PITAGORA

PITAGORA
Part 10



SILAHKAN TINGGALKAN JEJAK


BUDAYAKAN VOTE SEBELUM BACA


COMMENT SETELAH BACA


WARNING!!!


BANYAK TYPO


NO COPAS


NO DARK READERS


SELAMAT MEMBACA


^^


AUTHOR : GITA


-----~oOo~-----


Mereka berdua masih terdiam. Icha menundukkan kepalanya, menghindar dari tatapan mata Gavin yang menatap tajam kearahnya. Merasa tak nyaman dengan keheningan itu, Icha pun mendongakkan kepalanya. Kedua bola mata hazel nya bertemu dengan mata hijau milik Gavin.


"Gavin.. ini siapa?" Tanya Icha menunjuk kearah anak perempuan yang berada dalam pigura.


Gavin mengikuti arah tunjuk dari Icha. Ia menatap dua pasang anak dalam foto itu lalu kembali menatap kearah Icha.


"Gak perlu tau." Jawab Gavin.


Icha menunduk kembali, kedua tangannya saling mengait. "Maaf." Katanya dengan nada pelan.


"Kenapa kesini?" Tanya Gavin.


"Uhmm.. Tante Nisa nyuruh Gavin turun." Kata Icha masih menunduk.


"Yaudah."


"Hm?" Icha menatap bingung kearah Gavin.


"Yaudah, turun." Kata Gavin memperjelas. Matanya mengode Icha untuk mengikutinya turun kebawah.


Mereka berdua pun turun kebawah. Gavin berjalan di depan, sedangkan Icha mengikuti di belakang. Hingga mereka sampai di ruang makan. Tante Nita sedang duduk di salah satu kursi, disampingnya terdapat pria paruh baya yang masih terlihat tampan pada usianya. Icha dan Gavin pun duduk bersebrangan dengan orang tua Gavin.


Sejak Icha memasuki ruang makan bersama Gavin, ia dapat melihat tatapan ayah Gavin yang memandang tajam kearahnya. Hal itu membuat Icha gugup. Sekarang Icha tau dari mana asal aura dingin Gavin.


"Siapa?" Tanya Edward Robert Dallas, Ayah Gavin.


"Hmm saya Icha om, temannya Gavin." Jawab Icha dengan nada pelan.


"Sayang, jangan intimidasi calon menantu kita." Kata Tante Nita memberikan senyumnya pada Icha.


"Ma." Kata Gavin seperti memperingati ibunya.


"Calon menantu?" Wajah ayah Gavin berubah semakin dingin.


"Stop it, Edward. Kamu menakutinya." Kata Tante Nita membuat Icha menghembuskan nafas lega karena pandangan ayah Gavin teralihkan.


"Cantik, dimakan ya. Jangan sungkan-sungkan." Kata Tante Nita dengan ramah.


Icha tersenyum dan mengangguk pelan. Mereka berempat pun mulai makan dalam keheningan. Selama makan, Icha menggerakkan badannya gelisah. Aura Gavin dan ayahnya sangat memberikan tekanan kepadanya. Rasanya hingga ia sulit untuk bernafas karena berada di ruang yang pengap walaupun nyatanya ruang makan ini sangat luas dan terdapat banyak ventilasi udara.


Selesai makan, Icha berpamitan dengan ibu Gavin untuk pulang. Ayah Gavin? Pria paruh baya itu sedang berada di kamar untuk beristirahat.


"Besok main-main lagi ya cantik. Ini, tante titip salam sama mama kamu." Kata Tante Nita memberikan bungkusan kue yang dibuatnya tadi.


"Makasih ya tante, maaf Icha ngerepotin."


"Gak ngerepotin kok. Udah, itu kasihan Gavin nunggunya kelamaan." Kata Tante Nita menunjuk kearah Gavin yang duduk di sofa ruang tamu, menatap datar kearah mereka berdua.


Icha meringis pelan lalu kembali melihat kearah ibu Gavin. "Icha pulang dulu ya tante. Assalamu'alaikum." Icha menyalami tangan ibu Gavin.


"Waalaikumsakam. Gavin hati-hati bawa mobilnya. Jangan ngebut ya." Nasihat Tante Nita sebelum mereka berdua keluar dari rumah.


"Gak pake motor?" Tanya Icha saat mereka berjalan menuju mobil berwarna hitam yang terparkir di garasi.


"Gak."


"Kenapa?"


"Dingin."


Icha menganggukkan kepalanya. Setelah masuk kedalam mobil, Gavin pun menjalankan mobilnya menuju rumah Icha.


***


Icha telah sampai di rumahnya beberapa menit yang lalu. Kini, ia, Kenzo dan Kenzi sedang menonton film di televisi. Mereka bertiga menonton film horor. Tentu saja bukan Icha yang memilih genre itu. Salahkan kedua kakak laki-laki kembarnya yang kekeuh mau menonton film horor dan tidak mau mengalah untuk Icha.


"AAAAAA ABANG TAKUTTTT!!!" Teriak Icha lalu memeluk Kenzo saat melihat penampakan hantu yang sangat mengerikan di dalam film itu.


"Gitu aja takut, cemen." Ejek Kenzi.


Icha memukul pelan bahu Kenzi lalu melotot kearahnya. "Kan Icha udah bilang gak mau nonton film hantu abang. Nanti kalo Icha gak bisa tidur gimana?" Rengek Icha.


