PITAGORA

PITAGORA
Part 11



SILAHKAN TINGGALKAN JEJAK


BUDAYAKAN VOTE SEBELUM BACA


COMMENT SETELAH BACA


WARNING!!!


BANYAK TYPO


NO COPAS


NO DARK READERS


SELAMAT MEMBACA


^^


AUTHOR : GITA


-----~oOo~-----


Icha berjalan disepanjang koridor sekolah dengan menenteng tas berwarna pink di pundaknya. Disebelah kanannya terdapat Kenzi sedangkan Kenzo entah pergi kemana. Dibandingkan Kenzo, Kenzi memang lebih humble dan ramah tapi jika soal kekejaman, Kenzi adalah pemenangnya. Laki-laki itu akan terlihat mengerikan apabila orang yang ia sayang diganggu oleh seseorang. Terutama jika adik perempuannya diganggu oleh spesies seperti Rio, jangan harapkan ia hanya diam sebagai pengamat. Seperti sekarang, Laki-laki yang dianggap hama oleh Kenzi itu berdiri 5 meter di depan mereka. Kenzi melayangkan tatapan tajam pada Rio.


"Hai Icha!!!" Rio berteriak lalu berlari kearah Icha hendak memeluknya.


Belum sempat ia memeluk Icha, kerah seragam Rio sudah ditarik terlebih dahulu oleh Kenzi.


"Mau ngapain adek gue lo?" Tanya Kenzi dengan wajah datarnya.


"Ini pasti Kenzo kan? Lo kayak gak tau gue aja sih. Ya mau nyapa calon istri dong." Kata Rio sambil mengedipkan sebelah matanya pada Icha.


"Gue Kenzi."


Rio tertawa keras. "Mana mungkin lo bang Kenzi. Dia kan.. kann.. mati gue."


Ucapan Rio berhenti ketika melihat Kenzo berjalan bersama Teza kearahnya. Dengan takut, ia melihat kearah Kenzi dan tersenyum cengengesan.


"Hai bang Kenzi. Apa kabar?" Tanya Rio dengan wajah setengah takutnya.


"Gak usah basa basi. Jauh-jauh lo dari adek gue." Gertak Kenzi lalu melepas kerah Rio.


"Bang Kenzi, kasian Rio." Kata Icha menatap kearah Rio.


"Kalian ngapain disini?" Tanya Kenzo saat mereka tiba.


"Biasa." Kata Kenzi menatap tajam kearah Rio.


"Abang." Icha memperingati.


"Icha boleh ngomong sebentar?" Suara lembut Teza membuat Icha tersentak kaget.


Sungguh, gadis itu tidak menyadari keberadaan Teza karena tertutupi oleh badan Kenzo. Seketika pipi Icha berubah menjadi merah, mengingat kejadian tadi malam. Dimana ia menikmati suara merdu Teza hingga dirinya terlelap. Gadis itu menundukkan kepalanya, tidak berani menatap kearah Teza.


"Hmm gue pergi. Belajar yang benar Princess." Kata Kenzi mengacak pelan rambut Icha lalu pergi meninggalkan mereka, disusul Kenzo.


"Lo ngapain masih disini?" Tanya Teza pada Rio.


"Gue ngejagain calon istri gue dari harimau kayak lo." Kata Rio dengan wajah sok seriusnya.


Tak lama, deringan ponsel Rio berbunyi. Laki-laki itu melihat id caller lalu menatap sekeliling meteka. Dengan wajah kesal, Rio pun pergi meninggalkan Teza dan Icha tanpa pamit. Teza yang melihat kelakuan Rio pun menggelengkan kepalanya.


"Gimana tadi malem? Bisa tidur kan?" Tanya Teza sambil menatap kearah Icha yang sekarang sedang menunduk.


"Hmm bisa.. makasih ya bang Teza." Kata Icha dengan nada pelan.


Teza tersenyum gemas. "Nanti pulang sama abang ya?"


"Tapi.."


