
SILAHKAN TINGGALKAN JEJAK
BUDAYAKAN VOTE SEBELUM BACA
COMMENT SETELAH BACA
WARNING!!!
BANYAK TYPO
NO COPAS
NO DARK READERS
SELAMAT MEMBACA
^^
AUTHOR : GITA
-----~oOo~-----
Icha dan Teza telah sampai di depan rumah Icha saat hari sudah mulai gelap. Gadis itu turun diikuti oleh Teza. Sebelum masuk, Icha menatap kearah Teza.
"Makasih ya Bang Teza." Kata Icha lalu tersenyum manis hingga kedua lesung pipinya terlihat.
"Sama-sama. Udah ya, jangan nangis lagi." Kata Teza ikut tersenyum.
"Iya bang Teza. Hehehe."
"Abang pulang dulu ya. Dahh." Teza masuk ke dalam mobilnya sambil melambaikan tangannya pada Icha.
Icha pun membalas lambaian tangan itu. "Hati-hati bang Teza." Katanya.
Teza mengangguk lalu perlahan ia menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Icha. Ketika Icha akan masuk, ia dikejutkan oleh seseorang yang terlihat duduk diatas motornya dan sedang memperhatikan dirinya. Lampu jalanan yang remang-remang membuat Icha memicingkan matanya untuk melihat wajah orang itu. Ia pun memutuskan untuk berjalan mendekat.
"Loh, Gavin?"
Ternyata orang itu adalah Gavin. Laki-laki itu memakai jeans hitam, kaos hitam, jaket kulit hitam dan sepatu berwarna hitam. Jangan lupakan rambutnya yang acak-acakan menambah kesan tampan semakin menguar.
"Dari mana sama Teza?" Tanya Gavin.
"Dari.. Loh itu wajah Gavin kenapa lebam? Gavin abis berantem?" Tanya Icha.
"Bukan apa-apa. Jawab dulu."
Icha menggelengkan kepalanya lalu menarik tangan Gavin meskipun ia sedikit kesusahan karena awalnya laki-laki itu tetap bertahan pada posisinya. Icha membawa Gavin untuk memasuki rumahnya. Setelah sampai di ruang tamu, Icha menyuruh Gavin untuk duduk di sofa berwarna cream yang ada di ruang tamu itu.
"Tunggu sebentar ya Gavin." Kata Icha lalu pergi meninggalkan Gavin.
Gadis itu berjalan menuju kamarnya. Ketika ia ingin menaiki tangga, ia berpapasan dengan Kenzo. Wajah Kenzo langsung menatap bingung kearah Icha yang terlihat buru-buru.
"Baru pulang Cha?" Tanya Kenzo.
"Iya abang." Kata Icha.
"Kenapa buru-buru gitu? Pelan-pelan Icha, nanti kamu jatuh." Kata Kenzo ketika melihat Icha sedikit berlari saat menaiki tangga.
"Nanti ngomongnya lagi abang, Icha lagi buru-buru." Kata Icha dengan nada yang sedikit keras saat ia telah berada di lantai atas.
Kenzo yang melihat kelakuan adiknya pun menggelengkan kepalanya. Saat ia ingin berjalan ke dapur, ia melihat bahwa ada seseorang yang sedang berada di ruang tamu. Dengan penasaran, ia pun berjalan menuju ruang tamu untuk melihat orang itu.
"Gavin? Ngapain lo disini?" Tanya Kenzo.
Gavin yang awalnya sedang menatap handphonenya pun mengalihkan pandangannya pada Kenzo. Ia mengangkat kedua bahunya pertanda tak tau karena memang Icha yang menariknya kesini. Ia masih tidak tau maksud dari gadis yang sekarang tidak tau kemana perginya itu.
"Muka lo kenapa babak belur gitu? Abis berantem sama siapa lo?" Tanya Kenzo.
"Biasa." Jawab Gavin dengan nada datarnya. Matanya berkilat saat mengatakan hal itu.
"Arga?" Tebak Kenzo.
Gavin mengangguk. Kenzo pun menghela nafasnya dan menyandarkan punggungnya di sofa. "Kenapa lagi dia?" Tanya Kenzo.
"Icha nangis."
Mendengar perkataan Gavin langsung membuat Kenzo menegakkan tubuhnya dan memasang wajah seserius mungkin.
"Selingkuh?" Tebak Kenzo.
Gavin lagi-lagi mengangguk. "Kayaknya ada yang lain, tapi gue gak tau." Jawabnya.
"Sialan tu orang, gue gak terima dia nyakitin adek gue terus. Udah berkali-kali gue peringatin tapi dia tetap gak dengerin gue." Kenzo mengacak rambutnya dengan frustasi.
