
SILAHKAN TINGGALKAN JEJAK
BUDAYAKAN VOTE SEBELUM BACA
COMMENT SETELAH BACA
WARNING!!!
BANYAK TYPO
NO COPAS
NO DARK READERS
SELAMAT MEMBACA
^^
AUTHOR : GITA
-----~oOo~-----
Kenzo dan Safira berjalan kearah mereka dengan membawa nampan yang berisi makanan. Dua nampan itu diletakkan diatas meja. Tak lama dari kedatangan Kenzo dan Safira, Rio pun berjalan kearah mereka lalu duduk di sebelah Teza.
"Hai guys!!" Sapa Rio dengan wajah sok coolnya.
"Udah selesai konsernya?" Tanya Rere yang kini sedang memakan baksonya.
"Re." Teza memperingati.
Rere memutar bola matanya kesal lalu kembali mengunyah makanan.
"Sudah dongg! Bagus kan suara gue?" Tanya Rio sambil menyisir rambutnya dengan jari.
Kenzi memutar bola matanya dengan malas, "Suara kayak kodok kejepit aja bangga." Dengus nya.
"Bang Kenzo atau bang Kenzi nih?" Tanya Rio.
"Menurut lo?" Kenzi balik bertanya.
"Eh mana nih calon masa depanku." Rio memutar wajahnya kesana kemari.
"Hai Icha." Rio mengedipkan matanya.
"Sekali lagi lo gombalin adek gue, gue colok tuh mata pake garpu." Ancam Kenzi sambil menunjukkan garpu nya.
"Oke ini pasti bang Kenzi. Ampun bang, becanda aja kok tadi." Kata Rio tersenyum cengengesan.
"Ngapain lo kesini? Mata gue sepet liat lo mulu." Kesal Rere yang sudah menghabiskan makanannya.
"Eh si Gavin mana? Tumben gak gabung ngapelin Icha?" Tanya Rio.
Seketika, semua orang di meja itu pun saling pandang. Memang sebelumnya Gavin tidak akan pernah melewatkan waktu istirahat tanpa bersama Icha, namun kali ini terlihat berbeda. Bahkan laki-laki itu tidak terlihat di kantin.
"Palingan dia ada urusan sama GOD." Kata Teza sambil mengelap sisa makanan di bibirnya menggunakan tisu.
"Gavin ada urusan sama tuhan? Urusan apa?" Tanya Icha dengan wajah polosnya.
"ICHAAAAAA!!!" Kesal semua orang yang ada di meja itu.
***
Sementara itu, Gavin, Reno dan Satria sedang berada di markas GOD atau cafe milik Reno. Mereka sedang duduk di ruangan khusus GOD yang di dalamnya sangat banyak sekali fasilitas jika anggota GOD berkumpul seperti PS, televisi, sofa, wifi, bar kecil, meja makan, kulkas, dan komputer.
"Tumben lo mau bolos Gav, ada masalah apa?" Tanya Satria yang sedang merokok.
Gavin yang sebelumnya memainkan handphone pun melihat kearah Satria. "Pengen aja." Jawabnya.
"Impossible. Selama ini lo gak pernah mau di ajak bolos, masa sih tiba-tiba mau." Kata Reno yang sedang memainkan game di handphonenya.
Gavin mengalihkan tatapannya kembali pada layar handphone. "Pengen aja." Ulang Gavin.
Satria dan Reno mendengus kesal lalu mengangguk secara terpaksa.
"Katanya beberapa hari yang lalu lo nonjok si Arga Gav, banyak anak Pancasila yang ngomongin. Bener ya?" Tanya Satria.
"Hm." Gavin mengangguk membenarkan.
"Kenapa? Lo ada masalah sama Arga?" Reno yang mulai tertarik dengan pembicaraan itu pun menyudahi gamenya lalu menatap Gavin yang sedang duduk di sofa.
"Masalah Icha?" Tebak Satria.
"Gak." Jawab Gavin.
"Jadi?"
"Bukannya lo itu orang yang bagus dalam pengendalian emosi? Gak mungkin kan lo nonjok dia tanpa sebab? Itu bukan lo banget." Kata Satria.
"Gue duluan." Tanpa menjawab pertanyaan dari kedua temannya, Gavin berdiri dan melangkah pergi.
"Gav lo mau kemana?" Teriak Reno karena posisi Gavin yang sudah jauh.
"Pulang." Jawab Gavin dengan nada yang sedikit keras namun tetap datar.
"Eh guys nanti jalan yuk, lama nih kita gak jalan bareng lagi." Ajak Safira.
