PITAGORA

PITAGORA
Part 21



Icha kini sedang duduk di kursi yang berada di depan gerbang sekolahnya. Ia menunggu Kenzo dan Kenzi seperti apa yang diperintahkan kakaknya itu tadi pagi. Yang gadis itu lakukan sekarang hanyalah mendengarkan lagu dari headset nya. Awalnya Rio ingin menemaninya, tapi laki-laki itu mempunyai urusan lain yang tidak bisa ditunda. Jadilah sekarang hanya ia sendiri disana.


Saat sedang asik mendengarkan lagu, Icha merasakan headset nya ditarik seseorang dengan paksa. Ia pun mendongak dan terkejut melihat Nessi dan dua orang perempuan yang tidak ia kenali berdiri di hadapannya. Melihat itu, Icha langsung berdiri.


"Nessi?"


"Lo ikut gue sekarang!" Perintah Nessi sambil menarik tangan Icha.


Icha berusaha menahan tangannya namun kekuatan Nessi jauh lebih besar darinya.


"Icha gak mau, Icha harus nunggu Bang Kenzi sama Bang Kenzo. Lagian bukannya Icha gak ada urusan sama Nessi?" Tolak Icha.


"Gak ada urusan lo bilang? Tere, Mita, seret dia ke mobil!"


"Icha gak mau! TOLONG TOLONG!!!!!" Teriak Icha mencoba meronta dalam cengkraman Tere dan Mita.


Tapi apa daya, tenaga keduanya terlalu kuat. Icha terus menerus mencoba memberontak dan berteriak minta tolong. Namun entah kenapa tidak ada yang datang menolongnya. Sangat kebetulan sekali keadaan sekolah sudah sangat sepi bahkan sangat sedikit kendaraan yang berlalu lalang. Akhirnya mereka pun berhasil menyeret Icha masuk ke dalam mobil.


"Kalian mau bawa Icha kemana? Icha gak mau ikut kalian." Kata Icha menatap takut kearah mereka.


Nessi tertawa keras. "Lo memang harus takut sama gue. Apalagi setelah gak tau dirinya lo ngerebut Arga dari gue!" Teriak Nessi.


"Tapi Icha gak ngerebut Arga, pas itu Arga memang pacar Icha." Bantah Icha.


"ARGA JUGA PACAR GUE! Tere! Lakban mulut dia, gue muak denger suaranya."


"JANGAN!! ICHA GAK MAU!!!" Icha tetap memberontak walau akhirnya ia tetap kalah dan kini mulutnya terlakban dan kedua tangannya diikat menjadi satu.


Perlahan, air mata Icha mengalir. Gadis itu sangat takut sekarang. Apalagi ketika mobil milik Nessi memasuki wilayah yang sama sekali Icha tidak kenal. Hingga mereka sampai ke sebuah gudang tua yang sangat mengerikan. Icha kembali diseret turun dari mobil dan dibawa masuk kedalam gudang. Mereka mendudukkan Icha di kursi, mengikatnya di kursi itu dan melepas lakban di mulut Icha.


"Kalian mau apa? Ini dimana?" Tanya Icha masih dengan ekspresi takut.


"TOLONG!!!! TOLONG ICHAAA!!! SIAPAPUN TOLONG!!!!" Teriak Icha mencoba memberontak lagi.


plakk


Nessi menampar wajah Icha hingga tertoleh ke samping dan meninggalkan bekas merah. "Lo teriak sampe suara lo abis pun gak bakal ada yang nolongin lo! Dan sampe lo teriak lagi, lo bakal mati ditangan gue!" Nessi memainkan cutter ditangannya sambil memandang sinis kearah Icha yang terlihat ketakutan.


"Nessi, Icha minta maaf, Icha salah. Tapi lepasin Icha, Icha mohon." Derai air mata itu tidak berhenti mengalir dari sudut mata Icha.


"Maaf lo gak bisa ngembaliin Arga ke gue!" Teriak Nessi kesal lalu menjambak kuat rambut Icha.


"Nessi berhenti, sakit!!!!" Teriak Icha.


"Ambil gunting!" Perintah Nessi pada Tere.


Tere pun merogoh tasnya untuk mencari gunting. Setelah mendapatkan gunting, ia pun langsung memberikan gunting itu kepada Nessi.


"Nessi mau apa sama gunting itu? Jangan sakitin Icha, Icha minta maaf!!" Icha merapatkan tubuhnya pada kursi yang didudukinya itu. Ia terlihat sangat takut ketika Nessi kembali berjalan kearahnya dengan membawa gunting.


"Maaf lo gak guna, s**lan!" Kata Nessi dengan nada penuh amarah lalu mulai menggunting rambut dan seragam Icha.


"Nessi jangan!!" Teriak Icha bercampur tangisannya.


