PITAGORA

PITAGORA
Part 32



Setelah mengucapkan hal itu, Dara pergi meninggalkan Icha. Kini, Icha kembali sendiri di taman itu. Diangkatnya kedua kaki keatas kursi taman yang sedang ia duduki. Icha memeluk kedua kakinya.


"Icha, lo ngapain disini?" Suara Rere terdengar.


Icha tidak menoleh, ia masih setia pada posisinya.


"Lo gak tidur Cha?" Tanya Safira yang suaranya semakin dekat.


"Jangan mendekat." Lirih Icha dengan serak.


Rere dan Safira saling pandang. Mereka paham bahwa saat ini Icha sedang tidak ingin diganggu.


"Cha, lo boleh cerita sama kita kalo ada masalah. Mana tau kita bisa bantu." Rere berjalan mendekati Icha dan duduk di sebelahnya.


"Gue sedih ngeliat lo gini Cha, apa gunanya gue sama Rere sebagai sahabat kalo kita gak bisa jadi tempat lo untuk bersedih." Safira ikut duduk di sebelah kiri Icha lalu memeluk Icha.


Tangis Icha perlahan turun membasahi wajahnya. Ia terisak di pelukan Rere dan Safira. Safira dan Rere yang melihat Icha menangis pun ikut sedih bahkan menitikkan air mata. Keduanya mengelus punggung Icha, berusaha memberikan kenyamanan.


"Udah lebih tenang?" Tanya Rere saat Icha mulai berhenti menangis.


Icha mengangguk.


"Kadang untuk lega, kita butuh menangis dulu Cha. Dan kita gak akan biarin lo nangis sendiri. Lo punya kita. Lo bisa bagi apapun masalah lo ke kita." Jelas Safira.


Icha memeluk erat kedua sahabatnya itu. Ia merasa sangat beruntung karena memiliki sahabat yang sangat mengerti dirinya seperti mereka. Tanpa mereka sadari, Teza menatap mereka dari kejauhan.


"Icha sayang kalian." Lirih Icha.


"Kami juga sayang Icha."


Mereka bertiga pun melepaskan pelukannya. Rere menghapus jejak air mata yang ada di wajah Icha. Rere dan Safira memberikan senyum mereka pada Icha.


"Lo mau cerita?" Tanya Safira.


"Icha bingung. Disatu sisi, Icha ngerasa punya perasaan sama Gavin, tapi di sisi lain, Icha juga nyaman sama Bang Teza. Icha takut nyakitin keduanya. Mereka berarti banget untuk Icha."


"Dan.. Icha juga gak bisa sama Gavin. Icha gak mau nyakitin hati Dara. Dara suka sama Gavin. Icha gak mungkin ngerebut Gavin dari Dara. Jadi, karena itu Icha nerima bang Teza. Icha juga mau belajar untuk suka sama bang Teza, tapi selalu aja setiap Icha melangkah satu langkah ke bang Teza, Gavin juga selalu ngikutin langkah Icha. Icha jadi bingung. Icha.."


"Cha, memilih itu bagian dari hidup. Lo punya pilihan. Tugas lo harus memilih mana yang hati lo pilih Cha. Gue tanya sama lo, lo rela gak Gavin sama Dara?" Tanya Rere.


Icha menggeleng.


"Terus rasain di hati lo, mana perasaan yang lebih kuat. Gavin atau Bang Teza?" Safira ikut bertanya.


Icha terdiam sejenak. "Icha gak tau." Lirihnya.


"Lagian Cha, lo sama sekali gak ngerebut Gavin dari Dara. Karena mereka gak ada hubungan apapun. Cinta gak pernah bisa dipaksa. Lo gak bisa maksa mau cinta sama Bang Teza, Dara juga gak bisa maksa Gavin buat cinta sama dia. Gue udah bilangin dia berkali-kali tapi gak didengar. Maafin sepupu gue ya Cha." Jelas Rere.


"Terus Icha harus gimana?"


"Kita cuma bisa ngasih masukan Cha. Cuma hati lo yang bisa milih. Cuma hati lo yang tau siapa yang harus lo pilih. Inget Cha, jangan sampe salah pilih atau lo akan menyesal kemudian." Jelas Safira.


"Pikirin baik-baik, jangan gegabah. Kita akan dukung apapun yang lo pilih." Rere tersenyum pada Icha.


Icha memeluk kedua sahabatnya. "Makasih ya, Icha beruntung banget punya sahabat kayak Rere sama Safira."


"Sama-sama Cha."


Teza yang berada tak jauh dari mereka mendengar dengan jelas percakapan ketiga gadis itu. Ia menundukkan kepalanya. Teza mengambil handphone di sakunya dan memanggil nomor seseorang. Saat panggilannya diangkat, Teza menatap kearah Icha sekali lagi sebelum pergi menjauh untuk berbicara dengan seseorang di seberang telfon.


***


Keesokan paginya, Icha keluar dari kamar Rere untuk mencari ketiga temannya. Tadi, ia kebagian jatah mandi paling terakhir, mangkanya tinggal ia sendiri yang berada di kamar Rere. Saat menuruni tangga, Icha mendengar suara tawa dari arah dapur. Ia pun mengikuti suara itu.


