
SILAHKAN TINGGALKAN JEJAK
BUDAYAKAN VOTE SEBELUM BACA
COMMENT SETELAH BACA
WARNING!!!
BANYAK TYPO
NO COPAS
NO DARK READERS
SELAMAT MEMBACA
^^
AUTHOR : GITA
-----~oOo~-----
Icha berdiri dan melangkah mundur, berusaha menjauhi Arga. Namun, Arga ikut maju mendekati Icha.
"Stop Arga!" Teriak Icha.
"Icha, aku minta maaf. Aku menyesal sudah nyakitin kamu. Sekarang aku sadar, meskipun awalnya pura-pura, aku malah terjebak dan benar aku cinta kamu Cha. Balik lagi sama aku Cha." Kata Arga dengan nada penuh memohon.
Icha menggelengkan kepalanya. Di belakang Arga ada Nessi yang menatap tajam dan penuh ketidaksukaan kearahnya.
"Arga, Icha gak bisa." Tolak Icha.
"Tapi Icha, aku janji setelah ini aku gak akan nyakitin kamu Cha."
"Dulu Arga pernah ngomong gitu, tapi kenyataannya apa? Arga nyakitin Icha. Maaf Arga, Icha bener-bener gak bisa. Lagian Arga kan sudah punya Nessi."
"Nessi itu bukan siapa-siapa aku Cha. Dia itu cuma mainan aku. Aku cinta sama kamu, percaya sama aku Cha."
"Apa? Kamu bilang apa Ga? Jahat kamu!" Nessi melangkah mendekati Arga dan Icha dengan wajah marahnya.
"Lima bulan hubungan kita, apa arti semua itu kalo aku bukan apa-apa? Semua aku lakuin untuk kamu Ga!"
"Lo gak ngerti juga? Gue manfaatin lo! Puas?!"
Icha dan Nessi sama-sama terkejut.
Plakk
Nessi menampar pipi Arga hingga wajah itu menoleh kearah kanan. Wajahnya terlihat sangat marah.
"Lo emang kejam Ga. Ingat, karma pasti akan datang!" Teriak Nessi pada Arga.
Wajah Nessi kini mengarah pada Icha. "Dan lo!" Tangan Nessi terangkat ingin menampar Icha. Karena ketakutan, Icha memejamkan matanya.
Beberapa detik kemudian, ia tidak merasakan apapun. Icha pun perlahan membuka matanya. Wajahnya berubah terkejut ketika melihat seseorang di depannya sedang menahan tangan Nessi yang tadinya ingin menampar Icha.
"Lo gak berhak nyakitin dia." Kata laki-laki itu dengan nada dinginnya. Di hempaskannya tangan Nessi yang tadi dipegang olehnya.
"Gavin."
Gavin menoleh sebentar kearah Icha sebelum menatap tajam ke arah Arga. "Gak usah gangguin Icha lagi kalo lo mau geng lo itu selamat." Ancam Gavin.
"Lo yang ikut campur urusan gue sama Icha dari awal!" Bentak Arga sambil menunjuk wajah Gavin.
"Pergi! Sebelum gue hilang kendali." Kata Gavin dengan nada dinginnya.
"Gak mau! Urusan gue sama Icha belum selesai."
"Pergi!" Suara Gavin terdengar lebih keras membuat Icha, Nessi dan Arga tersentak.
"Awas lo Gav!" Ucap Arga sebelum pergi meninggalkan Icha dan Gavin.
Beberapa saat setelahnya, Nessi menyusul Arga dengan wajah penuh permusuhan kearah Icha. "Awas lo!" Kata Nessi dengan penuh peringatan pada Icha.
Gavin berbalik badan, menatap kearah Icha. "Lo gak apa-apa?" Tanya Gavin dengan nada datarnya.
"Hmm gak apa-apa. Makasih ya Gavin."
"Oh iya, Gavin kenapa ada disini?" Tanya Icha.
Gavin menoleh kearah Icha lalu kembali memalingkan wajahnya. "Gue pergi dulu." Katanya sebelum pergi tanpa menjawab pertanyaan Icha.
Icha menatap punggung Gavin yang semakin menjauh, hingga punggung itu hilang ditelan kerumunan orang di pasar malam. Untung saja tidak ada orang yang melihat perdebatan mereka tadi karena sibuk dengan urusan masing-masing. Icha kembali duduk di kursi. Tak lama, Rio datang berbarengan dengan Teza.
"Lo dari mana? Lo ninggalin Icha?" Tanya Teza memberi tatapan tajamnya pada Rio.
"Gue dari toilet, kebelet."
"Icha gak apa-apa kan? Gak ada yang gangguin kan?" Tanya Teza pada Icha.
Icha terdiam sebentar. "Icha gak apa-apa kok."
"Jangan diulangi lagi Rio. Gue gak suka. Kalo tadi ada yang gangguin Icha gimana?" Tanya Teza dengan tatapan penuh menuduh pada Rio.
"Gue juga gak mau ninggalin Icha. Tadi gue kebelet. Lo mau gue pipis disini?"
"Setidaknya lo bisa nelfon gue biar gue kesini."
"Gue—"
"Bang Teza, Rio. Udah jangan berantem lagi. Icha gak apa-apa kok." Ucap Icha berusaha melerai keduanya.
Teza menghela nafasnya lalu mengelus pelan rambut Icha. "Maaf ya, abang cuma khawatir sama kamu."
"Maaf ya Rio." Kata Teza.
"Iya. Maaf juga." Balas Rio.