Kedua teman Nessi hanya terdiam melihat Icha meskipun mereka sangat ingin menolong gadis malang itu. Tapi apa daya mereka, Nessi akan melakukan hal yang sama pada mereka jika mereka berani membantah gadis itu.


Tangis Icha semakin histeris ketika melihat rambutnya berjatuhan. Nessi memotong rambut Icha acak-acakan. Bahkan seragam Icha pun sudah robek di beberapa bagian. Tampilan Icha sangat menggenaskan sekarang. Siapapun akan iba jika melihat gadis itu sekarang.


Setelah berkarya pada rambut dan baju Icha, Nessi kemudian bertepuk tangan dengan bangga lalu tertawa keras.


"Itu akibatnya kalo lo berani ngelawan gue!" Teriak Nessi lalu tertawa lagi.


"Nes, sudah Nes. Kasian Icha." Kata Mita dengan nada pelan.


Nessi menoleh pada Nita dengan tatapan tajamnya. "Lo mau gantiin posisi dia?!"


Spontan Mita langsung menggelengkan kepalanya membuat Nessi kembali tertawa. Icha yang masih ketakutan pun hanya bisa menangis dan berharap ada yang menyadari dirinya menghilang dan berhasil menemukannya disini.


***


Disisi lain Kenzo dan Kenzi sedang berjalan menuju parkiran. Mereka baru saja menyelesaikan urusan mereka dengan Bu Fitri. Saat hampir sampai di parkiran, Kenzo menghentikan langkahnya.


"Eh berhenti." Kata Kenzo berhenti tiba-tiba.


"Ada apa?" Tanya Kenzi heran.


"Lo tadi ngabarin Icha gak kalo kita ada urusan sama Bu Fitri?" Tanya Kenzo dengan wajah cemasnya.


"Ya ampun gue lupa. Lo ngabarin gak?" Tanya Kenzi mulai khawatir.


Kenzo menggeleng pelan. "Lo kan tau tadi kita dadakan banget disuruh ke ruangan Bu Fitri. Gue lupa banget mau ngabarin Icha." Jawab Kenzo.


"Coba kita cek dulu ke depan gerbang, mana tau Icha disana." Usul Kenzi.


Mereka berdua pun berlari ke depan gerbang namun tidak ada siapapun disana. Bahkan sekolah terlihat sangat sepi dan kendaraan tidak banyak yang berlalu lalang. Keduanya kini semakin merasa khawatir.


"Gini aja, lo cari Icha di dalam sekolah sambil nelfon Icha, biar gue cari Icha di sekitar sini. Mana tau ketemu." Kata Kenzi.


Kenzo mengangguk setuju. "Oke."


Kenzo dan Kenzi pun akhirnya berpencar. Kenzo memasuki sekolah untuk mencari keberadaan Icha, sedangkan Kenzi menyusuri area luar sekolah.


Kenzo berlarian sepanjang koridor sambil menelfon Icha. Matanya bergerak kesana kemari, berharap menemukan keberadaan adiknya itu. Berkali-kali ia menelfon Icha namun tak kunjung diangkat oleh gadis itu membuatnya semakin khawatir.


"Icha, angkat dong. Kamu dimana." Gumam Kenzo mengacak rambutnya frustasi.


"Kenzo? Lo ngapain masih di sekolah?" Tanya Teza yang baru saja datang dari arah berlawanan.


Kenzo memegang kedua bahu Teza yang berada di depannya. "Lo liat Icha gak?"


"Iya, tadi gue sama Kenzi ada urusan sama bu Fitri dan lupa ngabarin Icha. Pas kami cek di depan gerbang, Icha gak ada." Jelas Kenzo melepaskan tangannya dari bahu Teza.


"Lo udah nelfonin dia?"


Kenzo menganggukkan kepalanya dengan lemas. "Udah, tapi gak di jawab."


"Yaudah, lo telfon Safira, biar gue telfon Rere. Mana tau Icha sama mereka." Usul Teza.


"Oke."


Kenzo dan Teza pun langsung menelfon kedua gadis itu. Namun nihil, keduanya sama sekali tidak tau dimana keberadaan Icha.


"Gimana?" Tanya Kenzo.


Teza menggelengkan kepalanya pelan.


"Yaudah kita samperin Kenzi, dia lagi nyari Icha di luar sekolah. Mana tau dia udah nemuin Icha." Kata Kenzo.


Mereka berdua pun berjalan keluar sekolah untuk menemui Kenzi.


***


Kenzi berjalan dengan lesu menjauhi sekolah. Tadi ia sudah bertanya kepada satpam dan beberapa orang di sekitar sekolah namun tidak ada yang melihat Icha. Bahkan sekolah sekarang sudah sepi dan kendaraan sangat jarang berlalu lalang. Ia semakin cemas sekarang. Kenzi pun sampai di depan cafe milik Reno. Ia masuk ke dalam cafe itu dan melihat Reno, Satria, Rio dan Gavin sedang duduk di kursi pojok cafe. Ia pun berjalan menghampiri mereka.