"Gue sih kuy. Lo Cha?" Tanya Rere menatap Icha yang duduk di sebelahnya.
Icha menatap bergantian kearah Rere dan Safira lalu memasang wajah sedihnya. "Icha gak bisa hari ini. Maaf ya.." Tolak Icha.
"Kenapa gak bisa?" Tanya Safira.
"Hmm Icha mau pergi sama Bang Teza." Kata Icha memelankan suaranya ketika menyebut nama Teza.
"WHAT? Tuh kan Ra, apa gue bilang."
Safira mengangguk dan menatap antusias pada Icha. "Mau kemana Cha? Cieee yang mau ngedate." Safira mencolek pelan lengan Icha.
"Cieee yang lagi pdkt sama abang gue. Udah jadi calon kakak ipar dong nih." Rere menaik turunkan alisnya untuk menggoda Icha.
Icha tersenyum malu, "Apa sih kalian, Icha sama Bang Teza cuma jalan biasa aja kok."
"Ada yang malu nih."
"Jalan yang gak biasa juga gak apa-apa kok Cha, kita dukung kok. Ya gak Re?"
Rere mengangguk.
"Udah ah, Icha malu." Jujur Icha sambil memegangi pipinya yang terasa panas.
Baru saja Rere mau membuka mulutnya, Bu Melati masuk ke dalam kelas. Ia pun mengurungkan niatnya. Pelajaran itu pun di mulai. Sekarang, Bu Melati sedang mengabsen murid-murid.
"Gavin Oskarion Dallas." Panggil Bu Melati.
Hening. Tidak ada jawaban. Semua murid kompak melihat kearah pojok kelas dimana bangku Gavin berada. Begitupun Icha, Rere dan Safira yang juga menoleh kebelakang. Tapi nihil. Tidak ada Gavin dan tasnya. Bahkan kedua teman laki-laki itu pun tidak ada.
"Dimana Gavin?" Tanya Bu Melati.
"Gak tau bu, tadi pagi ada kok." Jawab Rendi, sang ketua kelas.
Bu Melati pun hanya menganggukkan kepalanya.
"Gavin bolos? Gak mungkin banget." Kata Rere dengan suara pelan.
"Baru kali ini dia bolos kan? Biasanya juga gak pernah." Balas Safira dengan suara yang pelan juga.
"Pantesan tadi gak keliatan di kantin. Aneh banget deh." Kata Rere sebelum kembali fokus dengan buku di depannya.
"Gavin kenapa ya?" Batin Icha.
"Prischa Imelda Rasyifa."
Suara lantang Bu Melati membuat Icha tersadar dari lamunannya.
"I-iya bu?" Tanya Icha dengan gugup.
"Jika kamu ingin melanjutkan melamun silahkan keluar dari kelas, kecuali kamu mau belajar matematika di kelas ini. Ibu gak suka murid yang gak fokus di jam pelajaran." Tegur Bu Melati.
"Maaf bu."
Icha pun kembali fokus dalam pelajaran walaupun sesekali ia masih memikirkan Gavin.
***
Pulang sekolah, Icha dan Kedua temannya baru saja menyelesaikan piket. Mereka merapikan kembali alat kebersihan lalu mengambil tas mereka yang masih berada di kursi.
"Jadi kan Ra?" Tanya Rere.
"Jadi dong, eh lo gimana Cha?"
"Hmm.." Icha bergumam, bingung ingin menjawab apa.
"Gak usah ditanya kalo itu mah, tuh udah ditunggu sama pangeran." Kata Rere menunjuk Teza yang sedang duduk di bangku yang berada di depan kelas mereka.
Melihat kedatangan mereka, Teza pun berdiri dari duduknya. Dimasukkannya handphone berlogo apel digigit itu kedalam saku celananya.
"Sudah selesai piketnya?" Tanya Teza pada Icha.
Rere dan Safira bersiul menggoda Icha yang kini pipinya memerah karena malu.
"S-sudah kok." Jawab Icha.
"Takut ganggu ah Ra, yuk cabut duluan." Ajak Rere menarik tangan Safira menjauhi Icha dan Teza.
"DULUAN YA RA, BANG TEZA. GOODLUCK KENCANNYA!!" Teriak Safira mengedipkan matanya dari jauh.
Teza yang melihat tingkah Safira pun menggelengkan kepalanya. "Bar-bar banget."
Pandangan Teza pun beralih ke Icha. Ia lalu memberikan senyum manisnya. "Ayo." Ajaknya.
Icha mengangguk pelan dan berjalan bersisian dengan Teza.
TO BE CONTINUE