PITAGORA

PITAGORA
Part 17



"Ampun bang. Maksud gue, Icha kan cantik, imut terus abangnya ganteng semua, jadi banyak yang suka gitu." Kata Pram dengan hati-hati, takut salah bicara.


"Ngapain lo muji muji gitu? Ada mau nya kan lo?" Tuduh Kenzi menyipitkan matanya curiga.


"Ya Allah salah mulu." Keluh Pram.


"Abang udah ih, kasian tuh mas Pram nya." Kata Icha.


"Malaikat banget deh." Puji Dani.


"Asal kalian tau, Kenzi paling gak suka kalian muji Icha di depan dia. Menurut dia kalian itu buaya darat cari perhatian yang harus dijauhkan sejauh mungkin dari Icha." Jelas Kenzo.


Rio dan keempat temannya menganggukkan kepala, pertanda mengerti.


"Pantesan gue kena semprot terus sama Bang Kenzi." Gumam Rio sambil menganggukkan kepalanya.


"Kalo lo mah beda. Muka lo emang cocok gue aniaya." Balas Kenzi membuat wajah Rio langsung pucat pasi.


Semua yang berada disitu tertawa, kecuali Rio tentunya.


"Becanda aja kok." Kata Kenzi lagi.


Mendengar perkataan Kenzi membuat Rio menghela nafasnya lega.


"Eh Rio ayo katanya mau ajarin Icha main skateboard." Kata Icha membuat Kenzo dan Kenzi membelalakkan mata mereka.


"APA?" Suara Kenzi dan Kenzo terdengar secara bersamaan.


"Abis lo Yo." Kata Aldi menepuk pelan bahu Rio.


"Gue bantu doa deh Yo." Kata Pram terlihat menahan tawa.


"Lo mau ngajarin adek gue skateboard?" Tanya Kenzo memicingkan matanya.


"Kalo jatuh gimana? Kalo luka gimana? Gak gak gak boleh!" Tolak Kenzi dengan wajah tegas.


"Anu itu bang anu..." Rio menggaruk belakang kepalanya, tak tau apa yang harus ia katakan.


"Abang Icha kok yang minta Rio ajarin. Lagian Icha gak bakal jatuh kok, kan ada Rio."


"Icha, nanti kamu jatuh gimana? Terus luka?"


"Gak bakal kok. Boleh ya." Icha mengeluarkan jurus puppy eyes nya membuat Rio dan semua temannya memandang penuh gemas kearah Icha.


"Mata kalian mau gue colok satu-satu?" Suara tajam nan dingin milik Kenzo menyadarkan kelimanya. Mereka semua langsung memalingkan wajah mereka, berpura-pura menatap kearah lain.


"Ya maap bang, abisnya gemesin." Kata Putra.


Kenzi dan Kenzo menarik tangan Icha lalu mereka berdua memeluk adik perempuan mereka itu. "Kamu gak boleh seimut gitu kalo lagi gak sama abang." Kata Kenzi memasang wajah cemberutnya.


"Mangkanya, boleh ya??" Pinta Icha.


Kenzo dan Kenzi saling berpandangan sebentar, sebelum akhirnya menganggukkan kepala mereka. "Satu syarat, harus hati-hati." Kata Kenzo.


"Iya iya udah abang lepasin Icha ihh. Kalian bau keringat." Icha menggeliat dalam pelukan kedua kakaknya.


Kedua saudara kembar itu tertawa lalu melepas pelukan mereka. Setelah pelukan itu terlepas, Icha langsung menjauhkan tubuhnya.


"Ayo Rio!" Ajak Icha menarik tangan Rio menuju arena skateboard yang ada di taman itu.


Rio dan keempat temannya kini sudah siap dengan skateboard masing-masing. Skateboard milik Pram berwarna merah, Putra berwarna ungu, Dani berwarna hijau, dan Aldi berwarna pink.


"Skateboard Aldi warna pink?" Tanya Icha saat melihat kearah skateboard Aldi.


