PITAGORA

PITAGORA
Part 1



SILAHKAN TINGGALKAN JEJAK


BUDAYAKAN VOTE SEBELUM BACA


COMMENT SETELAH BACA


WARNING!!!


BANYAK TYPO


NO COPAS


NO DARK READERS


SELAMAT MEMBACA


^^


AUTHOR : GITA


-----~oOo~-----


Suara ketukan sepatu terdengar di sepanjang koridor kelas sebelas SMA Dinata. Senandung kecil keluar bersamaan dengan irama lagu dari handphone yang didengarkan menggunakan headset. Kedua sepatu itu berhenti ketika melihat sepasang sepatu lain didepannya, yang menghadangi langkah dirinya. Kepala yang semula menunduk karena menatap handphone itu pun perlahan mendongakkan kepalanya.


Orang didepan tersenyum lebar sambil memegangi papan skate ditangan kirinya. Papan skate berwarna kuning itu diletakkannya disebelah kaki lalu tangan kanannya mengambil handphone milik gadis didepannya. Ia mematikan alunan lagu yang masih didengarkan gadis itu melalui headset.


"Aku mau ngomong, jadi aku matiin dulu ya lagunya." Kata orang itu sambil tersenyum lebar.


"Mau ngomong apa?"


"Icha hari ini sarapan apa?" Tanya orang itu.


"Kenapa Rio tanya?" Gadis bernama Icha itu mencabut headset yang masih dipakainya lalu dimasukkan kedalam kantung seragam sekolahnya.


"Jawab dulu dong, masa pertanyaan dari orang ganteng dianggurin." Kata Rio sambil mengedipkan mata kanannya.


"Icha sarapan pancake sama susu coklat."


"Pantesan, kamu manis banget pagi ini. Jadi gemes deh!" Kata Rio lalu mencubit kedua pipi Icha.


"Ih Rio, sakit tau! Gak ada bosen-bosennya gangguin Icha setiap hari." Kesal Icha mengelus kedua pipinya yang memerah karena cubitan Rio.


"Mana bisa Rio bosen sama Icha, yang ada malah makin cinta." Rio cengengesan sedangkan Icha menggelengkan kepalanya.


"Ke kelas yuk, biar Rio yang anterin Icha."


"Gak usah Rio, Icha bisa sendiri kok. Lagian kelas kita kan beda." Tolak Icha.


"Gak apa apaaaa—eh eh lepas woy!" Belum sempat Rio menyelesaikan perkataannya, kerah seragamnya lebih dahulu ditarik oleh seseorang.


"Masih pagi udah modus aja lo, nyolong start aja kerjaannya." Kata seorang pria beralmamater osis dengan name tag bernama RM Teza Adhitama Dinata.


"EH LEPAS WOIIII SKATEBOARD GUE KETINGGALAN!!! DASAR KETUA OSIS BIADAB YA EMANG LO! DATENG GA DIANTAR PULANG GA DIUNDANG! eh kebalik ya? Ya gitu deh maksud gue. EH EH KEVIN GUE KETINGGALAN WOIIII MAHAL ITU ***** TEZAA!!!" Dari kejauhan, Icha mendengar umpatan Rio untuk Teza. Rio juga terlihat masih memberontak untuk dilepaskan oleh Teza. Tangannya menunjuk kearah papan skate berwarna kuning didepan Icha. Merasa tingkah Rio lucu, Icha pun terkekeh pelan.


"Ke kelas." Suara bernada dingin yang khas itu mengejutkan Icha. Gadis itu menoleh kearah sumber suara dan mendapati seorang cowok berseragam berantakan dengan lengan yang digulung dan memakai scarf hitam dikepalanya. Ditangan kirinya terdapat jaket kulit berwarna hitam dan dipundak kanannya tergantung ransel berwarna abu-abu.


"Eh Gavin, boleh. Yuk!" Kata Icha lalu berjalan mendahului dan diikuti oleh Gavin.


