PITAGORA

PITAGORA
Part 4



SILAHKAN TINGGALKAN JEJAK


BUDAYAKAN VOTE SEBELUM BACA


COMMENT SETELAH BACA


WARNING!!!


BANYAK TYPO


NO COPAS


NO DARK READERS


SELAMAT MEMBACA


^^


AUTHOR : GITA


-----~oOo~-----


Icha masuk ke dalam rumahnya. Ia disambut dengan tatapan khawatir ibunya. Wanita paruh baya yang masih tampak muda itu langsung menuju kearahnya dan memberikan pelukan kepada anaknya.


"Icha, kamu dari mana aja sayang? Bunda khawatir." Kata Tania.


"Maafin Icha bun, udah bikin bunda khawatir."


Tania mengelus rambut anaknya pelan, "Iya, sekarang kamu mandi ya. Nanti bunda siapin makanan. Ajak abang juga."


"Aye aye captain." Kata Icha sambil hormat pada ibunya. Tania menggelengkan kepalanya ketika melihat perilaku anaknya itu.


"Eh iya bun, ini ada titipan dari mamanya Gavin, namanya tante Nita. Katanya untuk salam kenal. Dia juga titip salam." Icha menyerahkan bungkusan yang tadi di berikan Tante Nita pada bundanya.


"Wah bilangin makasih ya kalo kamu ketemu lagi sama Tante Nita. Bunda kirim salam juga."


Setelah menyerahkan bungkusan dari tante Nita pada bundanya, Icha lalu pergi menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Saat akan masuk ke dalam kamar, langkah Icha dihentikan oleh kakak laki-lakinya.


"Cieee tadi dianter Gavin ya." Canda Kenzo pada adiknya itu.


"Icha gak ada apa-apa kok sama Gavin." Kata Icha yang entah mengapa merasakan pipinya memanas.


Kenzo tertawa melihat wajah malu adiknya itu. "Kalo ada apa-apa juga gak apa-apa. Abang dukung kok. Eh abang lebih dukung kamu sama Teza deh. Kalo Gavin kan si Kenzi tuh." Ucapnya sambil mengedipkan matanya untuk menggoda adiknya itu.


"Icha kan udah punya Arga, bang Kenzo."


Wajah Kenzo langsung berubah datar. Matanya menyorot tajam kearah adiknya itu. Icha yang merasa ditatap seperti itu pun ciut seketika. Ia menundukkan kepalanya sambil menggenggam kedua tangannya.


"Kamu mandi ya, abang mau kebawah dulu." Kata Kenzo lalu berlalu meninggalkan Icha sendiri.


Gadis itu mendongak, menatap kepergian kakaknya. Selalu seperti ini, tidak hanya Kenzo, Kenzi, Rere dan Kirana pun akan melakukan hal yang sama apabila ia membahas Arga. Icha melangkah masuk kedalam kamarnya untuk membersihkan diri.


Setelah selesai membersihkan diri, ia pun turun kebawah. Saat sampai di meja makan, terlihat ibu, ayah dan kakaknya sedang berbincang ria disana. Icha tersenyum lalu duduk berhadapan dengan Kenzo.


"Icha gimana tadi sekolahnya? Gak ada masalah kan?" Tanya ayahnya, Nanda.


"Gak ada ayah, Icha baik aja kok di sekolah." Jawab Icha.


"Gimana sama Teza, Gavin dan Rio?" Tanya Bundanya menatap jahil Icha yang kini tersenyum malu.


"Mereka teman Icha bun."


"Masa sih?" Ayahnya bertanya sambil menaik turunkan alisnya dengan tatapan jahil. Icha hanya tersenyum malu.


"ASSALAMU'ALAIKUM CALON MENANTU DATANG. APAKAH ADA MERTUA, KAKAK IPAR DAN CALON ISTRI DIRUMAH? ICHA ICHA DO YOU WANT TO BUILD A SNOWMAN?" Teriakan itu membuat seisi meja makan saling pandang sambil tertawa.


"Panjang umur. Icha bukain pintunya ya." Kata Tania.


Icha mengangguk lalu berjalan menuju pintu depan. Dibukanya pintu berwarna putih itu. Disana, tampaklah Rio yang membawa bingkisan yang menurut Icha isinya adalah kue.


"Eh Rio, ada apa?" Tanya Icha.


"Jawab dulu salamnya." Kata Rio.


Icha menepuk keningnya pelan lalu terkekeh. "Maaf, Icha lupa. Wa'alaikumsalam."


Rio pun ikut terkekeh melihat Icha yang sangat menggemaskan baginya.


"Calon istri masa depan, Ayah Bunda mertua mana?" Tanya Rio sambil memberikan cengirannya. Rio memang tetangga Icha. Rumah Rio terletak bersebrangan dengan rumah Icha. Laki-laki itu juga sering main kerumah Icha bahkan makan bersama keluarga Icha tapi saat tidak ada Kenzi di rumah.


"Bunda sama ayah lagi di meja makan. Ayo masuk dulu Rio." Kata Icha membuka pintunya.


Rio pun melangkah masuk dan mengikuti Icha menuju meja makan. Melihat kedatangan mereka, kegiatan di meja makan terhenti seketika.


"Wahh makasih ya Rio. Ayo duduk dan makan dulu." Kata Tania menghampiri Rio dan menerima bingkisan itu dari Rio.