"Iya, imut kan? Kayak aku?"


"Jijik Di." Putra menyentil pelan kening Aldi membuat laki-laki itu mengaduh kesakitan.


"Sirik amat lo!" Ketus Aldi.


"Icha, pertama-tama kamu berdiri diatas skateboard nya." Kata Rio memberi instruksi.


"Icha gak bakal jatuh kan?" Tanya Icha sedikit ragu.


"Kalo jatuh juga gak apa-apa Cha, tapi jatuh ke hati mas Pram." Kata Pram menaik turunkan alisnya.


dukk


Sebuah botol plastik kosong melayang mengenai kepala Pram. Laki-laki itu mengelus keningnya yang sakit karena hantaman botol itu. Ia melihat kearah sumber lemparan dan melihat wajah tidak bersahabat Kenzo dan Kenzi yang memperhatikannya dari jauh.


"Aduh. Bercanda aja kok bang." Kata Pram meringis pelan.


Rio mengulurkan tangannya kearah Icha dan disambut oleh gadis itu. Perlahan, Icha berdiri diatas skateboard itu dan dengan instruksi dari Rio, ia pun mencoba menjalankan skateboard itu. Keempat teman Rio pun sudah pergi entah kemana dengan skateboard mereka.


"Wahh Rio, Icha bisa." Pekik Icha dengan senang.


Rio tersenyum, "Siapa dulu yang ajarin."


"Lepas dong tangannya, Icha mau coba sendiri." Pinta Icha.


"Gak gak, nanti kamu jatuh gimana? Kalo jatuh ke pelukan aku sih gak apa-apa." Kata Rio diakhiri dengan tawa kecilnya.


"Rio! Kartu kuning!" Teriak Kenzi dari jauh.


"Buset abang kamu telinganya tajam banget." Kata Rio.


Icha tertawa pelan. "Kayak gak tau Bang Kenzi aja. Semut lagi curhat aja dia bisa denger."


"Ya mana tau, Icha kan gak pernah denger semut curhat."


"Ya ampun nih anak gemesin banget pengen gue bawa pulang." Kata Rio.


"Rio lepasin tangannya, Icha mau coba sendiri." Paksa Icha.


Rio menatap kearah tangannya dan Icha. "Kan kamu yang megang tangan aku, kok aku yang lepas sih?"


"Oh iya Icha lupa hehe." Icha memperlihatkan cengirannya.


Perlahan, Icha melepaskan pegangan tangannya di tangan Rio. Pertama, ia mencoba memainkan skateboard itu dengan lambat. Namun semakin lama ia semakin cepat.


"ICHA JANGAN CEPAT CEPAT!!" Teriak Rio berlari mengejar Icha. Kenzo dan Kenzi yang mendengar teriakan itu pun langsung melihat ke asal suara.


"Huaaaa." Teriak Icha saat ia tidak bisa mengendalikan skateboard itu lagi. Wajah Icha semakin pucat ketika melihat di depannya ada sebuah batu yang lumayan besar. Ia menutup kedua matanya karena takut.


brukk


Icha terjatuh dari skateboard itu. Lututnya lecet dan berdarah terkena gesekan jalanan. Kebetulan sekali celana yang Icha pakai hanya sebatas lutut hingga tentu saja tidak bisa dijadikan pelindung. Ia terduduk di rerumputan sambil meringis menahan tangis.


"ICHAAA!!!!" Teriak Rio, Kenzi dan Kenzo bersamaan.


Keempat teman Rio yang berada di sekitar situ pun ikut melihat ke sumber teriakan. "Ya ampun Icha!" Teriak Pram lalu berlari menuju Icha disusul oleh Dani, Putra dan Aldi.


Tiba-tiba Icha merasakan suatu menggosok pelan lukanya membuat gadis itu meringis dan mengangkat kepalanya.


"Gavin?" Kata Icha.