Baru beberapa langkah, Icha kemudian memberhentikan langkahnya. Tubuhnya berbalik dan menabrak sesuatu.


"Aduh." Kata Icha sambil mengusap dahinya yang terbentur. Ia mendongak dan melihat Gavin berdiri menjulang sambil menatap kearahnya.


"Kenapa?" Tanya Gavin masih dengan nada dinginnya.


Icha mundur satu langkah kebelakang lalu menatap bingung kearah Gavin. Menyadari Icha tidak mengerti maksud perkataannya, Gavin pun mendengus pelan.


"Kenapa berhenti?" Tanya Gavin lagi.


Icha lantas menepuk keningnya pelan, "Eh lupa. Itu Icha mau ambil skateboard nya Rio. Biar nanti bisa dibalikin. Takutnya hilang kalo ditinggal disitu." Kata Icha menunjuk skateboard berwarna kuning itu.


Gavin mengikuti arah tunjuk Icha. Saat Icha akan melangkah untuk mengambil skateboard bernama Kevin milik Rio itu, Gavin langsung mencegah Icha.


"Biar gue aja." Katanya lalu berjalan mendekati skateboard milik Rio.


Setelah Gavin mengambil skateboard itu, ia lalu berjalan kembali menuju Icha dan mengode Icha untuk mulai berjalan menuju kelas mereka. Gavin dan Icha memang sekelas di kelas XI IPA 2. Sedangkan Rio berada di kelas XI IPS 5. Teza? Dia adalah kakak kelas Gavin, Icha dan Rio. Ketua OSIS dan murid teladan di kelas XII IPA 1 dan di sekolah selama dua tahun berturut-turut.


***


Teza melepaskan cekalan tangannya pada seragam Rio saat mereka memasuki kantin. Rio tampak masih sibuk mengumpati Teza hingga tidak sadar bahwa cekalan Teza pada seragamnya sudah terlepas.


"Dateng-dateng langsung nyeret orang kayak sapi aja, gue manusia kali. Masa ganteng gini disamain kayak sapi. Lagian sirik banget sih gue bisa ngobrol pagi-pagi gini sama Icha. Orang ganteng mah susah ya, banyak yang sirik. Mami ngidam apa sih pas ngandung Rio sampe Rio bisa ganteng melebihi Leonardo Dicaprio waktu muda. Kayaknya—"


"BACOT!" Potong Teza menjitak kening Rio.


"TEZAAAA!!! GUE DOAIN LO JADI TIKUS GOT!! AAMIIN!!! ****** LO!!" Teriak Rio dengan suara membahana.


"Mangkanya jangan gangguin Icha pagi-pagi. Hobi banget lo gangguin dia." Kata Teza sambil menggelengkan kepalanya.


Kedua cowok itu sedang duduk berhadapan di kursi yang berada di kantin. Terdapat sepiring nasi kuning dan teh manis hangat yang tersaji didepan Teza.


"Motivasi gue sekolah itu untuk gangguin Icha, cinta sama Icha, ketemu Icha, sayang sama Icha, terus.."


"Icha mulu yang ada di otak lo. Eh, gue juga sih hahaha."


"Lo kurang kerjaan ya? Perasaan dari tadi motong omongan gue mulu. Pengen ngerasain lemparan maut pake sepatu gue nih kayaknya." Kesal Rio.


"Gak perlu, sepatu lo bau. Dan gue udah punya banyak sepatu, jadi jangan nambahin koleksi gue." Kata Teza dengan nada bercanda.


"Shombong amat lo mentang-mentang konglomerat. Eh btw tumbenan lo sarapan di sekolah, kemana adat keluarga lo yang setiap pagi harus makan bersama di meja?"


"Nyokap bokap gue ke Jogja pagi ini. Bi Surti lagi pulang kampung. Jadi gue gak ada yang masakin sarapan." Jawab Teza setelah menghabiskan makanan di mulutnya. Memang dalam keluarga Teza, makan sambil mengunyah adalah hal yang pantang dilakukan.