"Itu gulali untuk Icha?" Tanya Icha menunjuk bungkusan gulali yang di pegang Teza.
"Iya, sampe lupa. Ini untuk kamu." Teza memberikan gulali itu pada Icha.
"Gue nya mana?" Protes Rio.
"Beli sendiri."
Rio memasang wajah cemberut sekaligus kesal kearah Teza.
"Ini Rio makan gulali Icha aja." Kata Icha menyondorkan gulali nya kearah Rio.
"Terbaik deh Icha. Jadi makin sayang." Kata Rio lalu mengambil sedikit gulali itu untuk dimakan olehnya.
"Udah malam ini, ayo cari makan dulu abis itu pulang." Ajak Teza sambil melihat jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya.
Mereka bertiga akhirnya pergi meninggalkan pasar malam itu. Berkeliling untuk mencari restoran atau cafe yang masih buka. Setelah itu baru mereka diantar oleh Teza ke rumah masing-masing.
***
Icha masih tergelung di selimutnya. Hari ini adalah hari minggu, hari dimana semua orang akan bermalas-malasan. Kenzo dan Kenzi dari tadi sudah bolak balik membangunkan Icha namun gadis itu tetap nyaman dibalik selimutnya.
"ICHAAAA BANGUNNNN!!!!" Teriakan itu membuat Icha langsung terbangun dengan ekspresi terkejut.
"Rio, Icha terkejut tau." Protes Icha.
Rio hanya menyengir. "Maaf. Ayo cepat siap-siap."
Icha yang masih duduk di kasurnya menatap heran, kedua tangannya mengucek matanya sambil sesekali menguap. "Siap-siap kemana?" Tanya Icha.
"Masa lupa sih? Kan mau joging bareng. Lihat nih aku udah bawa Kevin biar kita belajar skateboard bareng." Kata Rio mendekat kearah Icha sambil menunjukkan skateboard kuning kesayangannya.
"Ya ampun Icha lupa!! Oke Icha langsung siap-siap." Icha melompat dari kasurnya, menyambar handuk lalu masuk kedalam kamar mandi.
Rio menggelengkan kepalanya. "Gemesin ih, pengen gue karungin boleh gak ya?" Gumam Rio lalu terkekeh pelan.
Laki-laki itu bergerak meninggalkan kamar Icha lalu menutup pintunya. Beberapa menit kemudian, Icha telah selesai bersiap. Gadis itu turun ke bawah dengan mengenakan setelan baju khusus olahraganya.
"Loh? Bang Kenzi sama Bang Kenzo mau kemana?" Tanya Icha saat menatap kedua kakak kembarnya itu sedang memakai sneakers.
"Mau ikut joging dong." Jawab Kenzo mengedipkan sebelah matanya kepada Icha.
"Oke deh. Ayo berangkat." Ajak Icha.
Mereka pun joging menuju taman yang tidak jauh dari rumah mereka. Sedangkan Rio memakai skateboard nya untuk menuju ke taman.
"Curang lo Yo, joging juga dong." Protes Kenzi.
Rio tertawa lalu menghentikan laju skateboard nya. Ia pun ikut joging di sebelah Icha. Tidak membutuhkan waktu lama, mereka sudah sampai di taman. Ramai sekali orang yang sedang berolahraga disana, mulai dari muda-mudi, orang tua, bahkan lansia sekalipun. Mereka langsung berjoging memutari taman sebanyak 10 putaran.
"Huftt capek." Kata Icha lalu duduk diatas rumput.
Beberapa saat setelahnya, Kenzo dan Kenzi menyusul duduk di sebelah Icha.
"Nih minum. Untung aja tadi bunda siapin." Kata Kenzi menyondorkan botol air minum berwarna pink pada Icha.
Icha langsung menerimanya. "Ah iya Icha lupa. Makasih bang Kenzi." Kata Icha lalu meneguk air dalam botol itu hingga tersisa setengah.
"Eh itu si Rio mana?" Tanya Kenzo.
"Iya ya, mana tu anak? Ngilang lagi." Kata Kenzi saat menyadari Rio tidak ada.
"Ciee kakak ipar kangen gue ya."
Suara di belakang mereka membuat ketiga bersaudara itu menolehkan kepala mereka. Disana, Rio berjalan menuju mereka bersama keempat temannya. Dani, Pram, Putra dan Aldi.
"Hai Icha." Sapa Dani duduk di sebelah Icha.
"Hai."
"Icha, kenalin ini temen-temen aku. Yang itu namanya Dani, Putra, Aldi sama Pram." Kata Rio menunjuk temannya satu persatu.
"Pramudya Dexsa Perdhana, panggil aja mas Pram." Kata seorang laki-laki mengulurkan tangannya pada Icha.
Icha menerima uluran tangan itu. "Icha."
"Udah tau kok. Lagian siapa sih yang gak kenal sama Icha?" Kata Aldi terkekeh di akhir kalimatnya.
"Prischa Imelda Rasyifa. Cewek terimut di SMA Dinata, adiknya bang Kenzo sama bang Kenzi, temennya Rere sama Safira, dan princess nya tiga pangeran sekolah." Jelas Putra.
"Lengkap banget." Kata Kenzo.
"Iyalah kami kan fansnya Icha juga." Kata Pram.
"Apa?" Kenzi langsung menatap tajam Pram.
TO BE CONTINUE
Hayooo kalian team mana nih?
#TEAMTEZA
#TEAMGAVIN
#TEAMRIO