PITAGORA

PITAGORA
Part 27



Icha berjalan disepanjang koridor sendiri. Hari ini adalah hari terakhir mereka sekolah sebelum diliburkan selama seminggu karena kelas dua belas akan mengadakan Ujian Nasional.


Di sepanjang jalan, banyak sekali yang menyapanya. Icha membalas mereka dengan senyuman. Hingga ia sampai di kelas, Icha langsung duduk di samping Safira. Ia menenggelamkan wajahnya di lipatan tangan lalu mendengus pelan.


"Cha, lo gak apa-apa?" Tanya Safira.


Rere dan Dara yang sedang berbincang di belakang pun melihat kearah Icha. Mereka berdua saling pandang lalu menatap kembali kearah Icha.


"Icha gak apa-apa." Jawab Icha.


"Lo gak keliatan kayak biasanya. Are you okay?" Tanya Safira.


"Iya Cha, kalo ada masalah lo boleh cerita ke kita kok. Gak semua masalah bisa lo atasi sendiri, kadang keberadaan sahabat sangat membantu." Ucap Rere diangguki oleh Safira.


Icha mengangkat kepalanya. Ia memutar tubuhnya kearah Safira. Tak sengaja, ia melihat kearah kursi Gavin yang kosong. Begitupun kursi Satria dan Reno yang juga kosong tidak berpenghuni.


"Mereka gak masuk?" Tanya Icha menunjuk kearah bangku Gavin, Reno dan Satria.


"Mereka ke Bogor tadi pagi, katanya refreshing. Nanggung soalnya besok juga udah libur sampe seminggu kedepan." Jawab Dara.


"Lo tau dari mana?" Tanya Safira.


"Gavin lah, dari mana lagi." Dara memutar bola matanya lalu kembali menatap kearah layar handphonenya.


"Iya, ini keputusan yang tepat." Gumam Icha lalu memutar kembali tubuhnya kearah depan karena guru telah memasuki ruangan.


"Gue, Rere sama Dara mau nginap di rumah Rere besok, lo mau ikut gak? Lumayan kan lo juga bisa modus sama bang Teza." Bisik Safira pada Icha.


"Iya Cha, lo harus ikut. Udah lama kita gak nginep bareng. Biasanya kan di rumah lo terus." Bisik Rere dari belakang.


"Dan gue yakin pasti lebih seru kalo ada lo." Sambung Dara tersenyum miring.


"Icha pengen ikut, tapi gak tau dibolehin gak sama Bang Kenzi dan Bang Kenzo." Balas Icha dengan berbisik juga.


"Urusan mereka biar gue aja yang atur. Jangan lupa ya besok sore gue jemput." Kata Safira.


Icha mengangguk.


"Prischa, Renata, Safira dan Dara apakah kalian berniat melanjutkan gosip kalian di luar atau mengikuti pelajaran saya?"


Suara Bu Siti membuat mereka berempat terkejut lalu sontak menatap kearah depan.


"Mengikuti pelajaran, Bu." Jawab mereka berempat kompak.


"Baiklah, maka dari itu kalian harus memperhatikan."


"Baik bu."


***


Bel pulang sekolah berbunyi nyaring. Icha keluar terlebih dahulu karena Teza sudah menunggunya di depan pintu. Ketiga temannya masih membereskan buku mereka.


"Sudah beresin bukunya?" Tanya Teza saat melihat Icha berjalan kearahnya.


"Sudah, ayo. Bang Teza gak lupa kan?" Tanya Icha.


"Gak lupa kok. Ayo." Teza menggenggam tangan Icha sambil berjalan menuju parkiran.


"Hmm Bang Teza." Panggil Icha.


"Iya?" Teza menoleh kearah Icha.


"Tadi Rere, Safira sama Dara ngajak Icha nginep bareng."


"Nginep dimana? Di rumah kamu?" Tanya Teza.


"Di rumah Rere."


"Serius?!" Teza terlihat gembira.


Icha mengangguk. "Iya."


"Bagus dong, berarti abang bisa ngeliat kamu seharian."


Icha hanya membalas dengan senyuman. Mereka langsung masuk ke dalam mobil Teza ketika sudah sampai di parkiran.


"Tapi Icha gak yakin Bang Kenzo sama Bang Kenzi bakal ngizinin." Kata Icha saat mereka sudah duduk di dalam mobil.


"Abang bakal bantu izinin."


Icha membelalakkan matanya. "JANGAN!" Teriaknya dibalas tatapan terkejut dari Teza.


"Kenapa?"


"Nanti Bang Kenzi sama Bang Kenzo malah ngira kalo Icha sebenernya nginep disana bukan untuk Rere, Safira sama Dara tapi karena Bang Teza. Mereka gak bakalan izinin Icha. Bang Teza kan tau gimana negatif thinking nya Bang Kenzi." Jelas Icha.


Teza berpikir sebentar lalu tak lama mengangguk setuju. "Jadi gimana?"


"Safira bakal bantuin Icha izin ke Bang Kenzi sama Bang Kenzo."


"Kalo Safira yang izin, Kenzo mungkin akan luluh." Teza terkekeh diakhir kalimatnya.


Teza memundurkan dan menggerakkan mobilnya untuk meninggalkan parkiran sekolah.


"Bang Teza, nanti kita mampir beli parcel buah dulu ya." Kata Icha diangguki oleh Teza.


"Selamat siang, mau beli apa dek?" Tanya seorang wanita paruh baya pada mereka.


"Siang bu, kami mau beli satu parcel buah." Jawab Teza.


"Silahkan dipilih dek."


Teza dan Icha pun memilih parcel yang akan mereka beli untuk Rio. Setelah mereka memilih, mereka pun memberikannya kepada penjual agar dapat di bayar.