"Tenang aja, nanti ada yang nemenin Icha tidur kok. Itu yang di tv." Kata Kenzi menunjuk kearah TV.


Secara refleks, Icha melihat kearah TV dan menjerit kuat saat melihat hantu yang tadi dengan banyak darah diwajahnya.


"BANG KENZIII!!!" Kesal Icha memukul Kenzi dengan geram.


"Kenzi udah." Peringat Kenzo melerai pertengkaran Icha dan Kenzi itu.


"Adek kenapa teriak-teriak?" Tanya Bundanya berjalan mendekat kearah mereka.


"Bunda, Bang Kenzi ngeselin." Rajuk Icha sambil memeluk bundanya.


"Kenzi, jangan jahil-jahil. Kasian adik kamu." Tegur Bunda mereka.


"Maaf bun hehehe." Kenzi menunjukkan senyum yang menampilkan giginya.


"Udah malem. Kalian tidur ya, ingat besok sekolah."


"Aye aye captain." Kata mereka bertiga dengan kompak.


"Oh iya bunda, tadi dikasih bingkisan sama mama Gavin, Icha letak diatas meja makan." Jelas Icha.


Kenzo dan Kenzi mendekat. "Bingkisan apa? Bukan hantaran kan?" Tanya Kenzi.


"Hantaran itu apa Bang?" Tanya Icha.


"Ada-ada aja sih lo." Kenzo menggelengkan kepalanya.


"Yaudah nanti bunda liat. Besok-besok kita balik ngasih bingkisan deh ke Mama Gavin. Udah malem, kalian tidur gih."


Icha mencium pipi ibunya. "Selamat malam, bunda." Katanya lalu berjalan menuju kamarnya diikuti Kenzo dan Kenzi yang juga memasuki kamar mereka masing-masing.


Icha merebahkan dirinya diatas kasur. Kedua bola matanya melihat kearah langit-langit kamar. Ia mengingat kejadian bersama Gavin tadi. Pigura foto itu, dan bagaimana cara laki-laki itu menenangkannya. Seketika, wajahnya berubah sedih ketika mengingat Arga, mantan kekasihnya. Tak mau terlarut begitu lama, Icha pun memutuskan untuk tidur.


Beberapa menit kemudian, kedua mata itu terbuka. "Kan gak bisa tidur. Ini gara-gara bang Kenzi yang minta Icha nonton film horor." Keluh Icha lalu menutup semua tubuhnya menggunakan selimut.


Drttt drttt


Suara deringan handphonenya mengganggu Icha. Gadis itu duduk dan meraba nakas untuk mengambil handphonenya.


Dengan ragu, Icha pun menerima panggilan dari Teza.


"Halo."


"Selamat malam, Icha."


"Selamat malam juga, Bang Teza. Ada apa?"


"Kata Kenzi kamu gak bisa tidur."


Icha menggelengkan kepalanya, "Bang Kenzi." Katanya dengan nada pelan.


"Icha? Kamu masih disana kan?"


"Eh, iya"


"Kenapa gak bisa tidur?"


"Tadi bang Kenzi sama bang Kenzo ngajak Icha nonton film horor."


"Jadi gara-gara itu?"


"Iya." Icha menganggukkan kepalanya, walau ia tau bahwa Teza tidak akan melihatnya.


"Yaudah, sekarang kamu baring. Cari tempat ternyaman."


Icha pun melakukan hal yang diperintahkan oleh Teza.


"Sudah?"


"Sudah."


Hening, Icha tidak mendengar apapun dari seberang telfon. Ia melihat kearah layar dan melihat bahwa panggilan itu masih tersambung.


"Bang Teza?"


Icha tidak mendapatkan jawaban apapun. Sebelum ia membuka mulut untuk berbicara lagi, terdengar suara alunan gitar dari seberang telfon.


"*Waktu pertama kali


Kulihat dirimu hadir


Rasa hati ini inginkan dirimu


Hati tenang mendengar


Suara indah menyapa


Geloranya hati ini tak kusangka


Rasa ini tak tertahan


Hati ini selalu untukmu


Terimalah lagu ini


Dari orang biasa


Tapi cintaku padamu luar biasa


Aku tak punya bunga


Aku tak punya harta


Yang kupunya hanyalah hati yang setia


Tulus padamu


Hari-hari berganti


Kini cinta pun hadir


Melihatmu, memandangmu bagai bidadari


Lentik indah matamu


Manis senyum bibirmu


Hitam panjang rambutmu anggun terikat


Rasa ini tak tertahan


Hati ini selalu untukmu


Terimalah lagu ini


Dari orang biasa


Tapi cintaku padamu luar biasa


Aku tak punya bunga


Aku tak punya harta


Yang kupunya hanyalah hati yang setia


Tulus padamu


Oh-ho huu


Terimalah lagu ini


Hm-mm


Dari orang biasa


Terimalah lagu ini


Dari orang biasa


Tapi cintaku padamu luar biasa


Aku tak punya bunga


Aku tak punya harta


Yang kupunya hanyalah hati yang setia


Yang kupunya hanyalah hati yang setia


Terimalah cintaku yang luar biasa


Hm-mm


Tulus padamu*"


Mendengar suara merdu milik Teza membuat Icha mulai merasakan kantuk dan perlahan, kedua mata itu tertutup dengan senyum yang masih terukir di wajah cantiknya.


TO BE CONTINUE