"Bang Kenzi? Tumben kesini. Mau makan apa? Biar gue pesenin." Kata Reno ketika melihat kedatangan Kenzi.


"Kalian ada liat Icha gak?" Tanya Kenzi.


"Icha? Gak liat. Memangnya kenapa? Icha hilang?" Tanya Rio.


"Iya Icha hilang. Gue sama Kenzo lupa ngabarin dia kalo kami ada urusan sama Bu Fitri. Pas di cek di depan gerbang, dia gak ada. Sekarang Kenzo lagi nyari di dalam sekolah." Jelas Kenzi.


"Lo udah nanya ke orang-orang sekitar sekolah? Satpam?" Tanya Satria.


Kenzi mengangguk. "Sudah, tapi gak ada yang liat Icha."


"Udah coba telfon belum?" Tanya Reno.


"Kenzo udah nelfon Icha, tapi katanya gak di jawab sama Icha."


"Rere sama Safira sudah ditanyain?"


"Sudah, tapi Icha gak sama mereka." Jawab Kenzo yang baru saja datang bersama Teza.


"Haduhh jadi gimana dong." Kata Rio dengan wajah yang juga cemas.


"Gavin! Ini Icha hilang, lo ngapain masih main hape!" Tegur Satria menyenggol lengan Gavin yang berada di sebelahnya.


Gavin menatap tajam Satria lalu ia pun menunjukkan handphonenya. Kenzi, Kenzo, Teza, Reno, Satria dan Rio langsung terkejut ketika melihat layar handphone Gavin.


"Lo ngehack cctv sekolah?" Tanya Teza dengan wajah terkejutnya.


Gavin mengangkat kedua bahunya lalu kembali fokus pada handphonenya. Setelah selesai, ia pun menyerahkan handphone itu kearah Kenzi. Semuanya mendekat kearah Kenzi kecuali Gavin.


"Itu Icha dibawa siapa?" Tanya Rio saat melihat rekaman cctv itu.


"Wait. Gue kayaknya kenal cewek ini. Dia mantannya Arga. Namanya.. aduh gue lupa namanya." Kata Teza berusaha mengingat.


"Nessi." Kata Kenzi mengembalikan handphone itu kepada Gavin.


"Terus sekarang gimana cara kita tau mereka bawa Icha kemana?" Tanya Kenzo.


"Gue udah ngelacak handphone Icha. Dia dibawa ke gudang di pinggir kota." Kata Gavin.


"Yaudah kita kesana."


***


Icha masih menatap takut kearah Nessi. Air matanya tidak berhenti mengalir. Keadaannya sekarang sangat menggenaskan. Bajunya basah, rambutnya terpotong acak-acakan, seragamnya robek tak beraturan, dahinya mengeluarkan darah karena tadi kepalanya di benturkan oleh Nessi di lantai, terdapat beberapa sayatan menghiasi lengannya. Sedangkan Nessi tertawa dengan puas melihat perbuatannya.


"Nes, udah Nes. Kasian Icha." Pinta Tere merasa tidak tega melihat keadaan Icha sekarang.


"Diem! Lo gak berhak ikut campur urusan gue!" Bentak Nessi.


"Tapi lo udah keterlaluan Nes." Kata Mita.


"Kalian berani ngelawan gue?" Nessi menatap tajam keduanya.


Mita dan Tere menelan ludah mereka gugup ketika melihat Nessi berjalan kearah mereka sambil membawa cutter.


"Lebih baik lo diam, dari pada gue ngelakuin semua itu ke lo." Kata Nessi memajukan cutter nya hingga tepat di depan leher Mita.


Nessi kemudian mundur lalu melihat kearah Icha lagi. "Menyedihkan! Lo memang gak pantes buat disayang banyak orang apalagi sama tiga pangeran Dinata itu. Liat aja keadaan lo sekarang. Memalukan!" Kata Nessi mengelilingi kursi Icha.


"Apa ya yang bisa gue buat biar muka jelek lo ini jadi semakin jelek." Nessi tersenyum sinis.


"GAK NESSI!! TOLONGGG!!!" Teriak Icha ketika Nessi hendak menyayat pipinya. Icha berusaha sekuat mungkin untuk menghindar.


brakk


"BERHENTI NESSI!!!"


TO BE CONTINUE


Waduhhh kira-kira siapa ya yang nyelamatin Icha? Yuk komen di bawah menurut kalian siapa yang nyuruh Nessi berhenti?


Jangan lupa like dan rate ya bagi yang belum 😉