Di depannya, ada Gavin yang sedang mengelap darah di lukanya dengan sapu tangan milik laki-laki itu. Wajahnya terlihat tanpa ekspresi. Icha terpaku melihat wajah Gavin yang sangat tampan. Laki-laki itu memakai kaos berwarna abu-abu dan celana training diatas lutut berwarna hitam ah jangan lupakan headband hitam di kepalanya membuat Gavin terlihat sangat keren. Peluh membanjiri kaos dan lehernya, mungkin laki-laki itu juga sedang berolahraga di taman ini.


"Ceroboh."


Perkataan Gavin membuat Icha tersadar dari lamunannya. Baru saja Icha ingin menjawab, Kenzo, Kenzi, Rio dan keempat teman Rio pun datang dengan nafas yang ngos-ngosan.


"Icha, kamu gak apa-apa?" Tanya mereka semua serempak.


"Loh Gavin?" Rio terkejut melihat keberadaan Gavin disana.


Kenzo dan Kenzi melangkah mendekati Icha, mereka berdua melihat kearah luka Icha yang sudah dibersihkan Gavin.


"Abang tadi bilang hati-hati Icha. Kenapa bisa sampe luka gini?" Tanya Kenzi dengan wajah khawatirnya.


"Rio jelasin kenapa Icha bisa jatuh gini." Kata Kenzo dengan tegas.


Rio menghela nafasnya lalu berkata, "Maaf bang, ini salah gue dari awal. Seharusnya gue gak janji ngajarin Icha skateboard." Kata Rio dengan nada penuh penyesalan.


"Gak abang. Ini salah Icha, Icha yang tadi minta Rio ngelepasin tangannya."


"Sudahlah. Gak perlu dibahas lagi. Mending kita obatin dulu luka Icha." Kata Gavin dengan nada dinginnya.


"Yaudah ayo Cha." Kata Kenzo hendak menggendong Icha namun ditahan oleh Gavin.


"Biar gue aja. Di mobil gue ada P3K." Kata Gavin.


"Yaudah. Hati-hati bawa adek gue." Kata Kenzi.


Gavin mengangguk lalu berjongkok di depan Icha. Kenzi dan Kenzo pun membantu Icha untuk naik ke punggung Gavin. Setelah memastikan Icha telah berada di posisi nyaman di punggungnya, Gavin pun berdiri.


"Nanti gue yang antar pulang." Kata Gavin sebelum ia pergi meninggalkan mereka bertujuh.


"Gentleman banget, gak kayak Rio." Kata Putra dibalas pelototan oleh Rio.


"Kalo gue cewek, rela deh jadi selingkuhannya Gavin." Kata Aldi masih menatap punggung Gavin dan Icha dari jauh.


"Yaudah lah, yuk pulang." Ajak Rio berbalik badan. Namun, Kenzo dan Kenzi menghalangi jalannya dengan bersedekap dada dan tatapan mata yang tajam.


"Goodluck Yo, gue doain lo selamat." Kata Dani berlari meninggalkan mereka dengan menggunakan skateboardnya.


"Terima nasib aja Yo, semoga besok masih hidup ya." Ledek Pram menjulurkan lidahnya lalu pergi menyusul Dani diikuti juga oleh Aldi dan Putra.


"Bang, kita duluan." Kata Mereka sebelum pergi menggunakan skateboard masing-masing.


"Teman lucknut." Umpat Rio memasang wajah cemberutnya.


Rio hendak berbalik, namun kerah kaus polonya ditarik dari belakang oleh Kenzi. "Mau kemana lo? Lari sepuluh putaran!"


"Nasib nasib." Kata Rio dengan wajah yang sangat memperihatinkan.


TO BE CONTINUE


ICHA



HAYOOO KALIAN TEAM MANA NIH???


#TEAMGAVIN


#TEAMTEZA


#TEAMRIO


#TEAMMASPRAM


WKWKWK YUK COMMENT DIBAWAH 😉