PITAGORA

PITAGORA
Part 31



Icha terdiam ketika mendengar perkataan Teza. Begitupun Teza yang terdiam menatap kearah bukunya yang terbuka. Icha menyimpan handphonenya di dalam tas.


"Maafin Icha Bang Teza, Icha bakal coba." Kata Icha dengan nada pelan.


Teza menatap kearah Icha lalu tersenyum manis. "Makasih ya." Teza merangkul pundak Icha mendekat kearahnya.


"Ehem." Deheman itu berhasil mengalihkan perhatian Icha dan Teza.


Keduanya menatap kearah sumber suara. Rupanya disana ada Dara, Safira dan Rere yang membawa kantung plastik penuh berisi makanan dan cemilan.


"Kami ganggu nih ceritanya?" Kata Rere dengan jahil.


Icha tersenyum malu lalu menggelengkan kepalanya pelan. Ia berdiri menghampiri ketiga temannya dan bantu membawa satu kantung plastik yang dipegang Safira.


"Kalian dari mana aja?" Tanya Icha.


"Dari mini market nyari cemilan untuk kita." Jawab Safira.


"Boleh gak ke kamar Rere langsung, berat nih." Keluh Dara.


"Bang Teza lo gak mau bantu bawain apa?" Tanya Rere sedikit kesal karena Teza hanya terdiam menatap mereka tanpa ada niat membantu.


Saat Teza ingin berdiri, Rere buru-buru memotong. "Gak jadi deh. Lo lanjut aja belajarnya."


"Yaudah ayo guys." Rere berjalan dulu diikuti oleh Icha, Safira dan Dara.


Sesampainya di kamar Rere, mereka meletakkan bawaan mereka di meja panjang yang berada di kamar. Setelah itu, Rere dan Dara merebahkan diri mereka di kasur Rere yang luas. Icha dan Safira memilih untuk duduk di sofa.


"Eh Cha, gimana kabar Rio?" Tanya Safira.


Wajah Icha berubah sedih ketika mengingat Rio tadi.


"Eh maaf. Udah, gak usah dijawab Cha." Potong Safira.


"Kita mau ngapain nih sekarang?" Tanya Rere.


"Nonton aja yuk, ada film yang pengen banget gue tonton." Usul Dara.


Icha, Safira dan Rere mengangguk setuju. Mereka berempat pun berkumpul di karpet yang berada di bawah kasur dengan laptop berada di atas meja satu meter di depan mereka.


Sebagian besar waktu mereka habiskan untuk menonton film, makan, bercerita-cerita, main game dan belajar make up bersama. Sekarang, hari sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Rere dan Safira sedang keluar sebentar untuk urusan yang tidak Icha tau. Dara sedang tidur di kamar Rere. Teza keluar bersama Kenzi. Sedangkan Icha duduk di taman belakang rumah Rere sendirian. Menatap langit malam yang dihiasi bintang dan bulan. Cukup lama Icha terduduk disana semenjak kepergian Teza. Tadinya, ia dan Teza sedang mengobrol bersama di taman sebelum Kenzi menelfon Teza untuk belajar bersama dengan teman mereka yang lain. Awalnya Teza tidak ingin meninggalkan Icha, tapi karena Icha meyakinkan bahwa ia harus pergi, Teza pun dengan berat hati pergi. Icha merasa ia butuh waktu sendiri, untuk memikirkan apa saja yang sudah ia lewati, kesalahan apa yang seharusnya tidak ia lakukan lagi, dan penyesalan apa yang sedang ia rasakan saat ini.


Berkali-kali Icha menghembuskan nafasnya. Pandangannya kosong seakan pikirannya sedang berkelana ke lain tempat. Hingga suara deringan bunyi dari handphone Icha menarik dirinya kembali ke dunia nyata. Icha mengeluarkan handphonenya dari saku piyama nya. Melihat nama yang terpampang di layar handphonenya, Icha merasa sedikit ragu. Akhirnya, ia pun mengangkat panggilan itu meski dengan hati yang masih ragu.


"Halo."


Sunyi. Tidak ada balasan dari seberang panggilan. Icha masih diam menunggu jawaban dari si penelpon.


"Gavin." Akhirnya Icha memutuskan untuk memanggil terlebih dahulu.


"Dimana?"


"Icha nginep di rumah Rere."


Hening kembali. Gavin seperti tidak mau mengeluarkan suara. Icha pun memutuskan untuk bersuara kembali.


"Ada apa Gavin? Gak biasanya Gavin nelfon Icha gini."


"Gavin kangen Icha."


Icha memasang wajah terkejutnya. Tak lama ia tersenyum. "Icha.." Tiba-tiba perkataan Teza tadi pagi terputar kembali di pikiran Icha.


"Icha juga kangen Gavin." Batin Icha.


Senyum yang mulanya mengembang di wajah Icha, kini pudar. Menyisakan raut wajah sedih dengan air mata yang sudah menggenang dan siap jatuh kapan saja.