"Terus adek lo si Rere itu kemana?"


"Ada, tapi gak bisa masak. Lo kan tau gimana rempongnya nyokap gue kalo Rere megang alat dapur."


Rio terkekeh membayangkan omelan ibu Teza yang panjangnya akan melebihi pagi sampai pagi keesokan harinya lagi.


***


Icha dan Gavin memasuki kelas bersamaan. Icha langsung menuju bangkunya disamping Rere. Cewek bernama lengkap Sri Ayu Renata Azalia Dinata itu menatap jahil pada Icha.


"Kenapa?" Tanya Icha.


"Cieee berangkat bareng Gavin nih ceritanya?" Rere menyenggol pelan bahu Icha.


"Ketemu di koridor tadi." Kata Icha.


"Tumben gak ada Rio sama Bang Teza, biasanya lo diintilin mulu sama itu tiga bodyguard setia lo." Kata Safira Dahliana, sahabat Rere dan Icha.


"Apaan sih Ra, mereka itu bukan bodyguard Icha. Lagian tadi Icha ketemu sama Rio di koridor, terus Bang Teza tiba-tiba narik Rio pergi. Gak tau deh kemana." Jawab Icha.


"Kenapa abang lo Re? Tumben amat dateng langsung narik si Rio. Biasanya pasti ngikutin Icha dulu." Safira menatap kepo kepada Rere.


"Palingan sarapan ke kantin. Gak tau deh, gak peduli juga." Kata Rere mengendikkan bahunya.


"Eh btw kalian tau gak besok sekolah kita tanding basket sama SMA Pancasila." Kata Safira.


"SMA Pancasila? Kan itu sekolahnya Arga. Kok Arga gak kasih tau Icha ya?"


Wajah Rere yang semula masih ceria pun berubah menjadi datar.


"Loh si Arga gak kasih tau lo Cha?" Tanya Safira dibalas gelengan kepala oleh Icha.


"Dia gak serius sama lo Cha, udah gue bilangin berkali-kali." Kata Rere.


"Rere, kita gak boleh berpikiran negatif sama Arga. Icha tau dia pasti punya alasan." Bantah Icha.


"Terserah lo deh Cha, bosen gue denger pembelaan lo untuk Arga brengsek itu terus." Kata Rere sebelum menenggelamkan kepalanya di lipatan tangan.


"Icha salah ya Ra?" Tanya Icha pada Safira. Safira hanya diam tidak menjawab, ia memberikan senyumnya pada Icha. Memang selalu seperti ini akhirnya jika mereka membahas tentang Argantara Mahendra.


Sedangkan di bagian belakang kelas, Gavin menatap kearah wajah Icha yang murung. Ia tau apa yang sedang dipikirkan oleh Icha. Helaan nafas terdengar ketika Gavin terus menaruh fokus matanya pada Icha.


"Woy! Melamun aja lo, kesambet entar." Kata Satria datang sambil menepuk bahu Gavin.


"Kesambet cintanya Icha mah kalo si  Gavin. Liat gak tadi tatapannya dalem banget ke Icha." Reno yang baru datang pun duduk di depan Gavin.


"Eh Gav, cabut yuk!" Ajak Satria.


"Males." Jawab Gavin singkat.


"Parah lo Gav, di ajak cabut gak pernah mau. Kenapa sih lo?" Tanya Reno menatap heran pada Gavin.


Pandangan Gavin teralih kembali pada Icha. "Gak ada alasan untuk gue cabut, karena semangat gue ada disini." Jawabnya masih menatap kearah Icha.


------------------


TO BE CONTINUE


HAYOOO KALIAN TEAM MANA NIH?


#TEAMGAVIN


#TEAMRIO


#TEAMTEZA


YUK COMMENT DIBAWAH! JANGAN LUPA VOTE DAN MASUKKAN KE READING LIST KALIAN YAAA HEHEH 😉