"Totalnya 55rb dek. Kalian mau jenguk siapa?"


Teza memberikan selembar uang berwarna pink kepada ibu penjual. "Teman bu."


"Semoga cepat sembuh ya temannya. Ah iya, kalian sangat serasi."


"Makasih ya bu." Jawab Icha tersenyum malu.


Teza ikut tersenyum ketika melihat Icha malu. Mereka pun kembali ke mobil sambil menenteng satu parcel buah.


Mobil milik Teza sudah terparkir di rumah sakit tempat Rio dirawat. Mereka berdua langsung berjalan menuju ruang rawat Rio. Sesampainya di ruang rawat Rio, mereka dapat melihat Sissy, mami Rio sedang duduk di sofa sambil membaca sebuah majalah.


"Mami." Panggil Icha. Memang Icha sudah dekat dengan Mami Rio karena sudah beberapa kali diajak Rio main kerumahnya maka dari itu ia memanggil Sissy dengan sebutan Mami seperti Rio.


Tante Sissy aka Mami Rio menghampiri mereka dan memeluk Icha. "Calon mantu Mami. Ah mami kangen banget sama kamu."


"Icha juga kangen sama mami."


"Ehem." Teza berdehem.


"Eh ada nak ganteng. Siapa ini Icha?" Tanya Mami Rio.


"Ini Bang Teza Mi."


"Teza, tante." Teza menyalami mami Rio.


"Teza? Rio gak pernah sebut Teza, tapi Teja. Kamu kan Teja?" Tanya Mami Rio pada Teza.


"Iya tante."


"Dasar Rio." Batin Teza.


"Ayo duduk." Mami Rio membawa mereka duduk di sofa. Icha pun memberikan parcel buah yang ia pegang.


"Wahh makasih ya calon mantu mami, udah cocok banget nih jadi calon mantu idaman." Kata Mami Rio saat menerima parcel buah itu.


Teza menatap keduanya. Ia sebenarnya agak risih saat mami Rio menyebut Icha "calon mantu" padahal Icha adalah pacarnya. Namun ia hanya diam karena tidak mau semakin membuat sedih mami Rio.


"Gimana perkembangan Rio, Mi?" Tanya Icha.


Wajah mami Rio yang awalnya tersenyum pun langsung pudar. "Rio belum sadar sampe sekarang. Tapi dokter bilang dia sudah ada perkembangan meskipun belum pasti kapan sadarnya. Mami kangen banget sama anak bandel satu itu. Kangen celotehan gak bermutu nya, kangen dia ngeberantakin kamar, kangen dia ngancurin adonan kue mami." Mata Mami Rio terlihat berair.


Icha memeluk Mami Rio dan mengelus punggung wanita paruh baya itu agar lebih tenang.


"Maafin Icha ya Mi. Seharusnya Icha yang ada disitu bukan Rio."


Mami Rio melepaskan pelukannya dan menatap tak setuju kearah Icha. "Kamu gak boleh ngomong gitu. Rio pasti bakal sedih kalo denger kamu ngomong gitu. Dan kalo mami boleh milih, mami gak mau kalian berdua ada diposisi itu. Mami sayang kalian berdua. Lagian itu bukan salah kamu sayang. Tapi salah cewek jahat itu."


Icha mengembangkan senyumnya. "Mami, Icha mau liat Rio boleh kan?"


"Boleh dong sayang."


"Bang Teza, Icha mau liat Rio dulu ya." Izin Icha diangguki oleh Teza.


Icha berjalan kearah ranjang Rio. Wajahnya berubah sedih ketika melihat Rio masih juga belum membuka kedua matanya.


"Rio, kapan kamu mau sadar? Icha kangen. Gak ada lagi yang buat Icha senyum atau tertawa dengan tingkah konyolnya. Gak ada lagi yang setiap pagi selalu sarapan di rumah Icha. Gak ada lagi yang ngajarin Icha main skateboard." Icha menundukkan kepalanya, mengusap air mata yang membasahi wajahnya.


"Jangan nangis." Suara lirih itu membuat Icha mendongak dan ia melihat kedua mata sayu itu terbuka menatapnya.


"Rio! Mami, bang Teza Rio bangun!" Teriak Icha.


Mami Rio dan Teza langsung menuju kearah Rio. Mami Rio menekan tombol merah untuk memanggil dokter.


"Rio, kamu bangun juga nak." Mami Rio terlihat terharu.


"Mami, Rio kangen diomelin mami." Rio berucap dengan lirih.


"Saat kayak gini kamu masih bisa ngereceh juga ya." Mami Rio mengelus rambut Rio dengan sayang.


"Bang Teja."


"Kenapa? Lo kangen sama gue?" Tanya Teza sambil tersenyum.


"Kangen ngeledekin lo."


Teza tertawa pelan, begitupun Mami Rio dan Icha. Tak lama, dokter masuk kedalam ruangan untuk memeriksa keadaan Rio. Teza, Icha dan mami Rio sedikit menjauh agar dokter dapat memeriksa Rio. Setelah dokter selesai memeriksa, dokter itu pun menghampiri mereka dengan wajah sedih.


"Ada apa dok? Anak saya semakin membaik kan?" Tanya Mami Rio.


"Maaf bu, saya ingin memberitaukan sesuatu. Hasil pengecekan nak Rio sebelumnya menunjukkan bahwa ia positif mengidap kanker otak stadium awal."


TO BE CONTINUE


Maaf ya guyss :') author baru selesai uas nihh.. kemarin gak bisa sering update karena sibuk uas dulu hehehe :v Eh maap juga ya di part ini gak ada Gavin.. Hayoo ada yang kangen sama Gavin-Icha gak??? wkwkwk