PITAGORA

PITAGORA
Part 18



Icha meletakkan kepalanya di bahu tegap Gavin. Laki-laki yang sedang menggendongnya itu tidak mengeluarkan satu patah kata pun dari tadi. Icha memiringkan kepalanya, menatap wajah tampan Gavin dari samping.



"Gavin." Panggil Icha.


Gavin memiringkan kepalanya sedikit, menatap datar kearah Icha sebelum kembali menatap kearah depan. "Apa?"



"Gavin kok bisa ada di taman ini?" Tanya Icha.


"Bisa." Jawab Gavin.


"Gavin olahraga juga?" Tanya Icha lagi.


"Iya."


"Gavin kesini sama siapa?"


"Sendiri."


"Gavin.."


"Sttttt." Desis Gavin dibalas cengiran oleh Icha.


"Kenapa Gavin selalu ada untuk Icha? Nyelamatin Icha, nemenin Icha, ngehibur Icha?" Tanya Icha dengan nada yang semakin memelan.


Pandangan Gavin tetap lurus. Mulutnya terkatup rapat seolah menunjukan bahwa ia tidak akan menjawab semua pertanyaan yang Icha tanyakan. Beberapa saat kemudian, mereka pun telah sampai di mobil Gavin.


"Buka!" Perintah Gavin pada Icha.


Icha meraih ganggang pintu mobil Gavin dan membukanya. Setelah pintu mobilnya terbuka, Gavin pun menurunkan Icha di bangku yang berada di samping kemudi. Posisi Icha duduk menyamping dengan kaki yang menghadap kearah Gavin. Gavin membuka dashboard mobilnya dan mengambil kotak P3K. Setelah itu, Gavin berjongkok di depan Icha.


"Aduhh sakit." Ringis Icha saat Gavin mengobati lukanya.


Gavin yang mendengar ringisan Icha pun lebih berhati-hati dalam mengobati luka gadis itu. Setelah selesai, ia menempelkan plester ke lutut Icha yang tergores.


"Makasih ya Gavin." Kata Icha.


"Iya." Jawab Gavin mengembalikan kotak P3K itu kedalam dashboard.


"Kaki." Kata Gavin.


Icha yang mengerti pun mengangkat kakinya sehingga sepenuhnya berada di dalam mobil. Setelah memastikan kaki Icha sepenuhnya masuk, Gavin pun menutup pelan pintu mobilnya dan berjalan menuju pintu kemudi.


"Gavin, kita mau kemana?" Tanya Icha saat Gavin menyalakan mesin mobil.


"Mau makan apa?" Tanya Gavin.


"Hmm Icha mau mcd!"


Gavin mengangguk lalu mulai mengendarai mobilnya menuju mcdonalds terdekat. Ia memesan makanan melalui drive thru.


"Mau apa?" Tanya Gavin saat mereka sudah sampai.


"Double cheese burger, french fries dan hot chocolate." Kata Icha.


"Dua double cheese burger, hot chocolate, black coffe dan french fries." Ulang Gavin.


"Ada tambahan?"


"Tidak."


Gavin pun kembali menjalankan mobilnya untuk mengantri pengambilan pesanan. Karena masih pagi dan hari libur, tidak banyak yang menggunakan layanan drive thru sehingga mereka tidak perlu mengantri terlalu lama.


"Terima kasih." Kata Gavin saat telah mengambil pesanan.


Ia menyerahkan makanan dan minuman yang Icha pesan ke tangan gadis itu. Setelah itu, ia menjalankan mobilnya dan memarkirkan mobil itu di parkiran agar mereka bisa makan terlebih dahulu.


"Gavin." Panggil Icha.


Gavin menoleh kearah Icha dengan alis yang terangkat sebelah.


"Gavin hari jumat kemarin kemana?" Tanya Icha.


"Bolos." Jawab Gavin singkat.


"Iya maksud Icha, kok tumben Gavin bolos? Biasanya gak pernah."


"Pengen aja."


"Pas pulang, Icha liat Gavin di taman. Tapi pas Icha samperin, Gavin hilang."


"Salah orang."


"Tapi Icha yakin yang Icha liat itu Gavin." Kata Icha dengan penuh keyakinan.


"Bukan."


"Gavin tau gak. Anehnya, Bang Kenzo sama Bang Kenzi tau Icha ada disitu padahal Icha gak ngasih tau siapa pun. Gavin yang nelfon mereka?"


Gavin menghela nafasnya. "Gue gak disana." Kata Gavin dengan nada penuh penekanan.


"Tapi Icha yakin itu Gavin." Kata Icha dengan nada pelan.


Tak ingin membalas perkataan Icha lagi, Gavin pun kembali menjalankan mobilnya karena makanannya sudah habis. Terjadi keheningan selama perjalanan. Icha termenung dengan segala pemikirannya dan Gavin yang menatap fokus pada jalanan di depannya.


***


Setelah sampai di rumah Icha, Gavin kembali menggendong gadis itu masuk ke dalam rumah. Tadi Icha memang sudah mengatakan bahwa ia bisa jalan sendiri, namun Gavin tetaplah Gavin yang tidak ingin di bantah. Saat memasuki rumah, keduanya tampak terkejut melihat keberadaan Teza dan Rio yang duduk di sofa ruang tamu. Kedua laki-laki itu langsung berdiri ketika melihat Gavin masuk ke dalam rumah dengan Icha di gendongannya.