"Udah. Kalian lagi ngapain? Icha mau bantu boleh?" Tanya Icha mendekati mereka.


"Kami lagi masak Cha. Udah lo bangunin Bang Teza aja sana." Kata Rere yang sedang asik menata makanan diatas piring.


"Yaudah." Icha berjalan menuju kamar Teza yang berada di lantai dua, tepat berada di sebelah kamar Rere.


Setelah sampai di depan kamar Teza, Icha mengetuk pintu berwarna putih itu tiga kali. Beberapa menit Icha menunggu tapi tidak terdengar jawaban dari dalam. Hari ini Teza memang akan melaksanakan ujian nasional, tapi sesi sore jadi laki-laki itu pasti masih berada di rumah. Begitulah yang ada dipikiran Icha.


"Bang Teza?" Panggil Icha membuka sedikit pintu kamar Teza dan melihat keadaan di dalam.


Kosong. Kamar itu kosong, tidak ada Teza di dalam. Akhirnya, Icha membuka lebar kamar itu. Icha mencari keberadaan tas sekolah Teza. Ternyata, tas milik Teza masih tergantung di sebelah lemari. Itu tandanya laki-laki itu pasti belum pergi ke sekolah. Saat Icha akan berbalik, dahinya membentur sesuatu.


"Aduh." Icha mengaduh sambil mengelus pelan dahinya. Ia mendongakkan kepalanya dan melihat Teza berdiri di depannya masih memakai baju semalam.


"Kamu gak apa-apa?" Tanya Teza mengelus pelan dahi Icha saat gadis itu tidak lagi melakukannya.


"Gak apa-apa. Bang Teza dari mana?"


Teza menjauh dari Icha dan berjalan menuju nakas di sebelah kasurnya dan meletakkan kunci mobilnya disana. Lalu, Teza duduk diatas kasurnya dan menepuk sisi di sebelahnya, bermaksud menyuruh Icha untuk duduk di sebelahnya. Icha yang mengerti pun menuruti.


"Sudah sarapan?" Tanya Teza.


Icha menggelengkan kepalanya. "Belum."


"Bang Teza belum jawab pertanyaan Icha tadi. Bang Teza dari mana? Kenapa gak pulang semalaman?" Tanya Icha.


"Ada urusan yang harus abang urus. Sudah ya, ayo kebawah. Kamu harus sarapan. Nanti abis itu abang anter pulang."


Teza berdiri duluan dan mengulurkan tangannya kepada Icha. Icha yang merasa ada yang aneh dengan Teza, menatap kearah laki-laki itu. Bahkan senyum Teza terasa tidak seperti biasanya. Icha pun menerima uluran tangan Teza.


"Bang Teza gak apa-apa? Icha ngerasa ada yang aneh sama Bang Teza." Tanya Icha saat mereka berdua berjalan bersama menuju ruang makan.


Teza menatap kearah Icha dan memberikan senyumnya. "Aneh kenapa? Abang baik-baik aja kok."


"Aneh aja gitu, gak kayak biasanya." Kata Icha dengan nada pelan.


Mereka berdua sudah sampai di ruang makan. Di atas meja makan, sudah ada lima piring berisi nasi goreng. Safira, Rere dan Dara melihat kearah Teza dan Icha yang baru saja datang.


"Lama banget banguninnya Cha, Bang Teza kebo ya." Kata Safira dihadiahi tatapan tajam oleh Teza.


"Gak kok, tadi ngobrol sebentar. Maaf ya lama."


"Yaudah kamu makan dulu ya, abang mau mandi." Ucap Teza.


"Loh, Bang Teza gak sarapan juga?" Tanya Icha.


"Abang sudah sarapan tadi, kamu aja yang sarapan. Abang tinggal dulu ya." Teza pergi meninggalkan mereka berempat.


Safira, Rere dan Dara saling pandang lalu mereka bertiga memandang kearah Icha.


"Gak biasanya Bang Teza kayak gitu. Biasanya dia selalu sarapan di rumah. Ah sama waktu itu sarapan di sekolah sekali." Kata Rere.


"Mungkin dia lagi pengen sarapan di luar. Udah deh positive thinking aja." Ucap Safira.


"Ada yang aneh sama Bang Teza. Kayaknya cuma Icha yang tau ada apa." Kata Dara dengan suara menekan saat menyebut nama Icha.


Icha menatap kearah Dara yang memberikan tatapan tajam kepadanya. Tidak ada yang menyadari tatapan Dara selain Icha. Rere dan Safira sudah mulai makan. Icha menundukkan kepalanya, menghindari tatapan Dara yang seakan mengintimidasinya. Ia pun makan dengan kepala masih tertunduk menghindari tatapan Dara.


TO BE CONTINUE


Ada yang bisa tebak Teza abis dari mana? Terus kemarin malamnya Teza abis telfonan sama siapa? Ayoo comment pendapat kalian di bawah 😉😉😉