajah penuh kebencian.
"Dara.. mau ngapain?" Icha memundurkan langkahnya ketika melihat Dara semakin maju kearahnya.
"GUE BILANG DIEM!" Dara menjambak keras rambut Icha hingga kepala Icha mendongak keatas. Erangan kesakitan keluar dari mulut Icha.
"Dara sakit, lepasin." Icha berusaha melepaskan tangan Dara yang masih menarik kuat tubuhnya.
"GUE BENCI LO ICHA! GUE BENCI!! BAHKAN SEPUPU GUE AJA BELA LO! APA SIH BAGUSNYA LO!" Dara semakin kuat menarik rambut Icha membuat beberapa helai rambut terjatuh ke lantai kamar mandi.
"Sakit." Lirih Icha mulai meneteskan air matanya karena tarikan Dara sangat kuat.
brakk
"DARA! STOP!"
Suara itu membuat Dara spontan melepas tarikannya pada rambut Icha sehingga membuat Icha terjatuh ke lantai memegangi kepalanya yang sangat sakit. Di pintu kamar mandi, berdiri Teza yang menatap kearah Icha yang terjatuh ke lantai dan menghampirinya.
"Lo kelewatan Dara!" Teriak Teza dengan geram.
Dara yang dibentak seperti itu hanya memasang wajah tak bersalahnya. "Gue? Kelewatan? Apa bedanya gue sama lo?Perlu gue kasih tau siapa sebenarnya dalang dibalik kejadian di mading itu?" Ancam Dara.
"Jangan berani lo ngomong apapun!" Gertak Teza yang sudah ada ditempat Icha dan membantu gadis itu berdiri.
"Ayo Cha." Teza memegang bahu Icha untuk membantu Icha berdiri.
"Lo tau Cha, siapa yang punya ide soal berita di mading itu? Dia, mantan lo, orang yang sangat lo percaya, Bang Teza." Suara itu masih dapat di dengar Icha yang kini merasa sekelilingnya berputar-putar.
"Bang Teza?" Lirih Icha sebelum pingsan dalam dekapan Teza.
"Lo!" Teza menatap tajam kearah Dara. Tanpa basa basi, Teza mengangkat tubuh Icha dan dibawanya keluar dari kamar mandi.
"Lo bakal hancur Cha, gue jamin itu." Kata Dara penuh keyakinan, menatap tubuh Icha yang digendong Teza keluar dari kamar mandi.
***
Icha perlahan membuka matanya. Kepalanya masih sakit hingga sekarang bahkan ia masih bisa merasakan sakitnya tarikan Dara tadi. Icha menatap sekeliling, ruangan putih yang berbau obat-obatan. Ia sedang berada di uks sekolahnya, terbaring diatas kasur yang bersebrangan dengan sofa. Kedua matanya terpaku pada seseorang yang sedang menatapnya.
"Masih sakit?" Orang itu adalah Gavin. Gavin berdiri dari duduknya dan melangkah mendekat kearah Icha.
Gavin tidak menjawab, namun matanya mengarah pada bagian kiri Icha yang bersebrangan dengan Gavin sekarang. Icha pun mengikuti arah pandang Gavin dan menemukan Teza disana, sedang duduk diatas kursi sambil menatap penuh penyesalan kearahnya.
"Bang Teza." Icha langsung duduk. Ia ingat dengan kalimat terakhir yang diucapkan Dara sebelum ia pingsan tadi. Ia memandang penuh kecewa dan berbalik kearah Gavin, menyembunyikan wajahnya di dada bidang laki-laki itu.
"Icha.." Teza berkata lirih pada Icha. Percayalah, ia sangat menyesal sekarang. Sebenarnya ia ke sekolah tadi untuk menjelaskan semuanya dan memperbaiki apa yang telah dibuatnya tapi semua itu tidak berjalan sebagaimana ia harapkan.
"Gavin, Icha gak mau ketemu bang Teza lagi." Lirih Icha masih dalam posisi memeluk Gavin.
Gavin menatap kearah Teza, berusaha menyampaikan sesuatu lewat tatapan itu. Teza yang mendapat tatapan seperti itu dari Gavin pun menghela nafasnya. Teza bangkit dari duduknya.
"Maaf dan cepat sembuh." Ucapnya sebelum pergi meninggalkan Icha dan Gavin di uks.
Setelah kepergian Teza, tangis Icha pecah. Sungguh ia tak menyangka semua ini terjadi padanya. Bahkan perilaku kasar Dara tadi kepadanya masih terngiang-ngiang dalam benaknya. Ditambah dengan fakta yang baru saja ia tau. Semua itu membuatnya sedih dan kecewa.
"Udah ya, jangan nangis lagi." Gavin mengusap rambut Icha, berharap dapat menenangkan gadis yang saat ini sedang menangis dalam pelukannya itu.
"Apa yang selama ini Icha lakuin itu salah Gavin? Kenapa Dara benci banget sama Icha? Dan kenapa Bang Teza tega ngelakuin itu sama Icha?" Lirih Icha meremas kuat seragam Gavin.
"Sttt udah ya, kamu tenang dulu. Kamu gak salah kok. Udah ya jangan nangis lagi." Meskipun Gavin berkata dengan nada lembut pada Icha, namun kedua matanya berkilat tajam. Ia sangat marah sekarang, sungguh. Ia sangat tidak suka melihat Icha menangis seperti ini dan ia juga sangat tidak suka melihat orang lain menyakiti Icha-nya.
Beberapa menit kemudian, tangis Icha mereda tapi gadis itu masih setia memeluk Gavin.
"Udah ya, jangan terlalu dipikirin nanti kamu malah banyak pikiran bisa sakit."
Icha mengangguk dalam pelukan Gavin dan perlahan ia pun melepaskan pelukannya. Wajahnya sangat basah karena air mata sedangkan seragam Gavin juga basah di bagian dada karena air mata Icha.
"Maaf ya, seragam Gavin jadi basah gara-gara Icha." Icha menatap kearah bagian seragam Gavin yang basah.
Gavin tersenyum tipis dan mengambil tisu yang berada di nakas dan mengelap bekas air mata Icha di wajah gadis itu. "Gak apa-apa kok." Jawabnya.
"Ehmm ini jam berapa Gavin? Kok Gavin gak ke kelas?" Tanya Icha.
Gavin menatap kearah jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya. "Ini udah mau jam pulang Cha. Dan aku gak mungkin kan di kelas sementara kamu lagi sakit disini. Aku tadi langsung kesini pas tau kamu masuk uks."
"Ngomong-ngomong, masih sakit gak kepalanya?" Tanya Gavin mengelus kepala Icha dengan lembut.
"Masih sakit sedikit." Jawab Icha dengan jari telunjuk dan ibu jari seperti memperagakan sedikit.
"Mau istirahat lagi atau langsung pulang aja?" Tanya Gavin.
"Nanti aja pulangnya tunggu bel sekolah." Jawab Icha dibalas anggukan oleh Gavin.
"Yaudah kamu tiduran lagi." Kata Gavin menuntun Icha untuk berbaring kembali.
Gavin mengambil kursi dan duduk di sebelah Icha. Ia menumpukan dagunya di tangannya yang berada di kasur Icha.
"Ada apa? Kenapa ngeliatin Icha kayak gitu?" Tanya Icha saat Gavin terus menerus menatapnya. Ia jadi salah tingkah ditatap seperti itu oleh Gavin. Bahkan pipinya mulai merona sekarang.
"Gak apa-apa, cuma pengen ngeliatin kamu aja. Emang gak boleh?" Gavin tersenyum tipis di akhir kalimatnya.
TO BE CONTINUE