"Icha, kamu gak apa-apa?" Tanya Teza.


"Icha maafin Rio ya." Kata Rio dengan wajah yang masih menyesal.


Gavin menurunkan Icha di atas sofa. Setelah itu ia duduk di sofa yang terletak di seberang Icha dengan tangan bersedekap di dada. Sedangkan Rio dan Teza duduk di sofa yang berada di samping Icha.


"Icha gak apa-apa kok. Kalian kenapa disini?" Tanya Icha.


"Tadi abang denger kamu jatuh dari Kenzo, jadi abang langsung kesini." Jelas Teza.


"Rio juga khawatir banget sama Icha, maafin Rio ya." Kata Rio.


"Loh ada apa ini rame-rame?" Bunda Icha masuk ke dalam rumah bersama Kenzo dibelakangnya membawa kantung plastik penuh dengan belanjaan.


"Eh calon mertua." Rio berdiri dan menyalami Bunda Icha.


"Halo tante, saya Teza. Temannya Kenzo sama Kenzi." Kata Teza memperkenalkan diri.


"Ah iya, tante tau kok. Kamu juga yang tadi malem kesini kan."


Teza mengangguk membenarkan.


"Saya Gavin." Kata Gavin setelah menyalami tangan Bunda Icha.


"Oh ini toh nak Gavin. Nanti jangan pulang dulu ya." Kata Bunda Icha.


"Loh kenapa Bun?" Tanya Kenzi yang baru datang dengan segelas susu di depannya.


"Ada deh. Kamu pengen tau aja." Kata Bunda Icha dengan nada jahil.


"Mirip banget deh sama Icha." Kata Teza langsung diangguki oleh Gavin dan Rio.


"Tante ke dapur dulu ya. Eh Icha kamu sarapan dulu ya, sekalian ajak nak Teza, Gavin sama Rio." Kata Bunda Icha lalu pergi meninggalkan mereka, menyusul Kenzo yang sejak tadi sudah berlalu membawa belanjaannya.


"Gavin, Bang Teza sama Rio mau sarapan?" Tanya Icha.


"Gak usah Cha."


"Mau donggg."


Jawab Teza dan Rio secara bersamaan. Mereka berdua saling bertatapan lalu tertawa.


"Yaudah aku ke dapur dulu deh. Dah semua." Kata Rio langsung menuju dapur. Memang ia sudah terbiasa seperti itu sejak menjadi tetangga Icha.


"Icha gak makan?" Tanya Kenzi duduk di sebelah adiknya itu.


Icha menggelengkan kepala, "Tadi Icha udah sarapan sama Gavin." Jawab Icha.


Kenzi mengangguk lalu kedua matanya menatap kearah Gavin dan Teza secara bergantian. "Kalian kenapa masih disini?"


Icha mencubit pinggang Kenzi membuat laki-laki itu menjerit kesakitan. "Abang ih gak sopan tau."


"Ya kan abang cuma nanya."


"Gue lagi nunggu Kenzo." Balas Teza. Kenzi menganggukkan kepala.


"Ayo Za." Kata Kenzo yang baru saja datang.


"Bang Teza pergi dulu ya Cha, jangan kebanyakan gerak, nanti lukanya sakit. Jangan lupa diobatin lagi." Kata Teza sambil mengelus pelan puncak kepala Icha.


"Iya bang Teza." Jawab Icha tersenyum malu.


Kenzi melihat kearah Gavin yang membuang muka lalu ia menatap kearah Teza kembali.


"Eh gue pamit dulu sama nyokap lo." Kata Teza menahan tangan Kenzo.


"Udah gue pamit in tadi. Dia lagi masak di dapur." Jawab Kenzo.


"Oh yaudah kalo gitu, kami duluan ya." Kata Teza sebelum pergi meninggalkan rumah bersama Kenzo.


"Loh nak Teza sudah pergi ya?" Tanya Bunda Icha baru datang dari arah dapur membawa dua buah bingkisan.


"Iya bun, baru aja." Jawab Kenzi.


"Bunda bawa apa tuh?" Tanya Icha menunjuk bingkisan yang dibawa bundanya.


"Aduh sampe lupa. Ini untuk mamanya nak Gavin sama Teza. Tapi karena nak Teza nya sudah pulang duluan, yaudah deh ini untuk Gavin aja." Jelas Bunda Icha.


"Isinya apa bun?" Tanya Kenzi.


"Kepo deh kamu."


"Nah yang ini untuk nak Gavin, titip salam ke mama kamu ya. Tante seneng kemarin di kasih brownis enak banget." Kata Bunda Icha memberikan bingkisan itu ke Gavin.


Gavin pun menerimanya. "Makasih tante, nanti Gavin sampaikan. Sekalian Gavin mau pamit pulang, takut dicariin sama mama."


"Iya nak, hati-hati ya di jalan."


Gavin mengangguk. Kepalanya menoleh kearah Icha. "Cepet sembuh." Kata Gavin lalu pergi meninggalkan rumah Icha.


"Loh, yang lain udah pada pulang?" Tanya Rio yang baru saja kembali.


TO BE CONTINUE


HAYOO KALIAN DI TEAM MANA NIH? YUK COMMENT DIBAWAH


#TEAMGAVIN


#TEAMTEZA


#TEAMRIO


#TEAMAUTHOR


wkwkwk


TEZA



GAVIN



RIO



ICHA