"Jangan sampe Icha tau kalo dari dulu Arga emang gak pernah serius sama dia. Lo kan tau dia cuma mainin Icha untuk ngebalas dendamnya ke lo." Kata Kenzo lagi.
"Siapa yang dimainin? Dendam apa?" Tanya Icha yang baru saja datang membawa kotak P3K.
Melihat kedatangan Icha membuat Kenzo dan Gavin sedikit terkejut. Mereka bersamaan melihat kearah Icha yang baru saja turun dari tangga yang tak jauh dari mereka. Mengikuti gadis itu hingga ia duduk di sebelah Gavin.
"Jadi siapa?" Tanya Icha lagi ketika pertanyaan sebelumnya tidak dijawab oleh Gavin dan Kenzo.
"Bukan siapa-siapa kok. Kami cuma ngomongin film aja. Ya gak Gav?" Kenzo mengedipkan matanya pada Gavin agar laki-laki itu bisa diajak kerja sama.
"Hm." Jawab Gavin.
"Film apa? Icha mau nonton juga dong." Kata Icha yang saat ini sedang membuka kotak P3K.
"Jangan, filmnya banyak adegan bunuh-bunuhannya. Kan Icha gak suka film gitu kan?" Elak Kenzo.
"Apa iya? Yaudah deh gak jadi nonton. Icha nonton spongebob aja." Jawab Icha.
"Abang ke dapur dulu ya. Dah Gav." Kenzo berlalu meninggalkan Gavin dan Icha di ruang tamu.
Setelah menuangkan alkohol ke kapas, Icha pun membawanya menuju luka Gavin. "Tahan sebentar ya, Icha hati-hati kok." Kata Icha mulai menekan kapas itu dengan pelan diatas luka di sudut bibir Gavin.
Gavin hanya terdiam tidak menjawab. Kedua mata laki-laki itu hanya terpaku pada wajah cantik gadis di depannya. Ia terlalu mengagumi wajah itu hingga tidak sadar bahwa Icha menangkap tatapan yang diberikan laki-laki itu kepadanya. Icha pun menekan sedikit kuat di luka Gavin.
"Awss." Ringis Gavin ketika merasakan sakit pada saat lukanya ditekan dengan sengaja oleh Icha.
"Maaf, Icha sengaja. Lagian Gavin ngapain ngeliatin Icha gitu? Icha gugup tau." Kata Icha memanyunkan bibirnya.
Mendengar itu, Gavin pun tersenyum sangat tipis. Tapi sayangnya senyum itu tidak dilihat oleh Icha karena gadis itu kembali sibuk mengobati luka di wajah Gavin dengan telaten.
Beberapa menit berlalu, Icha sudah selesai mengobati luka Gavin. Ia pun merapikan kembali kotak P3K itu lalu diletakkan diatas meja.
"Icha gak tau kenapa Gavin berantem dan sama siapa. Tapi jangan berantem lagi ya Gavin, Icha gak suka ngeliat Gavin banyak luka gini." Kata Icha menatap kearah mata Gavin yang masih menatap kearahnya.
"Kalo gitu jangan sakit, jangan nangis."
"Gak apa-apa. Suatu saat Icha pasti ngerti." Kata Gavin lalu berdiri.
"Gavin mau pulang? Gak mau makan dulu? Kayaknya bunda masak banyak deh." Kata Icha.
"Gak usah. Gue pulang dulu."
Icha mengikuti langkah Gavin hingga ke depan motor laki-laki itu. Gadis itu masih menatap Gavin yang saat ini sedang memakai helm.
"Istirahat." Kata laki-laki itu sebelum melajukan motornya meninggalkan rumah Icha.
Icha pun tersenyum lalu masuk ke dalam rumahnya.
"Tadi Gavin ya Cha?" Tanya Bundanya saat Icha telah masuk ke dalam rumah.
"Iya bun."
"Dia gak kamu ajak makan dulu?"
"Udah bun, tapi Gavin gak mau. Icha keatas dulu ya bun, udah gerah banget nih."
"Iya, kamu mandi abis itu makan dulu ya baru tidur."
Icha mengangguk mengiyakan perkataan bundanya lalu bergerak menaiki tangga menuju kamarnya.
***
Keesokan paginya, Icha dan keluarganya sedang sarapan pagi di meja makan. Icha dan Kenzo sudah siap dengan seragam mereka. Jangan lupakan tambahan anggota, yang tak lain dan tak bukan adalah Riordan Attalariq. Pagi-pagi sekali laki-laki itu pergi kerumah Icha untuk membantu bunda Icha merapikan dan membersihkan rumah. Setelahnya ia membangunkan Icha dan Kenzo lalu akhirnya bergabung di meja makan bersama keluarga itu.