"Perhatian banget calon mama mertua jadi gak sabar jadi mantu tersayang." Rio terkekeh diakhir kalimatnya. Laki-laki itu melangkah menuju meja makan dan duduk di sebelah Kenzo.


"Gak pernah absen ya lo ngerusuhin rumah gue mentang-mentang gak ada Kenzi." Kata Kenzo dengan wajah bercandanya.


Rio tertawa, "Abisnya kangen terus sama Icha. Gak bisa ditahan, maunya ketemu terus. Untung mami bisa diandalkan. Terus kan kalo ada bang Kenzi gue jadi gak bisa bebas nemuin Icha. Soalnya ada pawangnya."


Icha yang merasa namanya disebut pun menoleh. "Ada apa?" Tanya Icha.


Rio dan Kenzo menoleh kearah Icha lalu kompak menggelengkan kepala mereka. Icha mengangkat bahunya tidak peduli lalu lanjut makan. Begitupun semua yang berada di meja makan.


"Icha, kamu tambahin nasinya. Kenapa ngambil sedikit?" Tania hendak menyendokkan nasi kepada piring Icha namun tangan Icha menahannya.


"Eh gak usah bun. Icha udah kenyang soalnya tadi udah makan." Kata Icha.


"Icha gak perlu diet kok, Rio tetep cinta Icha apa adanya." Goda Rio sambil mengedipkan sebelah matanya.


Kenzo yang melihat itu pun mendengus kesal dan menginjak keras kaki Rio yang berada disampingnya.


"Aduhh." Rio mengaduh kesakitan.


"Rio kenapa?" Tanya Icha dengan khawatir.


"Rio gak apa-apa kok. Ada gajah nginjek kaki aku tadi." Katanya sambil menyengir lebar.


Kenzo pun memberikan tatapan tajamnya pada Rio. Sedangkan Icha tampak bingung kemudian lanjut makan.


"Icha besok izin pergi ya bun, yah." Ucapan Icha membuat seisi meja makan menatap kearahnya.


"Kemana?" Tanya ayahnya.


Icha terdiam sebentar. Ia merasa ragu lalu melirik Kenzo dan Rio bergantian. Setelah berpikir matang-matang, dia pun menghela nafasnya, sebelum berbicara.


"Icha mau pergi ke pertandingan basket. Sama abang kok bun."


Kenzo membelalakkan matanya, ia tau alasan kenapa Icha mau pergi ke pertandingan basket. "Gak. Gak boleh. Abang juga gak bakal anterin kamu."


"Abang.." Panggil Tania.


Kenzo menggelengkan kepalanya dengan wajah tegas. "Gak boleh."


"Kenapa Icha gak boleh pergi?" Tanya Icha dengan wajah sedih.


"Pokoknya gak boleh." Kata Kenzo lalu berjalan meninggalkan meja makan.


Icha menatap nanar kepergian kakaknya itu. Lalu matanya beralih pada kedua orang tuanya. Mengharapkan bahwa mereka akan mengizinkan. Sedangkan Rio hanya menatap diam kearah Icha. Pikirannya sekarang sedang bergelut tentang apa yang akan terjadi besok apabila Icha datang ke pertandingan.


"Sayang, perkataan abang jangan dimasukin ke hati ya. Abang cuma takut kamu kenapa-napa." Tania yang berada disebelah Icha pun bergerak merangkul anaknya dan mengelus pelan lengannya.


"Icha boleh pergi kok. Rio, kamu antar Icha besok ya. Jagain dia." Perkataan ayahnya membuat Icha menatap kearah Ayahnya itu.


"Siap calon mertua." Kata Rio sambil hormat.


"Makasih ayah, bunda." Icha tersenyum, menampilkan lesung pipi yang menambah kesan manis dan imut.


***


Keesokan harinya, Icha berangkat bersama Rio menggunakan mobil laki-laki itu menuju SMA Pancasila. Hari ini adalah hari minggu, maka dari itu mereka tidak perlu repot-repot izin ke sekolah. Selama di perjalanan, Rio dan Icha hanya terdiam. Tidak seperti biasanya, Rio sama sekali tidak mengeluarkan sepatah katapun.


"Rio gak apa-apa?" Tanya Icha.


Rio menatap Icha sebentar sebelum kembali menatap kearah jalanan di didepannya. Ia memaksakan senyumnya pada Icha.


"Cieee khawatir ya." Canda Rio berusaha mengalihkan.


"Cuma heran aja, gak biasanya Rio diam kayak gini. Ada apa?" Tanya Icha lagi.


Rio baru saja ingin menjawab, tapi bibirnya ia katup lagi saat melihat motor yang sangat ia hapal melintas disamping mobilnya. Dilihatnya Icha yang terdiam, mungkin gadis itu juga melihat apa yang dilihatnya tadi.


"Rio, itu Arga sama siapa? Kenapa bonceng cewek?" Tanya Icha.


"M-mungkin itu saudaranya Arga Cha." Jawab Rio dengan gugup.


"Ah iya, mungkin itu saudaranya. Icha gak boleh berpikiran negatif sama Arga. Icha percaya sama Arga." Gumaman Icha masih bisa didengar Rio meskipun sangat pelan.


Mendengar itu, Rio menghela nafasnya lalu kembali fokus pada jalanan di depannya. Menurutnya, Icha tadi hanya berusaha meyakinkan dirinya sendiri walaupun memang sejak awal pikiran negatif itu sudah dirasakan gadis itu adalah hal yang nyata.


TO BE CONTINUE