"Tenang, abang udah izin kok ke Kenzo." Jawab Teza seolah tau apa yang ingin dikatakan Icha.


Memang Kenzo dan Kenzi memiliki pandangan yang berbeda. Bagi Kenzo, sosok Teza adalah yang terbaik untuk adiknya sedangkan Kenzi lebih mendukung Gavin.


"Hmm oke."


"Ayo, abang anter ke kelas." Kata Teza hanya dibalas anggukan kepala oleh Icha.


Mereka berdua pun berjalan berdampingan menuju kelas. Murid-murid yang berada di koridor tampak membicarakan mereka. Icha yang mendengar itu hanya terdiam. Ia sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu semenjak ketiga pangeran sekolah menyatakan secara terang-terangan bahwa mereka menyukainya.


"Nanti istirahat abang jemput ya, kita ke kantin bareng." Kata Teza saat mereka berdua telah sampai di depan kelas Icha.


Baru saja Icha ingin menjawabnya, sosok Gavin berjalan melewati mereka tanpa menoleh sedikitpun. Icha mengikuti arah perginya Gavin hingga laki-laki itu tidak terlihat lagi.


"Icha?" Panggil Teza.


Icha mengerjapkan kedua matanya laku menatap kearah Teza. "Uhmm iya bang Teza."


Teza tersenyum lalu mengusap pelan rambut Icha. "Udah gih masuk. Semangat ya belajarnya."


Icha membalas senyum itu lalu mengangguk pelan. "Icha masuk ya, bang Teza."


"Icha lo ngapain lengket banget sama bang Teza? Kalian pacaran?" Tanya Safira saat Icha baru saja duduk di samping Rere.


"Icha putus sama Arga." Kata Icha mengalihkan, membuat Rere dan Safira membulatkan mata mereka.


"Demi apa? Lo serius Cha?" Tanya Safira memastikan.


"Alhamdulillah kebuka juga pintu hati lo Cha." Rere berucap dengan penuh syukur.


"Arga selingkuhin Icha. Arga jahat." Mata Icha mulai berkaca-kaca.


"Icha, udah jangan dipikirin lagi. Dia gak baik buat lo." Safira bangkit dari duduknya dan bergerak memeluk Icha untuk menenangkan sahabatnya itu.


Rere yang melihat itu pun ikut memeluk Icha. "Gue yakin lo pasti dapet yang lebih baik dari Arga kok Cha. Jangan sedih ya." Kata Rere sambil mengelus punggung Icha.


Tanpa mereka bertiga sadari, sedari tadi Gavin memerhatikan mereka, ah lebih tepatnya kearah Icha. Laki-laki itu menghela nafasnya lalu mengalihkan pandangannya kearah jendela dengan tatapan yang tak terbaca.


***


Seperti kata Teza tadi pagi, laki-laki itu datang untuk menjemput Icha tepat pada saat bel istirahat berbunyi. Icha membereskan bukunya, ia masih belum menyadari bahwa Teza saat ini sedang berada di belakangnya, menatap dirinya dengan senyum yang mengembang di bibir tipis itu.


Saat Icha berbalik, ia terkejut melihat keberadaan Teza yang sangat dekat dengannya saat ini. Jantung Icha berdetak keras saat melihat senyuman Teza yang sangat manis itu.


"Bang Teza, ngapain disini?" Tanya Icha sedikit memberi jarak agar dirinya tidak terlalu dekat dengan Teza.


"Kan tadi pagi abang udah bilang mau jemput kamu ke kantin bareng. Udah yuk, ke kantin." Teza langsung menarik pelan tangan Icha sebelum gadis itu menjawab perkataannya tadi.


"Icha! Yah ditinggalin lagi." Safira dan Rere yang baru saja datang dari toilet pun menatap kearah Icha yang sedang ditarik oleh Teza.


"Mereka ada hubungan apa sih Re?" Tanya Safira.