"Gak usah dijawab dan jangan nangis. Aku cuma mau kamu tau aja, kalo itu yang aku rasain sekarang."


Icha terkejut. Bagaimana Gavin bisa tau bahwa ia sedang menahan tangis sekarang.


"Icha gak nangis kok. Gavin lagi dimana sekarang? Masih di Bogor?"


"Iya."


"Oh iya, makasih ya untuk lagu nya. Icha suka banget."


"Lagu apa?"


"Itu.. dari video yang dikirim sama Satria kemarin."


Gavin terdiam kembali. "SATRIAA!!" Terdengar teriakan Gavin dari seberang telfon. Tak lama, terdengar juga cekikikan dari Satria.


Icha diam-diam ikut terkekeh geli.


"Kamu denger apa aja?"


"Gavin nyanyi sambil main gitar sama.."


"Kenapa?"


"Malu."


Icha tertawa. Tidak menyangka Gavin bisa juga malu karena suatu hal, mengingat selama ini laki-laki itu hanya berekspresi datar dan cuek saja.


"Kenapa ketawa."


"Gavin lucu, mangkanya Icha ketawa."


"Gak lucu padahal."


Icha berhenti tertawa. Seketika hening kembali. Icha masih mengatur senyum yang dengan tidak sopannya selalu mengembang di wajahnya.


"Icha."


Tiba-tiba Icha merasa detak jantungnya berpacu dengan cepat. "Iya?"


"Coba keluar sebentar."


"Icha udah diluar."


"Lihat keatas."


Icha menatap keatas, kearah langit yang dihiasi bintang dan bulan yang sangat indah. "Udah. Terus?"


"Apa yang kamu liat?"


"Langit, bulan, bintang."


"Sama."


"Hah?"


"Tapi aku punya tambahan satu lagi."


"Apa?"


"Ada wajah kamu disana, sedang tersenyum. Sangat cantik."


Speechless. Icha terdiam. Senyum tidak berhenti mengembang di wajahnya. Bahkan Icha tidak percaya Gavin bisa seromantis ini. Namun lagi-lagi suara Teza tadi pagi kembali terngiang di telinganya. Senyum Icha kembali memudar.


"Sudah ya, jangan lupa istirahat. Jangan senyum terus, nanti malah dikatain gila lagi."


"Isss Icha kan gak gila, lagian Icha gak senyum kok." Elak Icha meski suasana hatinya berbanding terbaik dengan apa yang ia ucapkan. Tentu saja ia sedang berbunga-bunga sekarang.


"Selamat malam. Gavin pasti mimpiin Icha."


"Selamat malam juga, Gavin."


Sambungan itu dimatikan oleh Gavin. Icha meletakkan kembali hanphonenya di dalam saku. Senyum masih belum berhenti mengembang di wajahnya.


"Icha." Mendengar namanya dipanggil, Icha pun menoleh ke belakang dan mendapati Dara berdiri sambil bersidekap dada.


Senyum di wajah Icha langsung pudar bersamaan dengan langkah Dara yang mendekatinya. Setelah sampai, Dara langsung duduk di sebelahnya.


"Siapa yang nelfon kamu tadi?" Tanya Dara dengan lembut, bahkan ia tersenyum manis pada Icha.


"Hmm Gavin."


"Oh ya?" Dara tersenyum kecut.


"Biasanya setiap malam Gavin pasti nelfon gue, tapi malam ini.."


Mendapat tatapan intimidasi dari Dara, Icha langsung menundukkan kepalanya. Terdengar helaan nafas dari Dara.


"Gavin.. sering telfon Dara?" Tanya Icha dengan nada pelan.


"Selalu, setiap malam. Nemenin gue sampe gue tidur dan nyanyiin gue lagu lalu cerita tentang pengalaman setiap hari." Jawab Dara tersenyum miring.


Icha ragu, ucapan Dara terdengar tidak meyakinkan. Tapi ia hanya diam saja. Tidak ingin membuat masalah yang nantinya akan merusak pertemannya dengan Dara. Lagian, Dara adalah sepupu Rere dan Teza, maka ia juga harus memperlakukan Dara seperti ia pada Rere dan Teza.


"Icha."


Panggilan dari Dara membuat Icha menatap kearah gadis itu. "Iya?"


"Gue pengen minta satu hal sama lo Cha, apa boleh?"


"Apa Dara?"


"Jauhin Gavin Cha, lupain dia. Gue cinta Gavin Cha, sangat. Tolong, jangan halangi gue untuk dekat Gavin. Lagian kan lo udah punya Teza. Masa lo mau ngambil Gavin lagi dari gue. Lo egois Cha. Lo gak mikirin gimana perasaan Bang Teza kalo tau lo masih berhubungan sama Gavin di belakang dia?"


TO BE CONTINUE


Maapkeun kengaretan author :')