"Gak bosen apa lo setiap pagi ngerusuhin rumah orang terus?" Sindir Kenzo.
"Huss Kenzo.." Bundanya memperingati.
"Sebagai calon menantu yang paling ganteng dan idaman, gue harus senantiasa membantu mertua jika berada dalam kesusahan." Kata Rio.
"Lo jadi sering kesini semenjak gak ada Kenzi."
"Ah iya, kapan bang Kenzi pulang yah?" Tanya Icha pada ayahnya.
"KENZI PULANGGGGGGG!!!!" Panjang umur, muncullah seorang laki-laki dengan membawa koper berwarna hitam.
"Bang Kenziiiiii." Teriak Icha lalu berlari memeluk Kenzi.
Kenzi pun membalas pelukan adik tersayangnya. Semua yang di meja makan memperhatikan mereka berdua, kecuali Rio yang terlihat tegang.
"Tante, Rio pamit dulu ya. Tiba-tiba Rio mendengar mami lagi manggil nama Rio." Kata Rio lalu berjalan dengan mengendap-endap.
"Mau kemana lo?" Suara berat Kenzi membuat langkah Rio terhenti.
Rio menoleh kebelakang dan melihat bahwa Kenzi sedang menatapnya tajam sambil berkacak pinggang. Matanya melotot dengan garang membuat Rio semakin menciut.
"Ehm itu.. itu.." Rio menunjuk kearah pintu keluar.
"Itu apa?"
"Mamiiiiii Rio takuttttt." Teriak Rio lalu dengan langkah lebarnya, ia pun lari meninggalkan rumah Icha.
Semua orang yang berada di rumah Icha pun tertawa dengan kerasnya. Memang Rio sangat takut pada saudara kembar Kenzo itu. Biasanya ia hanya akan menganggu Icha di sekolah, tidak di rumah. Jika pun ia menganggu Icha di rumah, itu hanya saat Kenzi pergi untuk travelling nya.
"Kenzi, kamu gak boleh gitu. Kasihan tuh Rio ketakutan." Kata Bundanya.
Kenzi pun tertawa lalu berjalan menuju orang tuanya dan memeluk mereka satu persatu.
"Ngapa balik lo?" Sindir Kenzo.
Kedua pemilik wajah yang sangat mirip itu pun berpelukan ala laki-laki.
"Nanti lo kangen gue lagi, kalo gue gak balik." Canda Kenzi.
"In your dream."
"Udah-udah, Kenzi, duduk. Kita lanjutkan sarapan."
Mereka pun melanjutkan sarapan itu dengan keheningan. Hingga semua piring telah bersih dan kosong dari makanan.
"Ayo Cha, berangkat." Ajak Kenzo.
"Gue aja yang anter." Kata Kenzi.
Mereka bertiga pun menyalami kedua orang tua mereka lalu pergi menggunakan mobil milik Kenzi.
"Gimana sekolah setelah gue pergi?" Tanya Kenzi.
"Ya biasa." Jawab Kenzo.
"Icha masih suka diganggu sama Rio?" Tanya Kenzi.
"Hmm Icha gak merasa terganggu kok bang Kenzi." Jawab Icha.
Kenzi menganggukkan kepalanya dan kembali fokus pada jalanan di depannya. Beberapa menit kemudian, mobil Kenzi pun telah sampai di SMA Dinata. Kenzo dan Icha pun turun dari mobil.
"Dah bang Kenzi." Pamit Icha lalu berlari meninggalkan mobil.
"ICHA JANGAN LARI!" Teriak Kenzi dan Kenzo bersamaan. Keduanya saling menatap lalu tertawa.
Sebuah mobil terparkir di sebelah mobil Kenzo dan turunlah Teza serta Rere.
"Loh, Kenzi. Udah balik lo?" Tanya Teza bertos ria dengan Kenzi.
"Udah bro. Baru aja." Jawab Kenzi.
"Bang, Rere ke kelas duluan ya." Pamit Rere lalu berlalu meninggalkan mereka bertiga.
"Kapan mulai sekolah?" Tanya Teza.
"Besok."
Teza mengangguk. Ia pun mengajak Kenzo untuk ke kelas bersama karena memang mereka satu kelas.
***
TO BE CONTINUE
KENZO DAN KENZI
(yang sebelah kanan itu Kenzo, yang sebelah kiri itu Kenzi)