Rere menatap kearah Teza dan Icha yang sudah semakin jauh. "Gak tau, tapi Bang Teza kayaknya sudah tau Icha putus sama Arga. Liat aja, bentar lagi dia pasti nembak Icha."


"Apa? Beneran lo? Gila sih, gercep banget abang lo Re."


"Lo kan tau sendiri Bang Teza udah suka sama Icha dari lama, bahkan sebelum Icha masuk sekolah ini." Jelas Rere.


Safira menganggukkan kepalanya lalu mereka berdua pun berjalan menyusul Icha yang sudah terlebih dahulu pergi ke kantin.


***


Kantin terlihat sangat padat dan ramai. Semua murid terlihat sedang memanfaat waktu istirahat mereka sebaik mungkin. Ada yang sedang makan, bergurau, tertawa, bahkan ada yang bertingkah konyol dengan menggelar konser dadakan di kantin. Icha dan Teza kompak menggelengkan kepala mereka ketika melihat Rio sedang berdiri diatas meja dengan memegang sapu sebagai mic ditengah konser dadakan itu. Di samping Rio terdapat keempat temannya yang bernama Dani, Pram, Putra dan Aldi melakukan hal yang sama.


"Rio dan segala tingkah ajaibnya." Kata Teza lalu tertawa, disambut juga oleh tawa Icha.


"Bukan Rio kalau gak bisa narik perhatian orang-orang." Kenzo dan Kenzi bergabung bersama mereka.


"Icha, inget ya jangan mau sama Rio. Abang gak bisa bayangin gimana nelangsanya hidup kamu nanti sama Rio." Kata Kenzi sambil menggelengkan kepalanya saat melihat Rio yang masih sibuk dengan konsernya walau suara laki-laki itu terdengar sangat cempreng dan memekakkan telinga.


"Bang Kenzi kenapa sih dendam banget sama Rio?" Tanya Icha heran.


Kenzi yang duduk di sebelah Icha pun menyentil pelan kening adiknya, membuat Icha mengaduh pelan. "Anak kecil gak boleh tau." Kata Kenzi lalu memasang wajah jahilnya.


"Aduh, sakit bang Kenzi." Icha menatap Kenzi dengan wajah cemberut.


Beberapa menit kemudian, Rere dan Safira datang. Rere langsung duduk di ujung kursi, mendahului Safira yang mau tidak mau harus duduk di sebelah Kenzo.


"Icha jahat banget sih ninggalin kita." Kata Rere memasang wajah cemberutnya.


"Gak usah cemberut gitu lo, jelek tau." Ejek Kenzi pada Rere.


Rere yang tak terima dikatai seperti itu pun memelototkan matanya. "Orang jelek gak boleh ngatain orang lain jelek." balas Rere dengan pedas.


Teza tertawa pelan. "****** lo, mangkanya jangan gangguin cewek yang lagi pms."


"Aduh." Teza langsung mengaduh pelan saat kakinya diinjak kuat oleh Rere.


Icha hanya melihat mereka dengan wajah polosnya, sedangkan Safira dan Kenzo terdiam tanpa suara.


"Siapa nih yang mau mesen makanan?" Tanya Rere dengan tidak sabaran karena dirinya memang sudah lapar.


"Gue aja." Kata Safira akhirnya bicara.


"Gue temenin." Ucapan Kenzo membuat Safira terkejut.


"Gak usah Bang Kenzo." Tolak Safira.


"Ayo." Tanpa membiarkan Safira berbicara, Kenzo sudah lebih dulu berjalan meninggalkan meja mereka. Dengan kesal, Safira pun mengikuti langkah Kenzo.


"Kok Bang Kenzo sama Safira aneh ya?" Tanya Icha dengan wajah polosnya.


Semua yang berada di meja itu pun langsung menatap kearah Icha. Mereka menggelengkan kepala ketika melihat tingkah polos Icha.


"Anak kecil gak boleh tau." Kata Kenzi lagi membuat Icha menjadi kesal kembali.


"Bang Kenziiiii!!!!"


TO BE CONTINUE